Diskusi Cemburu

gambar cemburu
Ilustrasi: pondoktnur.blogspot.com

Panas sekali tanya jawab tema “Cemburu” kali ini. Setiap pribadi yang memiliki pasangan tentunya ingin hubungannya langgeng sampai akhir hayat tanpa gangguan. Apapun kondisi pasangannya, karena ia telah terpilih menjadi pasangan yang sah, maka upaya mempertahankan tentu ada (perkecualian bagi pasangan yang tidak menghormati pasangannya).

Harapan agar semua berjalan lancar sesuai rencana tanpa kerikil atau batu sandungan mungkin saja tak tercapai. Kalaupun mulai muncul tanda-tanda ada kerikil, respon alarm otomatis aktif untuk meminimalisir hal-hal yang tidak baik untuk masa depan bersama.

Nah, ini dia tanya jawab seputar “Cemburu”:

Tanya 1:
Mungkin saya tidak seperti pasangan lain yang suka cemburu. Saya biasa-biasa saja pada pasangan saya. Rasanya tidak pernah cemburu. Mungkin karena suami saya tidak neko-neko dengan perempuan lain.
Bagaimana pandangan narsum terhadap kasus saya ini?

Pertanyaan yang serupa apakah ada orang yang tidak memiliki rasa cemburu.

Jawaban Bu Elia:

Cemburu merupakan perasaan bahwa perhatian pasangan terbagi. Perasaan cemburu dalam kadar yang wajar merupakan bentuk ikatan dari rasa kepemilikan dalam sebuah perkawinan. Bentuk rasa cemburu itu, memang tidak selamanya dalam bentuk “seseorang” dalam kehidupan pasangan kita.

Bisa saja cemburu pada hobi, pekerjaan, kegiatan organisasi atau teman-teman suami yang terlalu sering kumpul. Intinya kita merasa waktu kita terkurangi dan perhatian terbagi.

Memang tidak selamanya wujud cemburu berurusan dengan masalah cinta. Pada prinsipnya tidak pernah ada orang yang tidak memiliki rasa cemburu sama sekali. Bahkan bersaudara saja ada istilah sibling yang merupakah wujud dari cemburu itu sendiri.

Nah, apakah ibu pun tidak memliki perasaan cemburu sama sekali terhadap hal-hal seperti ini? Wallahu’alam … 🙂

Jawaban Anna Farida

Tidak cemburu karena sangat percaya tentu bagus, insya Allah. Tapi kalau karena tidak peduli … ehehe perlu dipertanyakan. Tapi kan ini kasusnya pasangan memang tidak mengundang cemburu, jadi semoga aman-aman saja. Etapi … siapa tahu pasangan bermain sangat cantik sehingga tak bikin cemburu padahal … ahaha ahaha (maaf, saya tidak tahan untuk tidak menggoda).

Oh ya, boleh dicek ke pasangan apakah dia oke-oke saja tidak pernah dicemburui. Siapa tahu dia pingin juga, lah, sesekali merasakan dicemburui.

Tanya 2:
Kalau pasangan suka pura-pura mencari bahan obrolan supaya bisa mendekat ke saya yang senyum-senyum sendiri untuk melihat sedang chat sama siapa, apakah cemburu yang baik ya?

Jawaban Bu Elia:

Cemburu yang sehat, sebetulnya merupakan penyedap dalam pernikahan. Rasa cemburu yang diolah dengan baik akan dapat memepererat sebuah hubungan cinta yang dijalin dalam sebuah hubungan. Suatu pasangan memang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan perasaan cemburunya.  Sekarang pertanyaannya dibalik. Jika kita melihat suami kita senyum-senyum sendiri sambil chat, sedangkan istrinya berada di dekatnya, apakah itu merupakan perilaku yang etis tidak?  Bentuk perhatian terbagi inilah yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman yang merupakan embrio dari rasa cemburu.

Kalau sudah menjadi suami istri, sebetulnya sikap pura-pura mencari bahan obrolan untuk mendapatkan perhatian tampaknya merupakan sikap yang terlalu berhati-hati. Pura-pura itu merupakan rasa “gengsi”, untuk itu sebaiknya bertanya saja langsung, “wah mama lagi senang ya … ada chat yang lucu. Bagi dong kesenangannya sama Papa.” Nah istri pun harus memiliki kepekaan terhadap pasangan, bahwa pasangan sekarang sedang memerlukan perhatian dan tidak ingin terbagi dengan chat nya Ibu.  Atau sekalian ibu dapat katakan “Pah .. lihat nih ada cerita lucu … dst … dst …”

Jawaban Anna Farida

Asal aksi pura-puranya bikin pasangan juga senyum dan jadi saling bercanda tentu bagus. Jadi bagus tidaknya cemburu bisa ditimbang dari efek yang ditimbulkan. Bikin suasana ceria atau sumpek? Ehehe.

