Diskusi Puber Kedua

Ada yang deg-degan, khawatir, was-was dengan datangnya puber kedua yang datang pada usia 40 tahun???

Jangan-jangan pasangan jatuh cinta lagi sama orang lain. Gimana neh?

Eitsss, puber kedua itu mitos, lo. Yang ada krisis paruh baya yaitu pada usia sekitar 40 tahun. Dengan asumsi usia tersebut orang sudah mulai mapan, ga harus kaya ya. Bisa secara pembawaan tenang, anak-anak sudah mulai mandiri, banyak waktu luang, keuangan mulai stabil, dan hal-hal lain yang membuat semakin terlihat menarik. Nah, pada usia tersebut ada keinginan untuk disanjung, dipuji. Jika ia tidak mendapatkannya dari pasangan sah, kemudian orang-orang yang mengelilinginya memberikan sanjungan, itu dia awal mula krisis.

Yuk simak tanya jawab sama Psikolog Elia Daryati dan penulis buku pendidikan Anna Farida berikut,

Pertanyaan 1
Suami saya dari kecil bukan orang yang suka tebar pesona. Tiap kali saya hamil, selalu ada perempuan yang ingin dinikahi. Pada kehamilan yang keempat ini, saya semakin was-was suami usia 38, khawatir puber kedua. Suami bilangnya tidak ada niat poligami, tapi sifatnya yg susah tegas membuat para ‘penggemarnya’ seperti merasa punya peluang. Saya tidak mau terus dihantui hal seperti ini. Apakah saya lebih baik waspada sehingga ketika ada gejala awal segera terdeteksi? Atau lebih baik percaya sepenuhnya agar selalu bahagia dengan resiko terlambat menyadari jika ada apa-apa dengan suami? Terima kasih.

Jawaban Bu Elia Daryati
Persoalan yang ibu hadapi sebetulnya terkait dengan karakter pasangan.  Jika dihubungkan dengan puber kedua tampaknya kurang tepat. Kenapa? mengingat beberapa peristiwa yang ibu hadapi, justru terjadi pada saat suami belum sampai  usia paruh baya. Adapun yang perlu dievaluasi adalah sikap suami, yang terkesan memiliki “daya tarik” sehingga beberapa perempuan meminta untuk dinikahi.
Jika hubungannya hanya sekedar silaturahmi biasa tentunya tidak akan membuat keinginan yang cukup besar bagi seseorang untuk seorang perempuan untuk meminta dinikahi seorang pria yang sudah beristri. Mengingat kasusnya terjadi berulangkali, perlu evaluasi dan introspeksi. Tadi ibu sudah katakan bahwa suami ibu, cenderung kurang tegas dan dapat menimbulkan salah arti bagi beberapa perempuan di sekelilingnya. Itu mungkin PR awal yang harus diperbaiki.
Bagaimana dengan usianya yang sekarang mulai mendekati usia 40 tahun dan khawatir dengan istilah puber kedua. Atau saya lebih senang dengan menyebutnya sebagai krisis paruh baya. Kiris paruh baya ini, sebetulnya terjadi hampir pada semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Laki-laki biasanya terlihat lebih menonjol, “Secara psikologis, pada usia tersebut mereka sudah mencapai puncak karier.” Pada usia tersebut,  beberapa pria butuh disanjung egonya. “Mereka sedang merasa keren.” Dengan segala pencapaian tersebut, tentu para pria ini lebih suka dipuji. Kalau di rumah, dia tak dapat pujian, tapi di luar banyak yang memberi sanjungan. Maka peluang mereka untuk tebar pesona menjadi semakin terbuka.
Istilah puber kedua sendiri, memang secara medis tidak ada. Melihat  pencapaian karier berbanding terbalik dengan kondisi tubuh. Umumnya terjadi penurunan kemampuan. Setiap orang akan mengalami fase puber kedua ini. Karena itu perlu persiapan yang cukup matang untuk memasuki fase krisis ini. Di sinilah komitmen perkawinan kembali teruji. Komunikasi dan pengertian memegang peran yang sangat penting bagi pasangan yang mulai memasuki masa puber kedua ini.
Untuk itu tampaknya ibu tidak perlu terlalu khawatir, saatnya bekerjasama dengan suami, merenungkan hal-hal yang pernah dilalui dan jangan sampai terulang kembali. Prinsipnya krisis paruh baya dialami oleh setiap individu dan pasangan, namun setiap orang maupun pasangan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi dan menyikapinya. Itulah pentingnya membangun kebahagiaan dalam kehidupan suami istri.
Apakah lebih baik percaya sepenuhnya dengan suami? membuat komitmen, evaluasi dengan waktu, dan baru kita percaya. Selain itu, jangan menganggap sekali-kali persoalan berlalu tanpa evaluasi dan koreksi terlebih dahulu untuk membangun komitmen yang baru. Jika mau, “Nol kan semua, mulai lagi dengan bismillah.”

