Konsultasi Perceraian

gambar cerai
ilustrasi: babarusyda.blogspot.com

Tema Kulwap Keluarga Sehati ke 15 yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart ini memang cukup membuat gempar peserta. Diskusi yang cukup panjang sampai berhari-hari masih saja berkomentar soal perceraian yang tentunya akan membicarakan sebab terjadinya peristiwa tersebut.

Yuk belajar dari persoalan yang disampaikan ke Kulwap Keluarga Sehati.

Anna Farida:

Salam Sehati, Bapak Ibu. Mohon maaf sangat terlambat.
Bahasan kita kali ini agak pedas, tapi kok diskusi kemarin jadi sangat ramai–mohon maaf juga belum sempat ikut berkomentar.
Mari kita bahas tanya jawab satu demi satu. Kunyah pelan-pelan.
Pertanyaan-1

Kisah seorang teman yang suaminya meninggal (pernah menikah dan punya 3 anak).
Setelah almarhum bercerai tidak memberikan pembagian harta yang jelas (meski pernah menyerahkan beberapa puluh juta untuk masing-masing anak). Kemudian anak-anaknya meributkan harta almarhum.
Syukurlah istri almarhum tadi mendapatkan jawaban dari ahli agama Islam yang paham ilmu waris.
Bahwa banyak orang ketika bercerai tidak terpikirkan akan harta bersama ketika masih ada ikatan pernikahan. Seharusnya pada saat bercerai maka harus segera diselesaikan urusan warisan, berapa bagian mantan istri, anak, jika tidak punya anak maka ada ahli waris yang berhak menerima, dsb.
Apakah ketika memberikan nasihat kepada pasangan yang hendak bercerai sampai pada pembagian harta bersama supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?

 

Jawaban Elia Daryati

Pembagian harta pasca bercerai.

Tampaknya memberikan nasihat sampai masalah pembagian harta merupakan langkah bijaksana, sebelum terjadi masalah besar pasca perceraian. Hal ini merupakan inspirasi yang cukup menarik. Mengingat selama ini orang biasanya hanya memperebutkan masalah hak asuh anak. Hukum pembagian harta yang disesuaikan dengan nilai-nilai keyakinan, akan memiliki kekuatan tersendiri untuk dipatuhi, meskipun tidak selamanya dapat disikapi dengan damai.

Dengan adanya penjelasan di awal, paling tidak dapat memberikan batasan yang jelas mengenai hak dan kewajiban, meskipun dalam posisi sudah bercerai. Rambu-rambu ini pada akhirnya dapat menjadi kontrol. Adapun kompromi merupakan cerita lain dari sebuah kesepakatan, namun intinya tidak merugikan kedua belah pihak dengan mengambil patokan pada hukum yang seharusnya. Apakah hukum positif atau pun hukum agama yang dijadikan sebagai landasan.

 

Jawaban Anna Farida

Setahu saya, bara yang paling lama tersimpan sebelum bahkan setelah perceraian adalah harta. Awalnya sih hak asuh anak yang dipermasalahkan—masing-masing pihak gengsi mengurus masalah harta—kemudian anak juga yang jadi alasan ketika hendak mengungkit harta bersama. Duh, kasihan anak.

Di Barat (saya hanya tahu dari film ehehe) ada perjanjian pra nikah yang berisi pemisahan harta antara pasangan yang hendak menikah—entah seperti apa teknisnya, yang jelas begitu bercerai, masing-masing membawa kembali harta yang dimiliki. Hadeuh, referensinya tidak sahih, film hollywood tongue emotikon

Saya melihat beberapa kasus pembagian harta bersama yang akhirnya membawa mantan suami istri ke pengadilan dan menghabiskan biaya perkara yang tidak sedikit. Perceraiannya sudah menyakitkan, urusan hukumnya tidak mudah.

Jika sampai pada tahap ini, keluasan hati masing-masing demi kepentingan yang lebih besar (misalnya kepentingan anak) harus jadi pijakan yang utama. Kalau nurutin ego, waduh … bisa panjang dan mahal urusannya. Bagaimana mau move on?


