Hadapi Dengan Senyuman

Judulnya persis kayak judul lagu era 90-an, ya? Intinya sih menghadapi setiap warna pelangi kehidupan dengan senyuman. Mau manis, pahit, getir, dan sejenisnya selalu senyum.

Kisah yang masih teringat ketika saya dibilang wajahnya aja lugu, mengaku perempuan muslimah yang taat tapi kok “begitu”.

Padahal seumur-umur saya nggak pernah mengakui sebagai seorang muslimah yang taat, lo. Amit-amit deh, tidak boleh lho merasa diri paling suci, paling benar, paling hebat, paling cerdas, paling kritis, paling sempurna, dan paling-paling yang lain yang hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT. Kalau berproses menuju kesana memang iya. Kan sudah dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik dari kemarin. Meski hati sering dibuat naik turun seperti lift yang sibuk.

Soal wajah lugu emang dari sononya trus gimana dunk? Salah gue? Salah Bokap gue? Salah Nyokap gue? Hehehe.

Bak artis kalau udah terkenal segala tindak tanduknya bakalan kena sorotan. Artis kentut aja dibahas kali ya …

Saya bukan artis, itu cuma perumpamaan. Karena saya memakai jilbab, maka ketika bertingkah laku yang kurang pas, maka akan lebih menarik perhatian daripada yang tidak. Plus saya punya wajah lugu, tambah deh punya bahan untuk merutuki saya yang hina ini.

Untungnya, alhamdulillah saya masih bisa mengendalikan emosi, meski sempet naik darah, namun semua masih aman terkendali. Masih waras, hati nurani masih berjalan seperti biasa, masih bisa memberikan pesan kebaikan pada orang tersebut. Meski diterima sebagai sok bijak bestari, ya terserah dia. Yang penting saya sudah menyampaikan kebaikan meski hanya satu ayat, hehehe …

Saya juga pernah ketemu orang dan bilang kalau mengaji itu hati rasanya tenang. Eh dia ketawa menghina. Tahu kan beda tertawa senang dan menghina? Astaghfirullah, makhluk macam apa yang saya hadapi ini, Ya Allah?

Saya tunjuk dadanya, emang ga merasa kosong yang di sini ga mau dekat-dekat sama Allah? Dia diam, kaget akan respon saya. Padahal saya sudah siap berperang kalau dia melawan.

Dan satu hal lagi, saya melakukannya tidak dengan teriak-teriak penuh amarah, namun tegas dari dalam hati saya. Mungkin jarak 2 meter orang tidak bisa mendengar suara saya saat itu.

Ah, memang beraneka warna makhluk di dunia ini, ada yang menginspirasi, juga ada yang menguji emosi. Saya sangat bersyukur mendapatkan ilmu kesabaran dari ibu tercinta, beliau orang yang sangat sabar dalam menghadapi segala pahit getir kehidupan. Meski Ibu ketika mendapatkan perlakuan tidak adil, beliau diam saja. Saya sempat berperilaku seperti beliau, malas ribut, apalagi sama saudara. Namun seiring berjalannya waktu saya belajar melawan. Bukan berniat mengajak ribut, tapi menyampaikan bahwa tindakannya salah, tidak semestinya, dan patut untuk diluruskan. Kalau diam saja, maka mereka merasa “Oh, orang ini bisa dijajah.” Maka ketika ketidakadilan terjadi, LAWAN!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s