Tanya Jawab Seputar Remaja (2 Habis)

ilustrasi: 123rf.com
ilustrasi: 123rf.com

Kehebohan Kulwap Keluarga Sehati bertema remaja masih berlangsung, lho! Apalagi di WhatsApp kan banyak emoticon dan gambar-gambar lucu yang menjadikan diskusi hidup! Ada pohon kelapa yang ikut narsis, ada cipratan air karena bersentuhan dengan kemarahan dan kesabaran, ada camilan yang bikin nafsu makan meningkat, padahal lagi niat banget mengurangi berat badan, dan masih banyak lagi yang lain.

Banyaknya pertanyaan dari anggota kulwap, maka sesi remaja kali ini di bagi menjadi dua.

Berikut rangkumannya sesi kedua:

Anna Farida:

Salam Bapak Ibu, kita bertemu lagi dalam Kulwap-3 Keluarga Sehati, masih membahas tema remaja.

Berikut ini jawaban atas pertanyaan yang masuk via Admin. Beberapa di antaranya masih berupa jawaban terbuka, masih kita diskusikan bersama.

Btw (by the way), saya sering menyapa dengan panggilan “Bu”, jadi maaf jika ternyata yang bertanya adalah Bapak 😀 Pertanyaan kan masuk ke saya tanpa nama—which is very good.

Insya Allah Sabtu depan kita akan ganti membahas tema pernikahan. Sudah ada dua usulan tema masuk, silakan jika ada usul lagi. Biar rumpi jadi seru, obrolan jadi bermutu. Ehm!

PERTANYAAN-11.

Saya ibu tiri dari seorang anak gadis umur 13 tahun, klas VIII sekarang. Anaknya manis, kami cukup dekat dalam arti pada saat bersama kami tidak tampak seperti anak dan ibu tiri kalau dilihat orang lain. Anak saya ini hanya menginap di rumah saat weekend saja, sehari2 dia di rumah ibu kandungnya. Oleh ibunya, dia sangat diproteksi, pulang pergi sekolah diantar.
Nah, ibunya tidak membuat anaknya mandiri, asumsi saya beliau takut anaknya jadi jauh dan tidak memerlukan beliau lagi. Sedangkan saya justru ingin anak kami itu mandiri. Orang tua kan tidak selamanya ada kan ya?

Anak kami ini tampaknya ingin menjaga perasaan ibunya dan saya pada saat bersamaan. Jadi ada saatnya dia terbuka banget sama saya, tapi begitu ibunya monitor, sms atau telfon, tiba-tiba dia seolah menutup pintu, dan saya tidak bisa masuk. Dinding antara kami jadi menebal.
Bagaimana menghadapinya ya? Saya ingin dekat dan mengajarinya mandiri, tanpa ibunya merasa dicampuri atau dijauhkan dari dia?
Sebagai catatan,hubungan saya dan ibu kandungnya sangat tidak baik.

JAWABAN BU ELIA

Berinteraksi dengan remaja memang sifatnya tarik ulur, termasuk dalam pola berkomunikasi. Mereka umumnya juga mengalami pasang surut perasaan. Jadi, jika pada awalnya Ibu memiliki hubungan yang baik dengan putri Ibu tersebut, walau kadang dia menciptakan jarak seperti “dinding tebal”, tenang saja. Hal ini biasanya bersifat sementara. Pada akhirnya anak akan merasa bahwa ketulusan cinta Ibu sebagai ibu sambung, kemauan Ibu mengawal dia agar memiliki disiplin, dia rasakan sebagai bentuk kasih sayang yang benar-benar tulus dari hati terdalam. Kasih sayang inilah yang akan tetap dia rasakan.

Tetap lakukan komunikasi tanpa paksaan dan hilangkan rasa curiga bahwa anak bersikap demikian karena pengaruh ibu kandungnya. Yang terakhir, berikan cinta tanpa syarat, Insya Allah komunikasi akan kembali lancar.