Tanya 3:
Ayah saya tidak suka melihat ibu duduk dekat laki-laki. Padahal ibu tidak kenal laki-laki tersebut, begitu pula sebaliknya. Saat itu sedang dalam menghadiri pernikahan teman, pas kursi sebelah Ibu kosong, dipakailah sama laki-laki tadi.
Ibu juga tidak suka kalau Bapak lirik sana-sini ketika berjalan sama Ibu. tapi tidak tersampaikan.

Apakah termasuk cemburu yang sehat ketika seorang perempuan tidak suka pasangannya lirik sana-sini?

Jawaban Bu Elia:

Batas wilayah kecemburuan.

Setiap pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun, tentunya akan sangat mengenal pasangannya masing-masing. Demikian juga dengan batas wilayah yang dianggap akan “membuat kurang nyaman” pasangan masing-masing. Apakah ini termasuk cemburu yang sehat ? dikatakan sehat atau tidak sehat tergantung kedua pasangan memaknakannya. Jika disepakati dan dikomunikasikan sejak awal, demi terselenggaranya keluarga yang nyaman dan harmonis, tentunya kenapa tidak untuk dilakukan. Akan menjadi kendala, jika tahu bahwa hal yang sama-sama tidak disukai itu tetap dilakukan dengan sengaja. Jika tidak sengaja dan tidak ada cara lain kecuali satu-satunya jalan sedikit melanggar kesepakatan, maka tinggal meminta pengertian kedua belah pihak. “the power of kepepet” ini pun dapat dijadikan bagian dari kesepakatan itu sendiri.

Jawaban Anna Farida

Wah ini kompak, ya, suami istri saling cemburu bahkan ke orang yang tidak signifikan. Wajar, dong, kita tidak suka pasangan melirik orang lain. Kalau adem-adem saja justru perlu dicek ulang, Ini yang saya mau bahas khusus. Dulu, pasangan saling memendam rasa tidak saling mengungkapkan rasa cemburu hingga ajal menjemput itu biasa. Banyak hal yang dimaklumi, yang diterima sebagai romantika pernikahan. Itu dulu. Saat rumah tangga benar-benar privat.

Lain halnya dengan sekarang. Era media sosial membalikkan hal privat menjadi umum, seluruh dunia tahu kita makan apa dan pergi dengan siapa, foto rame-rame, reuni, CLBK–halah. Di sinilah cemburu dari pasangan bisa jadi alarm yang sehat.

Tanya 4

assalamualaikum…
rasa cemburu … ehm … beda tipis dengan ’waspada’ untuk saya pribadi. Lucunya itu beberapa kali terjadi saat suami ada reuni-an entah SD, SMP, SMA kalo kuliahan nggak. Karena suami tidak bertingkah berbeda.
Suami jadi ’ganjen’ rempong mikirin baju yg mau dipakai,  heboh banget! Membawa sisir pula pas reunian. #tepok jidat#
Alarm kewaspadaan akan berbunyi bila durasi jam reunian sudah tidak masuk akal. Sampai maghrib suami belum pulang padahal reuni sejak jam 1 siang. Jam toleransi mulai bekerja. Setelah jam 9 malam belum datang maka telepon dari saya yang akan berbunyi terus.

“Dimana?  kok jam segini belum pulang?”
Sampai pernah terjadi ’gesekan’ juga karena suami malu saya telepon terus. Walaupun saya sudah memberikan alasan mengapa saya demikian. Suami sulit menerima. Saya harus bagaimana ya?

 

Jawaban Bu Elia:

Cemburu vs waspada.

Jika ritme reuni sudah dapat diprediksi dan mengetahui dengan pasti bahwa pasangan kita memang pencinta untuk hadir di reuni. Ada beberapa kesepakatan yang harus dibangun tanpa bermaksud membatasi. Kontrol itu ada di diri kita dan pasangan, lagi-lagi tentunya dengan menggunakan komunikasi asertif.

