Diskusi Mindful Parenting

Ilustrasi: forums.psychcentral.com
        Ilustrasi: forums.psychcentral.com

Tema: Mindful Parenting

Waktu: Sabtu siang, 07 November 2015 01:15 PM

Ruang Kelas: Kuliah via WhatsApp Keluarga Sehati

No. kontak: 0896 5041 6212 (Suci Shofia)

Narasumber: Elia Daryati dan Anna Farida

Diskusi:

Salaaam, agak mundur dikit  boleh, yaaa. Mengurutkan jawaban dulu.

Ceritanya surel yang dikirim Bu Elia ke Mbak Anna Farida kayaknya nyasar. Padahal dah dari jam 12 siang ngirimnya. Akhirnya dikirim ulang deh termasuk ke admin Kulwap Keluarga Sehati. Tim sibuk beberapa menit sebelum kulwap di mulai. Meski mundur 15 menit, namun peserta yang baik hati dan rajin belajar setia menanti.

Pertanyaan-1

Adakah tips agar selalu mindful dalam mengasuh anak-anak? Kalau lagi capek, sedang lapar, mau datang menstruasi, sulit kontrol emosi.
Jawaban Bu Elia Daryati

Mindful parenting, dipopulerkan dengan padanan bahasa Indonesia “mengasuh berkesadaran”. Parenting adalah mengasuh, orangtua mengasuh anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul. Mindful adalah berkesadaran atau apa saja yang mengacu pada orang yang selalu menjaga kesadarannya dari pikiran, ucapan, dan perilaku yang kurang pantas.

Selanjutnya mengasuh berkesadaran mengacu pada sikap, perilaku, ucapan dan penampilan orangtua yang selalu memiliki kesadaran dalam mengasuh buah hati mereka.

Mengasuh Berkesadaran ini mencakup lima dimensi yang relevan dengan hubungan orangtua-anak:

  1. Mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan empati.
  2. Pemahamanan dan penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak.
  3. Kesadaran emosional diri sendiri dan anak.
  4. Pengaturan-diri dalam hubungan pengasuhan/parenting, dan
  5. Welas asih untuk diri sendiri dan anak.

Bagaimana menyadari ketika kondisi sedang “baik secara semosional”. Kesadaran bahwa diri sedang ada hal yang kurang stabil, adalah keasadaran itu sendiri, sehingga dapat berstrategi agar tidak membenturkan diri ketika dalam situasi yang kurang “pas”. Menyadari kondisi emosi diri merupakan bagian kecerdasan emosi, dengannya ia mampu akan menamai perasaannya. Orang yang mengenal dirinya akan menjadi pilot yang handal untuk mengendalikan emosi dirinya. BUKAN membenarkan apa yang dilakukan dengan alasan keterbatasan diri, karena sedang capek, lapar atau sedang PMS.
Jawaban Anna Farida

Mindful bukan berarti bergaya princess setiap saat, lho, ya.

Salah satu kriteria mindful adalah kesadaran atas kondisi emosi diri. Terkait dengan parenting, mindful juga berarti aware dengan emosi anak.

Kadang kita mendadak marah atau uring-uringan. Tidak ada angin tidak ada hujan, pokoknya maunya makan orang, aja! Hahaha. Kadang juga suasana hati mendadak berbunga-bunga. Anak berantakin mainan senyum, pasangan pulang telat senyum … tiba-tiba ada transfer ke rekening, senyuuum. Pokoknya saya lagi bad mood atau good mood muncul mendadak.

Masalahnya, yang kecipratan good atau bad itu adalah orang-orang terdekat kita. Kalau kebagian enaknya sih memang sudah seharusnya, ya. Lha kalau kebagian tidak enaknya? Ke pasangan rada sungkan, ke anak-anak bisa bebas dilepaskan! Haduh!

Nah, modal utama mindful parenting adalah sadar. Artinya, kita sadar ketika sedang senang atau tidak senang dan bagaimana mengelolanya.

