Tanya Jawab Komunikasi Asertif

ilustrai: enjangwahyuningrum.wordpress.com
ilustrasi: enjangwahyuningrum.wordpress.com

Kenapa sih kamu itu kok kasar sekali tiap mengucapkan kata? Kapan kamu berhenti merokok? Ngapain kamu share berita nggak penting? dan berbagai ungkapan rasa tidak nyaman yang hanya terucap dalam hati.

Asertif, dunk!!!

Yuk, simak tanya jawab yang padat kaya manfaat berikut ini:

Pertanyaan-1

Bagaimana menegur suami yang suka merokok di dalam rumah kami yang mungil? Hanya ada ruang tamu dan kamar tidur satu. Dia merokok di ruang tamu. Tapi kalau ada  teman sedang main ke rumah bawa anak, dia rela merokok di balkon.

Jawaban Elia Daryati

Relasi suami istri, merupakan relasi yang setara. Artinya, jika pasangan ini menempatkan posisi yang setara, akan terbangun saling menghargai satu sama lain. Terkadang kita sendiri merasa sungkan untuk menegur, karena menempatkan posisi sebagai orang yang sedikit “takut”, jangan-jangan kalau dibiarkan justru suami tidak akan mengerti. Mungkin suami berpikir kita setuju-setuju saja. Atau boleh jadi, kita menegur tidak terlalu menekankan betapa, tidak sukanya kita jika harus ikut menghirup asap beracun itu.

Kenapa? Jika ada orang lain sanggup berkorban untuk merokok dan pergi ke balkon? Hal ini menunjukkan bahwa suami, mengerti  bahwa orang mungkin akan kurang setuju dengan merokok di dalam rumah.

Langkah yang harus dilakukan : adalah menyampaikan dengan jujur bahwa Ibu tidak setuju atas sikap suami yang sering merokok di dalam rumah. Meminta pengertian dari suami, atas keberatan yang ibu sampaikan.

Namun harus dilihat, waktu yang pas untuk menyampaikan. Bukan ketika suami sedang merokok, karena dia sedang dalam kondisi adiksi dan bisa menjadi lebih sensitif ketika diingatkan. Dicari waktu dialog ketika sedang santai, disampaikan dengan cara yang santun. Tegas dan kasar merupakan hal yang berbeda. Suami yang baik dan menyayangi keluarga, pastinya akan sangat memahami hal ini. Masa’ pada orang lain paham, sama keluarga sendiri kurang paham?

Untuk itu, ayo kapan akan dimulai? Bismillah, saya yakin Ibu bisa!

Jawaban Anna Farida
Dalam materi saya sudah bahas sepintas. Pertanyaan: yang mau dihilangkan kebiasaan merokok di dalam rumah atau kebiasaan merokoknya?
Jika kebiasaan merokoknya, I-message yang disampaikan adalah “Aku senang deket-deket ketika Mas dalam kondisi segar. Aku siapin baju ganti, ya, sebelum tidur. Aku bahagia banget kalau Mas bisa ngurangi rokok. Kalau berhenti? Wah, aku bakal nyemplung kolam ikan pakai kebaya” —– awas, ya, buktikan!
Artinya aroma humor pun perlu diselipkan, supaya situasi tidak jadi tegang. Pesan tentang harapan Anda agar suami berhenti merokok tersampaikan, dan Anda bisa tetap tertawa bersama.

Pertanyaan-2
Suami saya orangnya tipe plegmatis. Selalu ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik. Kalau saya tanya pendapatnya sering kali bilang terserah, gimana baiknya aja sambil tersenyum. Nah, masalahnya, kalau ada masalah belakangan ia jadi menyalahkan saya. Akhirnya, karena sering terjadi, saya jadi suka ragu ngambil keputusan. Sebenarnya dia tuh setuju betulan atau nggak?
Jawaban Elia Daryati

Suami istri, biasanya merupakan pasangan yang sifatnya komplementer. Seperti saling berseberangan, dimaksudkan untuk saling menggenapkan. Yang rapi dengan yang berantakan, yang boros denga yang sedikit irit, yang ramah dengan yang serius, atau yang nggak enakan dengan yang lebih tegas. Pasti dipasangkan tanpa maksud, selain untuk saling menggenapkan satu sama lain.