Disampaikan, meskipun kita merasa kurang nyaman dengan “maraton” reuni yang dilakukan pasangan kita, namun karena menghormati apa yang menjadi interest pasangan, kita tetap mengijinkan untuk hadir. Adapun kehadiran tentunya dengan syarat kaidah-kaidah kewajaran. Sampaikan apa saja yang menjadi harapan Ibu pada pasangan.

Ini merupakan ijin tapi bersyarat, garansi rasa nyaman untuk Ibu dan toleransi pada pasangan. Jika ini dijalankan akan membuat rasa berdamai pada kedua belah pihak. Semakin kita gelisah, akan semakin tidak nyaman pada kedua belah pihak. Semakin ditentang, semakin tertantang.

Jawaban Anna Farida

Pada dasarnya niat istri menjaga suami dari hal-hal yang tidak diinginkan sudah benar. Anda berhak, kok, bertanya. Nah, yang perlu diperbaiki adalah cara komunikasinya. Suami telat pulang dan istri nelepon trus tanya “Di mana, kok belum pulang” ini bisa bermakna ganda—istri cemas suaminya dapat halangan, atau istri curiga suaminya cari-cari halangan #halahlagi.

Komunikasi yang reaktif (dilakukan setelah ada kejadian) cenderung menimbulkan gesekan. Artinya, begitu suami telat baru telepon, dan teleponnya berulang-ulang pula, itu contoh komunikasi reaktif.

Sebaiknya memang disepakati dulu, acara sampai jam berapa dan pulang jam berapa. Jika sudah sepakat ternyata meleset dari janji, bahas setelah pulang dan suasana sudah tenang. Menginterogasi pasangan ketika dia sedang di tempat  acara akan mendatangkan masalah lain.

Tahan diri saja dulu, mundur sejenak. Setelah suasana nyaman, baru praktikkan lagi materi komunikasi asertif.

Tanya 5:
Saya pernah delete contact(delcon) teman suami di BBM suami karena menurut saya terlalu centil. Apa itu termasuk cemburu?

Jawaban Bu Elia Daryati

Delcon teman BBM itu jelas cemburu.  Apalagi alasannya terlalu centil. Persoalannya apakah sepengetahuan suami ibu atau tidak? Jika tidak akan menjadi masalah baru. Paling keren adalah suami Ibu yang delcon di depan Ibu, dengan menyampaikan alasan keberatannya. Jika hanya kita yang delcon, akan menimbulkan perasaan ditentang dan mengungkit ego pasangan. Alih-alih menjadi sadar, malah menjadi terjadi ikatan yang lebih kuat. Didelcon di hp tapi tidak didelcon di hati … 🙂

 

Jawaban Anna Farida

Tentu itu cemburu. Cek materi, cemburunya sehat atau tidak?

Eh, tunggu, siapa yang delcon? Ibu men-delcon kontak suami? Ehehe sebaiknya tidak diulangi lagi. Ajak saja bicara suami, sampaikan bahwa Ibu lebih suka jika suami bercentil-centil dengan Anda #uhuk.

Jika memang perlu delcon biar suami yang melakukannya. Ini beda banget.

Tanya 6:
kenapa cemburu itu konotasinya buruk ya?
Eh hati2, si A istri/suaminya cemburuan!”

Apakah lebih baik tahu salah satu pasangan cemburu supaya yang di luar sana jaga sikap? Sahabat karib suami (lawan jenis) kalau ketemu saling cipika-cipiki.
Jijik saya melihat dengan mata kepala sendiri.
Sudah asertif tidak suka dengan caranya tersebut. Apalagi prinsip suami “yang penting nggak ada apa-apa”. Mengerikan sekali kalau prinsip berteman demikian.

Saya akrab juga dengan sobatnya tadi. Jadi nggak ada rasa cemburu sama sekali. Saya nggak mau jadi kebiasaan dalam keluarga kami. Apalagi sudah ada anak.

 

Jawaban 6 :

Mengahapus kebiasan yang riskan.

Tata nilai dalam sebuah persahaban memang berbeda-beda. Dapat dilambangkan dengan kebiasaan ikatan fisik dan ada yang dengan ikatan perasaan sudah cukup. Tata nilai ini akan menjadi kebiasaan jika tidak diubah. Komitmen perubahan yang pertama harus dijalankan pasangan, jika memang ingin mengubahnya adalah menghilangkan “rasa tidak enak sama teman”. Boleh jadi Ibu dan suami sebetulnya juga mulai tidak nyaman dengan kebiasaan ini tapi merasa tidak enak sama teman.

