Asertif, Yuk!

Kulwap kali ini sudah masuk minggu ke 7. Semakin asyik dan seru saja! Pertanyaan seputar permasalahan kehidupan pernikahan dan pengasuhan yang tiada habisnya (ya iyalah, namanya orang hidup yang pasti ada masalah). Nah, tema kali ini adalah “Komunikasi Asertif”. Apaan sih asertif itu?

Menurut yang saya baca dulu sekali waktu masih gadis beberapa tahun yang lalu (belum berpuluh-puluh tahun), untuk mempermudah memahami apa itu asertif kita ambil contoh berikut,

Kita sedang berada di ruang tunggu. Kursi disusun berjajar ke belakang. Di belakang kita ada orang yang dengan tanpa rasa bersalah menggoyang-goyangkan kakinya ke kursi kita. Berasa ditendang-tendang gitu. Nggak nyaman banget, deh. Lalu, apa yang akan kita lakukan?

Kalau kita memilih untuk marah-marah, memaki-maki orang tersebut –> AGRESIF

Kita menyampaikan dengan senyum terindah kalau tendangan kakinya sangat mengganggu –> ASERTIF

Diam aja, lah. Males ribut-ribut, tapi hati nggrundel, merana, panas membara –> PASIF

Masih belum “ngeh” yuk simak penjelasan dari Anna Farida narasumber kita berikut ini,

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Mari masuk ke topik minggu ini, Komunikasi Asertif.

Saya tidak begitu suka definisi, seperti soal ujian esay SMP ahaha. Jadi saya akan sampaikan beberapa kasus sederhana, nanti definisikan masing-masing, apa itu komunikasi asertif.

Anda bergabung atau dimasukkan ke dalam sebuah grup WA. Anda sudah kebanyakan grup, topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat, atau hape Anda nge-hang atau nge-drop melulu. Anda ingin sekali keluar tapi rikuh. Kan yang masukin teman baik, sebagian anggota grup juga teman-teman dekat. Jadi di satu sisi kita menderita batin (halah banget, grup WA kok jadi sumber derita) di sisi lain kita ingin menjaga perasaan teman.

Saya bisa keluar dengan berkata seperti ini, “Teman-teman, hape saya mulai nge-hang, nih. Tampaknya dia tidak sanggup mengejar diskusi yang aktif di grup kita ini. Saya pamit exit group dulu, ya. Informasi dan foto penting sudah saya simpan, begitu siap bergabung lagi, saya akan kontak admin. Tengkyu banget sudah ngasih banyak wawasan, maaf jika ada salah kata, salahkan jempol saya yang besar ini 😀 Salaaam …

Atau dalam kasus lain, ada teman jualan baju dan menawarkan desain yang menurut Anda tidak menarik.

Jawab begini, “Saya lebih suka baju yang polos, tidak banyak lipatan.”

Perhatikan. Saya tidak tidak menjelekkan grup WA itu, tidak mencela desain baju, tapi juga bisa keluar dari grup yang tidak saya perlukan dan tidak perlu beli baju yang tidak cocok.

Anak merajuk minta hape baru.

“Saat ini anggaran keluarga kita adalah melunasi uang sekolahmu. Ibu/Ayah akan berusaha jika memang hape baru kamu perlukan, dan anggarannya ada. Oke?”

Saya tidak mencela keinginan anak pingin hape dan menasihatinya dengan berbagai wejangan tentang hidup hemat dan sabar.

Suami merokok di rumah yang sempit.

“Mas, rumah kita kan kecil. Biar terkesan luas udaranya bisa dijaga biar tetap segar. Aku juga lebih nyaman kalau baju dan perabotan rumah kita fresh.” ———-> Cukup.

“Eh, asyik, habis mandi!” ––nempel-nempel sedikit boleh, ehm— “Mas harum dan segar kalau habis mandi. Aku suka aromanya.” —-> Cukup. Tidak perlu merepet tentang rokok.

Beda dengan “Mas, kenapa sih, merokok melulu. Sama saja dengan bakar uang, kan?” Atau … “Mas kapan mau berhenti merokok?”

Sampaikan pandangan Anda secara positif, tanpa menyerang lawan bicara. Istilah kerennya I-message. Pesan saya, pandangan saya.

Sampaikan dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang rileks, sampaikan sekali saja. 3 menit cukup (maaf, ini ukuran pribadi saya. Lebih dari itu biasanya saya tergoda untuk ngomel. Jadinya komunikasi agresif, bukan asertif lagi, dwong!)

Boleh diulang di waktu yang pas. Mau tahu kapan waktu yang pas? Saat Anda bisa menyampaikan I-message dengan hati yang ringan, dan hasilnya lawan bicara tidak jadi tersinggung. Perhatikan kapan waktu yang pas bagi lawan bicara. Kalau gagal sekali ya coba lagi dan lagi dan lagi 😀

Kan tidak bisa instan.

Menurut saya, kekuatan lain dari komunikasi ini adalah aspek “minta maaf” yang terkandung di dalamnya.

Melalui komunikasi ini kita seolah bilang begini, “Maaf, mungkin pendapat saya tidak sesuai dengan kehendakmu.”

It’s about me, not you. Ini tentang saya, bukan kamu. Lidah saya saja yang kurang suka pedas, bukan karena masakanmu tidak enak, misalnya.

Walaupun sebenarnya kamu juga yang jadi sasaran tembak saya huehehehe

Dengan cara ini, lawan bicara tidak merasa disalahkan, dihakimi. Secara tidak langsung, lawan bicara dikondisikan untuk mengerti kita, memahami pendapat kita, dan ini mendatangkan perasaan positif dalam dirinya. –> ingat, ya, bukan diminta secara langsung, tapi dengan I-message tadi.

Bukan dengan berkata, “Ngertiin aku, dong!” melainkan “Aku ingin begini, pendapatku begitu”.

Kita akan lebih mudah memahaminya dengan praktik langsung per kasus.

Mari kita mulai rumpi. Semoga pertanyaan bisa masuk sebelum Sabtu, jadi waktu menjawab pun lebih leluasa. Sip?

Silakan klik di sini, untuk menyimak tanya jawab Komunikasi Asertif.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Sebagian materi diambil dari sana.

994d9-11099799_10205472502466009_2161698720443473904_n

ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: dokumen pribadi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s