Jawaban Anna Farida
Yang bisa kontrol adalah diri kita, bukan perasaan dan hormon suami, apalagi perasaan para penggemarnya.

Saling percaya dalam pernikahan itu modal utama, dan ini tercermin dalam sikap kita, lho. Istri atau suami yang tidak percaya pada pasangannya akan cenderung bersikap penuh selidik.

Ada yang menelepon setiap saat, ada yang merecoki teman sekantor pasangannya untuk jadi mata-mata, ada juga yang berusaha ngepoin hape-nya

Suwer, ini bisa bikin pasangan gerah.

Namun demikian, sepenuhnya cuek juga tak bijak. Waspada tetap perlu, tanpa harus kehilangan rasa percaya.

Ketika ada gelagat pasangan ingin lebih diperhatikan, segera sambut. Berikan wadahnya, agar energinya terwadahi. Jadilah pasangan yang paling harum, paling menyenangkan diajak ngobrol, dan ehm,  paling atraktif

Toh dengan mengupgrade diri, self esteem (penghargaan terhadap diri sendiri) juga meningkat. Bukan sekadar menyenangkan pasangan, tapi juga membuat kita nyaman dengan diri sendiri.

So, ayo baca buku, aktif dalam komunitas yang positif, hadiri seminar atau majelis ilmu,  diskusi dengan orang-orang yang membuka wawasan …

Pertanyaan 2

Mau tanya nih kalau yang dimaksud perubahan hormonl yang tak terelakan dan menyebabkan perubahan emosi secara konkritnya seperti apa? Apakah masih bisa dikontrol? Saya perempuan 42 tahun dan mengalami sesuatu yang saya sendiri heran kok kayak gini yaaa.

Jawaban Bu Elia Daryati

Perubahan hormonal yang mempengaruhi emosi.
Siklus perubahan hidup perempuan memang berbeda dengan perubahan hidup laki-laki. Perubahan hormonal pada diri seorang perempuan lebih jelas. Misalnya, menarche … haid pertamanya anak perempuan merupakan indikasi bagi berkembangnya hormon yang paling nyata. Perubahan-perubahan hormonal inilah yang biasanya cukup mempengaruhi perubahan emosi seorang perempuan yang tak terelakkan.
Usia 42 tahun, sebetulnya mulai masuk usia paruh baya dan berpengaruh secara hormonal. Hal-hal yang secara muncul perubahan secara fisik. Misalnya saja, haid menjadi tidak teratur, penurunan gairah, berkeringat, perasaan panas dalam tubuh, perubahan hormon pada wanita biasanya berdampak pada perubahan emosi.
Apakah emosi ini tidak dapat dihindari? Memang akan cenderung mempengaruhi “mood” atau suasana hati. Semua perempuan akan mengalaminya, dan pasti mempengaruhi situasi kehidupan perasaan dan emosinya. Namun sekali lagi, aspek pengendalian dan kematangan diri seseorang akan menjadi kontrol, ketika perubahan hormonal ini terjadi.

Jawaban Anna Farida

Dari buku-buku yang pernah saya baca, pada umumnya perempuan yang berusia 40 ke atas mulai ada hormon yang meningkat, ada pula yang mulai berkurang. Kepadatan tulang juga mulai menyusut, perubahan di dalam tubuh ini bikin fisik kurang nyaman, lebih mudah pegal dan lelah. Karenanya, emosi negatif pun mudah tersulut

Nah!
Perubahan ini tidak bisa dihindari, tapi bisa diantisipasi. Karena sudah tahu, kita bisa mulai memperbaiki kualitas hidup dengan menjaga pola makan, olahraga, dan menghindari stress dengan memperkuat ibadah.
Aktiflah dalam berbagai kegiatan positif, jadikan diri kita lebih bermanfaat bagi pasangan, keluarga, dan sekitar.
Perasaan positif yang selalu hadir tadi akan membuat kita yakin pada diri sendiri, tidak merasa terancam dengan pasangan yang kian tua kok kian cakep