Jadi perjuangannya sekarang adalah mengikis rasa ketidakenakan ini. Kecuali suami Ibu menganggap ini adalah kebiasaan yang wajar dan tidak perlu diubah dan dipersoalkan. Semua dikembalikan pada keluarga masing-masing. Namun ada yang lebih urgen dari perasaan wajar ini, bahwa kita dengan penuh kesadaran sedang memberikan contoh pada anak sebuah pembelajaran mengenai interaksi persahabatan, salah satunya upacara cipika-cipiki ini. Selamat merenungkan.

Jawaban Anna Farida

(Semoga jawabannya pas, saya agak menebak-nebak maksudnya).

Urusan cemburu ini urusan Anda dan pasangan. Apakah orang lain perlu tahu bahwa Anda cemburuan agar teman pasangan jaga sikap? Tidak perlu, setidaknya tidak secara demonstratif diperlihatkan bahwa Anda cemburuan.

Yang berperan menjaga komitmen dalam pernikahan adalah suami istri, bukan orang lain. Jangan andalkan orang lain untuk menjaga sikap kepada pasangan. Termasuk cipika cipiki, ini kembali kepada nilai yang dianut oleh masing-masing, ya. Ada menganggapnya biasa saja, ada yang keberatan bahkan mengharamkannya.

Menjaga perasaan pasangan adalah kemestian. Jika pasangan terganggu dengan sikap kita, ada baiknya memang dibahas lebih serius, apalagi jika terkait dengan keteladanan yang hendak diberikan kepada anak-anak.

Komunikasi asertif tidak lantas menyajikan hasil instan. Perlu dilakukan berulang di saat yang pas, dengan bahasa yang tidak merendahkan pandangan pasangan—sori jika saya sotoy, tapi ini terbaca dari kata “jijik” yang terungkap dari pertanyaan Ibu. So, start with a clean slate. Mulai lagi dari awal, ajak lagi bicara dengan lebih menghargai pasangan, sisipkan doa untuk mengawal.

Tanya 7:

Saya sudah menyampaikan apa yang saya suka dan tidak suka dari hubungan yang dijalin pasangan dengan lawan jenis. Salah satunya misalnya: saya mengijinkan dia berhubungan dengan mantannya tapi harus dengan sepengetahuan saya jika via telpon/sms/chat/dll, dan harus bersama saya jika akan ketemuan.
Nah, jika saya mendapati pasangan saya melakukannya secara diam-diam, apa yang sebaiknya saya lakukan?
Saya mungkin akan marah, apakah kemarahan saya itu bisa disebut cemburu?
Jika iya, cemburu saya baik/buruk?
Mohon pencerahan.
Terima kasih.
🏻

Jawaban 7:

Sudah asertif tapi …

Sudah asertif dan diberikan toleransi tapi meminta lebih dari kesepakatan. Dimana pasangan diam-diam berhubungan dengan mantannya. Maka sikap ibu, harus lebih tegas. Kasar dan tegas merupakan hal yang berbeda. Apakah sikap ibu termasuk cemburu? Sikap ibu bukan sekedar cemburu, namun lebih ke arah ingin menyelamatkan perkawinan dan itu harus dijalankan dengan aturan yang lebih jelas dan tegas. Terus terang saja, apa yang dilakukan pasangan telah melampaui batasan etika berumah tangga. Sudah diberi ruang, malah mencari ruang sendiri. Kenapa harus diam-diam, jika yang dilakukan adalah suatu kebenaran?

Jawaban Anna Farida

Tar, tanya dulu.

Emang wajib, ya berhubungan dengan mantan? Apakah ada hubungan kerja, misalnya?

Di antara sekian banyak teman, mengapa harus mantan? Coba belajar ke wali kota Bandung, “buanglah mantan pada tempatnya”. Ehehe, ini usil tapi perlu juga dipertimbangkan.

Kita punya rasa yang pernah ada (ciyeh) dan kita coba-coba menjalin kontak lagi. Ukur dulu sebesar apa kepedean kita untuk tidak mengungkit lagi rasa di masa lalu.

Ini kembali ke pilihan masing-masing, nothing personal, ya.

Back to topic.

