Konsultasi Penggunaan Gadget bagi Anak

gambar gadget
ilustrasi: stocklogos.com

Pertanyaan-1

Bagaimana cara memberi tahu bahaya dari terlalu sering online terutama dengan lawan jenis? Saya khawatir anak gadis saya (10 tahun) dimanfaatkan atau terjadi sesuatu. Misalnya cinta monyet. Mumpung masih baru buka akun facebook-nya.

Jawaban Bu Elia Daryati

Online (ol) dengan lawan jenis.
Dalam kasus ini, ada 2 hal yang menjadi titik persoalan.
Usia 10 tahun adalah masa prepubertas, salah satu tugas perkembangan anak memiliki ketertarikan secara sosial untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Mereka memiliki sensasi lain, bukan sekedar berteman biasa, namun sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.
Ol dengan gadget, tanpa “niat” untuk berinteraksi dengan lawan jenis pun menimbulkan efek kecanduan.
Dengan melihat alasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa perasaan untuk terpaku dengan gadget, apalagi anak baru memiliki akun facebook yang selama ini diimpikannya, bukanlah perkara yang mudah. Bagaikan anak sedang mendapat mainan baru, pasti euforia dan mulai dapat berselancar di dunia maya dengan asyik-asyiknya.
Apa yang dapat dilakukan sebagai orang tua, semua muaranya adalah pembuatan aturan, dan penanaman aturan. Kalau hal ini sudah terinternalisasi dengan baik pada diri anak, akan lebih mudah mengaturnya dan mengingatkan anak terhadap gadget, sekalipun hal tersebut cukup menyenangkannya. Kita sebagai orang tua, akan tidak mudah jika aturan dibuat, setelah anak memiliki ketergantungan terhadap gadget.
Jawaban Anna Farida

Jawaban saya ini berlaku umum tentang penggunaan internet, khususnya terkait child abuse.

Bahas dengan anak, apa itu media sosial (medsos), mengapa akun hanya bisa dibuat ketika pengguna mengaku 13 tahun. Medsos bukan dunia lain, bukan dunia yang berbeda dengan dunia kita. Kebanyakan anak berpikir bahwa medsos itu seperti game, seperti mainan. Jangan-jangan Bapak Ibu ada yang beranggapan sama #annasotoy.

Medsos itu  bukan mainan tapi sarana komunikasi. Apa yang dilakukan di media sosial pasti berdampak dalam kehidupan. Bahas juga karakteristik pengguna internet, yaitu manusia.

Jelas, kan, manusia itu ada yang baik ada yang buruk. Mereka menggunakan internet dengan cara yang baik dan buruk pula.

Ajak anak berselancar, cari berita tentang baik buruknya internet—nah, di sinilah ibuk-ibuk perlu pede juga internetan. Merasa gaptek? Belajar, yuk. Mahmud Admin bisa halo-halo agar Anda dapat tutor internet sehat dari grup ini eheheh.

Menjalin komunikasi dengan orang lain untuk saling tukar pikiran atau sekadar berteman tentu baik. Yang perlu diwaspadai adalah orang-orang yang berniat buruk tadi. Di buku Parenting With Heart saya cerita tentang anak perempuan yang lari dari rumah dengan seorang teman FB yang baru dikenalnya. Setelah ditemukan, hidupnya tak pernah sama.

Film ini bagus ditonton bareng anak: https://www.youtube.com/watch?v=6jMhMVEjEQg

Jadi, kuncinya ada pada kesepahaman bahwa media sosial adalah sarana komunikasi, dan mau dipakai untuk hal yang baik atau buruk tergantung pemakainya. Jadi penjelasan orang tua harus selalu berimbang, karena faktanya internet dan media sosial itu netral.

Mengajak anak berbicara tentang pacaran pernah juga kita bahas. Ada yang ingat di kulwap yang mana? Nanti kita ilhat arsipnya (https://uchishofia.wordpress.com/2015/09/15/tanya-jawab-seputar-remaja/).


Pertanyaan-2
Bagaimana tips untuk anak usia 5 thn yang terlanjur kecanduan gadget? baterai dan pulsa sudah kesedot untuk anak semata wayang.

