Sahabat Itu Bernama Kakak

Kalau mengingat peristiwa masa kecil, salah satu yang menyenangkan adalah kisah bersama kakak saya. Saya yang mempunyai darah Jawa dan dibesarkan di tanah Jawa, memanggilnya Mbak.

Usia kami tidak terpaut jauh, hanya satu tahun setengah. Saya masih ingat ketika usia sekolah TK, saya selalu ingin sama dalam segala hal seperti baju dan mainan. Jadi Ibu pun selalu membelikan baju yang sama baik warna maupun model. Suka ketawa sendiri kalau mengingat masa itu.

Pas kakak saya ulang tahun, Bapak sengaja membelikannya boneka beruang, karena merasa selama ini kakak saya banyak mengalah dan jarang diberi hadiah. Begitu boneka di terima kakak saya, saya pun merengek saat itu juga pengen dibelikan boneka. Bapak yang baru pulang, segera kembali ke kota (sekitar satu jam perjalanan) naik vespa kesayangan beliau demi membelikan anaknya yang ingin selalu sama dengan si kakak. Aduh, maaf ya, Bapak.

Nah kalau soal wajah tidak bisa dibikin sama. Kakak saya berwajah cantik, hidung mancung, muka oval. Sedangkan saya dikaruniai wajah biasa saja, hidung pesek, muka lebar. Dulu sempat tanya ke Ibu kok muka Dek Uci beda sama muka saudara yang lain. Dek Uci bukan anaknya Ibu ya? Haduh, masa-masa itu.

Kalau sekarang sih, saya mau seperti ini saja. Gak mau digimana-gimanain. Alhamdulillah sudah bisa bersyukur alias menerima kenyataan, hihihi.

Kami tidur satu kasur, meja belajar bersebelahan, ke sekolah bareng, ngaji bareng, kumpul sama anak-anak karang taruna bareng, kadang dia menyuapi saya di depan teman-teman, main pasaran (masak-masakan, jualan). Rebutan mandi duluan, berantem, saya pasti kalah karena badan kakak saya jauh lebih besar. Hahaha.

Kakak saya sudah seperti sahabat bagi saya. Dia yang selalu melindungi adiknya dari gangguan cowok-cowok yang naksir saya waktu masih SD.

“Ngapain kamu suka sama adikku!!!” teriak kakak saya ke temen sekelasnya.

Wuih, kaget bener deh.

Kenangan masa kecil bersama kakak memang seru. Kadang kalau kami sedang akur, Bapak berkomentar,” Wah, senengnya lihat anak-anaknya Bapak saling menyayangi.”

Ternyata setelah punya anak, ucapan Bapak tersebut memang wajib disampaikan kepada anak-anak bahwa orang tua mereka bangga akan saling menyayangi antar saudara. Anak-anak pun otomatis ingin membahagiakan orang tuanya dengan cara mengurangi berantem antar saudara.

Rasa sedih datang ketika kakak saya menikah. Saya merasa dia direbut dari saya. Saya tidak bisa satu tempat tidur lagi dengannya, tidak bisa ngobrol sambil ketawa-ketawa menjelang tidur. Ya iyalah, masa’ mau satu tempat tidur sama kakak ipar, ih amit-amit. Sampai saat ini kadang merindukan masa-masa indah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s