Jika memang sudah ada kesepakatan dan dilanggar, bahas baik-baik. Cemburu itu wajar dan masih sehat jika Ibu jadi ingin memperbaiki keadaan, bukan marah-marah. Tanyakan, untuk apa suami sampai sembunyi-sembunyi berhubungan dengan mantan. Tanyakan apakah sikap Ibu selama ini membuatnya tidak nyaman dan merasa dicurigai melulu.

Memonitor komunikasi pasangan dengan cara membaca semua chatnya, atau telepon pakai speaker biar ikut nguping, atau ikut ketemuan bareng, adalah hal teknis. Hal yang lebih mendasar adalah kesepakatan suami istri terkait berhubungan dengan orang lain, mana yang bisa dilepas tanpa minta pertimbangan pasangan, mana yang memang wajib melibatkan pasangan. Jadi tidak lantas semua urusan pasangan kita dengan orang lain harus masuk radar kita. Capek, atuh. Kapan sempat dandan? #eh

tanya 8:
Assalamualaikum,
Saya ada pertanyaan. Dalam sebuah rumah sering dihampiri oleh bidadari lain yang ingin singgah. Suami selalu bercerita jika ada bidadari tersebut. Memang dalam rumah tangga mereka sudah dibiasakan untuk saling terbuka. Tapi beberapa hari terakhir ini, suami terkesan ada yang di sembunyikan dari istri. Dalam ponselnya ada nama bidadari yang disamarkan menjadi nama pria. Tapi suami sebelumnya juga sudah bercerita tentang bidadari tersebut.
Pertanyaannya salahkah jika istri curiga dan cemburu jika suaminya berbuat demikian? Sang istri berpendapat, bahwa suami sudah mulai tidak jujur dengan menyembunyikan nama bidadari tersebut menjadi nama samaran.
Langkah apa yang harus dilakukan dalam rumah tangga mereka.
Terimakasih atas jawabannya.

Jawaban 8:

Seperti jawaban no.7 , kenapa harus diam-diam jika itu bukan sesuatu yang memang ingin disembunyikan. Apalagi komunikasi selama ini saling terbuka, termasuk mengenai bidadari itu. Ketika tidak ada masalah saja terbuka, kenapa ketika sedang ada masalah yang lebih urgent tidak terbuka? Sampaikan saja, bahwa saya menemukan nama bidadari yang disamarkan dengan nama laki-laki, jika boleh tahu maksudnya apa? Sampaikan pula, “Apakah, Ayah menyembunyikan nama itu karena baper(kebawa perasaan)?”.

Jangan pura-pura tidak ada masalah, matikan api selagi masih berbentuk bara sebelum nantinya menjadi api yang dapat membakar semua kesaabaran dan berubah menjadi malapetaka. Namun jangan lupa, berikan juga rasa permaafan atas khilaf dari pasangan kita. Karena boleh jadi hari ini dia yang salah, boleh jadi ke depan kita pun bisa juga bersalah.

Jawaban Anna Farida

Wajar jika istri cemburu. Yang harus dilakukan adalah cek materi di atas, lakukan langkah 1-2, jika lolos, baru ajak suami bicara. Pastikan dulu apakah benar bahwa itu nama samaran, jangan sampai kasus “Angel” yang dialami Lita terjadi pada kita (Membaca sms Ibu mertua di HP suaminya “Aku kontak angel”). Dikira nama perempuan ternyata artinya susah dikontak (Angel itu bahasa jawa dari susah, sulit) misalnya 😀

Please, ketika pasangan bersikap tidak seperti biasa, jangan langsung nyolot dan melontarka tuduhan. Cemburu boleh, tapi jaim dikit, lah.

Langkah yang bisa dilakukan ketika sesuatu terancam penyakit ada dua cara: perkuat daya tahan atau pangkas penyakitnya sejak awal. Semoga masalah ini masih bisa dihadapi denga memperkuat ikatan pernikahan, menghidupkan romantisme, dan meneguhkan komitmen. Toh biasanya suami selalu terbuka, semoga karakter ini bisa jadi tumpuan bagi komunikasi yang terbuka tentang nama yang diduga disamarkan tadi.

tanya 9:

Saya dan suami bukan tipe pencemburu. Beberapa waktu yang lalu suami khilaf dan berselingkuh. Saya sekarang tidak nyaman bila dia berhubungan dengan wanita manapun walaupun untuk urusan kerja. Bagaimana cara terbaik untuk menyikapi situasi ini? Saya sendiri tidak nyaman menjadi pencemburu seperti ini.

