Tanya Jawab Seputar Bullying

ilustrasi: hhpd.com
ilustrasi: hhpd.com

Yeay!!! Udah masuk minggu ke delapan, artinya sudah 2 bulan kami menemani teman-teman di kelas Kulwap Keluarga Sehati. Bahagia sekali bisa memfasilitasi persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari teman-teman semua. Ilmu semakin bertambah, semoga perubahan positif juga semakin meningkat, ya!

Yuk kita simak tanya jawab yang dipandu oleh Mba Anna Farida berikut ini,

Maaaf baru bisa duduk, tadi terhalang demo di jalan.

Mari kita mulai dengan penuh semangat!
Tanya 1

Bagaimana memotivasi (memberi kata-kata motivasi) kepada anak dalam menghadapi bullying (diejek/kata-kata negatif)  agar anak santai /tenang dan tidak krisis percaya diri.

Jawaban Bu Elia:

Agar anak santai menghadapi bullying. Langkah-langkahnya :

  1. Sikap kita pertama-tama, adalah tenang dan menyentuh Dengan memeluk atau menggenggam tangannya.
  2. Pahami perasaannya, dengan memberikan empati. Tatap anak dengan penuh perhatian dengan tidak mengecilkan perasaan yang dihadapi. Misalnya : “Sedih ya?, Ibu mengerti ini pasti berat untukmu. Setiap orang sesekali pernah menghadapi persoalan yang sama seperti mu.”
  3. Berikan kata-kata support. Misalnya: “ Bahwa setiap diri memiliki kekuatan, seperti juga dirimu. Kesedihan yang dihadapi sekarang adalah vitamin untuk membuatmu menjadi lebih kuat. Percayalah karena engkau adalah anakku dan Ibu tahu persis siapa dirimu.”
  4. Hindari pernyataan dan pertanyaan yang membuat anak merasa semakin kecil. Seperti: “Kenapa kamu kalah?” atau “Lawan dong, masa begitu saja tidak mampu?”, dll. Sebetulnya tanpa harus didorong seperti itu, anak sudah dalam keadaan tertekan.
  5. Jika anak merasa dirinya dipercayai dan dicintai orang tuanya, kepercayaan dirinya otomatis akan tumbuh dan akan memiliki “nilai tawar” tersendiri, ketika berhadapan dengan lingkungannya.

Jawaban Anna Farida:

Sebelum ortu menjadi motivator perlu dicek dulu kebiasaan sehari-hari dengan anak.
Dia percaya dengan apa yang sering didengar dan dilihatnya. Jika dia biasa diperlakukan dengan hormat di rumah, dia akan percaya ketika ortu bilang bahwa dia istimewa.
Misalnya anak berbadan subur diejek.

Mama, kata Anto aku gendut jelek lelet.

Dik, berat badanmu memang perlu dikurangi biar kamu bisa bergerak lebih sigap. Ajak Anto olah raga bareng aja.

Mana mau? Dia kan ngejek aku melulu.

Ketika diejek, kamu bilang apa?

Ya aku diam aja.

Kalau kamu tidak suka, katakan tidak suka. Bilang ke Anto, “Ngejek aku nggak ada gunanya. mending temenin aku olah raga aja.”

Tapi aku jadi malu, teman-temanku ngetawain.

Menurutmu, kamu perlu malu nggak dengan kelebihan berat badan?

Biasa ajah.

Nah, bahagia itu yang memilih kita sendiri loh. Kamu mau milih marah dan Anto senang, atau mengabaikannya.
Toh kamu tetap punya kelebihan lain. Bisa … bisa…

Iya sih. Tapi aku bete.

Kalau kamu merasa.

Tanya 2

Apakah menggoda anak kecil sampai menangis itu juga salah satu bentuk bullying?

Orang dewasa bahagia karena berhasil membuat anak menangis, si anak menderita (tidak nyaman).

