Sibling Rivalry

ilustrasi: id.theasianparent.com
ilustrasi: id.theasianparent.com

Ketemu lagi!!! Tema kulwap Keluarga Sehati kali ini adalah “Aku Cemburu”. Hubungan antar saudara selalu saja penuh warna. Apalagi pelakunya masih imut-imut, jadi pingin ikutan terlibat di dalamnya. Heboh banget, sih!

Kali ini saya sebagai admin tidak bisa fokus mengawal (#presiden kali dikawal!) kulwap karena lagi ikutan seminar blogger. Alhamdulillah Mb Anna berbaik hati dengan legowo merelakan saya pergi mencari ilmu ke Trans Studio Mall (hahaha …).

Ada kendala teknis, biasanya Bu Elia menuliskan jawaban dengan tulisan tangan atau mengetik di komputer. Setelah selesai baru deh dikirim. Nah, kali ini pas mau mengirim via email, eh ada yang error, jadi weh tulisan Bu Elia difoto, trus dikirim ke grup. Siippp!

Yuk, simak kehebohan yang penuh wawasan berikut ini:

Anna Farida berkata,

Salam, Bapak Ibu. Selamat bertugas Mahmud Admin yang lucu! Salam buat para blogger!

Senang sekali bisa berbincang via tanya jawab kulwap-5, dengan tema “Aku Cemburu”.

Ternyata terjadi error pada email Bu Elia, tidak bisa kirim jawaban langsung. Akhirnya muncul ide cemerlang dari Bu Elia. Semoga terbaca yaaa. Jawaban saya post sesudahnya. Sip?

Pertanyaan-1

Anak saya 4, laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki dengan rentang usia 14 tahun, 10 tahun, 6 tahun, dan 3 tahun. Sampai saat ini saya harus memberikan sesuatu yang sama kepada anak kedua dan ketiga demi menghindari timbulnya konflik.

Padahal sebelum anak kedua saya lahir, saya mencoba menyampaikan sebaik-baiknya kepada anak pertama. Begitu juga sebelum lahir anak ketiga dan keempat. Hubungan anak pertama dan kedua masih wajar, tapi untuk anak kedua dan ketiga berbeda. Ketika berada pada rentang usia yang sama, mereka lebih sering ribut dan timbul konflik. Mungkinkah karena faktor jenis kelamin?

Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia

Ketika adik lahir, muncul anggota keluarga baru yang membuat si kakak merasa tersaingi karena menganggap kasih sayang dan perhatian kedua orangtua akan berkurang untuknya. Inilah yang disebut sibling rivalry,persaingan antar saudara kandung. Ini merupakan hal yang wajar. Persaingan dengan jenis kelamin yang sama tentunya lebih seru, mengingat mereka umumnya memiliki minat yang dan kecenderungan yang sama. Misal anak perempuan suka dengan mainan, pakaian, dan sepatu yang sama.

Untuk meminimalisir supaya persaingan tadi berkurang, orangtua harus bersikap adil, tidak memihak, tidak membandingkan, dan memberikan perhatian yang sama. Bersikap adil itu memberikan porsi sesuai kebutuhan. Adapun yang tidak kalah pentingnya memebrikan ruang kepada anak untuk menyelesikan sendiri masalahnya. Sehingga secara perlahan anak akan mulai mengerti perbedaan kebutuhan diri dan saudaranya. Pengertian ini dapat mengurangi kecemburuan, walaupun tidak akan menghilangkannya sama sekali. Kehidupan bersaudara memang indah karena ada dinamikanya, salah satunya sibling rivalry ini.

Jawaban Anna Farida

Ehm, sebenarnya hal ini juga terjadi pada saya. Anak saya empat juga, Tos!

Masing-masing anak berjarak 3 tahun. Anak pertama ke anak kedua santai. Bahkan anak pertama saya terampil ikut mengurus adik-adiknya. Anak kedua ke anak ketiga juga santai. Anak ketiga ke anak keempat, uhuk! Cemburunya minta ampun!

Beegitu bayi saya bawa pulang dari bidan, Ubit (anak ketiga) tidak mau mendekat ke saya, tidak juga ke adiknya. Saya dekati sebisa mungkin ketika bayi tidur, di tetap menolak.

