Puber Kedua

Sabtu siang kelas Kulwap Keluarga Sehati selalu ramai dengan pembahasan yang seru. Kali ini diskusi mengenai Puber Kedua, isu atau memang benar adanya? Yuk kita resapi penjelasan dari narasumber Kulwap Anna Farida berikut ini:

Psst, hati-hati. Kayanya pasanganmu mulai mengalami puber kedua!

Hoho …

Yang merasa cemas angkat tangan, meringis tipis juga boleh.

Secara ilmiah, tidak ada istilah puber kedua. Yang disebut pubertas adalah masa mulai matangnya fungsi fisik, psikis, dan seksual. Tampaknya, semua penghuni kulwap sudah melewatinya. Ada yang belum?

Namun demikian, secara kasat mata kita melihat perubahan perilaku yang terjadi pada usia tertentu, sebut saja 40-60 tahun. Atau … kita kan cenderung melihat apa yang ingin kita lihat. Jadi perilaku wajar pun terlihat berbeda.

Selain kian tenang dan bijak, pada rentang usia tersebut, kadang ada perilaku spesifik yang terkait dengan keinginan untuk terlihat lebih muda, lebih bersemangat, dan … ehm lebih cakep.

Dari berbagai sumber penelitian, kecenderungan ini muncul karena lazimnya pada usia ini manusia mulai stabil dari berbagai sisi. Pilihan pekerjaan relatif tetap, pandangan hidup mulai kokoh, usia pernikahan rata-rata masuk tahun ke-10, dan ketergantungan anak mulai mengendur.

Artinya, anak-anak tidak lagi bergantung di ujung baju kita, mulai bisa main sendiri, atau sekolah.

Setelah selama kurang lebih 10 tahun berjuang menegakkan rumah tangga, membesarkan anak, menetapkan visi dan misi keluarga, kini kita jadi punya waktu lebih leluasa untuk diri sendiri.

Yang sebelumnya nyisir pun rasanya tak sempat, kini jadi kepikiran untuk ke salon. Yang sebelumnya cuek dengan uban, kini mulai cari-cari suplemen rambut. Mandi jadi lebih lama, karena sudah tidak ada anak yang bikin buru-buru.

Apakah itu salah?

Tidak, dong. Ingin tampil lebih segar itu wajar. Apalagi jika ingin tampil lebih menarik di depan pasangan, wajib hukumnya.

Lantas apa yang bikin cemas?

Sebenarnya yang punya potensi bahaya adalah waktu luang yang tidak dikelola dengan baik. Ketika anak sudah tidak terlalu merepotkan, ketika pekerjaan mulai stabil dan irama hidup mulai tertata, waktu luang pasti  tercipta.

Apa yang kita lakukan? Menekuni hobi yang  produktif? Memperkuat ibadah? Atau memperbanyak grup WA?

Potensi bahaya yang lain adalah energi yang tak terwadahi.

Masih terkait dengan waktu luang tadi, energi yang kita miliki kan jadi lebih banyak. Jika tak terwadahi, dia akan cari tempat untuk muncul.

Nah, muncul di mana dia?

Yang biasanya pulang kantor buru-buru jadi punya waktu leluasa untuk nangkring dulu. Yang biasanya harus bergegas jadi bisa main media sosial lebih lama. Pintu-pintu kebaikan dan keburukan bisa muncul kapan saja, di mana saja. Kita mau kelola dengan cara apa?

Eh, jika Anda melihat orang yang mapan (mapan tidak sama dengan kaya), berpembawaan tenang, terlihat rapi, wangi … senang tidak?

Penampilan di usia 40 ke atas bisa jadi sangat menarik perhatian, lho, baik dari pasangan yang sah atau yang bukan. Jadi, mungkin bukan Anda yang ganjen, tapi orang lain saja yang tertarik #halah!

Masalahnya jadi lain jika Anda memang sengaja cari perhatian (karena energi yang tak terwadahi tadi). Jika gejala ini mulai muncul, ada baiknya buka-buka kembali materi kita yang sebelumnya. Bahas hal ini dengan pasangan, segera putuskan apa yang harus dilakukan bersama-sama.

Waktu lebih luang, energi lebih besar, wadah pun mesti lebih leluasa.

Catatan khusus:

Perempuan usia 40 mulai menyambut masa pre-menopause, perasaan tak ingin tua pun mulai muncul — itu sih saya 😀 Ada perubahan hormonal yang tak terelakkan, dan ini bisa menyebabkan liukan irama emosi. Umumnya perempuan jadi lebih tergoda untuk memperhatikan hal detail, makanya muncul julukan nenek cerewet, dan tak pernah ada kakek ceriwis.

Pengetahuan tentang perubahan hormonal ini perlu diwaspadai, bukan dengan menumpuk krim anti aging, tapi dengan lebih banyak belajar. Karena menua itu tak terelakkan dan belajar adalah kemestian.

Dengan pengetahuan ini, pasangan suami istri akan tahu benar kapan mereka punya waktu luang, dan tahu benar bagaimana memanfaatkannya.

Daripada cemas memikirkan puber kedua, mengapa tidak mulai merancang bulan madu kedua saja?

Kulwap ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati.

ilustrasi: koleksi pribadi
ilustrasi: koleksi pribadi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s