JAWABAN ANNA FARIDA

Remaja bersikap seperti roller coaster bukan karena dia anak tiri. Mereka mengalami pasang surut perilaku karena mereka remaja. Itu prinsip yang harus dipegang. Memang, tidak dimungkiri bahwa status anak tiri bisa menjadi salah satu variabel yang menentukan pola komunikasi antara Ibu dan putri Ibu, tapi bukan penentu utama. Jadi sekali lagi, komunikasi tersendat bukan karena dia anak tiri tapi karena dia remaja. Semangat, ya, Bu. Tidak semua perempuan punya kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan seorang anak pada kebaikan pernikahan.
PERTANYAAN-12
Saya ortu dengan banyak anak ( 7 orang : usia antara 17-5 tahun).
Mereka sebagian sekolah di asrama dengan intensitas ketemu paling cepat 2 pekan sekali.
Selama ini komunikasi dengan anak yang jauh by phone, dan wa (WhatsApp) grup keluarga.
Tapi meskipun jauh, semua yang ada di materi, saya pernah mengalami. Gejolak terutama terjadi di masa awal aqil baliq yaitu saat kelas 6 SD. Beruntungnya saat mereka masih di rumah, jadi bisa merasakan bagaimana anak mulai lebih suka jalan sama teman, nge-mall atau nonton, mulai izin nginap di rumah teman, mulai suka sama lawan jenis, dll.

Kami mempunyai batasan-batasan yang sudah ditanamkan sejak sebelum mereka baliq, antara lain anak perempuan harus menutup aurat, tidak boleh jalan jauh sendirian dan tentunya tidak ada tradisi pacaran dlm keluarga. Anak-anak sangat dekat dengan kami, sejauh ini masih terbuka dalam hal apapun termasuk ketika suka dengan lawan jenis. Tapi tetap saja sebagai ortu, ketika anak beranjak dewasa, galau tetap ada. Adakah yg disembunyikan anak-anak dari kami terutama saat jauh2 seperti ini.

Pertanyaan saya,
1. Sebagai ortu tentunya pengen tahu detail tentang anak-anak tanpa ada yang disembunyikan dari kita, padahal mrk juga punya hak, mempunyai privasi.

  1. Bagaimana menghilangkan rasa bersalah ketika anak kecewa dengan kita, saat izinnya tidak kita acc meski sudah kita jelaskan alasan-alasan mengapa tidak di izinkan.

JAWABAN BU ELIA

Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan anak, tentu secara naluriah kita harus memiliki kepercayaan kepada mereka. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga punya privasi. Ini harus dihargai. Jika privasi mereka dihargai, mereka akan menghargai kepercayaan yang diberikan oleh orang tua. Sebenanya memang banyak orang tua yang tidak mengetahui rahasia anak-anak, terutama remaja, ya. Tapi ketika anak dan orang tua bisa jadi sahabat dan punya hubungan dekat, tak perlu sangsi. Yakinlah bahwa tidak ada dusta di antara kita. Sebagai orang tua, kita perlu berdamai dengan perasaan-perasaan curiga semacam ini.

Berikutnya, jika kita sudah berkeputusan dengan segala pertimbangan yang tepat, dan sudah menjelaskan alasannya kepada anak-anak, mengapa harus merasa bersalah? Mungkin anak kecewa sejenak, namun pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa kita melakukan langkah yang benar. Jadi tak ada alasan untuk menyesal, justru seharusnya kita merasa lega karena memiliki prinsip yang jelas untuk menjaga kebaikan anak.

JAWABAN ANNA FARIDA

Wow, tujuh anak. Ibu ini punya energi positif yang melimpah, insya Allah.

Saya punya 4 anak (2 remaja, 1 mengaku masih anak-anak, 1 memang masih anak-anak), saya bekerja dari rumah, anak-anak saya tinggal rumah. Walaupun begitu, saya tetap merasa bahwa mereka punya rahasia, bukan hanya ketika mereka di sekolah, bahkan ketika sedang di rumah.

