Diskusi Pengasuhan Permisif

gambar permissive parenting
ilustrasi: positive-parents.org

Ada 6 pertanyaan kali ini, semoga bisa menjadi bekal dalam mengarungi dunia pengasuhan kita semua, ya!

Tanya 1
Saya dititipi adik ipar (18thn) oleh ibu bapak mertua. Anak bungsu yang biasa segala kebutuhan terpenuhi. Dia sempat pergi dari rumah ketika masih tinggal dengan orangtuanya. Asal ada yang membuat dia kesal, dia bakalan nggak akan bertahan lama di rumah.
Nah ketika dia sudah di bawah pengawasan kami, dia sempat bertingkah seperti anak kecil yang ngambek nggak pulang, nggak ada kbr. Sempat pulang diam diri di kamar, nggak mau makan dan minum. Lalu pergi lagi tanpa ijin. Alasan dia karena tidak diperhatikan (pulang ke rumah, kami sedang ada acara di luar) dia sendiri di rumah. Ketika kami pulang sudah lelah belum sempat menyapa dia. Yang bikin kesel saya, dia marah ke saya (kakak iparnya), padahal sehari-hari saya yang ngurus kebutuhan dia.

Lalu dinasihati oleh kakak kandungnya bicara 4 mata, intinya supaya bersikap dewasa.

Skrg sudah normal lagi seperti biasa. Apakah sudah tepat langkah kami?


Jawaban Bu Elia Daryati

Adik ipar yang sulit di atur.

Setelah membaca kasus ibu, saya melihat, bahwa adik ipar Ibu masuk dalam kategori perilaku kurang matang.  Dikatakan matang, jika antara usia psikologis dan usia kronologis sesuai. Anak tumbuh sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Tugas perkembangan adalah sesuatu tugas yang timbul pada periode tertentu dalam kehidupan seseorang. Setiap tahapan usia akan memiliki tugas perkembangan yang harus dilalui, jika berhasil akan membawa seseorang sesuai harapan sosialnya dan dapat menimbulkan kebahagiaan. Akan tetapi jika tidak terlampaui akan menimbulkan peroalan tersendiri dalam kehidupannya.

Tugas perkembangan ini terkait dengan perkembangan fisik maupun psikologis seseorang dan pada akhirnya seseorang dapat dikatakan matang atau tidak matang sesuai usianya.

Ibu, tidak mengatakan jenis kelamin apakah adik ibu itu perempuan atau laki-laki. Namun yang pasti jika sekarang terjadi perubahan, menunjukkan adanya perkembangan psikologis yang cukup positif. Sudahkah itu dianggap tepat ? saya pikir tepat-tepat saja, yang penting tercapai perubahan sikap yang berdampak pada perubahan perilaku.

Pikiran positif atas perubahan perilaku yang ditampilkan oleh adik ipar Ibu, semoga akan menghantarkan perubahan perilaku yang sifatnya permanen. Amin.  Cara pendekatan yang datang dari hati, akan diterima dengan hati.

Jawaban Anna Farida

Remaja berusia 18 tahun selayaknya sudah mulai stabil dengan konsep diri. Artinya, seharusnya dia tidak lagi ngambekan, berusaha mencari penjelasan jika ada hal yang tidak menyenangkan, dan berusaha bersikap sesuai dengan harapan—apalagi ketika dia tinggal bersama orang lain yang mengurus keperluannya.

Mengajaknya bicara man to man (antara dua orang dewasa) adalah tindakan bagus. Bahkan kebiasaan ini wajib dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika terjadi peristiwa yang tidak diiinginkan. Yang biasa meleset dilakukan oleh orang dewasa di sekitar anak bungsu adalah memberinya tanggung jawab karena ada anak lain yang lebih tua yang kebagian tanggung jawab lebih banyak.

Padahal, jika dia berusia 18 tahun, ajak dia belajar bersikap layaknya 18 tahun, baik dia anak sulung maupun bungsu. Tentu tidak mudah, karena selama 18 tahun ini dia tumbuh dengan konsep diri yang berbeda. Namun demikian, selalu ada proses reedukasi. Untuk membangun karakter, saya tidak percaya ada kata telanjur. Ingat, kan? Start – restart. Hari ini tidak berhasil, coba lagi hari lain.

Contoh: ajak dia membuat kesepakatan berupa aturan rumah dengan bahasa minta tolong kepada anggota keluarga, misalnya: “Saya ini panikan kalau ada anggota keluarga yang susah dihubungi apalagi kalau sudah malam. Tolong kabari kalau pulang telat.”