Bukan hanya itu.

Ubit yang saat itu sudah 3 tahun mulai bertingkah seperti bayi. Dia sudah lancar bicara dan mendadak mengoceh tidak jelas. Dia menirukan suara adiknya. Kebiasaan toilet trainingnya juga mundur. Dia kembali BAK dan BAB di celana.

Bayangin, saya punya dua bayi di rumah. Saat itu asisten hanya datang dua kali seminggu (pagi sampai siang).

Begitu sadar bahwa Ubit cemburu dan memendam rasa sakit di dada #halah, saya segera ambil tindakan berikut ini:

Saya alokasikan waktu khusus buat dia. Bukan hanya ketika bayi tidur, tapi memang saya pilih waktu yang paling nyaman baginya. Saya beruntung punya tetangga yang baik-baik. Jadi setiap sore saya ajak Ubit jalan-jalan keliling kompleks. Bayi saya titip ke tetangga, atau suami, atau siapapun yang ada di rumah. Cuma sebentar hanya 15 menit, dan hanya berlangsung selama seminggu. Seteelah itu Ubit bosan dan mulai mengajak main di rumah saja.

Alhamdulilllah tidak perlu ninggalin bayi, tidak perlu keliling kampung.

Jadi prinsipnya dia tahu bahwa saya tetap bersedia mengalokasikan waktu khusus buat dia, bukan hanya di sela-sela. Dia hanya minta waktu saya dan tidak lama. Cuma 15 menit sehari. Setelah itu, setelah dia merasa aman dan yakin bahwa saya tidak berpaling, hubungannya dengan adiknya baik-baik saja sampai sekarang. Mereka adalah tim yang kompak,  terutama jika sedang ngerjain ibunya.  Hahaha …

So, berikan waktu khusus untuk masing-masing anak, Kita ini ibu, dan ibu biasanya punya masing-masing cara untuk berimprovisasi, Jago ngeles gituuu…

Pertanyaan-2

Anak saya 7 tahun dan 4 tahun, laki-laki semuanya. Si Kakak suka sekali membuat adiknya teriak-teriak dan ujung-ujungnya menangis. Ada saja ide jahil yanag ditujukan untuk adiknya. Apakah ini relasi yang wajar antar saudara? Sebuah wujud persaudaraan yang akrab bentuk dari rasa kasih sayang? Lucunya, mereka dengan mudah kembali akur dan bermain bersama dalam waktu kurang lima menit setelah mereka bertengkar.

Jawaban Bu Elia

Hubungan emosi semakin dekat, akan semakin mudah terjadi gesekan. Demikian juga kaitannya dengan relasi ikatan emosi antar saudara. Hubungannya itu benci tapi rindu.Tidak ada dicari, jika ada biasanya menjadi lebih “hangat”. Mengenai dalam 5 menit kembali akurmemang suatu yang wajar. Emosi anak-anak itu sifatnya tinggi, meledak, tiba-tiba, namun cepat reda. Berbeda dengan emosi oranag dewasa yaang cenderung lambat  “naik”, tidak terlalu ditampakkan, namun susah lupa. Jadi tidak heran jika anak-anak sejenak berantem, sejenak kemudian bercengkrama. Mengenai sikap jahil memang tetap harus diingatkan, jangan terlalu berlebihan.

Jawaban Anna Farida

Wajar banget. Kita merasa bebas berbuat apa saja, dari yang baik hingga yang nyebelin pada orang-orang terdekat. Tidak ada jaim, tidak ada sungkan. Orang yang paling sering kecipratan sifat asli kita adalah orang terdekat kita.

Jadi wajar banget kalau saudara bertengkar, apalagi masih anak-anak. Mereka akan segera kembali baikan, jadi jangan ikut terpancing ribut. Anaknya sudah lupa,emaknya masih nyesek sampai makan dua porsi nasi padang ;p.