Pertanyaan-2
Ada sahabat yang curhat ingin bercerai dari suaminya karena main pukul kalau sedang marah, bahkan pernah dilakukan di depan umum. Aku bilang kalau keputusan ada ditangan kamu.  Aku hanya memberikan beberapa jalan keluar, yang menjalani dan yang tau pilihan terbaik utk hidupmu ya kamu. Juga aku sarankan ada beberapa lembaga konsultasi yang gratis untuk menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, silakan hubungi dan konsultasi. Sudah tepatkan memberikan solusi demikian?
Jawaban Bu Elia Daryati

Saran untuk KDRT

Saya pikir Ibu sudah cocok untuk dijadikan mitra konsul bagi ketahanan keluarga. Saran yang disampaikan sudah tepat dan untuk Jawa Barat sebetulnya ada lembaga resmi dari pemerintah, yaitu BP3AKB (Adalah Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana) . Dengan melaporkan di badan ini, akan diberikan penanganan dan juga edukasi.

Persoalannya banyak yang tidak melaporkan tindakan kekerasan, karena menganggap ini masuk dalam wilayah pribadi. Jika kita membiarkan kekerasan terjadi terus-menerus tanpa penanganan, artinya kita secara tidak langsung menyetujui kekerasan ini terjadi. Lebih tegasnya kita memberikan ‘reward” atau hadiah pada perilaku negatif. Apa yang dilakukan pada akhirnya dapat diyakini sebagai kebenaran yang disetujui. Akan tetapi jika masih dapat ditangani secara kekeluargaan dengan melibatkan konselor pernikahan ini langkah yang bijaksana. Mengingat jika sudah melibatkan lembaga yang didirikan secara resmi oleh negara, pada akhirnya akan bersinggungan dengan ranah hukum .

 

Jawaban Anna Farida

Ada yang bilang urusan rumah tangga adalah urusan pribadi. Memang benar.

Tapiiii kalau sudah ada KDRT, sudah bukan pribadi lagi namanya. Ibu sebagai teman sudah memberikan masukan yang benar. Bukan hanya jadi teman curhat tapi juga memberikan alternatif. Karena maaf saja, urusan KDRT sering ditutupi. Pelaku dan korbannya sering “bekerja sama” menyimpannya dari pandangan umum. Jadi, orang-orang terdekatnyalah yang bertanggung jawab melaporkan atau memberikan saran agar kejahatan ini berhenti. Sori, tapi selayaknya keluarga adalah orang yang paling melindungi kita. Jika keluarga justru jadi orang melakukan kekerasan, apa jadinya?

So, domestic violence is a crime.

 

Pertanyaan-3
Saya sudah bercerai dari suami, ada anak 1. Sekarang mantan suami sudah menikah lagi.
Ada rasa saya juga bisa mnikah lagi. tapi saya tidak mau terburu-buru mengingat pengalaman menikah dengan yang dulu. Bagaimana caranya supaya tidak tergoda untuk segera menikah (karena mantan sudah menikah lagi) tanpa pertimbangan yang matang?
Jawaban Bu Elia Daryati

Kebutuhan memiliki pasangan kembali.

Memutuskan untuk menikah bukan merupakan proses “trial and error” , seperti memilih mainan kalau tidak cocok kita kembalikan lagi. Pernikahan merupakan janji yang berat antara, aku, kamu dan Dia. Dalam relasi pernikahan, ditengahnya ada Allah. Jadi ketika ibu merasa tergoda karena mantan suami sudah menikah tapi diri belum juga menikah. Ini jangan dijadikan patokan untuk menikah lagi, tapi menikahlah jika kita memang sudah merasa sebagai kebutuhan yang tidak terelakkan.

Pernikahan bukanlah balapan lari, siapa yang duluan itulah yang menang. Bukan seperti itu. Tapi menikahlah dengan tujuan yang jelas dan tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Walau pada akhirnya semua orang harus berpasangan, karena disitulah letak keseimbangan, baik secara fisik maupun psikologis, apalagi jika Ibu pernah memiliki pengalaman menikah.

