Berbagi Pengalaman Seputar Perceraian

gambar share
ilustrasi: siliconbeat.com

Jumat siang, 18 Desember 2015 para peserta Kulwap Keluarga Sehati bertukar pengalaman seputar tema kulwap ke 15 “Perceraian”.

S: Topik yang sangat familiar dengan saya. Banyak sekali yang datang pada saya dengan kasus seperti ini walau dengan latar belakang berbeda.

N: Banyak sekali, ya, Mbak?

S: Penyebab terbanyak kasus perceraian adalah hadirnya orang ketiga, KDRT, masalah keluarga, ketidakcocokan dan pengasuhan anak.

N: Kalo artis, biasanya “ketidakcocokan.”

SS: hasil riset siapa itu ya?
Oya, ada kisah teman dari suami, dia bercerai ada anak satu. Sampai dia menikah untuk kedua kalinya ia tetap menafkahi anaknya tersebut. Salut! dia menjalankan ajaran agama Islam yg dia anut.

N: Salut!

T: Kalau  almarhum Bapak saya memilih poligami karena alasan tidak cocok sama istri pertama. Saya anak dari istri kedua tapi dibesarkan oleh istri pertama sejak saya berusia 2 tahun.

SS: Kerjasama ya?
T: Kerjasama? Bisa di bilang tidak sih. Dulu seingat saya pernikahan orangtua rumit. Sering melihat pertengkaran ortu, banyak kata dan sumpah serapah yang sering di ucapkan istri pertama untuk istri kedua. Ketika saya dewasa baru paham kalau ditakdirkan hidup dengan istri pertama untuk menebus dosa kedua ortu kandung saya.
Hihihi lebay ya.

SS: Hmmm, ada hikmah dalam setiap kejadian.

T: Iya sekarang semuanya berakhir dengan indah. Bapak bulan Mei lalu telah berpulang. Ternyata beliau lebih sayang istri pertama.  Agustus lalu ibu tiri saya juga meninggal, keduanya pergi di pangkuan saya.

SS: Semoga khusnul khotimah ya.

T: Amin. Makasih Mb SS sudah mau mendengar curhat saya.

SS: Sami-sami.

S: Mba SS, penelitian yang mana yang dimaksud?

SS: Faktor penyebab perceraian.

S: Sebuah penelitian kecil yang pernah saya lakukan dengan sample acak dan responden masi 20 orang saja pada tahun 2013. Waktu itu kebetulan saya sedang menyusun sebuah buku tentang poligami yang akhirnya tidak dilanjutkan bukunya karena sesuatu hal. Jadi mungkin tidak bisa mewakili. Namun dari 20 kasus tersebut… 8 di antaranya memang karena kehadiran orang ketiga.

SS: Database di pengadilan agama bisa juga jadi rujukan, meski tidak mengcover semua kejadian. Ada yang menikah secara agama, otomatis tidak tercatat pernikahan dan dengan mudah bercerai.

R: Nimbrung ah, saya pernah tahu sepasang suami istri yang memulai semua dari nol hingga mencapai kemakmuran. Lalu si suami bertemu wanita lain dan menikahinya, meninggalkan istri pertama. Lambat laun kemakmurannya kembali ke nol lagi, dan istri baru meninggalkannya. Sang lelaki kembali pada istri pertama. Yang mengejutkan saya: istri pertamanya menerima dan mendampinginya lagi perlahan menuju kemakmuran. Betapa … betapa luas hati wanita itu. Saya tahu kisah ini waktu masih gadis, sampai sudah punya anak pun belum bisa memahami kenapa istri pertama mau menerima suaminya lagi. Eh, ini masih masuk bahasan cerai atau udah poligami ya? Hehe.

S: Mba R beberapa responden saya seperti itu.

R: Dapat rahasianya bagaimana hatinya bisa selapang itu Mb S?

S: Iya … mba karena dia pasrah sama Allah. Dia percaya bahwa setiap kejadian terjadi atas ijin Allah. Termasuk masalah harta dan jodohnya. Topik ini suka membuatku baper. Aku hampir jadi korban perceraian ortu. Ibuku termasuk wanita seperti kasus yang mba R bilang, tapi tidak lama. Dan saat ini ibu merawat anak dari istri kedua ortu. Mantan istri kedua.

R: Wow. Kepasrahannya pada Tuhan yang luar biasa, ya. Nikah enggak baper (terbawa perasaan) doang ala ala mahmud abas (mamah muda anak baru satu) kaya saya ini.

SS: Wihhh, perlu ilmu tingkat tinggi tuh. Kalau masih muda gini mah baper mulu.