Jawaban Bu Elia Daryati
Mengatasi anak balita yang sudah kecanduan gadget.
Apa yang disebut sebagai kecanduan?
Adalah sebuah sebuah tingkah laku yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik fisik, fisiologis, maupun psikologis. Pendapat seorang ahli,  Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol. Orang dikatakan kecanduan apabila dalam satu hari melakukan kegiatan yang sama sebanyak lima kali atau lebih. Kecanduan merupakan kondisi terikat pada kebiasaan yang sangat kuat dan tidak mampu lepas dari keadaan itu, individu kurang mampu mengontrol dirinya sendiri untuk melakukan kegiatan tertentu yang disenangi. Seseorang yang kecanduan merasa terhukum apabila tak memenuhi hasrat kebiasaannya.

Apakah kondisi putra Ibu yang masih balita, sudah sedemikian kecanduan dengan penggunaan gadget seperti diatas?
Apa yang harus dilakukan?
Pertama buat aturan yang konsisten, ini sebagai langkah untuk mendisiplinkan anak. Disiplin ini akan memandu perilaku dan kondisi psikologis anak. Setiap aturan selalu ada konsekuensinya.
Berikan alternatif kegiatan pada anak. Langkah ini penting, karena dunia anak adalah dunia bermain, bukan bermain dengan berselancar di dunia maya. Masa keemasan mereka terpenjara pada dunia yang tidak nyata. Akan menjadi bencana tersendiri di masa depannya. Untuk keterampilan sosial awal harus dalam bentuk pola interaksi yang nyata.
Jika dengan langkah pertama dan kedua tidak dapat dilaksanakan, maka harus bertindak lebih tegas dengan mengambil atau membatasi gadgetnya. Kenapa? karena anak sudah perlu ditolong, sebelum mereka terlanjur memiliki ketergantungan.
Jika ibu tidak tega melihat anak menangis di masa kini, maka Ibu harus siap-siap menangis di masa depan atas ketergantungan dan  kecanduan pada gadget. Jika tidak mengatur perilaku anak dengan bijaksana. Selagi masih kecil, semuanya masih sangat mudah untuk diarahkan, jika masih kecil saja, kita tidak memiliki kekuatan untuk mengatur anak, bagaimana ketika mereka sudah besar?
Jawaban Anna Farida

Balita pun bisa diajak bersepakat, lho.
Menurut saya, batasan itu harga mati, kan semua hal juga ada batasnya kecuali Tuhan. Batasan konten dan waktu game atau main gawai itu wajib. Panjang pendeknya tergantung kebijakan keluarga.

Awali dengan memberi batasan yang ringan, jangan langsung frontal agar Anda tak perlu dimusuhi anak. Misalnya: Sepakati bahwa dia tetap boleh main gawai jika semua hal lain tepat waktu. Mandi, makan, salat, sekolah, atau kegiatan lain.

Beri pujian jika dia berhasil.

Jika meleset apa konsekuensinya? Misalnya 1 jam gawai disimpan Mama. Ingat, ya, disimpan, bukan disita. Gunakan pilihan kata yang baik.

Nangis dan ngeyel tak mau konsekuensi? Biarkan. Nangis 1 jam paling bikin dia capek dan tidur. Pastikan dia kenyang. Ngamuk? Peluk dan hibur dia. Abaikan rayuannya untuk mengurangi masa off. Temani dia berjuang menepati konsekuensinya. Jika sudah berlalu, pertahankan, tambah durasi off-nya. Dari 1 jam jadi 2 jam.

Lama-lama, yang dibahas adalah durasi online. Ajak dia bikin jadwal kapan gawai boleh dimainkan kapan disimpan. Apa reward jika dia berhasil, apa konsekuensinya.

Tidak ada kata telanjur. Selalu ada proses reedukasi. Bapak Ibu  mau coba teknik ini untuk diri sendiri? Huehehe.

 

Pertanyaan-3

Kalau anak sudah bisa membeli gawai sendiri hasil menabung, bagaimana sikap kita? tetap dengan aturan yang disampaikan di materi? dia bisa beralasan ini beli dengan uang sendiri.

