Tanya Jawab Seputar Remaja

ilustrasi: 123rf.com
ilustrasi: 123rf.com

Tulisan ini dikutip dari acara Kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati, setiap hari Sabtu jam 13.00-14.00 WIB bersama Anna Farida (penulis, penerjemah, editor, kepala sekolah Sekolah Perempuan) dan Elia Daryati (Psikolog, pengasuh rubrik psikologi di harian Pikiran Rakyat, narasumber berbagai acara seminar).

Berikut tanya jawab seputar pengasuhan anak remaja yang bikin jantung dag dig dug duer!!! Tentunya penuh keseruan dan kehebohan terutama dari narasumber Anna Farida XD.

Anna Farida said:

Halo, Salam, Bapak Ibu

Kita mulai, ya. Saya akan post 10 jawaban atas pertanyaan yang masuk ke Mahmud Suci Shofia (lima tahun lagi panggilan itu akan hilang darinya).

Bu Elia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini pada berlembar kertas, sambil bergaya di ruang tunggu dokter #salim Orang sakit digodain. Cepat sembuh, Bu.

Jika Bu Elia melihat dari sisi keilmuan psikologi, saya jawab dari pengalaman gaul dengan anak-anak remaja di sekolah dan di rumah. Saya pernah mengajar remaja dan punya anak remaja dua. Jadi kita sama-sama berbagi, ya.

Pertanyaan 1

Saya punya adik remaja (16 tahun), pola asuh ibu dan ayah bertentangan. Ibu cenderung membela/menuruti segala keinginannya. Apakah karena anak bungsu si ibu cenderung memanjakan si anak? Apakah dampak bagi anak jika diperlakukan demikian?

Jawaban Bu Elia:

Pola asuh adalah pola interaksi yang terbangun antara ortu-anak. Pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibu akan menimbulkan sikap mendua pada anak (ambigu).

Pola asuh yang didominasi gaya permisif ditandai dengan orang tua yang memberikan “kasih sayang” berlebihan. Efeknya, anak jadi impulsif, manja, tidak patuh, kurang mandiri, kurang matang secara sosial.

Jawaban Anna Farida:

Saya akan lihat dari sisi pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibu.

Aku sayang Ayah, aku sayang Bunda. Kalau Ayah dan Bunda beda pendapat, aku kudu pilih siapa?

Anak yang masih kecil akan bingung mengambil sikap, anak remaja akan berpikir lebih kritis. Ayah Bunda ini sudah dewasa, tapi ambil kata sepakat di antara mereka saja tak bisa. Aku pilih yang paling menguntungkan saja buatku, deh. Atau, aku ambil keputusan sendiri—aku juga berhak, kan, beda pendapat seperti mereka.

Suami istri beda pendapat kan wajar banget. Kalau sama melulu malah rada ngeri (menurut saya, sih, huehehe). Walaupun begitu, jika sampai pada keputusan tentang anak, sebaiknya selesaikan dulu antara suami istri. Sepakati keputusannya, atau paling tidak salah satu mendukung, atau bahkan abstain.

Misalnya:

Anak lelaki, 15 tahun, pingin ke Jakarta bareng teman-temannya naik kereta. Tujuan mereka adalah rumah kakek salah satu teman. Diizinkan atau tidak?

Setelah memastikan bahwa keluarga yang akan dikunjungi itu aman, masih saja ada keraguan antara ayah dan ibu. Nah, di titik ini, jangan pernah ribut di depan anak. Selesaikan intern, pakai japri!

Sepakati berdua. Jika kepepet tidak bisa sepakat, ayah bisa memutuskan untuk abstain dan mendukung keputusan ibu, kemudian menjadikannya keputusan berdua. Ingat, komit, ya. Seandainya terjadi hal yang kurang diharapkan (semoga semua baik-baik), jangan saling menyalahkan. Apa pun akibat keputusan itu, anak kan tetap milik berdua, tanggung jawab punya berdua, dong.

Ayah dan Ibu yang satu suara meneguhkan kepercayaan diri pada remaja, sekaligus keyakinan mereka bahwa ortu ini bisa diandalkan, nih. Aku tanya mereka kompak, aku bener mereka mengapresiasi, aku salah mereka ikut tanggung jawab. Mereka melakukannya karena mencintai aku, dan aku akan mengembalikan cinta itu sebisaku. Anak remaja sudah mulai mikir ke situ.

 

Pertanyaan 2

Putri saya kelas 1 SMA. Saya ingin memberikan seks education untuk dia. Bagaimanakah cara yang tepat untuk menyampaikannya?