Yang paling aware dengan kondisi diri kita seharusnya kita. Coba diam sejenak, hitung 1-14, sadari, apa sebenarnya yang sedang Anda rasakan.

Saya kasih contoh penderita, deh, yaitu saya.

Saya merasakan hati saya biasa-biasa saja. Eh, tapi saya ingin berkegiatan sambil bersenandung, sambil tertawa, sambil ngobrol dengan anak-anak? Berarti saya tidak sedang biasa-biasa saja, saya sedang senang.

Di saat lain, saya bangun buru-buru, salat subuh kesiangan. Saya ke dapur, bete lihat bak cuci piring penuh—saya menyesal, kenapa tidak dicuci saja tadi malam, ya? Kenapa kok anak-anak tidak ada yang ngeh dan bantuin saya? Eehh … hari ini Ubit harus sekolah lebih pagi, berarti saya harus segera masak nasi. Rencananya mau sarapan sama fillet ayam goreng tepung. Etapi … ya ampun! Semalam saya lupa ngeluarin ayam dari freezer. Mau nggoreng batu?

Gimana sih, saya sudah belasan tahun mengurus rumah kok tidak pintar-pintar! ———- nah, ini menyalahkan diri sendiri.

Gimana sih, orang rumah kok tidak ada yang peduli dan bantu saya! ———- ini menyalahkan orang lain.

Jika dua gejala itu muncul, berarti emosi kita sedang negatif. Dengan ngeh bahwa kita sedang marah atau tidak senang, kita akan lebih berhati-hati ketika berbicara atau bertindak, sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan anak-anak.
Pertanyaan-2
Saya punya dua anak Tiara 5 tahun dan Bima 3 tahun. Dalam mendidik mereka saya memang cenderung menggunakan syarat. Misalnya anak minta minum susu dengan menangis.

Saya bilang “Mama akan buatkan susu kalo kamu diam.”

Atau minta main keluar rumah sedangkan mainannya masih berantakan..

Saya juga mengajukan syarat “Boleh main keluar, tapi bereskan mainanmu dulu.”

Yang  terjadi sekarang kedua anak saya sering mengajukan syarat ke saya.  Misalnya saya minta tolong dibelikan sabun ke toko. Tiara akan mengajukan syarat “Oke  dibelikan sabun tapi nanti belikan es krim.” Si Bima, saya minta tolong minta ambilkan minum, dia memberi syarat “Bima buatkan susu dulu, Ma!”

Apakah ini baik atau buruk? Akankah berdampak buruk terhadap pergaulannya esok. Karena saya berpikir tidak semua temannya akan bisa menerima berbagai persayaratan dari anak-anak saya.
Sekian terima kasih.
Jawaban Bu Elia Daryati

Cinta yang sehat adalah cinta yang tak bersyarat. Cara kita senantiasa memberikan syarat untuk semua hal yang diinginkan anak, akan membuat anak melakukan pola yang sama. Hubungan bersyarat sifatnya transaksional. Seperti hubungan jual beli. Adapun yang sehat adalah hubungan yang berkesadaran, bahwa patuh pada orang tua merupakan bagian dari ketaatan dan bertanggungjawab pada diri adalah satu keharusan.

Untuk itu, saling percaya antara orang tua dan anak, akan meluruhkan cinta yang bersyarat dan interaksi yang dibangun berupa kesadaran untuk saling mengasihi tanpa syarat. Dapatkah itu dilakukan? Judulnya tentu saja dapat. Semua disiplin, bermula dari aturan, reward dan konsekuensi dan sikap konsisten orangtua yang dibungkus atas nama cinta dan rasa saling percaya. Tentu saja bukan cinta yang bersyarat.

Jawaban Anna Farida

Alih-alih memberikan syarat, mengapa tidak membuat kesepakatan antara ortu-anak. Misalnya, apa yang harus dilakukan ketika ortu perlu bantuan, mengapa sesama anggota tim (anggota keluarga) wajib saling bantu. Syarat yang baik adalah yang disepakati bersama, bukan yang dadakan muncul sehingga memberatkan pihak lain, apalagi syarat yang bernada ancaman.