Jawaban Bu Elia :

Niat awalnya memang menggoda, namun ujungnya seringkali kebablasan dan tanpa sadar melukai perasaan anak, akhirnya anak menangis. Bagi orang dewasa mungkin maksudnya lucu-lucuan, akan tetapi cara berpikir orang dewasa dan anak adalah berbeda. Cara berpikir anak sifatnya konkrit. Jadi apa yang dilakukan orang dewasa dengan menggoda sampai menangis, bisa dianggap sebagai kebenaran yang dapat diimitasi.

Apakah ini masuk bullying, sebetulnya masuk jika dengan menangis dapat menimbulkan rasa puas bagi sang penggoda. Kecuali jika dilakukan dengan tidak bermaksud menyakiti, biasanya akan membuat reaksi anak-anak, merengek-rengek manja saja. Ini tentu saja bukan bullying. Bahkan merupakan cara saling mendekatkan hati sambil bermain (bonding).

Jawaban Anna Farida

Salah satu keahlian ayah adalah godain anak sampai nangis, setelah itu anak dikasih ke ibunya  kutipannya bagus buat instagram #halah.

Apakah itu bullying? Walau tanpa niat jahat, menurut saya, YA. Itu bullying.

Menggoda anak seharusnya bikin dia tertawa bahagia. Canda ada porsinya. Orang dewasa selayaknya tahu kapan gurauan harus dihentikan, dong, ah 

Jika jadi kebiasaan, anak bisa hilang kepercayaan pada gurauan, ogah bercanda lagi, karena tau bakal bikin dia bete dan nangis.

Anak kan teman main, bukan mainan

Tanya 3

Materi bullying sepertinya sangat berkaitan dengan komunikasi asertif. Bisa saja mungkin ortu melakukan bullying pada anak tanpa disadari. Nah pertanyaannya apa yang bisa dilakukan oleh kita, misal pelaku bullying pada anak baru sadar ketika sudah terjadi karena proses belajar komunikasi asertif yang belum mahir. Apa yang harus dilakukan untuk menetralisir keadaan. Lalu jika kita sebagai penonton dan yang melakukan adalah orang terdekat, suami/istri/orangtua kita, apa yang bisa kita lakukan untuk memberikan pemahaman pada anak dan pada pelaku.

Jawaban Bu Elia :

Memberikan pengertian pada anak karena sikap yang kurang tepat dari orang tua, cara komunikasi tergantung dari usia anak. Anak-anak usia pra sekolah cara berpikirnya masih bersifat konkrit, namun semakin besar anak cara berpikir anak sudah lebih abstrak.

Diperlukan teknik komunikasi yang disesuaikan dengan usia tentunya. Misalnya : “Mas Ari, tau nggak … Ayah itu sayang banget sama Mas Ari. Habis Mas Ari lucu dan gemesin … tapi ayah lupa … Mas Ari kan sakit ya, kalau di coel-coel pipi terus …” selanjutnya ajak anak untuk berbicara dengan ayahnya. Misal “Ayah, kalau sayang sama aku jangan sering-sering coel-coel soalnya, aku sakit …”

Sedangkan untuk orang dewasa, lebih mudah sebenarnya. Sesuai dengan teori komunikasi asertif. Ukuran komunikasi yang sehat, harusnya akan menjadikan lawan bicaranya menjadi berharga dan bahagia.

Jawaban Anna Farida
Saya tidak percaya ada istilah telanjur dalam pengasuhan. Selalu ada proses reedukasi.
Jika ortu merasa pernah melakukan bullying (tentu tanpa sengaja) yang kini bisa dilakukan adalah mengembalikan kepercayaan si anak dan menebusnya dengan perbuatan baik dan suportif yang lebih buanyaaak.

Kepada kerabat yang mem-bully anak tanpa sengaja, ingatkan baik-baik.

Nek, Adik pernah bilang tidak suka disebut cengeng, tapi malu bilang ke Nenek.

Batas bercanda dan bullying adalah perasaan si korban.

Jika korban curhat pada kita, ajarkan komunikasi asertif. Ajak dia untuk berkata “tidak” atau “tidak suka” dengan cara yang santun.

Misalnya:
Tante, aku tidak suka kepalaku diuyel-uyel setelah nyisir.

Mas, kita mainnya baik-baikan yuk. Kalau pakai pukul beneran jadi sakit.