S:  Kalau kasus ortuku, semua anaknya pasang badan buat Ibu agar mau bercerai. Tapi kami kena semprot semua. Bagi Ibu, bagaimanapun Ayah memperlakukannya kami anak anaknya tetap harus sopan. Yah waktu itu aku masih muda dan labil. Tentu aku marah sekali dengan orang ketiga itu. Mulutku kasar memaki wanita itu dan membuat ayah murka. Kata ibu dia tidak ingin aku membuat ayah terluka agar tak keluar sumpah jelek dari ayah untukku. Karena dia tak ingin anaknya akhirnya menyesal dan merugi.

L: Masya Allah … Luasnya hati ibunda-mu, Mbak S.

S: Iya mba … enggak seperti hati anaknya.

SS: Mulia sekali ibunya, semoga Allah juga memuliakan beliau.

S: Hatiku sempittt kalau urusan itu.

L: Insya Allah anaknya juga bisa seperti itu.Kan air cucuran atap jatuhnya tak jauh dari pelimpahannya.

S: Jangannn, Mba. Jangan didoain kaya gitu. Semoga aku enggak pernah ngalami. Makasih Mba SS.

L: Ingat pepatah, guru … berdiri, murid … berlari… siapa tau, Mbak Sri bisa lebih dari itu.

Kita doain keluasan hatinya aja kok Mbak. Bukan nasibnya.

SS: betulll.

S: Aku akhir ini suka menghindari topik kaya gini sebenernya tapi … masih banyak aja yang curhat ke aku.

SS: berarti mereka percaya ke Mb S.

S: Tahun 2013 ada 6 orang sahabat dekatku yang akhirnya memutuskan bercerai karena KDRT dan orang ketiga.

L: Faktor ekonomi juga bisa ya? Ada enggak, Mbak?

S: Terus terang aku takut denger kata cerai, karena lihat dampaknya pada anak anak mereka.

L: Betul.

S: Ada Mba L faktor ekonomi. Ada seorang lelaki pribumi menikah dengan seorang wanita china Semarang anak seorang pengusaha kue dan mebel di Jakarta dan Semarang. Awalnya pernikahan mereka ditentang ortunya karena faktor ekonomi tapi atas dasar cinta akhirnya prrnikahan itu terselenggara juga. Setelah melalui 27 tahun pasang surut ekonomi akhirnya si wanita selingkuh hati karena merasa suaminya tak bisa membahagiakan dia secara materi. Istri menjadi selalu merendahkan suaminya di hadapan orang lain. Suami merasa malu dan terhina kemudian mentalak istrinya. Walau setelah itu hidup lelaki itu jadi kaya kehilangan pegangan. Dia tidak siap bercerai tapi sudah jatuh talak 3 secara agama. Tapi yang lebih kasihan lagi anak semata wayang mereka yang beranjak remaja jadi kehilangan percaya diri, dan labil. Anak itu tidak siap menerima calon keluarga barunya. Sedangkan sang ayah sibuk mengendalikan diri dan menata hatinya. LUPA HAL YANG TERPENTING bahwa ada anak yang harus dia jaga
Namun ada cukup banyak kasus juga dimana pilihan bercerai menjadi jalan terbaik untuk sebuah pasangan. Memberi kehidupan baru yang lebih bahagia bagi si wanita ataupun si pria. Ada beberapa teman, kolega, dan kerabat yang seperti ini. Pada beberapa kasus lain pasangan memilih untuk tidak bercerai ada yang akhirnya berakhir bahagia dan semakin mesra. Hal ini terjadi setelah berbagai usaha panjang dengan memperbaiki komunikasi dan hubungan kedua belah pihak. Duduk bareng untuk mencari solusi dari sumber pertikaian. Percayalah bahwa itu bukan hal mudah. Dibutuhkan hati yang luas dan pengorbanan tidak sedikit. Topik yang sungguh bikin baper.

SS: Yakinlah kalau kita bisa melewati segala rintangan.

R: Wah, iya Mbak S. Baca di bukunya Asma Nadia enggak sedikit yang mempertahankan pernikahan karena anak. Meski efeknya  enggak bisa lagi punya perasaan yang sama seperti sebelum terjadi konflik pada suaminya. Nah lho, pernikahan tanpa rasa cinta, lebih baik yang mana?

S: Betul! Itulah wanita! Dia sanggup menahan penderitaan dan mengorbankan kebahagiaan demi orang yang dia sayangi . Tapi pernikahan tanpa rasa itu sungguh tidak enak. Eh … kok jadi aku yang banyak bicara. Cikgu Anna Farida maafkan saya.