Pertanyaan Puber Kedua

Pertanyaan 3

Kalau misalnya di suatu lingkungan, terdiri dari beberapa pria paruh baya dan single yang berusia sekitar 20 tahunan. Ada semacam ajang menjodohkan untuk para single. Singlenya sih malu-malu kucing, tapi pria-pria paruh bayanya yang begitu semangat. Semangat ngomporin supaya mereka jadian, semangat kalo ada moment untuk mempertemukan, bahkan para paruh baya itu malah keliatan seperti yang lagi seneng sekali, kok kayak yang lagi jatuh cinta? Apa pria-pria paruh baya itu mengalami puber kedua?

Jawaban Bu Elia Daryati

Jika dilihat dari deskripsi cerita di atas, harus dilihat persoalannya terlebih dahulu. Apakah yang single itu para pria muda yang sedang di support untuk segera menikah agar status mereka menjadi sejajar, sama-sama menikah, sehingga jika sedang berdiskusi nyambung.

Khususnya berdiskusi mengenai rumah tangga dan pernikahan. Atau yang singlenya itu gadis-gadis muda yang memang sedang mencari pasangan?

Pertanyaan selanjutnya, seserius apa guyonan yang dilancarkan para pria paruh baya tersebut?
Jika hanya sekedar guyonan ringan sebetulnya tidak perlu terlalu dipermasalahkan, cukup diingatkan agar tidak usah terlalu berlebihan. Soalnya, hal tersebut berkaitan dengan masalah etika dan nilai kepantasan dalam pergaulan.

Memang beberapa pria, tampaknya menjadi sosok “remaja yang abadi”, mereka tidak menyadari atas pertambahan umur dan perubahan fisiknya. Umur bertambah, namun perilaku tidak beranjak menjadi lebih matang.  Jika salah satu si paruh baya itu adalah pasangan ibu, maka dapat diingatkan dengan lebih serius. Ini akan terkait dengan sikap asertif ibu sebagai istri. Kalau bukan kita, siapa yang akan dapat mengingatkan pasangan kita.

Apakah ini masuk dalam kategori puber kedua? jawabannya belum tentu, ini hanya sekedar iseng saja. Kecuali, jika mulai ‘baper” atau terbawa perasaan. Baru kita mengatakannya sebagai krisis paruh baya itu.

Jawaban Anna Farida

Saya nambahin saja, yaaa.

Bagaimana bersikap tergantung nilai yang kita yakini.
Kalau kita kasih skala sikap 1-5, ada yang bilang 1 itu sudah mulai dianggap tidak santun,  ada juga yang masih oke asal tidak sampa melewati batas angka 5.

Sampaikan pandangan dengan jelas dan baik-baik ketika berada di sebuah lingkungan, jadi orang pun bisa ukur-ukur sejauh mana bersikap kepada Anda.

Tiga pertanyaan saja? Ciyus?
Alhamdulillah, berarti semua percaya diri menghadapi isu yang disebut puber kedua, amin amin.

Acara tanya jawab Kulwap Keluarga Sehati ini disponsori oleh Buku Marriage With Heart.

Pengen gabung?

Kirimkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia)

Gratis!!!

Advertisements

One thought on “Diskusi Puber Kedua

  1. Reblogged this on Anna Farida and commented:
    Psst, hati-hati. Kayanya pasanganmu mulai mengalami puber kedua!

    Hoho …

    Yang merasa cemas angkat tangan, meringis tipis juga boleh.

    Secara ilmiah, tidak ada istilah puber kedua. Yang disebut pubertas adalah masa mulai matangnya fungsi fisik, psikis, dan seksual. Tampaknya, semua penghuni kulwap sudah melewatinya. Ada yang belum?

    Namun demikian, secara kasat mata kita melihat perubahan perilaku yang terjadi pada usia tertentu, sebut saja 40-60 tahun. Atau … kita kan cenderung melihat apa yang ingin kita lihat. Jadi perilaku wajar pun terlihat berbeda.