Jika disepakati sebelumnya, jadinya bukan ancaman, kan?

Pastikan memberikan reward yang sepadan ketika anak menepati kesepakatan dan konsekuensi yang jelas juga ketika kesepakatan itu dilanggar tanpa penjelasan yang memadai. Dari sini anak akan belajar menghargai komitmen.

Pertanyaan-3

Anak saya baru masuk kuliah tapi sering pulang malam. Saya selalu menanyakan darimana? apa saja kegiatannya? kok nggak pulang? Anak saya bilang “Ibu ini aku kuliah terus kerja social. Enggak bakalan macem-macem. Insya Allah aku bisa menjaga diri.”

Maksud saya mbok ya ada kabar, wong HP-nya saya yang belikan, banyak fasilitas untuknya. Jadi hampir tiap hari saya H2C (harap-harap cemas). Mohon masukannya. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia Daryati

Jadwal kuliah dengan jadwal sekolah tentu saja berbeda, demikian juga tugas sekolah dan tugas kuliah berbeda pula. Selain kegiatan akademis beberapa mahasiswa memang memilih kegiatan ekstrakurikuler seperti BEM, atau kegiatan organisasi kampus lainnya.

Dalam hal ini, justru hal yang perlu dievaluasi adalah relasi hubungan dan cara berkomunikasi Ibu dan putra Ibu. Jika ibu mengenal putra ibu dengan baik, kita bisa menyampaikan dengan baik, alasan kenapa kita sering menanyakan hal-hal yang mungkin membosankan anak, itu-itu saja. Kuncinya adalah di sikap asertif dalam berkomunikasi, kita sampaikan beberapa hal yang menjadi kecemasan diri atas perubahan jadwal yang dimana kita sebagai orang tua sedang belajar beradaptasi dengan pola baru ini.

Ketika keberatan ini disampaikan pada anak dengan cara yang terkesan tidak pressure, anak akan mengerti apa yang sesungguhnya orang tua maksudkan. Dimana anak mungkin sedang beradaptasi dengan pola barunya, tanpa bermaksud untuk mencemaskan ibunya, sedangkan ibu pun sedang beradaptasi dengan pola baru anak, tanpa bermaksud menekan anak. Dimana keduanya sama-sama tidak bermaksud melukai, namun belum menemukan cara yang tepat.

Jawabannya, dibangun pola komunikasi asertif yang membuat keduanya akan memiliki persepsi yang sama. Anak jika lebih dipercaya, dia akan lebih bertanggungjawab, tanpa kita minta, dia akan menginformasikan tanpa harus diminta. Beberapa trik komunikasi, salah satunya mengubah interogasi menjadi konfirmasi, mengubah pressure menjadi support, dan mengubah curiga menjadi perhatian. Ini melalui proses dan perlu dilatihkan secara terus-menerus.

Cinta yang sehat adalah cinta yang memerdekakan, bukan cinta yang memenjarakan.

Jawaban Anna Farida

Saya punya langkah sederhana:
Minta anak kasih jadwal kuliah utama, kegiatan ekstra, dan kegiatan pribadi secara umum.
Namanya juga emak. Nggak lihat anak dicari-cari begitu anak di hadapan mata eeehh diomeli ahahah

Artinya, anak memang perlu berbagi informasi kepada orang rumah, terutama jika ada kegiatan menginap, misalnya.
Di sisi yang sama, karena mahasiswa itu memang gemar menyibukkan diri (ingat masa saya kuliah, di tas isinya bukan hanya buku tapi handuk dan baju ganti—siapa tahu dadakan nginep #halah), Ibu pun harus paham, kinilah saatnya memberi jalan yang lebih leluasa kepada anak untuk berkembang.
Begitu jadwal di tangan, pahami bahwa dinamikanya akan ada. Kadang jadwal kuliah ganti, kadang juga anak memang punya tugas yang harus dikerjakan bersama … daaaan sebagainya. Alasan sih banyak (entah belajar dari siapa ketika anak pintar ngeles ahahah).