 

Jawaban Anna Farida

Ini pertanyaannya agar tidak tergoda untuk segera menikah lagi karena mantan sudah menikah, kan?

Salah satu pertanyaan terpenting yang perlu dijawab dengan jujur adalah: Apakah Anda sudah memberi waktu yang cukup untuk diri sendiri?

Perceraian bukan hal sederhana. Waktu yang diperlukan untuk sampai pada kata itu pasti lama dan melelahkan. Coba beri waktu dulu pada diri sendiri agar suasana hati luang, agar bisa berpikir lebih tenang. Istirahat dulu. Apalagi jika ada anak-anak yang ikut terlibat, berikan juga waktu lebih untuk mereka. Mereka baru saja kehilangan salah satu orang tua, tentu perlu waktu untuk siap menerima kehadiran orang baru dalam kehidupan mereka.

Jadi, berikan waktu untuk diri sendiri dulu. Berapa lama? Tidak ada angka pasti. Setiap diri punya batasannya sendiri.

Kapan saatnya dan apa tandanya siap menikah lagi? Itu bahasan lain. Kan pertanyaannya bukan itu 😁 ‪#‎kabooor
Pertanyaan-4

Orang tua saya bercerai sudah sejak saya masih SD kelas 3. Saya tidak pernah tahu alasan mengapa mereka bercerai sampai saat ini. Seperti ditutupi. Terkesan saling menyalahkan. Saya sudah berkeluarga dan memiliki anak rasa ingin tahu kenapa ayah dan ibu berpisah masih memenuhi kepala. Pantaskah saya menanyakan hal tersebut kepada orang tua saya, mengingat mereka sudah memiliki kehidupan pribadi masing-masing. Saya tahu ini sudah tidak penting untuk dibahas. Tapi apakah seorang anak tidak berhak tahu alasan mengapa org tuanya berpisah?
Jawaban Bu Elia Daryati

Alasan perceraian

Rumah tangga dan relasi suami istri terkadang merupakan ruang pribadi yang penuh misteri. Mereka adalah pelaku dan yang lain adalah penontonnya. Perpisahan seringkali diakhiri dengan kalimat ketidakcocokan. Nah, ketidakcocokan inilah yang terkadang tidak dapat dijelaskan dan didefinisikan, kecuali dirasakan oleh kedua belah pihak. Dalam hal ini suami-istri.

Ketidakcocokkan pribadi sebetulnya secara sunatullah terjadi pada seluruh pasangan yang menikah, adapun hal yang dapat mempersatukan pernikahan itu menjadi abadi salah satunya, sikap toleransi dari masing-masing pasangan.

Adapun sikap kedua orang tua Ibu untuk menutup alasan perceraian di masa lalu, boleh jadi diakibatkan adanya ketidakcocokan yang di luar batas toleransi kedua belah pihak. Percayalah ketidakterusterangan mereka, tentunya dimaksudkan untuk tidak melukai perasaan anak-anak, termasuk perasaan mereka juga.

Dengan posisi Ibu sekarang sudah berkeluarga, tentunya akan mengerti betapa pernikahan bukan persoalan yang sederhana. Jika tidak disikapi secara dewasa, maka langkah untuk berpisah itu terasa sangat dekat. Anak boleh saja bertanya, namun tidak selamanya akan dapat jawaban yang memuaskan. Boleh jadi sikap diam kedua orang tua Ibu, semata-mata untuk menjaga perasaan anak-anak dan respek kepada orang tua tetap terjaga. Point pentingnya adalah toh kedua orang tua Ibu masing-masing telah memiliki keluarga yang sesuai dengan pribadi masing-masing.

 

Jawaban Anna Farida

Keluarga adalah tim. Jika terjadi sesuatu yang baik maupun buruk, selayaknya semua anggota tim mengetahuinya. Namun demikian, bisa jadi ada pertimbangan yang membuat pasangan tidak mengungkapkan alasan perceraian. Mungkin saat itu mereka berpikir anak-anak belum waktunya tahu, dan sekarang setelah anak sudah dewasa mereka berpikir toh masa itu sudah berlalu, buat apa dibahas lagi.

