Pengasuhan Permisif

gambar permissive parenting
ilustrasi: positive-parents.org

Jumat, 4 November 2015 waktunya belajar di kulwap Keluarga Sehati, dengan peserta yang selalu antusias untuk belajar dan belajar!

Berikut ini Anna Farida (narasumber yang humoris, bermutu, dan heboh) posting materi di kulwap Keluarga Sehati.

Oya, acara ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart, buku panduan bagi orang yang peduli dengan tumbuh kembang masa depan bangsa, aplikatif dan asyik banget penyampaiannya. Ga percaya? Baca aja bukunya!

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Kita masuk ke materi-14. Semoga kulwap ini memberikan manfaat bagi kita semua dalam mengelola keluarga.

Bahasan kita kali ini adalah Permissive Parenting.

Rumpi dulu:
Suatu siang saya mengunjungi seorang kawan. Setelah saling menanyakan kabar, masuklah kami pada topik yang sangat menarik.

Teman saya itu berkata, “Saya sebenarnya tidak suka dengan gaya pengasuhan ala Barat yang memberikan kebebasan pada anak. Yang sering saya lihat, di tempat-tempat umum, misalnya pengajian, anak-anak bebas lompat sana sini tanpa permisi, berlarian hingga mengganggu jamaah. Padahal sudah bukan balita lagi. Orang tuanya saya lihat hanya bilang ‘hati-hati’ atau memanggil mereka, ‘sini, sini’. Ya mana mau, lah, namanya juga anak-anak. Pernah juga ada yang bertamu bawa anak 8 tahunan, dan anaknya itu ngoprek segala pernik saya. Ibunya hanya komentar, ‘dia penasaran, belum pernah lihat barang seperti itu.’ Kan beda, Mbak, penasaran dan tidak sopan. Kalau di rumah orang kan harus menghargai, gitu. Ya itu tuh, hasil pendidikan sok Barat yang kebablasan.”

Setop dulu, ngadem dulu.

Gaya pengasuhan memang tidak bisa pakai teknik all size  . Ada gaya yang cocok diterapkan pada satu keluarga tapi bikin berantakan jika diterapkan di keluarga lain. Saya pernah menyaksikan orang tua yang setahu saya tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan apa pun ketika mereka masih kecil-kecil. Saya amati, sikap kanak-kanak mereka tetap hidup, tetap usil, kadang bandel juga .  Tapi secara umum, kesantunan mereka terpelihara. Mereka seperti punya alarm kapan bisa ribut dan kapan perlu anteng. Usut punya usut, orang tua tadi memang layak jadi teladan anak-anaknya. Jadi tanpa beliau banyak bicara, sejak kecil anak-anak paham mana yang baik dan tidak.

Nah!
Bagaimana dengan kita? Eh, kita? Saya aja, kali

Bisakah kita juga membiarkan saja anak-anak melakukan apa saja dan berharap mereka menemukan jalan kebaikan?

Di buku “Parenting with Heart”, ada bahasan tentang gaya pengasuhan yang diusung oleh Diana Baumrind. Salah satunya adalah permissive parenting. Secara sederhana, orang tua bergaya permisif memberikan kebebasan pada anak seluasnya dan lupa memberikan tuntunan.

Bisa jadi orang tua permisif itu merasa sangat penuh cinta, penuh dukungan, dan menjadikan anak sebagai pusat kehidupan mereka. Anak bahkan memiliki kontrol atas orang tua. Wujudnya bisa macam-macam sesuai usia, mulai dari yang sederhana: nangis sampai keinginannya terpenuhi, mengancam akan merusak barang, hingga mengancam kabur dari rumah.

Orang tua dengan gaya ini memilih tidak berkonflik dengan anak daripada bikin aturan bersama untuk disepakati. Ketika anak bikin aturan sendiri dan dilanggar, tidak ada konsekuensi. Saat aturan berhasil ditegakkan pun tidak ada apresiasi. Kadang, saat terjepit, orang tua bahkan menyogok anak agar taat pada aturannya sendiri.

Ada kecenderungan bahwa dengan membiarkan anak mengatur diri sendiri, mereka akan tumbuh mandiri. Eh, tapi tunggu dulu, yang jadi teladan dan rujukan anak-anak mengatur diri itu siapa

Benar, pengasuhan adalah proses mendampingi anak menuju dewasa, agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Yang perlu kita catat adalah, pendampingan memestikan tuntunan. Anak-anak tetap mengharapkan kita hadir, memberikan panduan dan jadi panutan, karena dengan itu mereka akan merasa dicintai.

Lalu bagaimana?

  1. Tetapkan batasan, bahas dengan anak mengapa harus ada. Misalnya, anak balita seharusnya duduk tenang di kursi ketika di restoran. Dia tidak boleh berlarian karena berbahaya sekaligus tidak sopan. Anak 10 tahun seharusnya belum boleh nonton film tertentu, atau pulang ke rumah sebelum azan magrib. Batasan ini tidak bermaksud jahat, kan? Anak-anak justru memerlukannya agar merasa aman dan dicintai. Tentu kita tahu bagaimana cara yang baik untuk membahasnya dan menerapkannya. Sudah belajar materi komunikasi asertif, kan?
  2. Lihat keperluannya. Jika anak ingin berlarian ketika pertemuan keluarga sedang khusyuk, misalnya saat akad nikah atau sedang tahlilan, mungkin mereka memang sedang jenuh. Alihkan perhatiannya, penuhi keperluannya: beri dia kegiatan lain. Silakan berbagi pengalaman. Saya sih cukup memastikan anak-anak bawa buku—kadang bawa makanan kadang tidak. Setelah baca biasanya mereka tidur. Problem solved. Anak-anak saya yang lebih besar sudah pasti main hape :-p
  3. Bantu mereka. Kadang anak tidak bisa membahasakan perasaan dan lebih suka beraksi—misalnya memukul atau melempar sesuatu. Tugas pemandu tetap mengingatkan batasan dengan cara asertif, “Eit, seingat Ibu aturannya tidak pakai mukul, tidak pakai lempar barang. Lagi kesel banget, ya? Ibu bisa bantu apa?”
  4. Ummm … tar kepanjangan. Sudah dulu saja, nanti kita perdalam dengan tanya jawab bersama Bu Elia Daryati dan saya, eheheh.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Ikuti juga diskusinya di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Pengasuhan Permisif

  1. Setuju bun. Penanganannya tentu berbeda2, tergantung usia dan tipikal anak. Tapi mengenai ibadah dan menjaga kesantunan, tentu ada batasan yang ketat tapi tetap menggunakan metode yang menyenangkan dan tidak membosankan. 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s