Pertanyaan-3

Assalamu’alaikum, tema kulwap selalu oke. Mau tanya, saya punya 2 keponakan perempuan. Yang besar 5 tahun, yang kecil 27 bulan. Nah yang sering saya lihat kakaknya selalu mengalah walau terlihat terpaksa. Adiknya kalau lihat Si Kakak pakai baju yang bagus langsung main tarik aja, kalau nggak dituruti maunya, tantrum. Belum lama ini ada kejadian mereka akan pergi ke pesta. Pas adiknya lihat Si Kakak sudah cantik dengan gaus pestanya, langsung dikejar sambil narik baju Si Kakak, maunya baju Si Kakak dilepas. Jadi drama gitu. Akhirnya Si Kakak ngambek nggak mau ikut kalau harus pakai baju yang lain. Ayah si anak-anak tadi jadi ikutan emosi. Bubar deh!

Bagaimana tips mengatasi perilaku demikian? Si Adik masih kecil tapi powerfull, saya suka kasihan lihat kakaknya. Kalau bersaudara beda jenis kelamin menurut pengalaman saya jarang ada kecemburuan, mungkin karena beda perlakuan. Atau memang tetap ada kecemburuan? Mohon tips dari Bu Elia dan Bu Anna. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia

Adik yang lebih powerfull dan kakak yang pengalah. Posisi anak yang lebih tua secara tidak sadar sering dikondisikan yntuk selalu sedikit “mengalah”. Pembiasaan seperti ini tanpa sadar “menguatkan” posisi anak yang satu dan “melemahkan” posisi anak yang lain.Tentu saja ini bukan sikap yang adil untuk pembentukan kepribadian anak. Semua yang tidak seimbang selalu ada eksesnya.

Untuk itu , sebaiknya Si Kakak diajarkan sikap asertif, yaitu belajar untuk tidak mengikuti semua kemauan orang lain, dalam hal ini adiknya.  Usia di atas 2 tahun sudah dapat diberikan pengertian mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mungkin adiknya akan mengamuk dan menangis, hal ini pun suatu yang wajar. Tapi, Si Adik pun perlu belajar kecewa. Hal tersebut merupakan embrio dari pembentukan kontrol diri anak. Suatu keinginan itu tidak dapat terpenuhi atau boleh jadi tertunda.

Sisi positifnya, buat Si Kakak akan membangun sikap asertifnya, dan tidak selamanya memposisikan diri sebagai “korban”.

Jawaba Anna Farida

Nah, untuk drama kakak yang selalu mengalah, saya juga punya pengalaman. Suatu malam … sepi … gelap … (dusta besar, lampu menyala, kok), saya dengar suara gedebak-gedebuk. Ternyata suara kaki Ali (saat itu usia 9 tahunan). Dia sedang baca doraemon. Saya tanya kenapa sudah malam masih baca? Katanya kalau siang atau sore tidak sempat, selalu repot sama adik-adiknya.

Walah!

Saya ajak Ali merumuskan waktu yang khusus buat dia, dan di waktu itu dia tidak diganggu adiknya. Jam 4-5 ore adalah waktu spesial buat Ali. Dia bebas main tanpa direcoki, adik-adiknya saya ajak main.

Ini sukses seminggu, dan sesudahnya dia cari lagi adik-adiknya—memang main itu kan serunya di bertengkar dan rebutannya :p.

Nah, untuk adiknya perlu mulai diajarkan batasan mana milik dia, mana milik orang lain. Sampaikan ketika dia tidak sedang tantrum. Menasehati anak tantrum tidak akan efektif.

Mulai dengan memberi label nama pada benda milik masing-masing—konsekuensinya, orang lain pun tidak boleh mengganggu barang dia.

Setelah kepemilikan jelas, contohkan kepada Si Adik untuk minta izin ketika hendak pinjam. Contohkan terus, terus, erus, tidak bisa sekali langsung jreng! Lama kelamaan dia akan belajar menghormati barang milik orang lain.