Sepakat dengan Bu Elia, memberikan privasi kepada anak adalah salah satu cara membangun rasa saling percaya. Tanpa mengorek hal yang memang ingin mereka simpan secara pribadi, saya membangun keterbukaan komunikasi, dengan mendahului bercerita. Maklum, ya, saya ini ceriwis. Sakit gigi pun tetap ceriwis.

Apa pun saya ocehkan ke anak-anak, dan sekali waktu ocehan itu kena sasaran. Menjadi ibu selama belasan tahun tentu kita hafal raut muka atau bahasa tubuh anak yang kaget, tersipu, atau bahkan merasa bersalah, dong. Prinsipnya, pancingan yang saya lempar mereka sambut dan tanpa diminta, mereka akan cerita.

Misalnya, saya cerita saya saat terpesona oleh kakak kelas di SMP (di sini ada teman SMP saya, plis jangan nebak-nebak, ya), atau saat saya diam-diam naik bis ke suatu kota dan jalan-jalan ke mall yang baru dibuka dan kena marah sesudahnya.

Ocehan orang tua yang curhat kepada anak sejauh ini manjur, sih. Bahkan ketika saya lama tidak curhat, mereka akan mancing-mancing. Rumus kasih-kasih-terima-terima-nagih-nagih dari Bu Elia berlaku juga untuk hal ini.

PERTANYAAN-13
Mohon sarannya, dalam kondisi anak sudah remaja, apabila mengalami hal ‘ijin nginep, main ke mall, nonton, dll,” sebaiknya sikap kita bagaimana?

Saya pernah mengalami hal tersebut dan biasanya saya ijinkan dengan terlebih dahulu menanyakan tujuan menginap serta minta nama, no telepon alamat tempat menginapnya (anak yg laki-laki).

Utk yang nonton (anak perempuan) saya melakukan hal yg sama, minta siapa-siapa aja temannya, nonton film apa, di mana dan pulang jam berapa? Benar tidak ya apa yang saya lakukan? Hatur nuhun.

JAWABAN BU ELIA

Sikap Ibu sudah cukup tepat dengan bertanya maksud dan tujuan nonton, menginap, dengan berbagai data pendukungnya. Namun demikian, setiap keluarga memiliki batasan yang berbeda terkait izin menginap ini. Sebenarnya yang lebih penting adalah cara bertanya. Jangan bersikap seperti sedang menginterogasi, harus lebih ke arah konfirmasi—artinya, orang tua menegaskan kebijakan yang berlaku dalam keluarga dan memastikan anak ikut menjalankannya. Dengan demikian, anak diharapkan menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

JAWABAN ANNA FARIDA

Teknisnya begini, Bu. Jika anak menginap, pastikan anak paham bahwa izin diberikan sebagai bentuk kepercayaan. Ngaku, nih. Saya termasuk emak yang mahal mengeluarkan paspor menginap untuk anak-anak. Tapi, rumah saya sangat terbuka untuk teman anak-anak yang menginap.

Jika memang harus menginap—entah karena mengerjakan tugas atau sekadar ingin nonton bola bersama–sampaikan, “Ibu/Ayah percaya kamu akan menjaga diri selama di rumah orang lain.”

Trik sederhana ini juga bisa digunakan.”Titip oleh-oleh ini ke ibu temanmu.” Biasanya ibunya akan SMS bilang terima kasih. Menjalin pertemanan dengan orang tua teman juga sangat penting. Anak biasanya hanya menginap di teman tertentu, nggak akan semua teman sekelasnya dia inapi. Mau nginep atau survey?

Nonton? Prinsipnya sama, sih. Sejak dini, anak memang harus dikasih pengertian tentang pentingnya memiliki nilai yang kuat ketika mereka sedang sangat dekat dengan orang lain (dalam hal ini teman).

Cek dengan pertanyaan spontan sederhana, “Film apa tadi? Rame nggak? Ceritanya apa? Kamu suka filmya? Ada yang seru di gedung bioskop?”Atau “Masak apa ibunya temanmu semalam? Titip salam nggak beliau sama Ibu? Siapa saja yang ada di rumahnya?” — eeehhh itu ditanyakan salah satunya saja, lho ya, jangan semua. Nanti jadi wawancara, deh. Maksud saya, pertanyaan sederhana itu adalah bentuk kepedulian pada kegiatan anak, sekaligus meneguhkan keyakinan anak bahwa kita percaya dan bahwa dia harus menjaga kepercayaannya itu.