Tanya 2

Mungkin permissive parenting terkait dengan gaya mendidik yang berbeda. Gaya amerika yang permisif dan gaya jepang yang prosedural, ya, Bu?
Jawaban Bu Elia Daryati

Permisif vs Prosedural

Gaya mendidik yang berbeda, dimana-mana akan menimbulkan sikap “ambigu”. Akan menimbulkan kebingungan pada anak, mana yang sesungguhnya harus diikuti. Anak biasanya akan mencari ruang yang dianggapnya paling enak untuk diikuti. Jadi jika terjadi permisif  vs prosedural, secara naluri pasti akan mengikuti apa yang mudah dan menyenangkan.

Pembentukkan disiplin pada diri anak itu sesungguhnya sederhana. Semua berasal dari pembiasaan yang dilakukan secara berulang dan konsisten. Prosedural yang diselang-seling dengan permisif,  sudah menunjukkan adanya sikap yang tidak konsisten. Ketidakonsistenan inilah yang pada akhirnya akan menghantarkan seorang individu pada ketidakdisiplinan dan ketidaktaatan pada aturan.

Jawaban Anna Farida

Gaya pendidikan Amerika dan Jepang secara umum—kita tidak bicara kasus, ya—memiliki kesamaan dalam hal melatih tanggung jawab dan kemandirian anak. Sejak dini, anak-anak di sekolah maupun di rumah diberi ruang leluasa untuk membentuk dirinya secara positif dan terbuka.

Nah, ada bagian yang tidak bisa sepenuhnya kita terapkan dalam konteks Indonesia—tetap ada kesantunan ketimuran (yang sebenarnya universal) yang wajib kita jaga.

Jadi anak Indonesia seharusnya tetap terbuka, mandiri, sekaligu santun di tempat umum, hormat kepada orang yang lebih tua, misalnya.

Yang sering kita dengar, Jepang menambahkan konsep kerja keras dan disiplin, sekaligus penghargaan pada budaya tradisional—karena Jepang memang punya akar budaya yang kuat. Indonesia juga sangat kuat dengan nilai budaya luhur, lho.

Amerika? Punya budaya tradisional apa mereka? Haish kok jadi nyinyir. Sudah, sudah.

Oh, ya, di sini ada Greysia Susilo Junus. Dia bisa berbagi tentang mengasuh anak berdasarkan budaya. Mari kita todong dia.

Tanya 3
Terkait tipe anak yang sulit dikasi tahu, apakah pengaruh usia dan bawaan dari bayi bukan, ya, bu? Seingat saya anak yang perempuan dari kecil bisa diajak ngomong. Nah ini yang laki-laki rada nggak mempan diajak ngomong dan agak semaunya sendiri, hehehe
Jawaban Bu Elia Daryati

Tipe anak yang sulit dikasih tahu.

Rumusnya adalah, setiap anak terlahir baik, namun sekaligus setiap anak terlahir unik. Kita tidak bisa membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain. Semua memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Ada sebagian diri kita dan sebagian dari suami kita ada di anak kita, sehingga membuat mereka menjadi individu yang khas atas dirinya.

Untuk itu, karena keunikan dan kekhasannya itu pula yang membuat pendekatan kepada mereka pun berbeda. Konon kabarnya umumnya laki-laki, memiliki sifat yang lebih logis, tidak bertele-tele dan lebih membutuhkan pengakuan. Sedangkan perempuan, memiliki sifat lebih perasa, terkadang tidak to the point, dan lebih membutuhkan lebih banyak perhatian.

Dengan memahami karakter dasar ini, akan memudahkan kita sebagai orang tua untuk mendekati mereka. Meskipun sebenarnya,  dengan segala keunikan mereka,  intinya anak-anak memiliki harapan yang sama dari kedua orang tuanya, yaitu perasaan  diinginkan, dicintai, dihargai, dan diakui keberadaannya, seperti apa pun mereka. Jika hal ini dijalankan dengan baik, biasanya mereka akan lebih mudah menerima masukan dari kedua orang tuanya. Perasaan percaya  pada diri anak, bahwa orang tuanya dapat menerima mereka dalam kondisi apa pun, akan membuat anak menjadi lebih mau mendengar apa yang disampaikan kedua orang tuanya. Dan ini semua tidak terkait dengan jenis kelamin bahwa dia itu laki-laki atau pun perempuan.