 

Pertanyaan-4

Saya punya 2 anak laki-laki, 13 tahun dan 9 tahun. Si Adek dulu lahir prematur dan sempat kritis. Si Kakak sangat perhatian (ngemong) adiknya ketika masih sama-sama kecil. Sekarang Kakak sering bilang menyesal punya adik karena sering mengganggu terutama berebut komputer untuk main game. Terkadang saya amati Si Kakak sepertinya menyimpan dendam ke adiknya. Sehingga semua hal yang dilakukan adiknya itu salah. Dimarahin melulu adiknya. Saya khawatir Si Kakak beneran menyesal punya adik atau beneran benci ke adiknya. Walau terkadang akur juga sih. Apakah itu beneran benci ya? Tanda kemarahan sibling yang wajar dan berbahaya seperti apa ya? Saya ingin mereka akrab sampai tua.

Jawaban Bu Elia

Sibling rivalry ini tidak bisa disepelekan dan dianggap sebagai hal yang remeh. Dasar dari tumbuhnya perasaan ini bermula dari adanya rasa kecemburuan antara saudara. Hal ini bisa terjadi karena mereka merasa tersaingi dan harus berbagi kasih sayang orangtua dengan saudara.

Jika dibiarkan terus menerus, akan terjadi sibling rivalry. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena bisa membuat anak tumbuh dengan kebencian terhadap saudara kandungnya.

Untuk itu dalam situasi seperti ini, orangtua menjadi cukup penting berperan sebagai katalisatornya. Menjadi perekat atas jarak emosi mereka. Tentu saja dengan cara adil dan tidak memihak, sampaikan bahwa keduanya merupakan anugerah Allah yang sangat berarti.

Tanda-tanda yang wajar, jika bertengkar mudah kembali akur. Berdasarkan pengamatan orangtua, anak yang bersaing tadi tidak menunjukkan ada yang dirugikan, khususnya fisik dan mental anak, anak-anak tampak bahagia dan tidak rewel.

Jawaban Anna Farida

Bu, Pak, pernahkan mengucapkan terima kasih pada Kakak yang telah merawat adik di masa bayinya?

Pernahkan adik yang sudah 9 tahun diajak berterima kasih dan bersyukur punya Kakak yang penyayang?

Rasa menyesal ketika sang adik bersikap tidak pada mestinya itu wajar. Kakak santai saja ketika orang lain mengganggu, tapi bete setengah mati kalau adik yang berulah. Kita senyum saja ketika anak orang lain bersikap kurang pantas, tapi langsung naik tegangan begitu anak kita melalkukan hal yang sama. Iya enggak? Hehe, saya sih iya.

Jadi ketika Kakak seperti menyesal, kita bisa netralisir dengan ucapan terima kasih. Ajak dia bicara tentang apa arti keluarga.

Blood is forever.

Hubungan darah itu selamanya. Kita bisa tetap bersama karena kita membuka diri untuk darah daging kita sendiri. Mungkin anak 13 tahun menganggap kita lebay menyampaikan hal seperti itu. Tapi saya selalu sampaikan hal ini kepada anak-anak entah mereka paham atau tidak di usianya yang sekarang.

Saya baru saja memetik buahnya ketika anak remaja saya sakit dan saya urus sampai keperluan kamar mandinya.

Dia bilang, “Hanya Ibu yang mau melakukan seperti ini.”

Kata saya, “Itulah artinya blood is forever. Itu gunanya keluarga. Saat susah senang, saat baik atau nyebelin, saat luang atau saat merepotkan.”

 

Pertanyaan-5

Mau tanya maksudnya mencontohkan kepada anak cara memperoleh perhatian yang positif itu bagaimana ya? Kadang anak-anak suka cari perhatian dengan cara mengganggu saudaranya. Ini menjadi PR bagi saya dan suami.

Jawaban Bu Elia

Agar anak dapat mencari perhatian yang sifatnya positif  berikan penguatan pada perilaku positif dan memberikan konsekuensi pada perilaku negatif.

Misalnya, ketika anak berperilaku sopan, maka berikan pujian secara spesifik untuknya. Pujian itu merupakan reward atas perilaku positif si anak, sehingga anak menjadi lebih tahu perilaku positif apa yang paling diharapkan. Maka terjadilah penguatan perilaku positif dan biasanya perilaku ini akan berulang menjadisebuah kebiasaan.