A: saya juga punya cerita, bu ibu …
ada seorang wanita menikah dengan seorang direktur perusahaan selama 9 tahun. Mereka dikaruniai 3 anak, kehidupan yang menengah dengan rumah luas, pembantu, dan sopir pribadi. Setiap bulan selalu ada agenda piknik keluarga. Namun karena ada konflik di perusahaan suami, maka suami ini mengundurkan diri, setelah 9 tahun bekerja. Kehidupan mereka terbalik 180 derajat. Berbagai konflik terjadi dalam pernikahan karena sang suami bagaimanapun dia berusaha bekerja lagi, selalu berakhir gagal. Hutang di mana-mana. Aset rumah pun dijual, emosi suami jadi labil, karena kini istrinya yang mencari nafkah untuk keluarga. Ditambah lagi keluarga istri selalu meminta agar mereka bercerai saja. Tapi istri tetap teguh, ia gigih menafkahi keluarganya dengan berjualan nasi dan guru honorer di sekolah menengah. Setiap kesal karena obrolan orang sekitar, suami menjadi emosi terhadap istri dan menjadi cemburuan berlebih pada sang istri. Suami mulai sakit-sakitan namun istri tetap merawatnya meski kadang emosi sang suami labil karena menahan rasa sakit dan darah tinggi. Kini suami dalam keadaan kritis dirawat di rumah sakit. Istri tetap setia menemani meski sendiri, karena anak-anaknya tak bisa menemani.  Suaminya sudah sulit berbicara, penglihatannya berkurang, untuk BAK dan BABA pun kadang terpaksa di tempat tidur karena tak boleh banyak bergerak. Sebelum sakit kritis seperti ini, bahkan suami pernah menawarkan untuk bercerai.

“Kalau bukan karena iman, Mamah sudah minta cerai dari dulu, Pa. Biarkan Mamah merawat Bapak,” isak istri. Dan … saya minta doanya semua … kisah di atas adalah kisah orangtua saya. Sekarang bapak sedang dirawat, semoga mamah saya tetap kuat, dan Bapak bisa sabar dengan penyakitnya.

SS: amin, semoga diberi kekuatan ya, Mb A. Kita saling menguatkan.

G: Semoga keluarga Mba A selalu dalam ridho dan kasih sayang-Nya.

N: Semoga mbak Afie dan keluarga selalu diberi kekuatan … sabar, ya, Mbak.

J: Semoga selalu tabah, ya, Mbak A.

S: Ini ada sebuah kisah dari seorang sahabat lama yang aku kenal betul luar dalam. Sebutlah Bulan. Dia sangat dermawan, mandiri dan cerdas. Dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki biasa dan menikah dalam kondisi suaminya belum bekerja dan bukan siapa siapa. 8 tahun pernikahan mereka dan sang istri yang bekerja mencari nafkah. Sekian tahun mereka hidup berjauhan karena suami tak ingin pindah mengikuti istrinya yang dinas di provinsi berbeda. Sampai suatu ketika sang istri hamil tapi suaminya tetap bertahan di kotanya sampai anaknya lahir. Suatu ketika sahabatnya mulai curiga dengan sang suami dan cerita pada wanita itu. Dilakukanlah penyelidikan ternyata suaminya sudah menikah diam diam dengan seorang janda dan memiliki anak. Padahal lelaki itu hidup dari harta milik istrinya. Dan istrinya harus berjuang sendiri membesarkan anak mereka yang sakit. Akhirnya sang istri menggugat cerai suaminya namun tidak dikabulkan suaminya. Malah dituduh kafir bila tetap menuntut cerai. Oya, aamiin. Semoga Mba A dan keluarga di beri kekuatan dan kesabaran.

S: Allahu rabbi … masya Allah Mbak A kisah penuh hikmah … barakallahu untuk keluarga. Insya Allah yg terbaik dari Allah untuk Mbak A dan keluarga. Salam hormat saya untuk bunda.

S: Iya ibunda betul betul wanita mulia. Salam hormat buat ibunda mba A.

MA: Masya Allah menyimak kisah ibunda. Salam hormat juga untuk ibunda betul-betul wanita hebat.

K: Subhanallah. Saya selalu menyimak kisah-kisah di sini. Sampai saya berpikir jika membangun rumah tangga itu tidak mudah. Harus lebih berhati-hati untuk memilih, yaa. Ditambah berbenah diri juga. Hehehe.

B: Yang belum nikah jangan takut nikah gara-gara baca kasus-kasus perceraian di sini, ya?

K: Takut sih enggak. Cuma jadi lebih semangat cari ilmunya, hehehe. Biar lebih siap menghadapi nanti.

E: Mana yang harus dipilih bercerai agar suasana hati dan pikiran tenang kemudian anak-anak tidak melihat contoh dan pengaruh buruk atau tetap bersama tapi kondisi keluarga tidak sehat dan semua anggota keluarga stres?