Remaja itu peka. Emosinya sedang hidup-hidupnya, jadi sebenarnya saat inilah yang tepat untuk menyentuh hati sekaligus isi kepalanya.

PERTANYAAN-14

Bagi saya sebagai seorang muslimah hendaknya menutup auratnya apabila sudah baligh. Saat ini putri saya menggunakan jilbab hanya saat dia sekolah dan bepergian (jauh). Selebihnya dia lebih nyaman tidak menggunakan jilbab. Kami sudah memberikan pengertian.  Akhirnya dia “mencuri curi” untuk tidak pake jilbab. “Kata orang-orang rambutku bagus, hitam, tebal dan panjang,” kata putri saya. Bagaimana kami harus menyikapinya?

JAWABAN BU ELIA

Kesadaran menutup aurat sangat terkait dengan kedekatan seseorang dan pencipta-Nya. Dia mau melakukannya ketika pergi ke sekolah dan saat bepergian sudah alhamdulillah. Selanjutnya, ketika dia sedang tidak memakai kerudung, pakaian harus sopan. Ciptakan iklim di keluarga untuk agar lebih dekat dengan Zat yang menciptakan aturan jilbab itu sendiri. Dekatkan anak dengan Allah, sehingga dengan kesadarannya dia akan taat pada perintah-Nya dan malu melanggar larangan-Nya. Di atas segalanya, doa adalah kunci dari semua ikhtiar. Percayalah, Ibu, anak yang baik akan lebih mudah memahami kebaikan, apalagi jilbab adalah bentuk kebaikan Allah untuk menjaga aurat muslimah yang sudah baligh.

JAWABAN ANNA

Saya memilih keyakinan dan berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Awalnya tentu keyakinan saya, dipilihkan oleh orang tua. Karenanya, saya dan suami berusaha agar anak-anak memiliki pemahaman yang selaras dengan pemahaman yang kami yakini kebenarannya itu hingga terbukti sebaliknya. Ini berlaku dalam segala aspek kehidupan, termasuk pilihan pendidikan, pola komunikasi, gaya hidup. Termasuk kerudung, saya ajarkan anak perempuan saya menjalankannya sebagaimana saya biasakan dia cuci tangan pakai sabun, memilih makanan yang sehat, atau gosok gigi sebelum tidur (ini susah setengah mati, karena sering ketiduran tanpa ketahuan—Lahhh, emaknya ke mana ajjaaa?). Jadi, saya jadikan kebiasaan menutup aurat sebagai gaya hidup.

Saya mengenal keluarga Kristen yang tidak membawa anak-anak ke gereja dengan alasan tidak mau mendiktekan keyakinan orang tua kepada anak. Ada keluarga Muslim yang tidak mengajak anak salat dengan alasan yang sama. Mereka percaya bahwa keyakinan yang ditemukan sendiri akan lebih matang. Saya harga pendapat ini. Btw saya senang, lho, anggota kulwap kita beragam pula dari sisi keyakinan. Salam damai.

Namun demikian, saya yakin bahwa agama anut itu baik, aturan yang ditetapkan pun baik. Sebagai orang tua, saya pun ingin anak mendapatkan yang terbaik. Andaipun suatu hari nanti mereka menemukan bahwa keyakinan ini salah, saya akan terbuka berdiskusi dengannya sebagai sesama orang dewasa. Nah, saat mereka masih dalam asuhan, ya saya ajarkan apa yang saya yakini baik. Ini prinsip yang saya pegang. Rada konservatif, ya? Biarin, deh. Kita boleh berbeda huehehe.

Untuk remaja, ajak mereka diskusi, karena dalam hal apa pun, memaksa tak pernah jadi solusi. Mungkin bisa dijembatani dengan ungkapan seperti berhijab kan tetap bisa trendy—putri bungsu saya lebih pintar memadupadankan kostum dibanding saya. Lebih mecing (matching), gituh!