Boleh jadi, jika suami ibu tipe plegmatis, Mereka umumnya baik hati, pribadinya tenang, rendah hati, dan juga penyabar, terlihat kalem. Mungkin akan cocok dengan tipe koleris, tipe ini biasanya suka mengatur dan memerintah orang, dia nggak mau ada orang berdiam diri saja sementara dia sibuk kerja/beraktivitas. Orang korelis suka akan tantangan, sangat suka berpetualang, mereka juga tegas. tak heran banyak dari usahanya yang sukses karena memang sifatnya yang juga pantang menyerah dan juga pantang mengalah.

Menyikapi suami yang tipe seperti ini, maka dalam menghadapi persoalan dengan cara membicarakan dari awal untuk menyelesaikan persoalan. Istilah populernya, pahit-pahitnya dibicarakan dari awal, konsekuensi dan risiko-risiko nya disampaikan sejak awal. Selanjutnya diskusikan.  Untuk tipe yang kurang asertif, memang harus sedikit ada “paksaan” yang cantik, yang membuat mereka bertindak lebih tegas.

Jangan menyerah ibu, tetaplah percaya diri, dan sadari bahwa ibu memang dipasangkan untuk dia.
Jawaban Anna Farida
Konfirmasi: Suami saya selalu ingin menyenangkan orang lain … kalau ada masalah ia jadi menyalahkan saya —- ini kontradiktif, lho. #provokator, abaikan ahahah.

Ambil keputusan antar suami istri ada dua cara yang baik: musyawarah sampai mufakat, atau salah satu memutuskan dan pihak yang ngikut wajib mendukung.
Jadi sejak awal sudah harus komitmen dulu, kalau aku yang ambil keputusan kamu harus dukung, lho ya.
Ini wajib disepakati dulu. Atau memang sudah ada keputusan tak tertulis, misalnya urusan sekolah anak-anak selalu diputuskan ayah, urusan bawa anak ke dokter gigi oleh ibu, uang belanja ayah yang atur, yang menghabiskan ibu 😀
Kalau bilang terserah trus menyalahkan itu tidak fair, ah — coba elus-elus sambil diajak diskusi. Uhuk.

Pertanyaan-3

Bagaimana cara belajar/membiasakan komunikasi asertif bagi diri dan orang sekitar.
Adakah teori tertentu tentang pemilihan kata,dsb?

Jawaban Elia Daryati

Cara membiasakan komunikasi asertif. Perlu dipahami, bahwa asertif merupakan kualitas yang diperlukan dalam kepribadian jiwa. Baik itu dalam hubungan personal, pekerjaan, bisnis, dan pernikahan.  Kita harus bersikap asertif untuk mengekspresikan diri secara positif.

Asertif adalah tentang mengekspresikan hak-hak, mengungkapkan keyakinan, keinginan, serta menyatakan pandangan kita dengan tetap menghormati orang lain. Kalau dalam istilah saya adalah, bagaimana kita mengatakan TIDAK dengan cara yang elegan.

Dasar asertif yang pertama, terkait dengan rasa percaya diri. Semakin seseorang memiliki rasa percaya diri yang besar, dia akan memiliki sikap asertif yang baik dan mengekspresikan diri secara positif.

Perlu dibedakan, komunikasi asertif jika dijalankan, akan memberikan keasadaran pada orang tanpa rasa terluka. Sedangkan sikap agresif, biasanya dibumbui dengan sikap menyerang, sehingga membuat orang tidak tersadarkan, menimbulkan sikap defensif, juga memancing sikap permusuhan.