S: Mba Evi, beberapa memilih bercerai dan menata hidup baru yang lebih baik. Beberapa memilih bertahan walau dalam penderitaan panjang. Sebagian besar dari respondenku yang memilih bercerai kini sudah hidup bahagia dan menemukan pasangan baru. Namun ada juga yang bertahan dan akhirnya bahagia karena mau berubah satu sama lain.

E: Makasih responnya, Mba S. Sebuah pencerahan.

G: Alhamdulillah dapat ilmu disini dari Mbak-Mbak shalihah, trims pengalamannya sangat menginspirasi.

S: Kadang aku heran kenapa selalu dipertemukan dengan orang orang yang memiliki masalah rumah tangga? Kadang ada rasa bimbang dalam menjawab pertanyaan mereka. Takut jawaban akan membuat mereka salah mengambil langkah. Namun selalu kutanamkan pada mereka untuk mempertimbangkan baik buruk dan kesiapan mereka. Yang terpenting pilihan yang mereka ambil bukan berdasar saran orang lain. Melainkan sudah melalui perenungan dan sholat istikharoh. Sebab hanya Allah yang tahu jalan terbaik untuk kita.

E: Iya, memang keputusan kan yang menentukan dirinya sendiri berdasarkan pengalaman yang dihadapinya. Sambil berserah diri kepada Allah SWT. Saran dari luar adalah sebuah masukan yang sangat berharga agar ada gambaran untuk bisa diambil.

S: Yup. Kadang pihak luar suka ikut terbawa perasaan sehingga acap memberikan saran yang bisa membuat si tokoh terpengaruh dan mengambil keputusan yang sebenarnya hanya emosi kala itu saja. Jadi untuk kasus kasus seperti ini kita harus bijak memberikan saran dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Contoh nih ada seorang wanita yang sakit keras. Penyakitnya itu awalnya dipicu karena stres tingkat tinggi akibat ulah suaminya. Berkali kali dia memberi maaf namun berkali kali pula dikecewakan. Akhirnya beberapa teman menyarankannya untuk berpisah karena melihat tak ada satupun keuntungan bila dipertahankan. Keluargapun menyarankan hal yang sama. Kemudian dia bertanya padaku apa yang harus dia pilih. Aku hanya bisa mengatakan pertimbangkan baik baik kesiapan mentalmu. Sudah siapkah kamu melepasnya? Sebab bila tidak, maka masalah itu hanya akan memperburuk kondisimu. Bila memang siap, maka kamu harus mengikhlaskan semua dan yakin bahwa Allah sebagai penolongmu. Dan benar adanya ternyata dia tidak siap berpisah. Ternyata dia masih lebih baik bila ada suami yang mendampinginya walau hanya bertemu sebulan sekali. Andai waktu itu dia putuskan berpisah mungkin saat ini dia takkan bisa bertahan dari sakitnya.

H: Jadi ingat bukunya Cahyadi Takariawan. Beliau menyebutkan tuliskan kebaikan pasanganmu. Dan bila disakiti ukir di pasir supaya lekas hilang. Namun bila pasangan berbuat baik pada kita, ukir di batu agar tak pernah hilang.

SS: Dan selalu asertif akan sikap pasangan yang membuat tidak nyaman, mengajaknya menuju perubahan positif.

Sabtu siang setelah tanya jawab dengan narasumber selesai.

 

M: Terimakasih atas ilmunya, Cikgu Anna dan Bu Elia.

Selama ini, saya juga sering menyampaikan ke mereka-mereka yang hendak berpisah, bahwa ada status mantan istri/mantan suami, tapi tidak pernah ada mantan anak. Sampai kapan pun, anak tetaplah anak.
Miris mendengar jawaban anak-anak yang pernah saya hadirkan dalam rangkaian proses mediasi ortunya. Ada yang berkata, pingin menjadi kecil kembali dan seterusnya kecil, agar tidak harus memilih salah satu dari kedua orang yang disayanginya. Ada yang marah-marah dan berucap, untuk apa dia dilahirkan kalau akhirnya dicampakkan. Ada yang dengan entengnya berkata, terserah ortu daripada aku gila melihat pertengkaran. Tapi juga ada yang memang menginginkan ortunya berpisah karena salah satu pihak bertindak di luar batas.

 

S: Terima kasih, sungguh ulasan yg berusaha utk objectif tanpa memvonis, berusaha mencerna dan menyimpulkan, bahwa pd akhirnya kita tidak boleh tunduk pada ego.

N: Perceraian pasti kata yang bikin kepala cenat cenut dan hati deg deg plas panas nggak jelas. Saya yakin ketika menikah, tak ada seorangpun yang sambil merencanakan cerai. Iya kan? Saya paham betul bagaimana rasanya proses ketika mewacanakan untuk bercerai (apa lagi buat saya ini betul-betul mengagetkan) seperti naik roller coaster, yang meluncur kencang sekali, kadang kadang tiba tiba turun drastis bikin jantung serasa mau copot, kadang naik drastis padahal kita nggak siap, atau diputer puter seolah oleh kita ini nggak ada nyawanya. Betul betul berat.

