Perceraian

gambar cerai
ilustrasi: babarusyda.blogspot.com

Kulwap Keluarga Sehati ke 15 kali ini bertema Perceraian. Sebuah peristiwa yang tidak pernah diharapkan dari sebuah ikatan suci pernikahan. Namun jika ternyata jalan keluar ternyata ada pada pilihan tersebut, sikap lapang dada sangat dibutuhkan untuk menyikapinya.

Jumat siang, sehari sebelum kulwap berlangsung materi dibagikan.

[12:08PM, 11/12/2015] Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Bandung panas mendung bergantian 🌻
Berkat dukungan Bapak Ibu, kita masuk materi-15, alhamdulillah.
Saya suka merumpikan apa saja, dari anak sampai buku, dalam suasana santai maupun serius. Walaupun begitu, ada beberapa topik yang sebisa mungkin saya hindari, salah satunya adalah perceraian. Dan justru karena saya menghindar, beberapa kasus jadi harus saya dengar.

Seorang teman menelepon sambil menangis dan berkata “Aku mau cerai saja.”

Saya segera ambil posisi duduk yang enak karena tahu telepon ini bakal panjang, dan saya tahu saya akan lebih banyak mendengarkan.

“Rasanya cukup, Mbak. Sudah dua tahun saya menahan diri, akhirnya saya putuskan menyudahinya saja. Sebenarnya saya masih sayang sama suami, tapi saya kasihan sama diri saya sendiri dan anak-anak. Setiap hari mereka melihat ayah ibunya tidak bisa menjadi teladan yang baik. Sebenarnya saya juga bingung, apakah keputusan saya tepat atau tidak? Bagaimana menurut Mbak Anna?”

Mati aku.

Ini pertanyaan yang paling saya tidak ingin dapatkan. Bu Elia bisa bercerita panjang kali lebar kali tinggi, betapa banyak pasangan yang ingin berpisah dan datang kepada beliau.

Eh, kita tidak akan membahas dari sisi agama, ya. Kita lihat secara umum saja. Peserta kulwap kita kan bhinekka tunggal ika.

Dari baca-baca dan sejumlah kasus yang pernah saya amati, pasangan yang menyatakan ingin bercerai biasanya dalam kondisi tidak siap untuk bercerai. Kebanyakan bahkan tidak punya pandangan yang sama tentang hal yang membuat kata cerai terucap. Tak jarang pasangan mengambil keputusan buru-buru, bahkan bersaing untuk segera mengakhiri pernikahan. Padahal, sebagaimana mengawali pernikahan, perceraian membawa konsekuensi seumur hidup—bisa baik bisa buruk.

Biasanya, alasan paling umum bagi pasangan untuk berpisah adalah asumsi bahwa lebih cepat keluar dari situasi runyam pernikahan akan lebih baik. Pasangan yang mengalami kesulitan cenderung ingin mengakhiri pernikahan dan move on. Apalagi jika keluarga mendukung. Mereka berpikir bahwa begitu putusan cerai ditetapkan, kondisi akan segera membaik.

Memang, untuk beberapa kasus, perceraian bisa jadi pilihan. Saya tidak ingin menyebutnya pilihan yang baik. Pilihan saja. Dalam buku Marriage with Heart disebutkan kondisi-kondisi yang bisa membuat seseorang berkata “cukup” dan memilih berpisah.

Namun demikian, dalam umumnya kasus, perceraian tidak lantas membuat semua selesai. Setidaknya mereka menghadapi hal tidak menyenangkan seperti rasa ragu apakah keputusan ini benar, karena perceraian membawa efek besar pada anak-anak, gaya hidup, kondisi ekonomi, dan aspek lain yang tidak disangka-sangka. Tidak ada jaminan yang akan terjadi sesuai dengan harapan. Karena itu, yang terbaik adalah mengambil keputusan yang tidak didasarkan emosi atau ego. Dan kalimat terakhir ini hanya mudah dituliskan. Percayalah.

Kita akan belajar dari kasus-kasus yang pernah dialami kerabat atau teman peserta Keluarga Sehati. Para ahli dan terapis biasa mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kondisi pasangan sebelum kata pisah diucapkan, kita akan membahasnya sambil diskusi.

Hmmh, tarik napas panjang. Bukan bahasan ringan, tapi perlu kita pahami duduk perkaranya.

Kulwap ini disponsori oleh buju Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Pastikan Anda memiliki bukunya. Bisa dipesan melalui Mbak Hesti via WA. 🇮🇩🌻

Baca juga konsultasi seputar perceraian di sini, dan sharing peserta kulwap di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s