Tanya 4

Keluarga suami suka sekali menjuluki anggota keluarganya dengan julukan yg awet dari masa kecil.

Suami sebagai kakak tertua dipanggil si gendut, adiknya laki-laki toge, yg ketiga perempuan lolos, yang terakhir perempuan juga dipanggil batak (krn hitam manis – no offense).

Jangankan sesama anggota keluarga, calon ipar terakhir pun dijuluki gendut oleh mertua saya. Anak saya sendiri gak lepas dari hasil kreasi mertua: si cungkring, si peyot, dan si botak .

Bagaimana menghentikan kebiasaan jelek ini, karena anak-anak mulai meniru neneknya. .

Jawaban Bu Elia :

Memang memiliki lingkungan yang cenderung bernuansa “bully”, dimana wujud cinta dan kedekatan rasa diekspresikan dengan  memberikan julukan-julukan. Apakah ini dapat diminimalisir? tentu saja dapat. Ini terkait dengan pola interaksi. Semakin kuat interaksi, maka semakin kuat pula pengaruh nilai-nilai dari pola interaksi tersebut.

Kita sebetulnya tidak dapat mengendalikan dan mengontrol orang lain, yang mampu kita kendalikan adalah keluarga kita sendiri. Apalagi jika itu keluarga mertua. Sekarang, strategi yang harus Ibu dan Bapak lakukan adalah memberikan penguatan dan peneguhan untuk anak.

Tinggal, kita evaluasi energi interaksi mana yang lebih kuat, diri kita atau orang-orang di luar diri kita? Jika pengaruh lingkungan di luar lingkungan keluarga lebih kuat maka lingkungan itu yang akan berdampak, namun jika lingkungan keluarga inti lebih kuat maka anak akan memiliki daya seleksi tersendiri atas pengaruh lingkungannya. Jika terpengaruh juga sifatnya sesaat dan tidak selamanya, jika pengaruh keluarga lebih kuat.

Jawaban Anna Farida

Nama itu doa dan tanda kasih sayang.  Artinya ada kesepakatan juga untuk memberi julukan kepada orang yang kita sayangi.

Jika ybs asyik-asyik saja berarti bukan bullying. Tapi jika ybs merasa tidak nyaman, misalnya mulai malu sama teman ketika ketahuan punya julukan “Cungkring” inilah saatnya anak diajak bersikap.

Anak boleh, kok, mengingatkan nenek, asal caranya santun.

Saat dipanggil dengan julukan yang tidak disukai, dia boleh berkata,  “Nek, namaku Ahsan, artinya baik.”
Jadi pilih-pilih kalimat saja, ya, biar bullying berkurang, Nenek tetap sayang.

Tanya 5 (senada dengan nomor 4):

Assalamualaikum,
Bila yang melakukan bullying adalah mertua,  misal “Duuuh hidungmu kok pesek men to … coba deh klo habis mandi ditarik-tarik biar mancung..” atau “Kamu kok kurus men toh … ndak pernah minum susu ya …” Gimana ya  sementara ini sih saya bekalin anak dengan jawaban “Hidung itu kan ciptaan Alloh, Eyang. Kan kita ga boleh bicara jelek tentang ciptaan Alloh.” atau “Iya Eyang, ga minum susu,  karena alergi. Yang penting sehat dan gembira kan eyang …”
Fyi, anak saya usia 4 tahun.  Tahun depan bakal sering ketemu mertua karena domisili yang dekat dengan mertua. Sekedar antisipasi
Jazakumullah khayran kaatsiran atas sarannya …

Jawaban Anna Farida
Semoga terjawab sebagian dari pertanyaan 4, ya.

Jawaban yang baik adalah yang disesuaikan dengan pendengarnya. Terkait dengan larangan menjelekkan ciptaan Alah, jika mertua religius, jawaban di atas bisa sangat mak jlebbb.
Sebaliknya, jika mertua tidak terbiasa dengan kalimat serupa, jawaban di atas bisa bikin keki.