Tapi poin utama yang ingin saya bagikan ke teman teman yang sedang atau sudah mengalamai perceraian adalah:
1. Kalau kita sudah berusaha mempertahankan RT sekuat kita, sudah mengevaluasi diri dan tidak berbuat maksiat pada Allah. Maka yakinlah bahwa ini memang sudah garis hidup yang ditentukan Allah di lauhil mahfuzh. Sekeras apa pun kita berusaha tidak akan ada yang bisa mengubah ketentuan Allah.
Dengan begitu kita jadi lebih ikhlas dan tidak berusaha terus menerus saling mencari kesalahan pasangan.
2. Pembagian harta, buat yang muslim silakan baca baca di buku buku fiqh(buku Fiqih 5 mazhab cukup detail). Bahkan banyak hal yang selama ini tidak diketahui umum, misal tentang pengasuhan, upah untuk mengasuh, dll.
3. Bijaklah untuk memaparkan hal ini pada anak-anak. Kalau saya, sebelum mengatakan pada anak anak, saya siapkan dulu mental dan keimanan mereka. Bahwa setiap manusia pasti akan diuji, bahwa Allah tahu apa yang terbaik buat mahluknya, bahwa orang tua pasti sayang pada anak anak, bahwa kita akan selalu menyayangi mereka, bahwa ibu baik, ayah baik, Allah yang berkehendak.
Kalau mereka tetap jadi anak baik pasca perceraian, tandanya kalian anak yang pandai. Bersyukur pada Allah, pandai berterimakasih pada orang tua, dan Allah akan tinggikan derajatnya.
(Alhamdulillah anak anak saya pasca cerai tetap baik, tidak ada yang kehilangan jati diri).
3. Jangan pernah berniat balas dendam, termasuk misalnya cuma ingin menikah lagi untuk membuktikan bahwa kita masih laku. Bukan itu tujuan pernikahan.
4. Seiring dengan waktu, pasti mulai terasa hikmah apa yang Allah inginkan darinperceraian kita.
Tapi sambil menunggu hikmah tadi, bagi saya, kita bisa menciptakan hikmah. Sengajakan untuk menggali potensi diri, yang kira kiranya kemaren tidak sempat dilakukan waktu bersuami. Kalau saya, dengan menulis buku. Alhamdillah dalam 2 tahun perceraian, 2 buku lahir dan mejeng di toko toko buku.
Ini penting saya rasa. Karena pada umumnya pasca cerai kondisi jiwa kita itu dooooown, sekali. Tingkat ke PD an bisa jadi di titik minus.

Nah prestasi prestasi yang kita raih akan menjadi booster untuk cepat move on.

At: Mbak N? Betulkah?

N: 5. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Evaluasi harus. Tapi lebih baik merencanakan langkah ke depan daripada menyesali diri dan keadaan.
Melangkah dan bergeraklah terus meskipun langkah masih melayang dan masih kayak robot dan kayak zombie. Dengan melangkah, Allah pasti nolong.

  1. Saya formula TEJASUKMA dalam menjalani ujian, khususnya perceraian. TERIMA (karena kita kan beriman pada taqdir). JALANI (Ini sudah rencana Allah dan kita cuma “wayang” nya Allah), SYUKURI ( tidak semua orang diberi amanah berat ini. Berarti kita orang pilihan, dan Allah pasti punya rencana tebaik untuk kita). MANFAATKAN (karena banyak hal yang bisa jadi tidak bisa kita lakukan ketika masih bersuami. Menggali potensi diri, menyalurkan hobi. Why not?).
  2. Bagi yang rumah tangganya masih utuh, bersyukurlah dengan sebenar-benarnya syukur. Caranya? Sudah dibahas dalam aneka kuliah di grup keren ini. Jatuh cinta itu mudah. Yang sulit adalah bangun cinta. Bangunlah cinta dalam keluarga. Apalagi sudah ada anak. Segera selesaikan permasalahan sekecil apapun, jangan jadi menumpuk. Komunikasi itu kunci yang super duper penting.
  3. Dalam kondisi 3 tahun pasca perceraian ini, alhamdulillah rasanya saya sudah banyak temukan hikmahnya, dan saya makin yakin bahwa semua rencana Allah itu baik.
    Alhamdulillah mantan suami saya mah memang baik, sayanya juga baik ( insya Allah) sehingga untuk urusan nafkah dan anak, kami bahu membahu.
    Anak anak tidak kehilangan kasih sayang ortunya.
  4. Ya jangan mau bercerai atuh. Tetap aja itu adalah jalan keluar gawat darurat saja.
    Mohon maaf kepanjangan ngalahin pemateri. Saking ingin berbagi.
    Oya, mohon doanya buku saya tentang single mom, win the battle segera terbit. Itu hasil perenungan, dan keinginan berbagi saya buat temen temen, harapannya biar yang Rumah tangga utuh cepat-cepat bersyukur, yang dalam proses perceraian sejuta kali memikirkannya lagi, dan utamanya adalah untuk mendampingi temen-temen yang baru saja bercerai. Sebab masa masa itu adalah masa yang sangat berat. Perlu pendamping.
    Semoga bermanfaat, ya.
    Iya mbak At, doain yaaa.

