Kenapa Ya Dia Begini, Tidak Begitu???

Pernah ketemu sama orang yang nyebelin banget kalau sedang berbicara?

Sering membanggakan diri sendiri, anaknya, keluarganya, dan segala hal yang ada disekelilingnya seolah-olah ia adalah makhluk sempurna.

Setiap berucap didominasi dengan ucapan kasar, intimidasi, merasa paling benar, tak terbantahkan.

Ketika ada orang lain melakukan kesalahan langsung berdiri di garda terdepan untuk menyalahkan dengan semangat 45, namun ketika dia yang melakukan kesalahan segera mendirikan benteng pertahanan.

Merasa diri paling cerdas sejagat raya, jika ada orang yang berkomentar atau berpendapat yang dianggap tidak berbobot, segera diremehkan.

Suka menjelek-jelekkan orang-orang yang berada dalam lingkaran kehidupannya, mengeluhkan ini dan itu, seolah-olah dia adalah orang yang paling merana di seluruh dunia, dan berbagai contoh lain yang bikin males meladeni tapi nggak enak mau menghindar. Lho?

Kalau dipikir-pikir kasihan juga orang dengan tipe demikian ya? Mereka bisa jadi tidak sadar bahwa sikapnya tidak baik, sangat mengganggu, membuat tidak nyaman lawan bicara. Lebih parahnya kalau kita tidak mengingatkan mereka dengan baik, bisa-bisa akan tumbuh menjadi orang berusia lanjut yang sangat menyebalkan. Pernah berkomunikasi dengan orang lanjut usia sudah pikun, merasa paling benar, plus galak lagi?

“Bu, makan dulu, sudah jam 1 siang ini.”

“Aku itu sudah makan! Kamu itu seneng ya liat Ibumu gendut, penyakitan! Pengen Ibumu cepet mati,ya!”

Mau dijawab kok malah tambah runyam, dipikir tidak hormat sama orangtua, nggak dijawab malah makan ati. Cuekin aja kali yaaa.

Marah dan marah-marah adalah dua hal yang berbeda. Biasanya, marah adalah bentuk sikap atau ekspresi pertahanan diri karena ada sesuatu yang kurang menyenangkan, sedangkan marah-marah terjadi karena ada masalah dengan suasana hati/mood. (Elia Daryati, Psikolog).

Nanti kalau dikasi tahu tersinggung, sakit hati, dendam kesumat, delcont (delete contact), gimana dunk?

Nah, ada triknya buat mengingatkan mereka tanpa menjatuhkan harga diri yang bersangkutan. Yaitu dengan KOMUNIKASI ASERTIF.

Apaan sih itu?

Sederhananya menyampaikan isi pikiran dan isi hati dengan cara yang baik.

Jadi ketika kita menyampaikan apa yang kita rasakan kepada orang lain, selalu tanamkan dengan penuh kesadaran bahwa kita sedang belajar bersama dalam menyampaikan pendapat tanpa emosi negatif.

Apalagi ketika kita ingin mengajak orang-orang di sekitar kita untuk bersikap asertif. Bukan pasif atau agresif. Semua itu tidak instan lho, perlu proses. Luruskan niat, jalani prosesnya dengan baik, doa selalu dipanjatkan kepada Sang Maha Pemilik Hati. 

Selamat berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s