Selama komunikasi masih jalan, ketika anak di rumah diperlakukan dengan baik, anak akan tetap ingat kasih kabar ketika ada hal mendadak yang harus dia lakukan di luar jadwal kuliah. Jika karena satu dan lain hal dia lupa, tidak perlu diceramahi. Sampaikan saja Ibu lebih tenang kalau Kakak kasih kabar, misalnya. Ingat asertif? Aheemmm.

Pertanyaan-4

Tentang mindful. Point kasih saying, bagaimana menciptakan sifat terbuka anak?

Jawaban Bu Elia Daryati

Keterbukaan anak, akan terbangun dengan sendirinya, jika orangtua pun membuka diri seluas-luasnya terhadap kekurangan dan kelebihan anak. Orangtua biasanya sangat terbuka dengan kelebihan anak dan merasa kurang berkenan dengan kekurangan anak. Beberapa orang tua belum berlapang dada terhadap kelemahan anak.

Contoh : Bagaimana hasil ujian matematika di hari ini? Ketika anak berkata jujur dengan nilai yang didapatnya, orang tua merasa terkaget-kaget karena anaknya mendapatkan nilai terkecil di kelasnya. Orang tua marah dan menyalahkan anak dengan nilai yang didapatnya dan umumnya kurang mau mendengar. Hal yang sesungguhnya terjadi karena apa? Padahal saat itu, anak sedang sangat memerlukan dukungan dalam mengatasi perasaannya.

Pada lain kesempatan, akhirnya anak tidak dapat bersikap jujur lagi pada orang tua, terhadap banyak hal yang mungkin dapat berisiko mengewakan orang tuanya. Lebih baik berbohong tapi tidak ada kekecewaan, daripada harus bersikap jujur namun dapat mengecewakan.

Dengan demikian, hal kunci dari segalanya, agar anak dapat berterus terang, adalah kesiapan orang tua untuk mampu menerima anak apa adanya, dalam kesuksesan maupun kegagalannya, atau kelebihan maupun kekurangannya.

Jawaban Anna Farida

Idem pol dengan Bu Elia, tak kurang tak lebih.

Pertanyaan-5
Mendidik dan mengasuh anak sangat berkaitan dengan masa lalu kita. Apakah itu pola pengasuhan ortu kita maupun inner child yang ada pada diri masing-masing. Bagaimana kita menyiasati agar hal tersebut menjadi energi positif bukan malah menjadi masalah. Bagaimana pula menghilangkan inner child di diri kita.

Jawaban Bu Elia Daryati

Pola asuh adalah, merupakan pola interaksi antara kita dengan anak-anak kita. Setiap keluarga memiliki pola interaksi yang “khas” dalam membangunnya. Kita di hari ini pun salah satunya merupakan hasil karya pola interaksi orang tua kita dengan kita. Jika pola interaksi yang dibangun di masa lalu positif, akan menjadi keberuntungan tersendiri bagi anak. Sebaliknya, jika pola interaksi yang pernah di dapat memiliki banyak unsur negatifnya, ini yang perlu dikelola.

Jika mengacu pada mindful parenting, kesadaran diri yang cukup besar dalam pengasuhan pada anak, akan mendatangkan kebaikan yang luar biasa. Mudah saja, kita niatkan putus rantai kesalahan pengasuhan di masa lalu dan membangun pola interaksi yang lebih baik di masa depan. Sebagai orangtua, kita harus memiliki keyakinan dan kesadaran untuk berubah. Jika masih ada jejak yang tersisa, biasanya sifatnya tidak lagi dominan. Si Pemarah menjadi Si Antusias, Si Kasar menjadi Si Tegas. Energinya mungkin sama namun ekspresinya menjadi berbeda.