Salah satu pemilihan kata-katanya, misal ; “Saya sesungguhnya  ingin sekali membantu Anda, namun sekarang tampaknya saya belum memiliki kelapangan untuk itu. Mungkin pada kesempatan lain  saya dapat membantu. Terima kasih untuk pengertiannya,” (misal pada orang yang mau pinjam uang).

Dalam berkomunikasi asertif, selain faktor percaya diri, juga kemampuan orang untuk berempati.

Jawaban Anna Farida
Awali dengan niat baik. Pilihan kata bisa dilatih, misalnya dengan mengawali kalimat dengan “Saya lebih suka jika …”
Bahasa tubuh netral suasana santai, tidak tegang mau perang gitu, bisa sambil duduk di sebelah lawan bicara. Tapi sebaiknya tidak disambi nonton teve, apalagi main WA ahahah.

Pertanyaan-4
Bu guru bertanya. Bagaimana trik-triknya agar apa yang kita sampaikan merupakan komunikasi asertif. Terkadang niatan awal ingin menyampaikan pendapat, eh ujung-ujungnya terpancing esmosi (emosi:red).

Jawaban Elia Daryati

Trik-triknya agar tidak terbawa emosi ketika akan berkomunikasi secara asertif.  Pertama-tama kuasai diri terlebih dahulu.  Jika kita awalnya akan berbicara dengan damai dan tiba-tiba kurang terkendalikan, karena terbawa emosi. Alat bantunya dapat melalui catatan. Catatan akan mengawal kita untuk berbicara secara terstruktur.

Urutkan persoalan dari yang kita anggap penting. Ini merupakan seni menguasai emosi. Mengapa, karena biasanya jika terjadi “blocking”, semua yang akan disampaikan menjadi hilang. Akhirnya kita menangis karena bingung.  Judulnya, jika kita tidak dapat menguasai diri, bagaimana kita dapat menguasai orang lain.

Jawaban Anna Farida
Esmosi itu wajar dan sehat ketika ditempatkan dengan manis–halah, ada, ya, emosi yang manis?
Trik saya sederhana: Sampaikan pesan 3 menit saja–akibatnya, kita akan pilih benar kalimat yang pas, dan suasana yang tepat. Saya ini ceriwis, jadi kalau ngomong lebih dari 3 menit tentang hal yang tidak saya sukai bakal merepet dan memang mudah esmosih tadi 😀

Pertanyaan-5
Belum lama nih naik angkot, ada ibu hamil di depan saya, tiba tiba masuk lelaki dengan rokoknya. Si Ibu tadi tutup hidung dan mulut pakai sapu tangan.
saya langsung bilang,” Pak tolong bisa dimatikan rokoknya, kasian ada yang hamil, ” bapaknya langsung ketawa, terus buang rokoknya dari jendela. Legaaa soalnya spontan langsung pengen ngomong, setelahnya baru deg degan ntar malah dimarahin balik nih, syukurnya nggak  termasuk asertif-kah itu ? Kalau yang ingin diungkapkan langsung spontan keluar? Thank you.

Jawaban Bu Elia

Sikap ibu sudah menunjukkan sikap asertif. Untuk kondisi darurat tertentu, memang terkadang kita sulit menemukan kata-kata yang lebih halus. Sikap otoritas ibu mampu menghentikan perilaku yang kurang terpuji. Patut diacungi jempol. Memang memerlukan nyali yang cukup besar. Spontan yang ibu sampaikan, tentu saja masuk yang akal bagi semua orang. Siapapun sesungguhnya memiliki perasaan yang  sama, namun memiliki keberanian yang berbeda.

Sikap yang ibu tampilkan, masuk dalam kategori perilaku asertif. Disampaikan dengan cara yang santun dan tenang, namun membuat orang tersadarkan untuk menghentikan perilaku buruknya.

Tanggapan Anna Farida 
Ya, itu asertif. Tidak mencela perokoknya, tapi menyampaikan fakta bahwa ada yang hamil, dan menurut saya tidak baik menghirup asap rokok.
Bagus! Lanjutkan! Tindakan yang dianggap kecil bisa jadi hal besar dan sangat bermanfaat, lho, bagi orang lain.