Jawaban Anna Farida

Waduh, anak yang sulit dikasih tahu itu bawaan bayi? In my humble and sotoy opinion, jauhkan sangkaan seperti ini. Tuhan tidak pernah bikin produk gagal—entah kalimat siapa itu, saya lupa. Artinya, anak membawa potensi kebaikan. Yang membuat dia mudah dipandu atau tidak adalah pendidikan yang diperolehnya begitu dia lahir. Dan pendidikan anak tidak melulu berasal dari orang tua. Siapa yang paling dekat dengannya, dia yang paling mempengaruhi hidupnya. Nah, tugas kita adalah menjaga potensi kebaikan itu dan membimbingnya agar berkembang menjadi kebaikan-kebaikan lain yang terus tumbuh.

Selain potensi yang dibekalkan kepada anak sejak ruhnya ditiupkan, sampai saat ini saya masih percaya bahwa yang lebih membedakan anak laki-laki dan perempuan adalah budaya. Harapan-harapan yang disenandungkan ibu dan ayah kepada anak perempuan dan laki-laki sejak dia bayi mungkin berbeda—disengaja atau tidak eheheh.

Tanya 4
Sahabat saya punya anak setelah 7 tahun menanti. Entah karena kesibukan (dia dan suami kerja), atau begitu sayang sama anak yang dinanti, mereka selalu memenuhi apa yang anaknya minta.

Misalkan membelikan minuman kemasan atas permintaan si anak meski akhirnya dibuang, tidak diminum.

Suka gemes liatnya, tapi masih khawatir mau masuk urusan pengasuhan mereka.

Bagaimana baiknya ya?

Jawaban Bu Elia Daryati

Khawatir dengan masalah pengasuhan.

Memang membesarkan anak adalah perjuangan sepanjang hayat. Perlu ilmu, perlu waktu, perlu ikhtiar, dan tentu saja perlu proses. Didikan bukanlah dadakan. Sejauh usianya masih belum balig sebenarnya masih mudah untuk berubah.  Anak tidak dihadirkan dalam rumah sebagai pelengkap penderita, namun mereka adalah amanah yang dikirimkan oleh sang pemberi amanah, yaitu Allah SWT.

Kepedulian Ibu yang demikian besar pada putra teman ibu, cukup diacungi jempol. Namun itu tidak akan berarti jika orang tuanya tidak menyadari hal ini. Intervensi orang luar bisa menjangkau seberapa besar pada ruang pribadi orang lain. Jangan salah, rapor kita ada di anak kita, bukan ada di anak tetangga kita. Untuk itu langkah yang dapat dilakukan adalah, menginspirasi dan menyadarkan teman Ibu, akan bahaya masa depan yang sedang mengintai pada anak mereka.

Jika teman Ibu masih merasa khawatir dengan pengasuhan mereka, ini merupakan berita baik, karena kegalauan ini akan menjadi titik awal perubahan untuk mencari tahu. Mengenai ilmu, waktu dan juga ikhtiar yang merupakan rangkaian proses bagi perubahan anak mereka. Coba saja staus aja di up date, masa mengasuh anak tidak di up date. Kalau perlu direset.

Jawaban Anna Farida

Anak yang dinantikan sekian tahun pasti jadi permata. Perasaan ini tidak untuk disangkal. Namun demikian, menuruti setiap permintaan anak tanpa memberikan bimbingan kan bukan wujud cinta yang semestinya. Bentuk syukur atas karunia anak setelah sekian lama menanti justru berupa perbaikan diri menjadi orang tua yang lebih layak. Sebagai sahabat yang paham, masa mau diam saja?

Temani dia, berikan masukan tentang pengasuhan di saat dia bertanya—karena cepat atau lambat dia akan bertanya tentang apa pun—asumsi saya, Ibu lebih dulu punya anak dan dianggap lebih berpengalaman, kan?

Terus beri dukungan dia dengan  diskusi tentang parenting yang sehat, bisa diawali dengan memberinya hadiah buku “Parenting with Heart” #halah!

Tanya 5
Ada anak yang mengacak-acak tas orang yang belum dikenalnya. Ibu si anak memperingatkan dengan halus tanpa ketegasan. Apakah ini jg termasuk pengasuhan permisif?
Jawaban Bu Elia Daryati

Pengasuhan Permisif

Apa yang dimaksud dengan pola asuh, sederhananya pola asuh, merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Dimana dari pola ini akan menghasilkan pola perilaku yang ditampilkan anak di lingkungan sosialnya. Adapun sikap permisif, adalah sikap serba membolehkan. Anak jarang mendapatkan hambatan untuk seluruh keinginannya, dan hampir tidak pernah mendapatkan penolakan. Orang tua memberikan wujud cinta dengan memenuhi seluruh keinginan anak.