Sekarang kembali ke anaknya.

Jika sang anak memang merasa perlu bertanya, saya rasa layak ditanyakan, dengan catatan tetap menghargai privasi orang tua. Tanyakan sebagai anak, bukan sebagai orang yang ingin menghakimi. Sampaikan mengapa Ibu ingin bertanya, misalnya untuk menjadikan peristiwa itu sebagai pengalaman agar tidak terjadi hal yang sama.

Lihat apakah orang tua Ibu memberikan jawaban dengan lugas atau masih ingin menyembunyikannya. Di saat yang sama, berbicaralah sebagai sesama orang dewasa yang saling menghormati rahasia masing-masing. Setiap rumah tangga punya cobaannya masing-masing. Sebagai anak, Ibu berhasil melewati masa sulit perceraian orang tua, itu hal yang sangat berharga. Mungkin untuk tujuan inilah orang tua merahasiakannya.

Keep strong, Bu. Setrong!

 

Pertanyaan- 5

Saya pernah tahu pasangan yang memulai semua dari nol hingga mencapai kemakmuran. Lalu suami bertemu wanita lain, menikahinya, meninggalkan istri pertama. Lambat laun kemakmurannya kembali ke nol lagi, dan istri baru meninggalkannya. Sang lelaki kembali pada istri pertama, yg mengejutkan saya, istri pertamanya menerima dan mendampinginya lagi perlahan menuju kemakmuran. Betapa luas hati wanita itu. Saya tahu kisah ini waktu masih gadis, sampai sudah punya anak pun belum bisa memahami kenapa istri pertama mau menerima suaminya lagi?
Jawaban Bu Elia Daryati

Tipe setia dan pemaaf

Ada memang tipe-tipe perempuan yang memiliki tingkat kesetiaan untuk cinta yang tanpa syarat, sekalipun telah disakiti oleh pasangannya. Mereka memiliki kadar cinta yang luar biasa, bahkan melebihi cinta kepada dirinya sendiri.

Untuk meraih kesuksesan yang diraih tidak mudah, dan dimulai dengan susah payah, tentunya menyimpan sejumlah kenangan yang sarat untuk di lupakan. Pahit, getir, dan perjuangan untuk mencapai kesuksesan telah dijalani dan hanya mereka yang merasakannya. Cinta dan keberhasilan yang terbangun dalam proses, tentunya memiliki jejak yang cukup dalam.

Istri pertama mengenal suaminya, dari mulai susah sampai sukses. Sedangkan istri berikutnya, boleh jadi tertarik pada suami karena kesuksesan hartanya. Ikatan mana yang lebih kuat? secara logika tentunya istri pertama akan memiliki ikatan yang lebih kuat dari cinta yang tanpa syarat, sementara istri berikutnya mungkin mencintai dengan syarat. Maka ketika syaratnya berkurang, maka cinta pun hilang.

Namun tidak semua kisah seperti dalam kasus ini berujung pada penerimaan istri pertama, ada juga kisah-kisah yang berujung pada kondisi yang merana bagi pria-pria yang “ lupa kacang pada kulitnya”. Mengingat tidak semua istri yang dikhianati memiliki tipe setia dan pemaaf.

 

Jawaban Anna Farida

Huaaa, saya menemukan perempuan seperti itu tidak sedikit, lho. Entah terbuat dari apa hatinya. Salut!

Saya tidak hendak berkomentar apakah yang menerima itu lebih mulia. Artinya, jika perempuan itu menolak suaminya untuk kembali, apakah dia jadi hina, atau berkurang kemuliaannya?

Semua orang punya pilihan kemuliaan, dan pilihan perempuan tersebut adalah menerima suaminya kembali.