Pertanyaan-6
Bagaimana komunikasi asertif dengan teman-teman yang berbeda mazhab dalam pemahaman fiqih?

Jawaban Elia Daryati

Untuk menyikapi perbedaan mazbah, dibutuhkan kedewasaan dalam berkomunikasi. Suatu kepercayaan merupakan hal yang mendasar yang sebaiknya tidak didiskusikan, jika kita melihat ada potensi konflik di dalamnya.

Khilafiah (perbedaan pendapat ahli fikih) alias masalah furu’iyah adalah masalah klasik yang tidak relevan lagi untuk kita pertentangkan, bahwa masalah furu’iyah ini adalah persoalan alternatif yang masing-masing pihak tentunya punya argumentasi untuk menjadi pegangan.

Hal yang terpenting, harus dipahami bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Jika kita merasa yakin dengan pendapat kita dengan dasar yang jelas, bisa disampaikan namun tidak perlu ngotot. Merasa ingin benar sendiri yang biasanya menjadi bibit konflik. Selain itu, kita pun harus menghargai pendapat orang, jika memang mereka memiliki dasar yang jelas dalam beragama.  Perbedaan fiqih sejauh menebarkan kebaikan dan tidak merugikan diri dan orang lain, sebaiknya bisa diterima dengan lapang dada.

Boleh saja, kita punya prinsip, “ada bersama mereka, namun tidak menjadi mereka”.

Jawaban Anna Farida
Pilih-pilih orang.
Terkait pemahaman mazhab, ada yang orang terbuka, ada yang gelasnya memang sudah tertutup rapat. Dengan orang jenis kedua, komunikasi macam apa pun tidak akan diterima dengan baik. Menurut saya, hal yang terbaik adalah diam. Obrolkan saja hal lain, yang umum, yang tidak nyambit-nyambit perbedaan. Kasih senyum manis ajak makan rujak, selesai.

Untuk orang yang terbuka, jelas tidak perlu ragu menyampaikan pendapat. Toh dia bisa mengerti berbeda itu sesuatu yang natural. Jadi komunikasi asertif bisa dipraktikkan.
Sip, ya?

Pertanyaan-7

Minta penjelasan juga tentang orang dengan sifat pasif agresif. Kalau baca-baca sih kayaknya orang tipe tersebut sepertinya sedang memuji/simpati tapi nadanya malah ngejatuhin (sengaja atau ngga sengaja).

Jawaban Elia Daryati

Pasif agresif biasanya terjadi ketika seseorang yang mengalami situasi negatif (situasi yang tidak ia inginkan) namun tidak mampu mengungkapkannya secara asertif. Jadi hal ini terkait dengan perasaan tidak setuju, namun tidak berdaya. Hal ini tentunya akan menimbulkan sampah-sampah emosi, dalam diri.

Perlu dipahami, pasif agresifnya diri atau orang lain? jika pasif agresifnya diri, maka memang harus mengubah diri menjadi lebih asertif, agar tidak makan hati. Jika yang pasif agresifnya orang lain, maka bantu mereka untuk lebih percaya diri dan jujur terhadap sikap yang ditampilkannya. Salah satunya dengan menerima orang apa adanya, sehingga orang akan lebih kooperatif dan asertif. Pada akhirnya ketika berhubungan dengan kita, mereka tidak berpura-pura dan mampu mengekspresikan perasaannya secara jujur.

 Jawaban Anna Farida
Komunikasi yang agresif bersifat menyerang orang lain, biasanya yang diserang yang lebih tidak berdaya–ya iya, lah, mana berani menyerang yang lebih kuat. Jadi, bisa disimpulkan kalau yang hobi berkomunikasi dengan gaya agresif ini biasanya kurang pede dan beraninya nyerang yang lebih tidak berdaya 😀

Komunikasi yang pasif dipilih oleh orang-orang yang senang disakiti–maaf.
Kalau mengalah dan ridha saja sih oke, mungkin itu pilihan kemuliaan. Tapi kalau mengalah atau diam saja dan setelah itu sakit hati dan merana kan cari masalah namanya.