    Selain kian tenang dan bijak, pada rentang usia tersebut, kadang ada perilaku spesifik yang terkait dengan keinginan untuk terlihat lebih muda, lebih bersemangat, dan … ehm lebih cakep.

    Dari berbagai sumber penelitian, kecenderungan ini muncul karena lazimnya pada usia ini manusia mulai stabil dari berbagai sisi. Pilihan pekerjaan relatif tetap, pandangan hidup mulai kokoh, usia pernikahan rata-rata masuk tahun ke-10, dan ketergantungan anak mulai mengendur.

    Artinya, anak-anak tidak lagi bergantung di ujung baju kita, mulai bisa main sendiri, atau sekolah.

    Setelah selama kurang lebih 10 tahun berjuang menegakkan rumah tangga, membesarkan anak, menetapkan visi dan misi keluarga, kini kita jadi punya waktu lebih leluasa untuk diri sendiri.

    Yang sebelumnya nyisir pun rasanya tak sempat, kini jadi kepikiran untuk ke salon. Yang sebelumnya cuek dengan uban, kini mulai cari-cari suplemen rambut. Mandi jadi lebih lama, karena sudah tidak ada anak yang bikin buru-buru.

    Apakah itu salah?

    Tidak, dong. Ingin tampil lebih segar itu wajar. Apalagi jika ingin tampil lebih menarik di depan pasangan, wajib hukumnya.

    Lantas apa yang bikin cemas?

    Sebenarnya yang punya potensi bahaya adalah waktu luang yang tidak dikelola dengan baik. Ketika anak sudah tidak terlalu merepotkan, ketika pekerjaan mulai stabil dan irama hidup mulai tertata, waktu luang pasti tercipta.

    Apa yang kita lakukan? Menekuni hobi yang produktif? Memperkuat ibadah? Atau memperbanyak grup WA?

    Potensi bahaya yang lain adalah energi yang tak terwadahi.

    Masih terkait dengan waktu luang tadi, energi yang kita miliki kan jadi lebih banyak. Jika tak terwadahi, dia akan cari tempat untuk muncul.

    Nah, muncul di mana dia?

    Yang biasanya pulang kantor buru-buru jadi punya waktu leluasa untuk nangkring dulu. Yang biasanya harus bergegas jadi bisa main media sosial lebih lama. Pintu-pintu kebaikan dan keburukan bisa muncul kapan saja, di mana saja. Kita mau kelola dengan cara apa?

    Eh, jika Anda melihat orang yang mapan (mapan tidak sama dengan kaya), berpembawaan tenang, terlihat rapi, wangi … senang tidak?

    Penampilan di usia 40 ke atas bisa jadi sangat menarik perhatian, lho, baik dari pasangan yang sah atau yang bukan. Jadi, mungkin bukan Anda yang ganjen, tapi orang lain saja yang tertarik #halah!

    Masalahnya jadi lain jika Anda memang sengaja cari perhatian (karena energi yang tak terwadahi tadi). Jika gejala ini mulai muncul, ada baiknya buka-buka kembali materi kita yang sebelumnya. Bahas hal ini dengan pasangan, segera putuskan apa yang harus dilakukan bersama-sama.

    Waktu lebih luang, energi lebih besar, wadah pun mesti lebih leluasa.

    Catatan khusus:

    Perempuan usia 40 mulai menyambut masa pre-menopause, perasaan tak ingin tua pun mulai muncul — itu sih saya 😀 Ada perubahan hormonal yang tak terelakkan, dan ini bisa menyebabkan liukan irama emosi. Umumnya perempuan jadi lebih tergoda untuk memperhatikan hal detail, makanya muncul julukan nenek cerewet, dan tak pernah ada kakek ceriwis.

    Pengetahuan tentang perubahan hormonal ini perlu diwaspadai, bukan dengan menumpuk krim anti aging, tapi dengan lebih banyak belajar. Karena menua itu tak terelakkan dan belajar adalah kemestian.

    Dengan pengetahuan ini, pasangan suami istri akan tahu benar kapan mereka punya waktu luang, dan tahu benar bagaimana memanfaatkannya.

    Daripada cemas memikirkan puber kedua, mengapa tidak mulai merancang bulan madu kedua saja?

    Kulwap ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati.

    File diskusi ada di blog Admin Kulwap, https://uchishofia.wordpress.com/2015/11/03/diskusi-puber-kedua/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s