Jawaban Bu Elia Daryati

Aturan vs kemampuan
Aturan dan kemampuan anak untuk membeli gawai sendiri merupakan dua hal yang berbeda. Aturan-tetaplah aturan. Aturan tidak bisa gugur hanya dikarenakan anak memiliki kemampuan dalam bentuk finansial. Jika orang tua memiliki aturan X, kemudian anak akan menurut hanya karena ketidakmampuan membeli keinginannya. Sama saja secara tidak langsung orang tua mengatakan : “Bahwa aturan ini berlaku karena kamu tidak mampu, namun ketika kamu mampu membeli sendiri maka aturan ini sudah tidak berlaku”.
Jadi sekali lagi aturan tidak menjadi gugur, hanya karena anak merasa “mampu”.
Jawaban Anna Farida

Selama dia masih dalam pengasuhan kita, aturan tetap berlaku. Bisa beli hape bukan berarti bisa menghidupi dirinya sendiri, kan? Bahkan ada kemungkinan uang pulsa pun dari Mama ehehe.

Memiliki sesuatu bukan berarti dikuasai oleh sesuatu itu. Keberhasilan anak menahan diri untuk menabung adalah hal istimewa, kini saatnya dia menahan dirinya dari tergantung pada gawainya.

Jika anak beli hape dengan uang sendiri (misalnya hadiah, menabung, atau memang menghasilkan uang) yang kita bahas adalah tanggung jawabnya terhadap diri sendiri. Tentang password, misalnya, bahasannya adalah saling percaya dan saling menjaga antar anggota keluarga. Saling peduli isi hape masing-masing bisa jadi salah satu caranya.

Paling anak tanya, “Jadi aku boleh juga, dong, lihat isi hape Ayah Ibu?”

Hape saya sih terbuka buat anak-anak, tapi tertutup untuk selain mereka—jadi peserta kulwap jangan kepo isi hape saya, ya #apaseh

Berikutnya ajak bicara, apa prioritas terdekatnya dan apa yang akan dia lakukan, apa yang bisa Ayah Ibu lakukan untuk membantunya. Jadi jangan fokus ke hapenya, nanti mereka merasa disudutkan gara-gara punya hape. Fokusnya tetap pada dirinya. Jadi jangan bahas hapeee melulu, ngomelin hapeee melulu. Tanya saja, “Kakak ada rencana apa minggu ini?”

 

Pertanyaan-4

Saya single parent, waktu habis untuk kerja di luar rumah. Anak saya 7 tahun perempuan saya beri tablet untuk hiburan di rumah. Dia sama kakek neneknya, namun mereka sudah cukup lelah untuk mengurus soal disiplin. Bagaimana sebaiknya, ya?

Jawaban Bu Elia Daryati
Gadget adalah sebuah alat. Persoalannya, apakah kita mampu mengendalikan alat atau pada akhirnya diperalat oleh benda mati itu ?
Sebelum kita  mengambil satu langkah, sebaiknya diperhitungkan baik buruknya? Alasan terkuat apa yang Ibu lakukan dengan memberikan tablet pada anak usia 7 tahun? Jika orang tua dengan sadar memberikan pengasuhan pada gadget tanpa filter dan tanpa pendampingan sama sekali, apa sebenarnya hal yang paling diharapkan dan diinginkan oleh diri kita sebagai orang tua?
Mungkin saya bicara agak keras dalam hal ini. Mengingat tidak ada alasan sama sekali bagi orang tua memberikan alat yang akan menghacurkan masa depan anak, tanpa pembekalan. Sama saja menuang racun pada bejana, tanpa “clue” sama sekali. Ibu katakan, bahwa nenek dan kakeknya sudah menyerah terkait masalah disiplinnya.  Jika anak ini pada akhirnya tidak memiliki filter untuk membuka apa saja, siapa yang akan mampu mengingatkannya?
Sebenarnya ada baiknya, diberikan alternatif kegiatan yang lebih positif diberikan pada anak. Banyak sanggar-sanggar kreativitas yang dapat dijadikan media ekspresi anak. Semua bergantung pada minatnya. Misal, dengan memberikan kesempatan kursus di bidang seni, olah raga, masak-memasak, desain, science, mengaji atau ke alam, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Banyak alternatif cara untuk menghibur anak. Selain mereka akan memiliki keterapilan, hubungan sosial dan pemenuhan terhadap hobinya. Dengan penuhnya aktivitas, energi anak akan lebih teralihkan dan tidak terlalu bergantung pada gadget yang ibu berikan.
Jawaban Anna Farida
Sebelumnya saya mohon maaf. Terkait tanggung jawab single parent, tentu menuliskannya tak semudah menerapkannya. Jadi, saya akan sampaikan prinsip umumnya saja.