Ini sangat subjektif, ya, tapi perlu saya sampaikan. Menerima kembali seseorang yang pernah menyakiti kita bukan satu-satunya pilihan kemuliaan. Masih banyak pintu lain lain, masih ada jendela juga, lewat atap juga bisa ehehe ‪#‎provokasi ‪#‎biarpadaprotes


Pertanyaan-6

Kami menikah 20 tahun, dan semua berjalan baik-baik saja. namun 5 tahun yang lalu saya mendapati suami dicurhati perempuan bersuami, suami juga curhat ke perempuan tadi. Saya benar benar kecewa kenapa tidak terus terang saja sama istrinya apa yg dia inginkan dari saya.

Saya usut siapa wanita ini ternyata kata suami wanita ini istri dari tmannya, sayapun membiarkan hubungan mereka toh sudah punya suami tidak mungkin dia selingkuh.

Sejak saat itu mulai rahasia itu ada diantara kami. HP mulai dikunci dan selalu digenggamannya. Sampai setahun yang lalu suami mulai dengan kebohongannya yang tugas keluar, pertemuan dll. Saya tidak begitu peduli dengan semua itu sampai saya mendengar ada seorang teman yang melihat dia bersama seorang wanita di suatu mall.

Mulailah saya kesal dan berusaha mencari tahu lewat HP-nya dan ternyata kabar itu benar. Saya benar-benar kecewa. Saat itu seakan dunia ini hancur dan tidak lagi ada tujuan dalam hidup saya.

Saya tetap menjaga amarah, hanya sejak saat itu hanya bisa menangis (oiya saya punya 4 anak 3 laki-laki dan 1 perempuan ). Saat ini yang ada dalam pikiran saya hanya perceraian. Menunggu waktu yang tepat karena kami akan menikahkan putri kami. Saya tidak ingin membuat putri kami sedih.

Saya selalu menutupi semua ini dihadapan anak-anakmeski sudah tidak tahan lagi akan hal ini. Saya merasa perkawinan yang seharusnya membawa pahala malah menumpuk dosa, makanya saya ingin cepat cepat menyelesaikannya. Suami menikahi perempuan tadi setelah si perempuan cerai dengan suaminya. Apakah benar keputusan saya?

 

Jawaban Bu Elia Daryati

Untuk jawaban nomer 6 ini sebenarnya, sudah terjawab di buku Marriege With Heart (MWH). Pada akhirnya kembali pada pilihan untuk maju terus atau mundur, karena semua ada konsekwensinya.

 

Jawaban Anna Farida

Kata pengkhianatan bisa sangat luas cakupannya. Ada orang yang nyaris (alhamdulillah masih nyaris, artinya tidak jadi) bercerai dengan pasangannya karena SMS yang salah kirim dan tidak diberitahukan pada pasangan—dan pasangannya menganggap itu pengkhianatan.
Ada juga kasus pasangan kedapatan berkhianat sudah pada tahap badani dan tetap dimaafkan karena kondisi tertentu.

Manusia punya batas toleransi yang berbeda untuk memutuskan berpisah. Dalam buku MWH ada kondisi—kondisi yang masih bisa ditoleransi, ada kondisi yang memang memestikan perpisahan. Salah satunya adalah KDRT dan pengkhianatan yang bersifat menetap.

Bu, 20 tahun ternyata tidak lantas membuat pernikahan aman. Sebagaimana mengasuh anak, menjaga pernikahan adalah perjuangan sepanjang hayat–begitu kata Bu Elia. Apa pun keputusan Ibu, kami di sini mendoakan yang terbaik, memberikan dukungan walau sekadar melalui kata.
Kuat, ya, Bu.

 

Pertanyaan-7

Pernikahan orang tua saya hambar. Mereka saling menjelek-jelekkan pasangannya di depan kami anak-anaknya. Kami juga memergoki sms mesra ayah ke perempuan lain.

Kami tidak menyampaikan kabar buruk ini ke ibu yg telah banyak mengalah.

Bolehkah kami anak-anaknya menyarankan untuk mnyudahi semua ini?

 

Jawaban Elia Daryati

Jembatan penghubung.

Sebetulnya, sebelum sebuah bangunan itu runtuh dan diruntuhkan, tentu saja masih memiliki pilihan. Jika kadar ketidakcocokkan itu bukan suatu yang sangat prinsip, mungkin sebaiknya merekonstruksi ulang untuk membuat bangunan itu kembali utuh.

