Disiplin Positif

gambar dispilin
Ilustrasi: dreamstime.com

Kulwap ke sepuluh kali ini bertema Disiplin Positif.

Mari belajar bersama mengamalkan disiplin yang positif untuk anak-anak tercinta!

Anna Farida:

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Insya Allah besok pagi – siang saya merumpi di seminar ortu bersama Save The Children.

🌻 Saya nukilkan makalahnya, ya. Kita bahas besok siang, jika agak telat mohon ampyun!  😁

🍃🍃
Dalam pengasuhan, kita mengenal istilah positive discipline atau disiplin positif. Secara sederhana, ciri-cirinya adalah:

ü  Disiplin ditujukan untuk mengatur perilaku agar anak mengerti mana yang salah dan yang benar

ü  Anak menjadi subjek. Mereka tahu bahwa disiplin didesain untuk kepentingan mereka

ü  Disiplin positif membangun sikap percaya diri, bukan untuk menyakiti anak dengan alasan apa pun

ü  Disiplin bukan  alat pangkas kepentingan anak atau senjata untuk melindungi kepentingan orangtua

🌹Bagaimana menerapkannya?

ü  Awali dengan membuat kesepakatan dengan anak tentang aturan yang hendak diterapkan

ü  Sampaikan pendapat orang tua, simak dan apresiasi pendapat anak

ü  Perjelas mana aturan yang tidak dapat diganggu gugat, jelaskan mengapa

ü  Pilih intonasi, bahasa tubuh, dan waktu yang pas

ü  Pilih kalimat positif

ü  Berikan waktu pribadi untuk masing-masing anak

ü  Jika anak memperlihatkan komitmen, berikan apresiasi

ü  Jika terjadi pelanggaran, cari solusi bersama, bukan selalu hukuman. Ajak dia untuk mencoba lagi dan lagi.

ü  Tegas, dan di saat yang sama tetap ramah.

ü  Jadilah teladan. Jadilah orang pertama yang komitmen pada hal yang telah disepakati — ini tantangan bagi kebanyakan orang tua, hehe.

ü  Sabar, perlu waktu – ini jauh lebih menantang, ehm!

 

🌹Bagaimana menjaganya?

Rapat keluarga dan membahas aturan bisa sangat menyenangkan. Bagian yang tricky adalah menjaga konsistensi saat menerapkannya. Terkait penerapan aturan, sejujurnya, remaja masih tergantung pada orang tua. Perilaku orang tua akan menjadi cermin dan rujukan mereka dalam bersikap.

Ketika orang tua melanggar aturan lalu lintas, misalnya, remaja akan melihatnya sebagai referensi. Awalnya mereka ragu, apakah ini benar atau salah.

🌹Jika sesuatu yang salah menjadi kebiasaan, bukan mustahil jadi kebenaran bagi mereka. Saat pengetahuan mereka kian berkembang, dan menemukan bahwa ternyata orang tua melakukan pelanggaran, lunturlah kepercayaan.

Rasa tak percaya ini akan merembet ke aspek kehidupan yang lain.

Tak heran jika remaja mulai mencari patron dan teman lain yang lebih fair, teman yang tidak melulu berwacana tentang kebaikan namun di saat yang sama melanggar peraturan tanpa sungkan.

🌹Konsistensi.

Inilah benteng pertama sekaligus utama dalam membangun perilaku disiplin bersama remaja. Semoga Allah menggenapkan yang tercecer dalam upaya pengasuhan kita.

Acara ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati.

Simak juga tanya jawabnya di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s