Apakah anak yang mengacak-acak kantong orang lain, karena orang tuanya permisif? belum tentu.  Ini tergantung berapa usia anak? jika di bawah usia 2 tahun, itu masuk dalam masa eksplorasi dan anak memiliki rasa ingintahu yang tinggi. Coba perhatikan beberapa bayi memiliki kebiasaan seperti ini. Nah tugas orang tua memang mengingatkan, mana boleh dan tidak boleh.

Semua anak awalnya memang tidak memiliki aturan, jika bukan orang dewasa yang mengajarkan. Diatas usia 2 tahun dapat dilakukan lebih tegas, untuk mana boleh dan tidak bolehnya. Tegas dan kasar dua hal yang berbeda.

Jadi Ibu, memang perlu dilihat usia anak. Jika sudah usia TK atau SD masih ngacak-ngacak tas orang lain, ini indikasinya anak memang harus dididik lebih tegas  dalam aturan.

Jawaban Anna Farida

Sejak kecil, konsep kepemilikan wajib diajarkan kepada anak-anak. Mana milikmu mana milik orang lain. Saya pernah nemu anak yang ngotot mau cincin seorang ibu yang duduk di dekatnya.
Karena mamanya tidak bereaksi dengan jelas dan sang anak mulai bikin ribut, saya yang bilang:

“Ini kaus kaki siapa?”
“Punya aku”
“Ini baju siapa?”
“Baju aku.”
“Tante boleh pinjam bajunya?”
“Kan lagi dipake.”
“Cincin ibu ini juga lagi dipake.”
“Tapi aku cuma mau minjem.”
“Minjem milik orang lain boleh kalau diizinkan. Ibu ini tidak kasih izin. Terima kasih, yaaa ….”

Saya elus pipinya, dan dia manyun. Dia memeluk mamanya, minta dibela. Saya senyum saja ke sang mama, mengangguk mohon maaf.

Dengan syarat tanpa dihinakan, sesekali anak-anak perlu belajar kecewa.


Anna Farida

Nah, ada lima pertanyaan yang masuk, mari kita diskusi. Silakan jika ada yang mau berbagi pengalaman. Saya ikuti juga, lho, diskusi Ibu-ibu kemarin  (entah di grup ini atau yang satunya   keren banget–mohon Mahmud Admin bersedia membagikannya ke grup yang satu).

Tanya 6 (susulan)

Dwi Astuti kulwap: Bu ibu mau tanya.
Kalau kita sudah memberi peraturan pada anak antara yang boleh dan tidak boleh. Tapi suatu saat ketika kumpul dengan keluarga besar ternyata ada sepupunya yang melakukan hal yang menurut kami (saya dan suami) tidak boleh dilakukan oleh anak. Misalnya memanggil sepupu yang lebih tua dengan sebutan kakak atau abang, eh ternyata sepupunya malah panggil nama tanpa embel-embel tadi. Sehingga anak-anak kami mengikuti si sepupu. Yang paling sering ketika kumpul mereka jarang sholat karena keasyikan ngobrol (untuk para orangtuanya) dan anak-anak keasyikan main. Tapi saya tetap menyuruh anak-anak untuk sholat. Sampe ada yang bilang kalau saya ortu yang kaku. Bagaimana ya, Bu?

Jawaban Anna Farida

Aturan yang sudah disepakati dengan anak itu mengikat di dalam rumah dan luar rumah. Ketika mereka bersama saudara lain yang tidak memiliki aturan serupa, kita lihat hasil ujiannya eheheh.

Berikan pengertian kepada anak bahwa kita punya aturan, dan aturan yang baik tidak akan mengganggu orang lain. Mereka tetap wajib menjalankan aturan tanpa mengganggu perasaan saudara yang lain. Misalnya: salat tetap tepat waktu, panggil saudara tetap dengan santun, tanpa menjelekkan saudara yang memilih salat nanti saja dan memanggil nama.

Dengan demikian, nanti anak akan tanya, kok aturan kita begini aturan anak lain begitu? Inilah kesempatan buat diskusi dengan anak-anak.

 

Diskusi peserta kulwap #2 sehari sebelum diskusi berlangsung.