Tidak perlu takut dengan inner child yang sifatnya destruktif, putuskan saja rantainya. Namun abadikan inner child yang sifatnya konstruktif karena hal ini akan berdampak positif dalam pengasuhan. Seperti kreativitas, spontanitas, ataupun tidak ragu dalam mengekplorasi kemampuan dimiliki semaksimal mungkin.

Jawaban Anna Farida

Kita ini bukan mendadak ada. Kita dilahirkan oleh mata rantai generasi yang tidak terputus. Ada kalanya kita (kita melulu, aku aja, kaleee) tidak berkenan dengan salah satu atau dua warisan generasi terdahulu yang melekat dalam diri kita.
Namun demikian, mesti diakui bahwa kita pun punya inner self, lho.
Kalau ada kesalahan, jangan langsung nyalahin masa lalu.
Memang benar, ada sedikit banyak sumbangan masa lalu bagi masa kini dan masa depan kita —- jika mata rantai bisa diganti begitu saja, kita akan sembarangan bertindak hari ini dan tidak memikirkan akibatnya untuk anak cucu kita.

Saya memilih untuk menghidupkan inner self yang positif, dan mengambil pelajaran dari masa lalu, apa pun itu.
Orang tua kita mungkin melakukan kesalahan, tapi bersyukurlah karena hari ini kita masih berdiri dan sadar bahwa itu adalah kesalahan. Kita sadar bahwa ada yang harus diperbaiki, bahwa kita mesti jadi orang tua yang labih baik bagi generasi yang akan datang.

Berdamai dengan masa lalu, bersyukur untuk masa kini, berjuang untuk masa depan lebih baik —- ini kaya slogan kampanye aja.

Yang bobok angkat tangannyaa.
Sudah jam 2 lebih, tapi saya tadi mulai telat 15 menit. Jadi saya tunggu 15 menit lagi, yaaa.

Terjadilah tanya jawab di kulwap 2

Jreng … jreng … jreng …

Tanya

Soal inner child itu teh Anna, buat saya sih laksana alam bawah sadar ya. Yang kadang mengendalikan tindakan kita tanpa kita sadari.

Jawaban Anna Farida
Alam bawah sadar sebenarnya perbendaharaan penting yang membangun kedirian kita, lho. Kita lengkap karenanya, kita jadi unik karenanya juga. Namun demikian, jangan sampai apa yang kita sebut alam bawah sadar itu menjadi  dalih saat kita melakukan kesalahan.
Jika terjadi kesalahan bertindak, misalnya kepada anak, yang dilakukan adalah evaluasi secara sadar.

Tanya
Berapa lama karakter kurang baik berubah menjadi baik. Ini berhubungan dengan anakku semata wayang, yang seringkali mengalah sama adik sepupunya. Aku tinggal serumah dengan adik yang single parent dengan dua anaknya.

Jawaban Anna Farida
Terkait watak, ukuran waktu jadi tidak berlaku secara eksak.

Yang perlu dihadirkan adalah penguatan untuk your only boy untuk bersikap mengalah untuk apa dan membela kepentingannya saat apa. Kepadanya mulai bisa diajarkan memilah, mana yang bisa dibagi mana yang harus dipertahankan.

Kapan harus mengalah dan mengapa dia perlu mengalah — ajak juga adik berkomunikasi, bikin MoU, karena bagaimanapun keluarga serumah kan ikut mendidik anak kita langsung atau tidak langsung — kebijakannya harus selaras, agar tidak ada kebingungan pada anak. Misalnya sama Mami nggak boleh, tapi sama Tante diizinkan, atau sebaliknya.

Tinggal dengan keluarga lain dalam satu rumah itu ada plus minusnya.

Saya ambil plusnya: anak jadi berkenalan dengan kebijakan keluarga yang kadang berbeda dengan keluarganya.

Dia melihat bagaimana Tantenya bersikap kepada anak-anaknya, dan melihat bagaimana orang tuanya bersikap kepada dirinya — jika kompromi yang dihasilkan antara dua keluarga ini bisa harmonis, dia akan tumbuh jadi anak yang lebih “kaya”. Salam sayang buat Ebyl.