Tidak punya waktu panjang bersama anak bukan berarti melepas mereka dari asuhan yang layak. Kita bekerja untuk siapa?  Pasti untuk anak. Ketika anak perlu asuhan, semoga kita tak berkata “Tak punya waktu”.

Tetap sisihkan waktu untuk mereka. Minta bantuan kepada Kakek Nenek semampu mereka. Sempatkan waktu untuk menelepon dia, sehingga walau sekian menit perhatiannya lepas dari gawainya. Ketika kita bicara waktu yang berkualitas tidak ada lebih tidak ada kurang. Semua pas sesuai dengan kondisi keluarga.

Untuk gawai yang dibelikan sebagai hiburan, kita sudah tahu sama tahu efeknya jika dibiarkan tanpa batasan.

Yang perlu diupayakan adalah memperbanyak waktu buat dia, memperbanyak pelukan baginya, perbanyak kalimat yang hangat dan penuh penguatan, perbanyak senyuman juga. Ingat, dia tetap perlu porsi kasih sayang yang lengkap.

Jika orang tua tetap hadir di antara kesibukan, dia akan tahu bahwa tablet bukan satu-satunya hiburan, dan bersama Ayah atau Ibu bahkan lebih menyenangkan. Dia akan tahu bahwa tabletnya hanya sebagian, dan orang tuanya adalah keseluruhan.

Anak adalah satu-satunya alasan kita kerja keras, kan? Dia bukan sebagian, dia adalah keseluruhan.

Salam salut, di mana pun Anda, single parent. Salam semangat! Mata saya mendadak hangat

 

 

Pertanyaan-5

Aku jualannya online, rapat juga group online. Order barang, konfirmasi order dll via email. Jadi memang pegang HP terus
Kesepakatan sementara, jam 5 sore-9 malam tanpa Blackberry di rumah. Kecuali terima telp (kalau ada yang nelpon aja).
Hmm kira-kira berpengaruh buruk enggak, ya
Sementara di rumah ada televisi hanya khusus siaran anak (baby tv or chebibies indovision). Tetapi usia 2 tahun (perempuan) lebih suka aktifitas fisik ketimbang tv
Cuma jualan emaknya yang bikin terus enggak bisa lepas dari HP
Jawaban Bu Elia Daryati

Seni mengontrol diri terhadap gadget.
Jika pada orang tua yang sudah memiliki kesadaran, sebenarnya tidak masalah dengan penggunaan gadget.  Mereka akan menggunakannya sesuai kebutuhan dan sudah cukup mampu untuk mengendalikan, bukan dikendalikan.

Bagi sebagian orang yang memang menggunakan sarana gadget sebagai alat komunikasi dan alat kerjanya. Maka yang penting dalam pengaturannya.  Semua ada jadwal online nya :

Anggap saja, jam kerjanya ada di dunia maya. Semua ada jam-jamnya. Pagi upload, siang buka dan order. Jadi sebetulnya hal tersebut dapat diatur jadwalnya. Bukan setiap bunyi langsung dilihat. Dengan demikian, kegiatan bisnis jalan, kegiatan hidup jalan. Adapun aturan yang Ibu terapkan mengenai penggunaan gadget, saya pikir sudah cukup bijaksana.  Namun, jika aturan penggunaannya tidak terlalu melekat akan lebih baik lagi. Mengingat anak-anak kita memerlukan interaksi dengan orang tuanya justru ketika siang. Interaksi dengan anak apalagi balita, sebaiknya tidak diduakan dengan facebook, ditigakan dengan email, atau diempatkan dengan gadget-gadget lainnya.
Jawaban Anna Farida

Komentar dulu tentang hape:

Dari sisi kesehatan, pegang hape terus itu mengganggu banyak bagian tubuh. Bisakah diupayakan beralih ke komputer? Mungkin tak semua transaksi, sebagian chat mungkin bisa dilakukan di komputer, jadi tidak semua di BBM. Posisi duduk di depan komputer lebih sehat, lho.