Terima kasih.

Jawaban 9 :

Cemburu itu penting, namun cemburuan itu sudah agak “paranoid” (curiga tanpa sebab yang logis).

Adapun yang dialami ibu sekarang adalah sesuatu yang wajar. Namun yang wajar itu belum tentu benar. Wajar karena ada masalah traumatik dari pengkhianatan pasangan, namun tidak benar jika dilakukan secara berlebihan.

Kesadaran ibu akan kondisi psikologis yang mulai mengganggu, merupakan prognosis positif untuk berubah. Karena terapi psikologis yang baik adalah dengan membangun kesadaran bahwa aku harus berubah. Akan tetapi terapi perubahan ini memang harus menyertakan pasangan, katakan “Mas, aku merasa kurang nyaman dengan perasaan ini, dimana sejak peristiwa itu saya menjadi seorang pencuriga yang tidak berdasar. Ini bukan aku banget, mungkin Mas juga merasakan perilaku aku terkadang seperti menyebalkan. Hal ini benar-benar bikin tidak nyaman aku juga mungkin kamu.

Dan satu kalimat lagi sampaikan: “Apakah, Mas bisa menolong aku keluar dari masalah ini?”.

Nah, kalimat terakhir adalah kalimat terapi untuk mendapatkan reaksi dari pasangan. Sejauhmana suami menunjukkan kesungguhannya. Jika dia menyayangi dan mencintai istrinya dengan sungguh-sungguh maka dia akan berusaha semaksmial mungkin tidak akan membuat pasangannya menjadi tersakiti dan terluka.

Namun jika, ibu masih juga paranoid, ibu harus terapi pada profesional. Terima kasih.

Jawaban Anna Farida

Saat ini Ibu memaafkan, atau sedang berusaha memaafkan pasangan yang khilaf. Ibu bisa sampaikan ke suami, dan minta suami membantu meyakinkan Ibu bahwa kejadian itu akan jadi peringatan bagi kedua belah pihak.

Errr, Ibu jadi tak suka diri sendiri karena cemburu di saat yang tidak pas, suami pun tidak suka karena merasa tak dipercaya–walau mungkin dia tidak tahu Ibu cemburu.

Coba, rugi berapa kali, tuuu?

Kita sudah belajar bahwa ukuran bagus tidaknya cemburu ada pada efek yang ditimbulkannya, kan.

Jadi saya tidak akan mendukung kecemasan Ibu atau menyalahkannya.

Bagaimana kalau fokusnya kita alihkan ke upaya yang lebih membangun diri Ibu maupun pernikahan.

Bikin daftar hal yang bisa dilakukan untuk membuat pernikahan lebih berkualitas, misalnya bikin suasana romantis, menciptakan komunikasi yang hangat #huhuy.

Rasanya upaya ini akan mengalihkan energi ke arah yang lebih positif.

Tanya 10:
Kami baru 3 tahun menikah. Saya tahu salah satu teman SMA suami yang ada kisah khusus walau tidak pacaran. Namun ketika wanita ini sudah menikah (waktu itu suami saya belum menikah) setiap melahirkan (2x melahirkan) pasti menghubungi suami bahkan minta saran nama untuk bayinya dengan sepengetahuan suaminya.

Saya yakin gak ada hubungan lebih antara suami dan wanita ini. Dan tidak mempermasalahkan masa lalu. Tapi setelah menikah saya keberatan saat di sosmed suami dan temannya ini saling menyapa dengan panggilan khusus semasa SMA. Saya sampaikan tidak keberatan mereka bersilaturahim lewat sosmed asal tidak menunjukkan kekhususan seperti itu. Suami menerima dan menjaga jarak di sosmed. Tapi setiap acara mudik tahunan, saya selalu memberi catatan, saya mau diajak bersilaturahmi ke mana saja temannya asalkan sesama laki-laki, bukan ke rumah teman wanita. Sedangkan kalau bertemu teman-teman wanita di acara umum seperti reuni tak masalah. Soalnya walaupun saya yakin dengan kepribadian suami tapi saya tidak suka dengan kepribadian si wanita yang terlihat kurang bisa menjaga diri (terlihat dari interaksi di akun sosmednya). Apakah memberi batasan seperti ini baik?