Adapun perilaku negatif, sebaiknya diberikan konsekuensi sehingga anak menjadi tahu hal yang boleh dan tidak boleh. Jika dibiarkan maka akan terjadi penguatan perilaku negatif. Artinya kita memberikan reward terhadap perilaku negatif, akhirnya terjadi pembiasaan perilkau negatif.

Jawaban Anna Farida

Apa yang diharapkan anak ketika mencari perhatian? Reaksi!

Apa yang terjadi ketika berbuat kurang baik? Emak Bapak marahà itu reaksi dan menyenangkan buat dia.

Apa yang terjadi ketika dia berbuat baik? Emak Bapak senyum saja à reaksinya kurang heboh, dan baginya tidak menyenangkan.

Waktu adik dia ganggu, Ibu langsung menyanyi suaranya melengking hingga 4 oktaf. Ketika adik dia ajak main, ibu sibuk ikut kulwap—ehhh.

Jadi, berikan sambutan yang layak ketika akan berbuat baik. Dia akan ingat, dan dia akan berusaha melakukannya lagi. Ucapkan terima kasih ketika dia baik kepada saudaranya, katakan bahwa mereka adalah tim yang kompak, dan Bapak Ibu beruntung punya anak seperti mereka.

Pertanyaan-6

Ada murid yang tidak mau melanjutkan ke SD, maunya di PAUD saja. Bagaimana ini, apakah hanya cari perhatian? Apa sebabnya kalau ada anak yang hobi mengadukan temannya?

Jawaban Bu Elia

Untuk anak yang sudah memasuki usia SD, sudah seharusnya melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Karena setiap anak harus ada di usia sebayanya. Jika anak ingin tetap di PAUD, kemungkinan besar ada alasan utama yang terkait perkembangan sosial emosinya.

Usia 6-7 tahun, usia diantara itu sudah saat nya memasuki fase stadium belajar yang lebih formal. Anak dimotivasi untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara emosi sosial sekaligus akademisnya.

Jawaban Anna Farida

Untuk anak yang tidak mau melanjutkan ke SD, cek apa sebabnya. Mungkinkah dia punya pilihan pendidikan yang lain? Dia memilih jadi homescholler, misalnya.

Apakah dia melihat kakaknya atau temannya mengalami hal yang tidak mengasyikkan di SD. Bbisa jadi hal itu membuatnya tidak ingin mengambil jalan itu. Jadi cek dulu apa sebabnya. Tidak selalu caper, mungkin laper? Ealaah apa sih?

Anak mengadu perlu dilihat apa yang diadukannya,bukan siapa yanag diadukan. Kepada mereka juga dicontohkan hal yang sama. Saya pernah mengajar di SD, dan anak mengadu itu bisa 7 kali sehari. Saya akan tanya APA, bukan SIAPA.

Saya fokus di perkara (#halah) bukan yang diadukan, bukan orang yang dia adukan.

Misalnya:

Anak: “Bu, Anto gangguin aku melulu.”

Guru:  “Gangguin apa?”

Anak: “Ambil pensilku”

Guru:  “Bagaimana caranya agar pensilmu aman?”

Anak: “Aku simpan di tempat pensil Tapi Anto ambil melulu, Bu.”

Guru: “Caramu menyimpan di tempat pensil sudah benar. Coba kamu temukan cara lain agar orang lain tidak sembarangan ambil pensilmu.”

Dia akan fokus ke pensil, bukan Anto. Karena dia kan segera main degan Anto yang tadi dia adukan dalam waktu kurang dari 10 menit.

Demikian kulwap seri “Aku Cemburu”, semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangan, terima kasih atas pertanyaan yang penuh inspirasi, semoga menjadi wawasan bagi orang tua lain. Menebar manfaat bersama-sama demi keluarga yang sehat lahir batin.

Sampai jumpa di Kulwap-6, boleh usulkan tema.

Ada yang masuk tentang TTM- Teman Tapi Mesra, TTS juga ada. Apa hayo, TTS?

Salam Sehati.

Kulwap ini disponsori oleh Parenting With Heart, Karya Elia Daryati dan Anna Farida.

ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: dokumen pribadi
Advertisements

6 thoughts on “Sibling Rivalry

  1. Pingback: Aku Cemburu | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s