Anak akan melihat kegiatan orang terdekatnya dan meniru. Itu tak bisa dibantah. Bagus tuh, Bu, sudah ada batasan dari jam 5-9. Saat itulah Ibu tampil full abis-abisan buat anak dan keluarga    #halah

TV khusus siaran anak memang bisa dilibatkan, dan tetap perlu diingat bahwa usia 2 tahun itu masa emasnya anak. Siapa yang paling dekat dengannya akan ikut membentuk watak dominannya. Perbanyak bermain dengan dia, Bu. Suwer tidak akan lama.
Pertanyaan-6

Sebenarnya gadget cukup membantu biar dia anteng, jadi kita bisa sambil beres-beres. Baikkah metode ini?

Jawaban Bu Elia Daryati

Mengasuh dengan gadget.

Untuk membuat anteng,  gadget bukan satu-satunya solusi. Memberikan permainan alternatif atau buku bacaan, bisa dijadikan pilihan. Gadget memang bisa dijadikan cara yang paling praktis. Bisa dijadikan jalan pintas, di jaman teknologi ini. Bagi orang tua yang mau sedikit direpotkan,  adalah dengan melibatkan anak dalam kegiatan kita. Beberapa orang tua merasa risih dengan ini, karena biasanya pekerjaan menjadi lebih lambat dan anak bukannya membantu malah mengganggu. Tapi disitulah letak pendidikannya.

Naluri dasar anak adalah keinginan untuk dilibatkan dalam kegiatan orang tua. Jika, mereka sering dilibatkan dalam urusan-urusan domestik di rumahnya, itu merupakan awal pendidikkan untuk bertanggung jawab. Namanya activity daily living, untuk belajar menolong diri sendiri dan bertanggung jawab di dalam rumah.

Jika tidak terbiasa dilibatkan, mereka tidak akan memiliki rasa terikat untuk bertanggung jawab. Jangankan bertanggung jawab untuk seluruh keluarga, bertanggung jawab untuk diri pun menjadi susah.

Tidak sedikit sudah besar, masih belum bisa mengurus dirinya sendiri, seperti mencuci, membersihkan kamar sendiri, dan aktivitas kegiatan harian rumah lainnya.

Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita yang mengajarkan siapa lagi. Yang pasti gadget tidak dapat memproses ini semua. Selamat merenung.

 

Jawaban Anna Farida

Kita perlu sepakati dulu makna anteng itu seperti apa. Saya pernah anteng FB-an sampai sayur oseng-oseng saya gosong #tutupmuka #ibumacamapa

Jadi, ketika anak diam, anteng dengan gawainya, pastikan bahwa dia anteng dalam arti yang baik. Jika tak ada pilihan mainan lain yang bisa membuatnya anteng (misalnya ngacak-acak isi kulkas hehe) pilihkan permainan yang edukatif dan produktif di hape, yang paling penting jangan keterusan. Jangan sampai dia main gawai kelamaan sampai tidur karena setelah beres-beres Ibu mantengin grup WA #eh

 

Pertanyaan-7

Assalamualaikum, mau tanya seputar gadget buat yang anak laki-laki sudah baligh. Game-nya kan maunya dar der dor, perang pasific war, clash of clan dll, naruto. Bagaimana bicara sama Mas kalau itu tidak baik, karena kalau dibilangin selalu jawab kan cuma game. Tapi jadinya agak kasar kalau ada masalah, apalagi anak pertama yang punya 5 adik . Terima kasih.

 

Jawaban Bu Elia Daryati

Menjelaskan game pada anak yang sudah baligh.