 

E: No 1. Bagaimana indikator sudah mempertahankan rumah tangga sekuat tenaga?

TE: Kenapa perceraian menyalahkan Tuhan? bukankah Tuhan tidak menyukai perceraian itu?

N: Kalo bagi saya sih begini, kita kan pasti punya bayangan usaha apa saja yang harus kita lakukan untuk mempertahankan keluarga. Misal: memperbaiki diri, mengikuti keinginan suami, menahan diri berkata kasar meskipun marah, tidak curhat ke sembarang orang kecuali yang bisa kasih solusi, baca baca buku untuk tambah wawasan tentang pernukahan dan perceraian, berusaha fokus pada memecahkan masalah, bukan pada mencari kesalahan, tidak melakukan hal yang tidak disukai suami ( saya waktu itu sampai bubarkan TK saya dan jual rumah saya), tidak bermaksiat dengan jalan misalnya cari PIL, mencari masukan dan nasehat dari keluarga dan ulama, dll. Nah, kalau semua list yang kita bayangkan harus kita lakukan sudah tercontreng semua (tanda sudah dilakukan) tapi perceraian tetap terjadi, itu berarti memang kuasa Allah, keinginan Allah, jalan hidup kita. Jadi kitanya lebih tenang tinggal tawakkal.

 

U: No 1. Bagaimana indikator sudah mempertahankan rumah tangga sekuat tenaga? Mencoba menjawab, sudah sampaikah pada tahap kompromi kalo terjadi kompromi dan tidak berhasil nah mungkin itu, usaha terakhir.

 

N: Justru ketika terjadi perceraian tidak boleh menyalahkan Tuhan. Hanya saja dalam keyakina umat Islam ada yang namanya. Takdir yang sudah digariskan Tuham bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia.
Yang harus dikuatkan adalah keyakinan bahwa takdir sejelek apa pun menurut rasa kita, pasti ada alasan-Nya dan demi kasih-Nya pada kita.

RA: Perceraian itu memang menyakitkan, tapi ini adalah jalan yang Allah halalkan. Ini merupakan pintu darurat yang Allah berikan untuk menyelamatkan kehidupan rumah tangga hamba-Nya. Saya beberapa kali mendampingi teman dan saudara yang mengalami masalah dalam kehidupan pernikahannya. Ada yang tetap utuh dengan kondisi “awet rajet”, ada yang utuh dan menjadi lebih baik dengan penuh perjuangan, dan ada juga yang berhenti dengan menyimpan luka yang mendalam. Tampaknya, jalan apapun yang ditempuh, itu adalah pilihan masing-masing pasangan. Yang penting, selama sudah melakukan muhasabah (perenungan, evaluasi diri), mediasi, dan konsultasi dengan orang yang ahli, juga memohon pertolongan Allaah, jalan apapun yang akan ditempuh semoga itu menjadi pembuka jalan kebaikan bagi keduanya.

N: Aamiin. Betul, Teh.

 

RA: Sesungguhnya baik yang bercerai maupun tidak, kita semua sedang berjuang untuk bahagia di jalan Allah.

KH: No 1. Bagaimana indikator sudah mempertahankan rumah tangga sekuat tenaga?

Ikut kasih pendapat, misal kasus suami selingkuh, tanyakan si suami maunya apa? Mau ganti istri??? Atau mau nambah istri???
(Pasti pilih nambah istri aja, karena beberapa dari suami selingkuh sebetulnya tidak ingin bercerai dengan istrinya)
Suami diingatkan, minta maaf, & istri memaafkan, tapi suami tidak berubah & mengulangi lagi perbuatannya.
Suami diingatkan lagi, minta maaf lagi, istri memaafkan lagi & memberi jalan untuk poligami. Suami menolak karena ternyata selingkuhannya masih punya suami. Nah, kalau suami masih tetap selingkuh rasanya cerai adalah jalan keluarnya. Hehehe.

 

N: Hihi … sepakat. Memberi jalan untuk berpoligami itu sudah hal yang maksimal yang bisa kita lakukan.