[2:38PM, 04/12/2015] Endah Surasteja kulwap:

Share pengalaman aja yah …

Kalau bawa anak-anak ke acara resmi seperti akad nikah, ya kita harus menyadari situasi. Duluwaktu anak-anakku masih aktif lari-lari, cukup suami saja yang masuk ke ruangan akad. Aku pilih di luar supaya tidak mengganggu prosesi acara.

Kemana kami pergi selalu bawa buku, baik buku cerita, buku gambar atau buku mewarnai, juga mainan. Jadi saat mereka mulai bosan, perhatiannya dialihkan ke aktivitas lain.

Yang penting adalah komunikasikan kemana kita mau pergi, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan disana. Anak-anak itu ngerti kok, asal disampaikan dalam bahasa anak-anak.

Contoh, kalau ke supermarket. Banyak anak-anak yang nangis dan ribut karena keinginannya untuk jajan tidak dipenuhi orangtuanya.
Saya  dan suami sepakat sebelum pergi kita memberitahu anak-anak kalau akan belanja dan mereka hanya boleh memilih 2 macam jajanan atau mainan dengan harga tertentu.

Alhamdulillah sampai sekarang kalau anak-anak diajak belanja tidak asal masukin. Jika ada lebih dari dua yang mereka inginkan biasanya mereka diskusi dengan saudaranya.

Sekarang setelah punya uang saku sendiri, merkea akan bilang, “Papa yang dibayar Papa yang dua ini, yang ini aku bayar sendiri”.

Jadi mereka jajan dari uang tabungan sendiri, tidak berlebihan segalanya.

[2:44PM, 04/12/2015] Dyah Arthiani kulwap:

Anak saya 3 tahun kalau diajak belanja belum bisa dibilangin, Bu. Beda ama mbaknya dulu. Maunya masukin ini itu di keranjang belanjaan. Untungnya yang 10 tahun dah bisa bantuin. Jadi waktu adeknya ambil ini itu, mbaknya taruh lagi diam-diam.

[2:51PM, 04/12/2015] Endah Surasteja kulwap:

Di coba mba Dyah,  karena anak-anak saya juga dari kecil diajarinnya. Insya Allah bisa. Kenapa saya dan suami melakukan pengasuhan demikian karena saya sebel melihat anak-anak kakak yang suka rewel di supermarket. Alhamdulillah berhasil.
Mudah-mudahan bisa juga untuk yang lainnya.

[4:25PM, 04/12/2015] Ati Ada WA:

Pengalaman saya mirip dengan Bu Dyah. Kakaknya tertib, adeknya agak rewel.
Solusinya, kakaknya yang memberi pelajaran, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
 [4:31PM, 04/12/2015] Dyah Arthiani kulwap:

Itu tuh usia dan gawan bayi bukan ya, Bu? Seingat saya yang perempuan dari kecil bisa diajak ngomong. Nah ini yang laki-laki rada nggak mempan diajak ngomong dan rada semaunya sendiri hehehe.

[5:02PM, 04/12/2015] Ati Ada WA:

Anak saya dua-duanya laki-laki. Anak yang pertama diasuh penuh, sedangkan yang kedua tidak penuh karena saya sakit. Mungkin,  untuk kasus saya,  karena beda pola asuh jadi beda perilaku.

 

[5:55PM, 04/12/2015] Sari  kulwap:

Saya punya yayasan pendidikan Rumah Cahaya (RC), tiap tahun ada murid kembar. jadi teori masing-masing anak itu unik. Saya temukan di RC meskipun kembar identik tetap memiliki perbedaan yang mencolok dalam akademisi maupun perilaku. Walau dari ayah ibu yang sama dan dalam rumah yang sama. Yang satu sangat keras dan kasar, satunya penurut dan penolong.

Nah, saya agak kewalahan dengan si kembar yang keras dan kasar. Ketika menasehati saya menahan diri tidak bilang lihat saudaramu (kata teori tidak boleh dibandingkan).

[6:08PM, 04/12/2015] Ati Ada WA:

Heee, iya ya kata teori nggak boleh membanding-bandingkan. Tapi berhubung anak saya yang kedua suka menyamakan dirinya dengan kakaknya, maka saya suka bandingkan, “katanya sama dg Aa”.

[6:09PM, 04/12/2015] Dyah Arthiani kulwap:

Mbak Sari, saya juga nggak membanding-bandingkan. Karena nggak enak dibanding bandingkan, hehe. Tapi kalau cerita ke orang lain saya membandingkan. Sekedar curhat, siapa tau ada orang lain punya formula yang cucok buat saya pakai, hehe.

[6:11PM, 04/12/2015] Sari  kulwap:

Nah saya bingung ngasih contoh siapa yang masuk akal dia.