Menjelaskan game pada anak yang sudah baligh, memang tidak dapat sifatnya instruksional dan impersonal. Tetap harus menggunakan komunikasi yang sifatnya empati. Semua penjelasan dengan menggunakan logika tanpa bermaksud menggurui. Mengingat semakin ditentang, semakin tertantang.  Pada saat santai kita bisa katakan keberatan dengan apa yang mereka lakukan. Beberapa informasi dapat diselipkan dalam percakapan.

Bagaimana secara psikologis games dapat berdampak pada perilaku, misal dengan memberikan gambaran negatif dan positifnya.
Memang games-games sekarang ini sangat menyenangkan:

Menurut Mark Griffths dari Nottingham Trent University:
. Gambar lebih realistis
. Pemain bisa memilih karakter apa saja yang diinginkan yang tidak ada di dunia nyata.
(lebih memberikan kepuasan psikologis dan menimbulkan efek kecanduan)

Beberapa dampak dari games :
Psikologis, positifnya:
Merangsang anak untuk cekatan
Merangsang perkembangan bahasa
Mengusir stres

Negatifnya:

  • Perilaku kompulsif
  • Tak acuh pada kegiatan lain
  • Membuat orang terisolir

Secara fisik, mental dan edukasi, semua ada plus minusnya.  Games itu memang boleh ditonton, namun tetap harus dipilih, dengan jadwal yang dibatasi. Jika semua dilakukan secara berlebihan meskipun games yang dilihat baik, lambat laun akan merusak diri. Apalagi jika yang ditonton bukanlah games yang baik. rumusnya, tontonan pada akhirnya harus menjadi tuntunan dan mengarahkan kita dan anak kita ke jalan yang salah.

 

Jawaban Anna Farida

Game kekerasan mempengaruhi watak anak itu sudah jadi pengetahuan umum. Anak juga perlu tahu, atau bahkan sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu–atau kepedean tidak akan terpengaruh.

Baruuu saja saya ngobrol sambil cuci piring sama anak remaja saya, laki-laki, 14 tahun.

Tahu nggak, Kak, kenapa game perang bikin ketagihan?

Nggak. Kenapa emang? (saya tahu dia menguji saya—ehm, kena kau nanti, Young Man)

Salah satu jawabannya adalah karena anak pingin eksis. Terutama anak-anak yang biasa di-bully (termasuk yang diperlakukan tidak baik oleh orang tuanya) kan merasa tidak berdaya, tuh. Ada nggak kemungkinan dia merasa jadi super ketika main game?

Mungkin saja, sih.

Kakak termasuk remaja yang berdaya atau korban bully? Atau jangan-jangan kena abuse Ibu? (Ini tanya sambil deg-degan juga haha  )

Enggak, lah! Enak aja.

Berarti Nggak perlu juga, kali, ya main game bunuh-bunuhan hanya untuk merasa eksis dan berkuasa.

Enggak, sih. Tapi game perang itu grafis-nya bagus, Bu. Coba, deh, sini lihat.

—- Nah, saya berhenti cuci piring. —-

Ajak dia ngobrol. Libatkan diri. Terkait gamer dan game yang sedang digemarinya, jangan pernah jadi saingan, karena Anda tak akan menang (aduh putus asa amat).

Jangan cela game-nya karena Anda akan dicela pemainnya. — kalimatnya bagus, uuuy, masukin instagram, ah

Ajak dia bicara tentang hal-hal yang terkait game itu. Ajak dia untuk melangkah lebih jauh, bukan hanya sebagai pengguna.

Tanyakan: Siapa sih perancangnya? Kok bisa ya, dia merancang game seperti itu? Siapa yang nemuin namanya? Siapa yang mengaransemen musiknya?

Dengan melibatkan diri dari sisi yang lain, dia akan lebih terbuka dan tidak menganggap Ayah dan Ibu sebagai pihak yang melulu melarang dia. Ketika diajak berunding dan kompromi pun akan lebih terbuka. Coba dulu, deh.

Btw pada tahu tidak penulis komik Naruto itu siapa?
Saya kasih masukan ke anak-anak tentang kekerasan dalam komik dan film Naruto melalui pertanyaan “Siapa sih, penulisnya?”
Dari sana saya bisa masuk lebih jauh tentang sebenarnya komik dan film Naruto itu ditujukan untuk usia berapa.