Tanya
Terus bagaimana ya menularkan mindful ke pasangan. Biar klop gitu.

Jawaban Anna Farida

Kasih nomornya ke Mahmud Admin, ikut kulwap bareng  .

Bagikan ilmu kulwap, Mbak.

Sesedikit apa pun bisa dibagikan ke teman, ke suami — tinggal forward, bebas, kok.

————————————————————————————————–

Nantikan postingan tema seru berikutnya di Kulwap Keluarga Sehati minggu depan, yaaa.

Acara ini didukung oleh Buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart. Sebuah buku yang mudah dipahami dan tidak menggurui. Asyik buat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Diskusi Mindful Parenting

  1. Pingback: Mindful Parenting | uchishofia

  2. Reblogged this on Teaching Adventure and commented:
    Salam Sehati, Bapak Ibu.
    Hujan mulai mengguyur Bandung dan kota-kota lain.
    Semoga mencurahkan berkah, amin.

    Rumpi dulu.
    Besok saya akan jadi fasilitator pelatihan orang tua dalam rangka penelitian tesis seorang mahasiswa UPI.
    Materi yang akan kami bahas adalah “Mindful Parenting“.

    Ini TOR yang dibuat mahasiswa tersebut sebagai panduan presentasi saya. Jadi bukan saya yang bikin, tapi isinya asyik, layak dirumpikan bersama.

    Setelah pelatihan saya akan bikin tulisan tentang tema ini, deh.

    Mindful dapat diartikan penuh penghayatan, eling, penuh kesadaran atau dalam agama Islam dapat pula dikatakan khusu.

    Dengan keterampilan ini orangtua sadar betul bahwa ia sebagai orangtua dan perilaku-perilaku yang ditampilkan dalam mengasuh anak adalah perilaku yang tepat sebagai orangtua.

    Fasilitator menjelaskan tentang 5 dimensi keterampilan mindful parenting:

    Mendengarkan dengan perhatian penuh. Contoh pada saat anak berbicara dengan orangtua, apa yang sedang dilakukan oleh orangtua? Apakah sedang melaksanakan aktivitas lain? Sedang BBM-an, mendengarkan sambil mengurus pekerjaan rumah atau menghadirkan sepenuhnya dalam pembicaraan dengan anak.
    Penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak: contoh pada saat anak mempunyai masalah apakah orangtua memberikan label “negative”, kamu bodoh, telat dll?. Atau apakah orangtua mempunyai permintaan yang tidak realistis”selalu menggunakan syarat?”
    Kesadaran emosional atas diri dan anak: berkaitan dengan kecerdasan emosi orangtua. Apakah orangtua mampu melihat kekhawatiran anaknya dari bahasa tubuh anak? Apakah orangtua mampu membaca keinginan anak walaupun anak tidak mengatakannya? apakah orangtua menyadari bahwa saat suasana hati orangtua bad mood itu akan mempengaruhi bagaimana orangtua memperlakukan anak?
    Pengaturan diri dalam hubungan parenting; Orangtua mampu menyikapi setiap permasalahan yang terjadi pada diri anak, contoh pada saat anak pulang telat dan tidak menghubungi orangtua, apakah saat ia pulang orangtua langsung menanyakan/memarahi/berkomentar langsung? Atau memberikan kesempatan anak untuk beristirahat terlebih dahulu, setelah itu mencari kesempatan yang tepat untuk membahasnya.
    Kasih sayang kepada diri dan anak; apakah orangtua selalu mengevaluasi tentang bagaimana mengasuh anak? Pada saat melakukan kesalahan dalam mengasuh anak apakah cenderung menyalahkan diri sendiri? Pada saat anak mempunyai kesalahan apakah cenderung membahas kesalahan anak yang dulu-dulu walaupun niatnya mengambil pelajaran?

    —- TOR di atas adalah panduan untuk presentasi saya, disusun oleh Pathah Pajar Mubarok yang tengah menyelesaikan tesisnya di Pascasarjana UPI) — Sukses, Pathah 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s