Ajak dia mendesain bajunya, memilih gaya kerudungnya. Dekatkan dia dengan komunitas yang membuatnya tergerak untuk konsisten dengan kerudungnya, bantu dia merawat rambutnya agar tetap sehat dan indah. Pakai kerudung bukan berarti nggak pernah nyisir, kan? Memang tidak mudah menciptakan gaya hidup—sebagaimana saya susaaah berolah raga #curhat. Walaupun begitu, kata Bu Elia, kunci ikhtiar adalah doa. Ciptakan suasana yang membuatnya nyaman sebagai muslimah, genapkan dengan doa.
PERTANYAAN-15
Apa penyebabnya anak sulung saya (kuliah semester satu) jaraaaang sekali cerita-cerita. Baik itu tentang aktifitas sekolah/kampus ataupun hal remeh temeh tentang kesehariannya?
Kalau ditanya dia cenderung menjawab pendek dan normatif.
Apa dia ndak pengen ya cerita ke ortunya gitu?

JAWABAN BU ELIA

Setiap orang memiliki kebutuhan dan cara yang berbeda untuk mengungkapkan perasaannya. Ada yang introvert ada yang ekstrovert. Jika dia mendadak introvert padahal sebelumnya selalu terbuka kepada orang tua, kita perlu introspeksi, adakah persoalan yang muncul sebelumnya?

Namun jika sebelumnya anak memang cenderung tertutup, bicaranya pendek-pendek atau cenderung formal, bisa jadi itu adalah karakternya. Yang harus kita pahami, mau introvert atau ekstrovert bukan masalah, yang penting anak bahagia. Pada akhirnya, sikap berdamai dari orang tua yang mau menerima anak apa adanya akan membuat anak tetap dekat walaupun dia tak banyak bicara.

JAWABAN ANNA FARIDA

Ih, sepakat sekali. Pernah ada orang tua bertanya kepada saya, “Mbak Anna, kata gurunya, anak saya tidak pernah mau gaul dengan temannya. Saat istirahat, dia lebih banyak di kelas. Kadang baca, ngemil, atau tidur.”

Saya minta sang ibu mencari informasi, siapa tahu anaknya milih di kelas karena di-bully, karena ngantuk gara-gara begadang, atau memang punya kondisi kesehatan yang kurang baik. Setelah dipastikan semua oke saja, saya bilang persis seperti yang disampaikan B Elia, “Yang penting dia bahagia.”

Kepada anak-anak yang introvert, kita tidak juga lantas jadi menahan diri dan berkomunikasi. Saya akan tetap ceriwis ketika berhadapan dengan orang yang pendiam, sampai dia ikut buka mulut lebih banyak atau saya yang tutup mulut lebih sering. Salam buat si mahasiswa, ya, Bu. Anak sulung saya juga mulai kuliah tahun ini.

PERTANYAAN-16

Saya punya anak cowok 14 thn. Sikapnya sering membuat saya marah dan sedih. Dia suka melawan, kalo dimintai tolong suka susah, ke adiknya suka kasar. Pokoknya saya sering bingung menghadapi anak ini. Saya jadi sering marah juga. Mohon bantuannya. Terimakasih.

JAWABAN BU ELIA

Marah dan marah-marah adalah dua hal yang berbeda. Biasanya, marah adalah bentuk sikap atau ekspresi pertahanan diri karena ada sesuatu yang kurang menyenangkan, sedangkan marah-marah terjadi karena ada masalah dengan suasana hati/mood.

Anak yang mudah marah biasanya mempunyai perasaan yang sensitif dan mudah tersinggung, namun sekaligus mudah tersentuh perasaannya.

Dengan mengenal karakter anak seperti ini, orang tua akan mempelajari “cara” mendekati anak yang sensitif. Jika kita mendekati api, tentu bahaya jika sambil membawa bensin. Bawalah air untuk memadamkannya. Hal yang sama bisa kita lakukan ketika mengatur arah emosi anak kita.