Pertanyaan 6
Anak kami usia 5 tahun TK A. Sekelas ada 12 orang. 3 diantaranya laki-laki termasuk anak kami. Hampir tiap hari anak kami mau dipukul teman sekelas, si A. Ada yang berhasil ada yang tidak karena ditahan sama gurunya. Temannya ini memang diakui gurunya punya semacam “kekhususan” seperti kalau marah dia bisa gigit lidah atau melukai dirinya sampai berdarah. Waktu di playgroup, anak kami ajari untuk melawan kalo disakiti. Dan berhasil beberapa kali gurunya cerita anak kami melawan sampai temannya itu menangis. Anak kami adalah anak penyayang (seperti yang diungkapkan gurunya, dia tidak suka menyakiti temannya).
Di kelas anak kami paling mungil badannya karena susah makannya juga karena genetik.
Kemarin dia dipukul temannya berdasarkan pengakuan teman perempuannya dan ketika saya tanyakan langsung dia membenarkan. Saya bilang “Fauzan bilang dong kalau itu tidak baik tidak boleh begitu.” Tapi Fauzan bilang kalau ngomong kayak gitu nanti Si A marah dan pukul Fauzan lagi. “Fauzan lawan ya,” kata saya. Trus dia hampir menangis dan bilang “Aku tidak bisa, Ibu.” Karena badan temannya lebih besar.
Saya belum sempat berbicara lagi dengan gurunya. Waktu parenting gurunya juga suka melaporkan kalau dia suka memisahkan fauzan dengan Si A .

Bagaimana sebaiknya sikap kami selaku orangtua. Mohon arahannya. Terima kasih

Jawaban Bu Elia Daryati

Menghadapi buliying

Apakah setiap anak terkena buliying? jawabannya ya. Akan tetapi ada anak yang “move on” dari dibully orang di luar dirinya dan ada anak yang “terjebak” dalam lingkaran buliying. Bullying merupakan cara orang untuk menunjukkan kekuasaannya secara negatif.

Pertanyaannya adalah siapa anak yang senang membully dan anak yang menjadi korban bully? Anak yang senang membully, biasanya akan mencari sasaran yang lebih “lemah” dari dirinya dan mereka tidak akan berani pada orang yang memiliki kekuatan yang lebih dari dirinya. Adapun korban bully, biasanya merupakan anak yang tidak memiliki kekuatan psikis maupun psikologis secara setara
dengan orang yang membully. Maka tipe tersebut menjadi korban empuk yang selalu dibidik oleh orang yang memiliki kecenderungan bullying.

Strateginya ?
Ini sebenarnya merupakan kontrak psikologis, tidak selamanya merupakan kekuatan fisik yang saling berhadapan. Sejauh anak kita memiliki “nilai tawar psikologis” yang kuat, dia tidak akan menjadi sasaran bully yang berlebihan. Yang dapat ibu lakukan, antara lain :

  1. Membangun pola komunikasi yang penuh empati terhadap  perasaan anak.

Misal : “Sedih ya Zaidan membuatmu menangis lagi hari ini? “, “Ibu tahu, semua orang pasti mengalami beberapa hal yang terjadi pada diri mu ….”. sambil dilanjutkan: “Kalau Ibu di
posisimu sekarang, pasti ibu juga sediiih banget …” (peluuuuk).

Selanjutnya, “Walaupun sekarang tampaknya kamu belum berani, tapi Ibu percaya kalau
kamu itu kuuuuaaat, kenapa coba? karena kamu anaknya Ibuuuu” (peluk lagi).

Katakan : “Tahu nggak, kalau Allah itu membuat setiap orang memiliki kekuatan untuk mempertahankan dirinya. Seperti juga dirimu”. “Insya Allah dengan waktu kekuatan itu akan tumbuh … pelan-pelan, tapi akan bisa koq.”

  1. Jangan memberikan penilain pada kekuatan di luar kemampuan anak.
    – Misal : “Masa begitu aja kalah, lawan dong!”
    – “Jangan takut dan jangan cengeng, kamu harus berani!”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan membuat si anak menjadi lebih kurang bercaya diri dan memiliki peluang besar utk selalu di bully. Rumusnya : satu dukungan yang empati, satu kekuatan tumbuh.