KH: Tapi ada tipe laki-laki (kalau boleh saya sebut pecundang), lebih memilih selingkuh daripada menikah lagi, Teh N. Mungkin karena pertanggungjawabannya beda kali. ‪#‎maaf bapak-bapak.

N: Ya itulah makanya. Kalo sudah konteks memilihnya yang seperti itu, tidak pilih poligami, cerai bisa jadi lebih baik. Bagaimanapun selingkuh kan pilihan sadar. Apalagi sama yang masih bersuami. Berarti dia bukan orang baik tidak wajib dipertahankan.

KH: Kenapa perceraian menyalahkan Tuhan?bukankah Tuhan tidak menyukai perceraian itu?Saya tidak tahu ini berhubungan atau tidak. Yang saya ketahui hadits yang menjelaskan bahwa cerai adalah perkara halal yang dibenci Allah itu sangat lemah.
Yang ada malah ayat, “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 130)
Tentu jalan cerai yang dipilih setelah melalui proses-proses seperti yang disebutkan Teh N di atas.

 

E: Apa definisi selingkuh? Bagaimana kalau definisi dan kriteria selingkuh berbeda antara suami istri?

KH: Hehehe … buka KBBI dulu, Mbak E. Tapi kalau bagi saya pribadi, disebut selingkuh jika sudah sampai pada hubungan badan.Tapi saya istri yang galak, Mbak E. Tidak perlu sampai pada tahap selingkuh, semua perbuatan yang mengarah ke situ sudah akan saya beri lampu merah, karena saya memilih rambu “agama” sebagai batas.

J: Saat ini selingkuh tidak harus sampai hubungan badan. Selingkuh hati misalnya. Kalau sampai hubungan badan sudah tingkat parah.

KH: Parah sekali, Mbak J. Saya berpikir sudah sepantasnya untuk bercerai, jika salah satu dari pasangan melakukan hubungan badan dengan orang lain (yang tidak halal).
Karena kalau dikembalikan pada hukum agama yang saya pegang, pelaku zina muhson itu (pezina yang sudah punya suami/istri) adalah dirajam sampai mati.
Otomatis pasangannya tidak akan lagi hidup bersama suami/istrinya, alias cerai mati.
Astaghfirullah …
Naudzubillah …

J: Kalau berdasar materi sebelumnya … definisi selingkuh itu macam-macam, Mbak.

Ada yang berpendapat bahwa bila pasangan sudah hubunga badan maka dianggap selingkuh.

Tapi ada pula yang hanya sekedar kencan atau kontak fisik sudah menganggap selingkuh berat.

Memang soal pezina itu saya setuju. Tetapi Kalau bisa menerima dan ikhlas serta punya rasa maaf seluas samudera bagaimana?

Zina juga banyak tingkatannya bukan? Dari zina mata … yang hanya saling memandang.
Zina hati yang sudah memikirkan orang lain selain pasangannya, hingga zina fisik yang sudah hubungan badan.

Itu sebabnya dalam Islam kita dilarang berduaan selain dengan yang dihalalkan. Apa pun bisa terjadi bila amin tidak sekuat iman.

 

N: Setuju, Mbak KH. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Cuman metodenya yang harus dipake. Kuliah komunikasi asertif.# buka lagi aaah.

J: Beberapa suami diberi pilihan poligami kadang tidak mau. Karena memang selingkuh lebih mudah. Tanggung jawab tidak ada di perselingkuhan. Beda dengan poligami. Harus menafkahi 2 istri, kan. Selingkuh paling ajak makan atau beri hadiah mahal atau beri uang sesekali. Sebuah cerita. Ada seorang Bapak pensiunan datang ke kantor. Dia bercerita ke kita semua terutama kepada para Bapak. Dia sudah menikah 3 kali.

Katanya, “Kalau istri kamu bertingkah atau selingkuh, jangan kamu ceraikan. Maafkan saja. Karena berdasar pengalaman yang pertama itu selalu yang terhebat dan terbaik. Saya sudah menikah 3 kali tapi tidak ada yang sehebat istri pertama saya.

Beliau juga panjang lebar menjelaskan bahwa perceraian jangan diambil kalau masih ada jalan lain.

KH: Iya, Mbak J, Kalau definisi selingkuh-nya beda, ya pasti akan berbeda bahasan-nya.
Zina yang diancam rajam setahu saya hanya hubungan badan saja, & itu yang saya maksudkan. Dan hubungan badan itu pun harus ada 4 orang saksi yg melihat langsung (pelaku tidak menggunakan selimut atau tutup apa pun). Kalau ada pasangan yang memaafkan, itu mungkin akan lain cerita mbak. Lagian jaman sekarang mana ada orang yang dengan gagah mau mengaku bahwa dirinya telah berzina (baca: hubungan badan) dan meminta dihukum rajam sebagai penebus dosa zinanya. Maksud saya, para pezina itu pastinya akan tetap hidup & berkeliaran.