Anak-anak adalah perekat. Perekat jiwa, sekaligus perekat cinta. Anak-anak bisa menjadi jembatan penghubung antara kedua orang tua yang berselisih. Persoalannya apakah anak atas evaluasinya memang menganggap perceraian adalah jalan terbaik bagi keluarga atau sebaliknya. Pada saat sekarang, perlu bersikap netral untuk tercapainya keputusan yang terbaik.

Karena ini menyangkut masalah keluarga, bukan hanya ayah dan ibu, dimana anak pun dilibatkan. Tentunya menyamakan persepsi mengenai keluarga harus disamakan dulu gelombangnya, yaitu niat baik untuk menyelesaikan persoalan. Jika semua anggota keluarga memiliki keinginan yang sama untuk bersatu, namun tidak mengetahui caranya, maka harus menghadirkan orang ketiga atau menghadirkan profesional yang terkait dengan konselor di bidang pernikahan, dapat juga dilakukan family therapy. Hal ini dimaksudkan agar tercipta iklim psikologis, sama-sama membangun spirit agar pernikahan dapat direkonstruksi ulang secara bersama-sama.

Niat untuk menyatukan, akan mewujud dalam aksi yang menyatukan. Maka semua energi diarahkan untuk menyatukan. Mungkin, hal ini akan menjadi cara terbaik agar bangunan yang hampir runtuh dapat direkatkan kembali melalui cinta yang utuh. Bukankah anak adalah buah cinta dari sebuah perkawinan? Semoga buah cinta ini pada akhirnya dapat mengalirkan dan menginspirasi kesadaran ibu dan ayah untuk bersatu kembali. Semoga.

 

Jawaban Anna Farida
Menyudahinya dengan perpisahan?
Sebelum itu terjadi, bisakah diupayakan hal lain? Misalnya, apakah anak-anak pernah tahu mengapa saling menjelekkan itu terus terjadi? Apakah ada harapan antara Ayah dan Ibu yang tidak saling terpenuhi?
Seharusnya banyak sekali pertanyaan yang harus digali. Biasanya ahli pernikahan punya cara untuk mengungkap hal yang terdalam–yang tersuarakan lewat makian atau tidak tersuarakan–akhirnya pernikahan jadi hambar karena sama-sama tidak peduli atau tidak tahu cara menyampaikannya.

Sebagai anak kita bisa bertanya, “Apa yang bisa kami bantu agar Ayah dan Ibu bahagia, setelah berjuang membesarkan kami?”

 

Pertanyaan-8
Sudah satu tahun yang lalu perceraian kami, tapi mantan suami sepertinya masih belum menerima keadaan. Dia sering memancingmasalah dan dendam ke kelaurga saya. Pihak keluarga saya dan pihak keluarga mantan suami tidak ada masalah. Keluarga mantan suami ini pun sudah angkat tangan. Hubungan dia dan keluarganya tidak sehat lagi. Kami harus berlapang lapang dada jika dia memulai cari masalah.
Apakah mantan suami termasuk orang  yang belum bisa menerima keadaan (terlihat belum bisa move on).

 

Jawaban Elia Daryati

Mantan susah move on.

Keputusan bercerai biasanya merupakan kondisi super darurat yang tidak selamanya dapat disikapi dengan damai. Sangat kental muatan psikologisnya. Setiap orang memiliki daya adaptasi yang berbeda-beda. Ibaratnya sebuah trauma, dimana luka mental dapat terobati dan tersembuhkan sesuai dengan kondisi mental juga. Jika imun jiwanya lemah, tentunya sembuhnya pun relatif tidak dapat cepat. Namun harus diyakini bahwa setiap orang pada akhirnya akan memiliki daya tahan, walau memerlukan waktu. Bersama terpulihkannya luka jiwa pasangan, maka teror pun akan berkurang. Minimal untuk kondisi sekarang, meskipun mantan suami masih sering melakukan teror, paling tidak kita sudah terbebaskan dari teror ikatan pernikahan dengannya.