JAWABAN ANNA FARIDA

Saya belajar komunikasi asertif kepada Bu Elia. Ketika ada yang marah, yang kita lakukan adalah tidak ikut marah. Ketika menjadi orang tua, sebagian menekan kemarahan anak dengan kemarahan yang lebih besar diperkuat oleh kekuasaan sebagai orang tua. Meminta anak berhenti marah-marah sambil marah adalah tindakan paling konyol yang kadang kita lakukan sebagai orang tua (lagi-lagi kita—saya aja kali, yaaa)

Tentang sikap kasar, kita tidak boleh langsung menuding dia, karena anak adalah cermin orang tua dan lingkungan terdekatnya. Coba cek, siapa lingkungan terdekat yang turut membentuk karakternya. Apakah lingkungannya menindasnya, sehingga dia cari cara lain untuk melampiaskan kemarahan kepada adiknya yang lebih kecil, atau kepada ibunya yang selalu akan memaafkannya. Apa yang bisa dilakukan lingkungan ini untuk membantunya kembali jadi penyayang—karena fitrah anak adalah kebaikan.

Tentang tanggung jawab, mari kita definisikan ulang.

Tanggung jawab itu kita berlakukan kepada anak demi kepentingan mereka atau kepentingan orang tua. Agar mereka berlatih atau agar kerjaan kita berkurang—ini harus terang benderang dulu.

Remaja kadang masih merasa bahwa dirinya adalah anak-anak yang tetap harus dilayani dan dibantu, jadi ketika orang tua minta bantuan, dia bingung—lho, jadi aku sudah tidak boleh dibantu dan justru harus membantu, ya? Waduh nggak enak banget, dong.

Proses ini kadang tidak smooth peralihannya, jadi yang muncul adalah protes.

Usul saya, tentang tanggung jawab, berikan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan anak. Jika sejak kecil tidak biasa cuci piring misalnya, jangan tiba-tiba dikasih bak cuci yang penuh. Walah, bisa-bisa 2 piring retak 3 cangkir pecah “tanpa sengaja”, tuh!

PERTANYAAN-17

Anak  saya tadinya ikut Taekwondo baru melewati satu tingkat. Bapaknya pengennya lanjut terus, tapi si anak ogah ogahan. Saya amati memang tidak begitu minat di olahraga itu. Akhirnya dia nggak ikut lagi sampai sekarang. Saat ini sedang mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Saya setuju bahwa menjaga fisiknya supaya tidak kelelahan. Berbagai aktivitas yang dia ikuti sepertinya hanya karena ikut-ikutan temannya.

Ini belum sempat terjawab oleh Bu Elia, tampaknya terlewat karena pertanyaan banyak sekali. Saya jawab, semoga berkenan.

JAWABAN ANNA FARIDA

Remaja sudah mulai bisa diajak bertanggung jawab dengan pilihannya. Jadi, ketika dia merasa tidak cocok dan ingin ganti acara, gantinya apa dan sejauh mana minatnya. Temani dia untuk memilah dan memilih kegiatan sesuai dengan kondisi fisik, jarak, waktu, juga biaya. Tentang anak yang ikut kegiatan  karena teman-temannya saya kira wajar, karena bagi sebagian besar remaja, pertemanan sedang menjadi prioritasnya.

Ketika anak mau pilih kegiatan, ajak bikin check list: kelebihan dan kekurangan kegiatan tersebut. Sampaikan bahwa pilihannya melibatkan orang lain dalam hidupnya, dong, ah. Ada yang harus ngantar? Ada yang harus bayar? Apa konsekuensinya jika waktu luangnya terambil untuk berkegiatan?