Jawaban Bu Elia:

Memberi batasan dalam rangka bersiaga menjaga pernikahan tentunya baik-baik saja.
Semua niat yg baik, cara yang baik, insya Allah akan diterima dengan baik oleh pasangan. Jika bukan kita yang menjaga pernikahan siapa lagi yang akan melakukannya.
Jika bukan kita yang mengingatkan suami kita, lalu perempuan mana yang dapat mengingatkannya.

Suami ibu pun, sepertinya memiliki itikad yang sama dalam menjaga pernikahan. Satu hal yang terpenting adalah menguatkan ikatan antara aku dan dia. Jika ikatan ini kuat, gangguan sebesar apa pun tidak sanggup untuk menggoyahkannya. Boleh jadi ini sekedar persahabatan, tapi persahabatan yang sudah dewasa dab terlalu erat plus bukan muhrim tetap harus terus diingatkan. Karena khilaf dapat hadir kapan saja dia mau.

Biarkan kita sebagai istri yang menyenangkan, sekaligus mampu saling menjaga pernikahan dari hal yang dapat merapuhkan.

 

Tanya 11:
Apakah yang harus kita lakukan dengan wanita  yang telah membuat kita cemburu? Haruskah kita menjalin hubungan yang baik atau sebaiknya tidak usah berhubungan untuk menjaga rumah tangga kita. Makasih.

Jawaban Anna Farida:

Jika memang tidak penting-penting amat, berhubungan seperlunya saja. Mending jalin hubungan baik dengan teman lain yang mendatangkan energi positif lebih banyak.

Milih teman kan boleh

Tanya-12
Seorang suami dapat kiriman foto kenangan masa lalu. Istri dan anak sulungnya lihat dan anak bertanya itu foto siapa. Istri jadi cemburu, murung, dan menyampaikan keberatannya pada suami. Dia minta agar foto-foto dikembalikan. Apakah wajar bersikap demikian? Apakah laki-laki sulit memahami perasaan pasangan?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Pasangan yang kurang peka.
Berkomunikasi dengan pasangan tentunya tidak dapat dilakukan dengan cara tebak-tebakkan. Selain itu, Ibu tidak dapat menyimpulkan sendiri tanpa menanyakannya pada pasangannya. Beberapa waktu yang lalu kita pernah membicarakan mengenai komunikasi asertif.
Komunikasi asertif adalah komunikasi dua arah, dengan tegas dan positif mengekspresikan maksud kita tanpa maksud mengalah ataupun menyakiti orang lain. Komunikasi asertif membuat seseorang menjadi lebih tersadarkan, tanpa merasa dipojokkan, berbeda dengan komunikasi agresif. Orang akan patuh dengan aturan atau larangan kita, bukan karena kesadarannya namun karena keperpaksaan. Memaksa salah satu pihak untuk mengalah.

 

Jawaban Anna Farida:
Zaman media sosial bikin reuni dan CLBK marak, ya? Hehe
Buku Marriage with Heart memberikan porsi yang cukup banyak tentang fenomena media sosial ini.
Cemburu? Wajar. Tebak-tebakan? Nggak perlu.
Tanya saja. Kita sudah belajar berkomunikasi secara asertif, kan?

Cemburu terus jadi murung? Rugi tiga kali. Pertama, cemburunya bikin bete. Kedua, murungnya memakan energi. Ketiga, pasangan belum tentu seperti yang kita sangka

Ada dua pilihan, masing-masing ada risikonya:
1. Perjelas sikap Anda, sampaikan Anda tidak suka. Ingat asertif, ya. Ingat romantis juga. Cemburu karena cinta tentu beda dengan cemburu karena tidak percaya.
2. Abaikan. Biasa saja, toh hanya teman dan suami juga menegaskan tidak ada apa-apa. dalam tahap ini masih bisa dipercaya, kan? Jangan buang  energi untuk hal yang belum pasti.

Menjaga perasaan pasangan itu mesti. Kita paling kenal pasangan kita, ada yang cuek lihat pasangannya foto bareng dengan teman-teman lawan jenis, ada yang sensian atau menganggapnya tidak sesuai dengan nilai yang diyakini, misalnya.

Acara ini disponsori oleh Buku Marriage With Heart dan Parenting With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati.

2015-09-15 11.33.54
ilustrasi: koleksi pribadi
2015-09-15 11.34.19
ilustrasi: dokumen pribadi
Advertisements

3 thoughts on “Diskusi Cemburu

  1. Pingback: Aku Cemburu | Anna Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s