Yang agresif maupun pasif sama-sama tidak sehat, lho. Jadi, yang cenderung agresif bisa mengendurkan tegangan, dan yang pasif bisa mulai mencari cara untuk belajar, bisanya belajar bilang “Saya lebih suka jika …”
Yuk … ulangi setelah saya–halah lagi. “Saya lebih suka jika …”

Pertanyaan-8
Daripada ngomong langsung nangis atau marah, saya biasanya nulis surat aja. Biasanya lebih terstruktur.
Kasiin ke suami, tungguin dia baca di sebelahnya sambil deg degan …baru biasanya bisa cair.

Jawaban Elia Daryati

Ya, seperti  jawaban sebelumnya. Jika kita tidak mampu menguasai emosi diri. Maka catatan atau dalam bentuk surat akan membantu kita dalam berkomunikasi yang sifatnya asertif. Betul, jika lisan memang memerlukan nyali dan percaya diri yang baik, paling tidak tulisan asertif sedikit mengurangi risiko konfrontasi jika tiba-tiba terjadi.

Ini merupakan kondisi daripada-daripada. Daripada agresif, atau pasif, lebih baik asertif walau masih dalam bentuk tertulis. Kelemahan tulisan, kita tidak bisa melihat ekspresi muka dan bahasa tubuh lawan bicara kita.

 Tanggapan Anna Farida
Nah, ini pun salah satu cara yang baik.
Saat menulis, pikiran lebih tenang, bisa diedit pula 😀
Jadi, tulisan bisa jadi media latihan yang baik.
Walaupun demikian, kadang juga tulisan yang salah tempat bisa ditafsirkan lain-lain dan bikin perkara baru ahahah — gimana, sih serba salah.
Pastikan baca dulu dengan saksama sebelum dikirim, ya.
Pastikan juga alamatnya benar, jangan salah kamar 😀

Pertanyaan-9
Apakah komunikasi asertif ini efektif juga untuk menghadapi orang-orang yang masih suka ngeshare berita yang cenderung menyulut perpecahan atau rasis gitu ? Misal di fb kan banyak yah kelihatannya terpelajar berpendidikan tapi ngesharenya berita dari si Jon## heheheh, efektif nggak sih itu ya pake asertif ? Thank you.

Jawaban Elia Daryati

Komunikasi asertif dapat digunakan kapan saja, pada siapa, dan dimana saja. Artinya komunikasi asertif dapat disampaikan untuk semua situasi. Komunikasi asertif itu pada dasarnya bukan menyerang (komunikasi agresif), namun lebih bersifat mengimbangi. Artinya akan membangunkan orang atas kesalahannya, menimbulkan kesadaran dan insight, tanpa merasa dilukai atau diserang.

Orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi secara asertif akan menjadikan lawan bicaranya tetap merupakan orang yang pantas dihargai. Lawan bicara pun akan tetap merasa dirinya berharga. Memberi tahu/menyampaikan pendapat tanpa membuat orang lain merasa dijatuhkan. Walau sesungguhnya sedang diinspirasikan untuk paham bahwa tingkah lakunya atau sikapya kurang tepat.

Jawaban Anna Farida 
Efektif banget. Kita tidak perlu mencela beritanya, tidak perlu pula mencela tokohnya.
Yang kita sampaikan adalah bahwa “saya lebih suka jika berita yang disiarkan adalah yang mengajak pada kerukunan …”
Seperti yang didengungkan para aktivis perdamaian, “Jangan benci perangnya, ciptakan saja perdamaian.”
Ya saya sukanya yang rukun-rukun, situ sukanya yang ribut ya silakan. Tapi saya berhak juga kan untuk tidak baca post semacam ini — ini maksud tersembunyinya. Jangan ditulis di FB, ya  ahaha.