Sepakati apa konsekuensinya jika dia mundur setelah memilih. Berapa kali dia boleh ganti. Menurut saya ini penting bagi remaja untuk mulai konsisten dengan pilihannya, setidaknya dia punya target untuk diselesaikan sebelum beralih.
PERTANYAAN-18
Mulai usia berapa anak diberikan penjelasan secara detail bagaimana proses pembuahan terjadi? (terkait dengan jawaban anak 11 tahun mempraktekkan dengan jari tangannya bagaimana intercourse terjadi).
JAWABAN BU ELIA

Proses reproduksi sudah diajarkan sejak kelas 4 SD. Jika anak 11 tahun menunjukkan isyarat jari sebagai simbol terjadinya pembuahan, boleh jadi ini terkait dengan apa yang dia lihat di gambar atau film yang berkaitan dengan pornografi.

Dari kecil atau usia balita pun anak sudah harus dijelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai pelajaran seks yang pertama. Selain itu bisa juga dijelaskan proses pertumbuhan manusia, karena proses ini memiliki penjelasan yang berbeda dengan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Usahakan selalu terbuka, sehingga anak tidak sembarangan mencari referensi sendiri karena orang tuanya bisa menjadi sumber referensi yang memadai.

JAWABAN ANNA FARIDA

Beberapa teman berkata saya tergolong berani dalam hal ini. Anak masuk usia baligh di usia 9 untuk perempuan, 13 untuk laki-laki. Ada perbedaan pandangan terkait usia, tidak ada patokan pasti, setiap anak berbeda, jadi angka itu hanya kisaran. Nah, sebelum mereka baligh, mereka sudah biasa mendengar istilah menstruasi dan mengapa bisa terjadi. Saya selipkan pesan sponsor seperti, “Nanti kalau istrimu mens, jaga perasaannya, ya.” Atau pesan cinta lingkungan, “Nanti ajari istrimu pakai menspad yang bisa dicuci, jadi tidak bikin sampah pembalut yang berlebihan.”

Bahas menstruasi dengan anak 9 tahun pakai bahasa “nanti ajari istrimu” paling sering bikin mereka nyengir. Saya hanya melihat kalimat ini unik, jadi mereka akan ingat. Dan memang tanggung jawab sebagai suami kan bisa dilatih sejak dini, jadi setelah menikah pun mereka siap tidak gagap—siapa yang berminat besanan sama saja boleh japri #halaaaahhh.

Atau pesan kesehatan, “Jaga wilayah lipatan paha, di situ rawan jamur … dan banyak lagi bahasan lain untuk masuk ke pendidikan seks.

Artinya, sejak mereka masih belum puber, bagi saya, membahas hal yang paling pribadi bukan sesuatu yang aneh. Keterbukaan ini modal awal yang sangat berharga dan memudahkan saya membahas tanggung jawab anak menjaga dirinya sendiri.

PERTANYAAN-19

(Ini pertanyaan spontan di grup Kulwap-2, pas saya ronda. Jadi saya saja yang sempat jawab).

Anak saya putri usia 12 th ketahuan sudah pacaran, kemarin saya terlanjur marah besar (saya kalau marah mesti kurang kontrol). Bagaimana caranya melarang pacaran?
JAWABAN ANNA FARIDA

Ajak diskusi, menurut dia pacaran itu apa, ajak buat daftar kebaikan dan keburukannya. Dengarkan dia dulu, jangan langsung ditutup dengan kesimpulan Ibu bahwa pacaran itu haram, misalnya. Remaja kadang pacaran sekadar karena ikut-ikutan, biasanya karena gengsi disebut jomlo.  Perasaan ini mesti dihargai, dijadikan jalan diskusi. Kalau dia bilang pokoknya suka sama cowoknya,  tanya kenapa suka,  apa kelebihan dia apa kelebihan pacarnya. Prinsipnya,  ajak terus dia bicara, biar terbuka dulu alasannya pacaran buat apa. Sambil masak, sambil santai, jadi bukan interogasi. Setelah dia berpendapat, baru Bunda sampaikan pandangan Bunda, bagian mana yang tidak klop,  bagaimana membuatnya akur. Kalau alasan pacaran saja dia tidak tahu, bagaimana mau memahamkan bahwa Bunda tidak sepakat. Sebenarnya dengan diajak diskusi, anak paham bahwa memang pacaran di usia ini enggak penting banget, gitu. Enggak penting buat DIA,  bukan sekadar karena Mama nggak bolehin.