 

Pertanyaan-8

Seperti yang pernah saya tulis waktu itu, anak saya sulung (14tahun),  tidak bisa lepas dari HP. Sudah hilang berkali-kali karena sering dibawa-bawa kecuali ke sekolah. Tapi saya belikan lagi karena saya pikir agar bisa mudah menghubunginya. Tapi setelah ada HP malah susah berkomunikasi. Hp-nya dipasword. Setelah beberapa lama saya tahu pasword-nya tapi kemudian ganti lagi akhirnya saya bilang kalo tidak boleh buka HP, tidak akan diizinkan menggunakannya. Diapun ngalah dan saya bisa cek apa saja yang suka dibuka. Selama ini dia lebih suka sosmed dari mulai FB sampe Path. Kalau menurut saya masih wajar, artinya tidak ada yang macam-macam. Masalahnya dia sangat lupa waktu , kalo gak sekolah seharian main HP atau di laptop buka youtube dll. Salat dan makan kalo tidak diingatkan pasti tidak akan dilakukan. Sementara itu saya juga kerja dari pagi sampe sore jadi tidak bisa memantau kecuali dari BBM saja. Dia juga suka lebih percaya sama info yang dia dapat dari internet daripada komentar saya. (Kepanjangan ya?  ) Pertanyaan saya bagaimana saya tahu kalau dia tidak terlalu men-tuhan-kan gadget sampe lupa segalanya.

 

Jawaban Bu Elia Daryati

Jika persoalannya pemberian HP diberikan pada anak yang sudah baligh dan kita tidak dapat mengawasinya secara terus-menerus. Ada dua yang harus ditanamkan pada anak, rasa tanggung jawab dan kepercayaan. Jika kita sebagai orang tua, merasa sudah mendidik anak dengan sebaik mungkin agar mereka mampu menjadi polisi buat dirinya sendiri. Saya pikir santai saja dan yakin atas kesadaran anak untuk menjaga dirinya.

Semua kembali pada pola interaksi. Saya seringkali menyebutkan rumus pengasuhan, jika kita tidak ingin direpotkan ketika anak sudah baligh, maka repotkanlah diri ketika masih kecil. Jika kita tidak mau repot ketika anak masih kecil, maka kita akan direpotkan ketika anak sudah baligh mungkin sampai anak menjadi dewasa.

Nah, apakah ibu merapa yakin dengan hubungan antara ibu dengan putra ibu. Tentunya tidak perlu merasa risau. Mereka akan baik-baik saja.

Namun jika ibu merasa ada naluri yang masih kurang percaya, itu bisa disampaikan. Kejujuran yang kita sampaikan tanpa tekanan, akan menyadarkan anak untuk lebih mampu menjaga diri dan kepercayaan dari orang tuanya. Toh, kita tidak dapat mengawasi mereka selama 24 jam.
Biarkan mereka menjadi pengawas buat dirinya sendiri. Dalam tubuh dan jiwanya tersimpan alarm, sebagai pemandu bagi tingkah laku sebagai kontrol dirinya.

 

Jawaban Anna Farida 

Kita sudah bahas sebagian di atas, ya, tentang kita kerja untuk siapa, dan apakah ketika anak perlu asuhan kita hadir baginya.

Jika anak sudah lengket dengan hapenya, jangan kecam hapenya—kita sudah bahas, ya. Bahwa batasan itu perlu kita juga sudah bahas. Anak 14 tahun sudah saatnya diajak bertanggung jawab dengan hidupnya. Bantu dia bikin rencana—kapan? Kan saya sibuk kerja. Luangkan waktu, berimprovisasilah. Pasti bisa. Ajak makan bakso dulu sejenak, ajak bicara baik-baik.

Lihat apa minatnya ketika bersosial media, misanya membahas bola.

Apakah ada peluang baginya untuk ikut klub bola?

Tarik kegemarannya di dunia online ke darat. Misalnya dia suka film kartun, apakah Ayah Ibu bersedia menyempatkan diri menemaninya ke pameran kartun?