Pertanyaan-10
Assalaamu’alaykum, berkaitan dengan tema materi di grup, ada yang ingin saya tanyakan. Bagaimana sikap kita ketika sudah berusaha berbicara secara asertif (marah ya yang asertif) tapi lawan bicara kita ternyata tipe yg mudah emosi dan meledak amarahnya sehingga apapun yang kita sampaikan walau sudah berusaha baik-baik, tetap akhirnya tidak didengarkan atau ditepis. Apakah kita harus menunggu amarahnya reda? Walau tidak ada jaminan kalau nanti kita ajak bicara lagi dia akan baik-baik saja. Atau kita harus pilih metode lain? Misal dengan tulisan dsb. Tapi kan kalau dengan tulisan tidak ada nadanya. Khawatir potensial menimbulkan masalah baru. Mohon sarannya. Jazakillah.

Jawaban Elia Daryati

Kalau saya punya rumus sendiri mengenai seni menghadapi orang pemarah. Bahwa jika kita datang dengan ketulusan, orang akan menghampiri kita dengan ketulusan. Berprasangka baik dalam berkomunikasi itu penting. Sebuah niat baik, caranya baik, maka hasilnya Insya Allah baik. Jika kita datang dengan hati maka orang pun akan datang dengan hati. Termasuk orang yang pemarah sekalipun. Orang pemarah itu biasanya adalah orang yang sensitif. Gampang marah, tapi juga gampang menangis dan gampang menyesal. Itu paket dari sisi gambaran emosi. Sejauh orang itu adalah orang normal dan tidak berkebutuhan khusus dengan emosi yang ekstrim, itu semua bisa disiasati.

Sebelum melakukan komunikasi asertif, peretama-tama membuat hubungan baik atau good rapport, selanjutnya buat iklim psikologis yang enak. Jika sudah terbangun akan terjadi saling percaya dan mempercayai. Ada libatan emosi dan intelektual yang selaras. Emosi jalan, nalar jalan. Jika ini telah terbangun, maka jalankan komunikasi asertif.

Insya Allah dijamin lancar … semangat, Bu jangan menyerah. Jangan melawan api dengan api, tapi dengan strategi.

Jawaban Anna Farida 
Orang yang mudah meledak amarahnya biasanya tidak punya kemampuan komunikasi yang baik. Yang perlu kita lakukan adalah menuntunnya.
Ada kasus suami istri yang salah satu pasangannya hobi ngomong kasar–bukan bermaksud jahat, tapi memang gayanya begitu, mungkin pengaruh keluarga atau lingkungan.
Ketika dia mulai berkata kasar, pasangannya selalu asertif. Tidak ingin dikasari, tapi juga tidak membalas dengan kasar.
“Mas, aku denger, kok. Aku lebih suka kalau Mas bicara pelan saja.”
“Maaf, aku bisa belajar masak lebih enak. Biar Mas tidak perlu mencela masakanku. Makanan itu kan karunia. Jadi nanti kita bisa bersyukur, bisa menikmati juga makanan yang enak. Sabar, ya, belajarnya bisa lama, ahahaha.”

Artinya, kita tidak bela diri dengan membabi buta. Kalau kita punya kekurangan pun kita akui dengan wajar. Jadi komunikasi asertif itu bukan untuk menang-menangan, tapi untuk saling memahami, saling mengapresiasi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pertanyaan-11

Assa;amu’alaikum, bagaimana contoh berkomunikais asertif seorang guru terhadap siswanya yang duduk di bangku SMP. Mereka sering melakukan kenakalan remaja seperti membolos, pacaran, merokok, berkelahi, “ngetrek” (pulang sekolah naik tumpangan seperti truk pasir ke luar kota yang sampai pernah memakan korban jiwa), supaya mereka sadar akan perbuatannya. Teguran dan nasihat guru seringnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Jawaban Elia Daryati