Energi positif dan negatif tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Sekarang tinggal melakukan evaluasi diri. Apakah kita memilih untuk terganggu atau tidak? Berlakukan hukum pengabaian, paling tidak memberikan ruang bahagia dan ruang sehat untuk memelihara jiwa kita. Jika orang sakit, masa kita ingin ikut sakit? Akan lebih penting energi yang ada diarahkan untuk kegiatan yang lebih positif, jika tidak ditanggapi nanti juga lelah sendiri.

 

Jawaban Anna Farida

Tidak ada yang benar-benar siap untuk bercerai. Dalam materi kita sudah bahas bahwa masalah tidak lantas selesai dengan turunnya surat cerai. Hal yang mengikutinya akan ada, dan perlu perjuangan lagi untuk melaluinya.
Ibu sudah paham bahwa mantan suami sulit move on, maaf, Ibu juga juga jangan baper.

Dia sudah bukan suami Ibu, bukan urusan Ibu lagi–kecuali jika terkait dengan masalah anak-anak. Bahasan Ibu dengannya hanyalah sebatas anak-anak.
Dan berita baiknya, Ibu dan keluarga menyatakan akan berlapang dada.
Selama masih belum mengarah pada perbuatan kriminal, terima saja sebagai risiko. Mau gimana lagi?
Tapi jika sudah mengarah ke hal-hal yang tidak patut, dan upaya kekeluargaan tidak membawa kebaikan, Ibu bisa mulai memikirkan cara lain.
Pertanyaan-9
1. Kalau suami istri mengalami perbedaan prinsip yang tidak bisa diambil jalan tengah, dan bukan perkara yang tegas halal haramnya tapi sering bikin berantem hebat, bagaimananya cara untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga? Contohnya tentang konsumsi rokok para bapak atau tidak bisa menahan diru untuk belanja bagi ibu-ibu?

  1. Kalau terbesit keinginan untuk bercerai saat terjadi konflik, bagaimana cara untuk mengukur diri apakah benar-benar siap berpisah atau hanya emosi hebat sesaat?
  2. Seorang kenalan saya bercerai tapi tetap serumah dengan mantan suaminya agar tidak berdampak pada anak satu-satunya yang masih SD. Sang istri membangun tempat kerja dan tempat tidur sendiri di bagian belakang rumah jadi tidak lagi sekamar. Apakah sikap seperti ini lebih aman untuk tumbuh kembang anak? Atau bagaimana sikap terbaik untuk anak yang ortunya bercerai?

Terima kasih.

 

Jawaban Elia Daryati

  1. konflik

Ini kan menyangkut masalah toleransi dan kontrol diri. Dalam menyelesaikan konflik itu, menurut seorang ahli, caranya adalah : (Daniel Robin, 2004)

Define what the conflict is about

It’s not you versus me; it’s you and me versus the problem

– Sort out interpretations from facts

– Develop a sense of forgiveness.

– Learn to listen actively

– Purify your heart

Jika kita renungkan pernyataan dan langkah-langkah dalam mencairkan konflik, sebetulnya dapat dilakukan lebih tenang, menyertakan emosi tapi tidak dikuasai emosi dan mengarah pada solusi. Coba mungkin hal ini dapat dipraktikkan. Persoalannya bukan urusan surga atau neraka namun persoalan yang terkait dengan kebiasaan buruk yang dapat merontokkan respek pasangan.

  1. Berkeputusan saat emosi.

Jika kita sedang emosi sebaiknya jangan melakukan keputusan apapun. Tenangkan diri, jika salah langkah yang rugi seluruh keluarga. Berkeputusan ketika sedang dikuasai emosi, seperti kalah jadi abu, menang jadi arang, yang tersisa adalah penyesalan. Emosi sesaat akan berakibat sesat.