J: Cerita lagi. Di instansi saya (Badan Karantina Pertanian) tingkat perceraian paling tinggi dibanding instansi lain di Kementerian pertanian. Usut punya usut salah satu sebabnya karena banyak pasangan terpisah lokasi karena tugas. Sebagai pegawai pusat kami harus siap ditempatkan di seluruh indonesia. Terkadang dengan berbagai pertimbangan harus meninggalkan keluarga. Hal ini memicu perselingkuhan, TTM atau sebastian yg akhirnya perceraian. Untuk itu misi kepala badan yang sekarang adalah menyatukan keluarga. Tidak sembarang memutasi pegawai ke tempat lain.

Yang satu rumah saja bisa bercerai apalagi yang beda rumah. Bener, mbak KH mana ada yang mau ngaku. Saya pernah baca mengenai perbuatan maksiat zina bila pelaku bertobat sungguh-sungguh tidak perlu mengakui perbuatannya ke pihak lain untuk dirajam. Entah benar atau tidak info itu.

KH: Bener, Mbak J, saya pernah baca juga, tapi yang saya baca untuk pelaku yang belum pernah menikah.

 

J: Yang sudah menikah tetap rajam, ya?

 

KH: Hehe … kan kalau ada saksi mbak … kalau tidak ada saksi ada yang minta dirajam sebetulnya lebih ke maksud agar di akhirat nanti dia sudah tidak menanggung dosa itu lagi.
Wallahu a’lam.

 

J: Cari saksi itu yang susah hehehe … mana ada org yang mau zina disaksikan orang.
KH: Loh, yang di luar negeri itu, Mbak. Berhubungan di ruangan berdinding kaca, tanpa menutup tirai, lampu menyala. Enggak cuma 4 orang yang ngeliat.

 

J: Hiii serem.

KH: Sekarang juga sering ada penggerebekan satpol PP yang tanpa ketok pintu tapi langsung mengintip ke dalam kamar lho, Mbak. Jadi hati-hati.
Maksudnya kalau mau berhubungan di tempat umum, seperti hotel, hati-hati. Bila perlu tunjukkan surat nikah, & pesan sama petugasnya agar jangan mengganggu.

J: Hihihihi … masa iya kita harus bawa surat nikah kemana-mana, ya.

KH: ‪#‎bila perlu, liat kelas hotelnya.

 

J: Semakin tinggi kelas semakin susah digerebek gitu, ya, hahahaha.

KH: Hahaha … kayaknya …

 

E: Tentang surat nikah. Di kantor saya ada suami istri. Karena alasan kesehatan maka tiap ada dinas luar kota selalu dipasangkan. Mereka selalu membawa surat nikah. Kejadian saat dinas di Majalengka, hotel mereka digerebek.

 

J: Waduh.

 

N: Uhuk …

 

JD: Kalau nginep di hotel sama suami, cukup bawa KTP kali. Kan alamatnya sama. Kecuali kalo alamat di KTP beda, ya, kudu bawa surat nikah.

 

H: Be strong, ya, Mbak N, ditunggu bukunya, semoga lancar sampai terbit. Saya selalu salut sama single mother.

N: Aamiin. Jaakillah, Mbak H.

 

LM: Saya baru sempat baca kulwap. Asli terharu baca sharing Teh N. Be Strong ya Teh. Big hug …

Terima kasih tak terhingga pula buat pemateri dan semua yg berpartisipasi di sini. Materinya sangat bermanfaat.

NC: Mbak N, semoga Allah meluaskan samudera kesabaran, ketabahan serta ketangguhan. Terima kasih atas sharingnya.

U: Ijin nimbrung, pada hakekatnya rumah tangga itu seperti kita berada di dalam wahana yg sama, baik istri maupun suami punya peran yang sama untuk menenggelamkan wahana itu sendiri, yang pada akhirnya hanya akan menenggelamkan keduanya. Naudzubillah semoga kita semua selamat dan bisa berdua berlabuh di surga yang sama amin.

 

KH: Daripada tenggelam berdua, mending segera menyelamatkan diri saja (keluar dari wahana).

 

U: Keluar juga tenggelam, Bu.

 

K: Kan pake sekoci … kita sebagai mahluk Allah paling sempurna, diberi akal, maka gunakanlah.
Sampai di sini sharing peserta, memang terlihat terpotong tapi ya begini adanya, hehehe. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil, ya. Selamat belajar!

 

 

Advertisements

One thought on “Berbagi Pengalaman Seputar Perceraian

  1. Pingback: Perceraian | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s