Sekali lagi. Komunikasi asertif adalah seni bermain otoritas dalam berkomunikasi. Demikian juga dalam relasi komunikasi antara guru dan siswa. Memilih dikuasai atau menguasai. Energi positif dan negatif tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Demikian juga dengan fungsi otoritas guru. Otoritas berbeda dengan otoriter. Namun jika saatnya harus otoriter untuk meluruskan perilaku salah, maka ini akan menjadi salah satu cara “meredakan” perilaku buruk. Setelah anak dikuasai, bangun dan raih hatinya dengan komunikasi asertif. Sekali lagi langkah-langkah awal melakukan teknik pendekatan dalam berkomunikasi dijalankan. Seperti jawaban di nomor 10. Selanjutnya asertif biarkan anak pada akhirnya akan menjadi pilot buat dirinya sendiri.

Memang memerlukan kesabaran, tapi sesulit-sulitnya orang, selalu ada ruang lembut yang dapat ditembus. Termasuk siswa-siswa kita dengan semua persoalannya. Saya pun lakukan hal ini karena saya secara riil berhadapan dengan banyak remaja. Dari bersikap melawan – menjadi membela, menanatang – menjadi tersadarkan – dan menyalahkan – menjadi mengerti.

Key word nya jangan patah arang. Lambat laun atau cepat semua akan berubah,

Jawaban Anna Farida

Remaja suka didengarkan. Salah satu komunikasi yang manjur buat remaja adalah mendengarkan lebih banyak, mendengarkan lebih aktif. Ajak mereka menemukan apa untung ruginya melakukan perbuatan tersebut. Minta mereka melihat apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Guru bisa mengawalinya dengan bercerita tentang berita kenakalan remaja. Sampaikan,”Ibu sedih kalau anak-anak dan murid Ibu mengalami hal yang sama. Bagaimana menurut kalian, apa yang bisa dilakukan?”

“Tadi di jalan ada rombongan anak SMA sedang nangkring di sisi jalan. Begitu lihat Ibu, mereka bergegas masuk sekolah.Ibu lihat ada yang buru-buru buang puntung rokok, sih. Penasaran saja, kok pilih rokok daripada permen? Yang satu asap yang satu manis.  Yang racun yang satu merusak gigi. ehhh …

Nah dengan candaan seperti ini diharapkan anak-anak akan cair dan bersedia bercerita lebih terbuka tanpa suasana diadili dan jadi tertuduh.

Jika berkenan, kita bisa saling bertukar kasus dan saling berlatih menanggapinya secara asertif di grup.
Kalimat apa yang pas, cara dan situasi mana yang tepat.
Mau?
Pengen ikutan Kulwap Keluarga Sehati, juga?

Kirim nomor WhatsApp ke 089650416212 (Suci Shofia)

GRATIS!!!!

Acara ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart.

Advertisements

3 thoughts on “Tanya Jawab Komunikasi Asertif

  1. Reblogged this on Teaching Adventure and commented:
    Salam Sehati, Bapak Ibu.

    Mari masuk ke topik minggu ini, Komunikasi Asertif.

    Saya tidak begitu suka definisi, seperti soal ujian esai SMP ahaha. Jadi saya akan sampaikan beberapa kasus sederhana, nanti definisikan masing-masing, apa itu komunikasi asertif.

    Anda bergabung atau dimasukkan ke dalam sebuah grup WA. Anda sudah kebanyakan grup, topik yang dibahas tidak sesuai dengan minat, atau hape Anda nge-hang atau nge-drop melulu.
    Anda ingin sekali keluar tapi rikuh. Kan yang masukin teman baik, sebagian anggota grup juga teman-teman dekat. Jadi di satu sisi kita menderita batin (halah banget, grup WA kok jadi sumber derita) di sisi lain kita ingin menjaga perasaan teman.