Keputusan bercerai bukan keputusan main-main. Perlu dipertimbangkan luar biasa, atau sebaiknya dilupakan. Lebih baik energi disalurkan untuk mencari beribu cara untuk memperbaiki kondisi, daripada mencari beribu alasan untuk memisahkan diri. Selama masih dapat diselamatkan, selamatkan saja. Ongkos psikologisnya terlalu mahal.

Adapun yang paling mengenal diri, tentunya saja diri sendiri. Salah satu indikatornya, ketika sedang marah terbersit ingin bercerai, namun ketika sedang tenang terpikirkan ulang untuk tidak berlaku gegabah. Jika seperti ini. Sebaiknya lupakan masalah perceraian, kuatkan semakin beradaptasi untuk mempersatukan.

  1. Menyikapi Perceraian.

Prinsip pertama, adalah jika sudah terpisahkan hubungan ikatan suami istri, pasangan itu sudah bukan muhrimnya lagi. Pertanyaannya, sanggupkah menjaga pergaulan bukan muhrim dalam satun rumah yang pernah memiliki status sebagai suami istri. Ini bukan kondisi yang sehat, apalagi jika anak tahu belakangan, atau tanpa sengaja dia melihat ayah ibunya memiliki teman baru masing-masing. Anak akan memiliki persepsi pernikahan yang benar adalah seperti ini.

Prinsip kedua, yang dibutuhkan anak adalah dia digaransi rasa amannya, bahwa dia dicintai, dihargai, diinginkan dan diharapkan oleh kedua orang tuanya. Bukan dibohongi dan dipertontonkan pernikahan dengan pola yang salah.

Anak harus tetap mendapatkan cinta yang utuh dari kedua orang tuanya. Keberanian untuk mengambil keputusan pisah tentunya sudah dipertimbangkan risikonya. Kalau memang masih sanggup satu rumah dan hidup damai dengan anak, apakah tidak terpikirkan untuk kembali menikah saja.
Jika anak sudah SD, sebenarnya dapat diberi tahu pelan-pelan.

 

Pertanyaan-10

Mengapa saat seseorang memutuskan untuk berpisah semua orang menyarankan hal yang sama,  “Ingat anak …” “Kasihan anak-anak … “ “Jangan … pikir sekali lagi, ingat anak kalian … “

Mengapa tidak ada satu pun yang berusaha memahami pihak yang tersakiti sudah berada di batas kemampuan untuk bertahan.

 

Jawaban Anna Farida
Ingat anak adalah prioritas utama. Apa pun bencana yang terjadi pada orang tua sebisa mungkin tidak merusak hak anak–sangat berat dan anak sudah pasti kena imbasnya. Bercerai adalah pilihan orang dewasa–kadang dianggap melegakan dan menyelesaikan persoalan. Bagi anak? Sama sekali bukan pilihan yang menyenangkan.

Sebenarnya itu yang tersirat dalam saran banyak orang agar “ingat anak” saat hendak berpisah. Jadi bukan semata-mata tidak peduli pada pihak yang tersakiti. Yang dibela adalah kepentingan anak yang tidak punya pilihan tadi.

Perlu diingat bahwa ketika ada anak, perceraian itu membawa dampak yang sangat panjang, bahkan bisa permanen. Suami istri mungkin bisa mengikis rasa sedih setelah menikah lagi atau setelah hidup terpisah dari orang yang selama ini membuatnya tidak nyaman. Sebaliknya, ada anak yang sama sekali tidak bisa sembuh dari trauma bahkan hingga berkeluarga.

Namun demikian, tak sedikit anak yang justru terselamatkan karena orang tuanya memilih untuk berpisah.
Selalu ada anomali.

Demikian bahasan yang berat ini berlalu, terima kasih kepada Bapak Ibu yang berkenan berbagi pertanyaan dan pengalaman. Semoga menjadi kebaikan dan bekal yang berharga untuk menjaga kekokohan keluarga kita.

Sampai jumpa minggu depan.
Kita akan bahas hal yang lebih menyegarkan suasana siang.

Bayangkan, saya sampai tidak berani bercanda ‪#‎takut 🙈

 

Advertisements

One thought on “Konsultasi Perceraian

  1. Pingback: Perceraian | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s