Kalau membandingkan dengan temannya kan juga nggak boleh.

 [6:11PM, 04/12/2015] Sri Rahayu IIDN:

Tadi siang ada peristiwa yang membuatku mengelus dada. Saat aku menunggu anak anak sholat jumat, di depanku duduk dua orang wanita yang usianya lebih tua dariku. Wanita yang duduk di depanku terlihat dari status sosial menengah ke atas dan modis sekali walau sudah berumur. Beliau tampak sibuk berdandan.  sementara di sampingku ada seorang ibu dengan anak perempuan berusia kurang lebih 5 tahun. Si anak ini memperhatikan wanita modis tersebut dan kemudian memegang tasnya.
“Tante pinjem tasnya ya?” ucapnya.
Wanita itu hanya tersenyum.  Tak lama berselang si anak sudah memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengaduk aduk isi tas.  Wanita di sebelahku dengan lembut berkata, “Nisa, jangan, Nak! Itu tas tante.”
“Pinjam bu! Aku cuma pinjam!” jawabnya sambil terus mengacak-acak.  Kulihat sang ibu tak berusaha mengalihkan anaknya atau melarang dengan tegas.  Wanita modis itu hanya tersenyum melihat polah anak itu.  Kemudian anak itu mengambil dompet si tante dan bertanya ” Ini apa?”

[6:12PM, 04/12/2015] Sari  kulwap:

Yang satu ini kalau diberitahu malah balik mengolok-olok, kalo dilarang jawabnya,”Biarin”, kalo dipeluk mukul dengan kasar.

[6:17PM, 04/12/2015] Dyah Arthiani kulwap:

Wah kalau saya jadi si tante modis, ya saya ga bolehin acak-acak tas saya biarpun anak kecil.

[7:16PM, 04/12/2015] Sri Rahayu IIDN:

Setelah  itu si ibu bilang, “Jangan, ya, Nisa. Tidak  boleh,” dengan nada lembut tanpa berusaha memegang sang putri dan mengalihkannya. Si nisa terus membuka dompet dan melihat ada banyak uang berwarna.  Dia pun bertanya untuk apa uang itu? dan dia meminta uang itu pada si tante. Tapi si tante tidak memberi, sebagai gantinya tante itu memberi permen. tapi si gadis kecil tak putus asa dan dia terus meminta dan bertanya banyak hal. Sampai isi dari handphone tante itu. Lalu meminta tante itu mendandaninya,  memakai kosmetik si tante untuk mainan.
sampai sini aku tetap mengelus dada sambik pura-pura main candycrush .
Aku bertanya  apakah memang yang dilakukan sang ibu adalah tindakan yang benar? apakah mungkin aku salah mengasuh anak- anakku karena selama ini biasanya aku akan mengalihkan anakku bila dia melakukan hal itu.  Apakah aku ibu yang kurang sabar,tak seperti ibu si Nisa? dan berbagai tanya terus berputar dalam otakku.

[7:24PM, 04/12/2015] Sari  kulwap:

Kalau anak saya sudah saya ajak ke hongkong(maksudnya menjauh dr lokasi).

[7:25PM, 04/12/2015] Sri Rahayu IIDN:

Saat itu pikiran itulah yang terlintas di otakku Mbak Sari

[7:25PM, 04/12/2015] Sri Rahayu IIDN:

Tapi aku coba berprasangka baik, mungkin apa yang menurutku baik sebenarnya kurang tepat atau sebaliknya.

[7:35PM, 04/12/2015] Sari  kulwap:

Kan ada pelajaran kepemilikan.

[7:39PM, 04/12/2015] Sri Rahayu IIDN:

Nah itulah Mbak,  yang aku heran. Tapi si ibu memang bilang itu milik tante, Nisa nggak boleh acak- acak. Sepertinya si ibu takut melukai hati putrinya.

[7:40PM, 04/12/2015] Gita Asmarani kulwap:

Mungkin anaknya sakit, Bun dan si ibu membiarkan dia bahagia di detik detik terakhir atau baru saja kehilangan ayahnya atau orang terdekatnya sehingga si ibu takut melukai hati putrinya.

Percakapan berakhir.

Pengen ikutan kulwap? kirim nomor Whatsapp ke 089650416212 (Suci Shofia).

It’s Free!

Acara ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan MArriage With Heart.

 

Advertisements

One thought on “Diskusi Pengasuhan Permisif

  1. Pingback: Pengasuhan Permisif | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s