    Saya bisa keluar dengan berkata seperti ini, “Teman-teman, hape saya mulai nge-hang, nih. Tampaknya dia tidak sanggup mengejar diskusi yang aktif di grup kita ini. Saya pamit exit group dulu, ya. Informasi dan foto penting sudah saya simpan, begitu siap bergabung lagi, saya akan kontak admin. Tengkyu banget sudah ngasih banyak wawasan, maaf jika ada salah kata, salahkan jempol saya yang besar ini 😀 Salaaam …

    Atau dalam kasus lain, ada teman jualan baju dan menawarkan desain yang menurut Anda tidak menarik.

    Jawab begini, “Saya lebih suka baju yang polos, tidak banyak lipatan.”

    Perhatikan. Saya tidak tidak menjelekkan grup WA itu, tidak mencela desain baju, tapi juga bisa keluar dari grup yang tidak saya perlukan dan tidak perlu beli baju yang tidak cocok.

    Anak merajuk minta hape baru.
    “Saat ini anggaran keluarga kita adalah melunasi uang sekolahmu. Ibu/Ayah akan berusaha jika memang hape baru kamu perlukan, dan anggarannya ada. Oke?”

    Saya tidak mencela keinginan anak pingin hape dan menasihatinya dengan berbagai wejangan tentang hidup hemat dan sabar.

    Suami merokok di rumah yang sempit.
    “Mas, rumah kita kan kecil. Biar terkesan luas udaranya bisa dijaga biar tetap segar. Aku juga lebih nyaman kalau baju dan perabotan rumah kita fresh.” ———-> Cukup.

    “Eh, asyik, habis mandi!” ––nempel-nempel sedikit boleh, ehm— “Mas harum dan segar kalau habis mandi. Aku suka aromanya.” —-> Cukup. Tidak perlu merepet tentang rokok.

    Beda dengan “Mas, kenapa sih, merokok melulu. Sama saja dengan bakar uang, kan?” Atau … “Mas kapan mau berhenti merokok?”

    Sampaikan pandangan Anda secara positif, tanpa menyerang lawan bicara. Istilah kerennya I-message. Pesan saya, pandangan saya.

    Sampaikan dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang rileks, sampaikan sekali saja. 3 menit cukup (maaf, ini ukuran pribadi saya. Lebih dari itu biasanya saya tergoda untuk ngomel. Jadinya komunikasi agresif, bukan asertif lagi, dwong!)

    Boleh diulang di waktu yang pas. Mau tahu kapan waktu yang pas? Saat Anda bisa menyampaikan I-message dengan hati yang ringan, dan hasilnya lawan bicara tidak jadi tersinggung. Perhatikan kapan waktu yang pas bagi lawan bicara. Kalau gagal sekali ya coba lagi dan lagi dan lagi 😀

    Kan tidak bisa instan.

    Menurut saya, kekuatan lain dari komunikasi ini adalah aspek “minta maaf” yang terkandung di dalamnya.

    Melalui komunikasi ini kita seolah bilang begini, “Maaf, mungkin pendapat saya tidak sesuai dengan kehendakmu.”

    It’s about me, not you. Ini tentang saya, bukan kamu. Lidah saya saja yang kurang suka pedas, bukan karena masakanmu tidak enak, misalnya.

    Walaupun sebenarnya kamu juga yang jadi sasaran tembak saya huehehehe

    Dengan cara ini, lawan bicara tidak merasa disalahkan, dihakimi. Secara tidak langsung, lawan bicara dikondisikan untuk mengerti kita, memahami pendapat kita, dan ini mendatangkan perasaan positif dalam dirinya. –> ingat, ya, bukan diminta secara langsung, tapi dengan I-message tadi.

    Bukan dengan berkata, “Ngertiin aku, dong!” melainkan “Aku ingin begini, pendapatku begitu”.

    Kita akan lebih mudah memahaminya dengan praktik langsung per kasus.

    Mari kita mulai rumpi. Semoga pertanyaan bisa masuk sebelum Sabtu, jadi waktu menjawab pun lebih leluasa.

    Sip?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s