Sedangkan satu bentuk penyangkalan pada kekuatan anak, satu kekuatan akan hilang … terus seperti itu. Seberapa banyak kita mendukung anak, sebanyak itulah kepercayaan diri tumbuh dan sebaliknya jika kita tidak mendukungnya seluruh kekuatan akan menghilang dengan sendirinya.

Demikian siaran udara hari ini, semoga bermanfaat. Diketik dari hape saya,  sambil selonjor mengenang segala yang pernah terjadi antara kita #superhalah.

Sampai jumpa Sabtu depan!

Tak lupa, kulwap ini disponsori oleh buku Marriage With Heart danParenting With Heart (Elia Daryati – Anna Farida)

ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: koleksi pribadi
ilustrasi: koleksi pribadi
Advertisements

2 thoughts on “Tanya Jawab Seputar Bullying

  1. Pingback: uchishofia

  2. Reblogged this on Anna Farida and commented:
    Salam Sehati, Bapak Ibu.

    Materi kulwap kita kali ini adalah bullying pada anak. 😔

    Orang tua saling bully bisa dianggap guyonan, tapi anak saling bully sungguh perlu diperhatikan.

    Bullying atau mulai lazim disebut dengan perisakan melibatkan tiga pihak: penindas, korban, dan penonton.

    🌿🍃

    Penindas puas, korban sedih, penonton galau. Bahkan penonton juga bisa kita kelompokkan sebagai korban, karena kita perlu pertanyakan mengapa mereka diam.

    Apa yang mereka rasakan ketika temannya ditindas? Jika mereka takut membela kemudian diam, berarti dia pun korban.

    Banyak anak yang diam-diam kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa dan jadi penonton. 😔

    Apa yang bisa dilakukan orang tua?

    Mengecam ketakutan mereka jelas tidak bijak. Ketakutan mereka kan wajar. Saya sering dapati anak yang dimarahi orang tuanya karena takut kucing atau kecoak, misalnya.

    Anak itu dihina dengan kalimat, “Payah. Masa sama kucing aja takut!” 😡

    Sedih banget. Sudah ketakutan, tidak dibela, pula.

    Jadi, untuk menghindari dan meredakan bullying, ajak dia mulai dengan trik berikut ini

    1. Jika ada teman dibully, diamkan dulu. Jangan ikut tertawa, apalagi ikut berkomentar buruk. Bully biasanya caper. Makin banyak yang ribut makin senanglah dia.

    2. Alihkan perhatian teman lain yang menonton, misalnya dengan berseru, “Eh, itu siapa yang ke sini?”

    3. Temani anak yang jadi korban bully

    4. Laporkan ke orang dewasa.
    Bedakan antara lapor dan mengadu. Lapor untuk mencegah hal buruk terjadi, ngadu untuk bikin pelaku dihukum. Jadi tak perlu malu dibilang tukang lapor karena dia bertujuan baik.

    5. Bekali anak dengan kemampuan yg membuat dia percaya diri, bisa akademis atau non akademis. Anak yang merasa tidak punya kelebihan cenderung cari cara sendiri untuk diperhatikan. Bisa jadi penindas agar ditakuti atau yg tertindas agar dikasihani.

    6. Tetap perhatikan perilaku anak, adakah yang berubah. Apakah dia jadi enggan keluar rumah atau ke sekolah, apakah dia sering pulang memar dan bilang “terbentur meja”.

    7. Jalin komunikasi dengan ortu lain, kabar bullying biasanya beredar di kalangan anak-anak dan kadang terlontar di hadapan orang tua. Jika ortu dengar kasus bullying, plis peduli.

    8. Waspada dan peduli bukan parnoan dan asal main tuding. Anak yang jadi bully pada dasarnya adalah korban juga. Korban sudah jelas jadi korban, penonton pun sama resahnya. Jadi, ini tugas bersama.

    Anak orang lain adalah anak kita juga. Bukan lagi saatnya berkata “Yang penting bukan anak saya”.
    Sudah gak jaman! #bukanEYD.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s