  PERTANYAAN-20

Anak saya yang nomor dua usia 15 tahun. Dia termasuk anak yang ambisius. Semua maunya harus dituruti, apa yang dikerjakan harus berhasil dan sempurna. Jika tidak sesuai dengan yang dia inginkan, maka dia akan lama mengurung diri dii kamar. Bagaimana menghadapi anak ambisius seperti ini?

JAWABAN BU ELIA

Ambisi dan ambisius adalah 2 hal yang berbeda. Seorang anak yang memiliki ambisi itu bagus, artinya ada satu keinginan besar untuk mewujudkan kemampuan dan harapannya. Ini akan  bermakna positif. Ambisius itu keinginan besar dan harus terwujud mengusahakannya dengan berbagai cara, jika tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Maknanya lebih bersifat negatif.

Bagaimana cara menanganinya?

Anak yang ambisius biasanya terkait dengan kontrol diri dan sikap kaku/rigid pada anak. Jalan satu-satunya adalah dengan memberikan empati sekaligus penjelasannya. Jika kita menyalahkannya, akan semakin membuat mereka emosi dan kecewa. Diperlukan latihan berulang agar mereka dapat terlatih dalam menghadapi kegagalan.

PERTANYAAN-21

Kami punya ritual jika anak saya (SMA) mau berangkat sekolah dia cium tangan, kemudian saya cipika-cipiki dan cium keningnya. Dia terlihat enjoy dengan tradisi kami. Pada suatu hari ketika anak saya akan piknik dengan teman sekelas, saya antar ke rumah temannya karena rombongan berangkat dari sana. Ketika akan naik mobil rombongan piknik, dia cium tangan saja. Pas mau saya cium, dia menolak.

Apakah memperlakukan remaja di rumah dan di luar rumah harus berbeda?

JAWABAN BU ELIA

Hubungan antara ibu dan anak sampai kapanpun adalah akan menjadi IBU dan ANAK. Jika memiliki hubungan yang kuat dan lekat, baik secara fisik dan batin sejak awal, selamanya akan seperti itu. Adapun perbedaan sikap anak di rumah dan di sekolah atau di depan teman-temannya, atau seperti contoh kasus di atas, adalah hal yang wajar. Mereka umumnya nggak mau diolok-olok sebagai anak mama. Walaupun masih ada juga beberapa anak tidak peduli dengan julukan tersebut.

Nantikan tema-tema seru lainnya seputar pernikahan dan pengasuhan di Kulwap Keluarga Sehati yang didukung oleh Buku Parenting With Heart 🙂

ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: dokumen pribadi
Advertisements

3 thoughts on “Tanya Jawab Seputar Remaja (2 Habis)

  1. Reblogged this on Teaching Adventure and commented:
    Tanya Jawab Kulwap Keluarga Sehati ke-3, tema “Naik Roller Coaster Bersama Remaja sesi-2”

    Putri saya, usia 12 th, ketahuan sudah pacaran. Kemarin saya terlanjur marah besar (saya kalau marah mesti kurang kontrol). Bagaimana caranya melarang pacaran?

    Menjadi orang tua remaja membuat kita ikut meremaja. Banyak yang ngaku remaja (tambah bersemangat sekaligus tambah galau #eh).

    Berikut ini resume tanya jawab kulwap Keluarga Sehati tentang remaja. 21 pertanyaan masuk ke sesi 1 – 2, dan harus ditutup karena terbatasnya waktu. Minggu depan kita akan membahas tema baru.

    Setiap Sabtu, 13.00-14.00 WIB, bersama Bu Elia Daryati dan saya saya (iya, Anna Farida), kita akan merumpikan aneka topik pengasuhan anak dan pernikahan.

    Gratis, terbatas.
    Anda bisa mendaftarkan nomor WA ke Suci Shofia, pemilik http://www.uchishofia.wordpress.com

    Terima kasih, Suci.

    Like

  2. Pingback: Tanya Jawab Seputar Remaja | uchishofia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s