Artinya, kita berikan wawasan bahwa dunia itu bukan hanya yang di Youtube, media sosial, dan internet pada umumnya. Kita juga bisa ditanya-tanya, bukan hanya Google yang jagoan jawab.

Ehhh, tapi kalau ditanya anak … jangan-jangan pada jawab “Cari aja di Google”

Perlu waktu dan tenaga lebih, dong?

Iya.

Saya tambah sibuk, dong.

Memang.

Repot, dong.

Mesti.

Bu Anna lebay, ah.

Kalau tidak lebay bukan cinta namanya.

 

Pertanyaan-9

Anak usia 2 tahun yang kecanduan gadget (sekarang sudah bisa teratasi) juga peralatan makan. Maunya makan pakai piring yang dia suka. kemudian kami mengajari untuk tidak ketergantungan, dengan sengaja menunda mencuci piring kesayangannya. Benarkah cara ini?
Jawaban Anna Farida

Anak dua tahun suka pada satu hal dan tak mau lepas sih wajar (sependek yang saya tahu). Ada anak yang terus nyaman dengan selimut bayinya, ada yang suka dengan sesuatu yang meninggalkan kesan mendalam baginya—misalnya film “Let it Go” tadi.

Variasikan sebisa mungkin dengan hal lain, tambahkan efek kesenangannya ketika dia pakai barang lain yang bukan kesukaannya.

Efek kesenangan tambahan inilah yang akan memenangkan hatinya, insya Allah.
Selesai dengan sukses.
Senang sekali dengan materi hari ini, karena saya juga masih punya tugas mendampingi anak menggunakan gawai dengan benar.
Iya .. mendampingi … anak main, saya juga main #ampooon ahahah

Bukan, dong, aaah!

Mendampingi adalah menjadi teladan yang baik. Saya selalu berusaha meletakkan hape atau membelakangi monitor ketika anak berbicara dengan saya. Saya berusaha tidak main hape di kasur ketika mereka masih ingin dipeluk — setelah mereka tidur dan saya masih melek sih urusan lain hueheheh #mulllaaai.

Terima kasih sudah berbagi waktu, berbagi pengalaman, dan berbagi pertanyaan.
Semoga menjadi kebaikan bagi anak-anak kita, amin.

Acara ini disponsori oleh Buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart.

Sugiharto: Mohon izin ikut, pendapat  , saya pribadi pernah mengisi rubrik di majalah hotgame tahun 2001. Sebenarnya software game itu ada rating usia bagi pemain yang diizinkan. Ini berhubungan tentunya dengan trend munculnya game elektronik yang mulai booming ditahun 1990 an, mulai dari yg sejenis handheld sampai console. Pasti ibu-ibu disini mengenal game console playstation dan anak-anak kita mengenalnya dengan ‘PS’.

Pengembang game sendiri sudah menentukan usia gamer bagi software yang dibuatnya (dipajang  pada cover depan).Namun di Indonesia, hal ini menjadi masalah ketika game yg dijual kebanyakan adalah game bajakan.Sedangkan di negara asal game itu jika ada indikasi dijual tidak sesuai umur (di bawah umur) maka si penjual akan kena sanksi.

Sebenarnya sampai sekarang belum ada penelitian yang pasti mengenai akibat main game dengan perilaku anak, namun yang harus disadari adalah game elektronik cenderung menimbulkan sifat adiktif.Baik itu yg ada di hape, console maupun PC. Yang paling bijak adalah kita sebagai orang tua, adalah memperhatikan jenis game yang dimainkan dan waktu memainkannya. Toh pada akhirnya kalo kita larang khawatirnya anak malah main di luar rumah (tidak terawasi).Demikian, maaf kalau terpotong-potong
Kalau memakai komputer bisa disetting waktu sehingga si anak tidak bisa buka sembarangan, dan komputer akan mati otomatis. Lain waktu akan saya posting caranya yang simpel supaya gampang dalam penerapannya. Terima kasih.

 

Advertisements

One thought on “Konsultasi Penggunaan Gadget bagi Anak

  1. Pingback: Generasi Tunduk | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s