Jawaban Bu Elia:

Pendidikan seks sebaiknya diberikan jauh sebelum anak baligh. Namun tak ada kata terlambat. Harus dibedakan antara seks dan seksualitas.

Seks adalah segala sesuatu yang menyangkut kelamin dan hubungan kelamin.

Seksualitas adalah sesuatu yang menyangkut cara berpikir, cara berpakaian, mengutarakan pendapat dan bersikap.

Kedua hal ini perlu diajarkan kepada anak agar mereka tumbuh menjadi perempuan dan lelaki sesuai perannya dan mampu menjaga dirinya.

Jawaban Anna Farida:

Sepakat. Sejak sebelum baligh, pastikan anak memperoleh pendidikan seks yang benar. Untuk anak remaja, sebenarnya zaman sekarang memberikan banyak kemudahan. Kita bisa masuk ke diskusi tentang seks dan seksualitas dari pintu mana saja (seperti pintu Doraemon).

Perhatikan berita di media massa, banyak yang bisa dijadikan bahan diskusi. Misalnya kasus pelecehan seksual seorang dosen pada mahasiswinya. Setelah mahasiswi hamil dan ketahuan, aktivis perempuan berdemo menuntut si dosen. Coba ajak anak melihat dari sisi lain: Mengapa mahasiswi yang sudah remaja atau bahkan dewasa bisa berkunjung ke rumah dosen lelaki sendirian? Bukankah itu tindakan berisiko? Adakah cara yang lebih aman?

Anak kelas 1 SMA biasanya sudah menstruasi, bentuk badannya sudah terlihat, sudah saatnya diberi perhatian lebih. Ajak dia menghargai dirinya sendiri dengan berpakaian yang layak dan sopan, sesuai keyakinan masing-masing. Saya ini masih muda (ngakunyaaa) tapi cenderung konservatif dalam berpakaian. Jika saya tidak berkerudung pun, saya akan memilih baju yang relatif aman. Mungkin kebaya—halaaah!

Kepada anak-anak saya yang remaja lelaki, saya sampaikan sambil santai bahwa secara fisik mereka sudah siap menjadi ayah. Mereka punya sperma, bisa membuahi sel telur perempuan. Mereka bisa jadi ayah bahkan hanya dalam waktu 3 menit. Mohon maaf, saya cenderung terbuka, sih. Soalnya informasi apa yang bertebaran di luar  sana jauh lebih vulgar. Jadikan seks sebagai bahasan ilmiah dalam keluarga, bahkan ke anak yang kecil, sesuaikan dengan umur.

Btw, anak saya yang 11 tahun tanya gini, “Bu, supaya jadi bayi, kan ini masuk ke sini (dia peragakan pakai jari). Kalau gay gimana? Masuk ke mana?”

Nah loh, kira-kira jawaban saya apa? Hehe

Pertanyaan 3

Adik ipar saya, dia anak bungsu, sudah jadi mahasiswa baru tahun ini. Sengaja dia dititipkan ke kakaknya, supaya menjadi anak yang ‘bener’.
Karena tingkah lakunya yang suka kabur dari rumah ketika keinginannya tidak dituruti. Biaya hidup selama kabur, dia gadaikan laptop.

Alasan anak tadi, ga tahan dengar omelan orangtua.

Segala yang dia butuhkan selalu dituruti sama ibunya.

Bahkan ketika si kakak mau meminimalkan uang jajan, ada saja cara si ibu mencari jalan lain supaya anaknya tetap terpenuhi kebutuhan jajannya.

Bagaimana menyampaikan ke anak tersebut supaya menjadi anak yang lebih bertanggungjawab? anak tersebut tau betul kalau ibunya tidak tega melihat anaknya kekurangan.

Jawaban Bu Elia:

Didikan itu bukan dadakan. Perlu proses. Untuk anak yang sudah dewasa, pengulangan merupakan proses reedukasi. Demikian pula dalam pembentukan rasa tanggung jawab. Harus dilakukan komitmen bersama untuk pembentukan kebiasaan baru.

Syaratnya anak setuju dan orang tua siap, karena tak mudah mengubah pribadi yang sudah terbentuk. Jika bukan dari kesadaran diri anak itu sendiri, yang diperlukan adalah ortu yang memiliki kekuatan inspirasi .

Jawaban Anna Farida:

Menyambung Bu Elia tentang reedukasi. Saya sepakat banget. Tidak ada yang namanya terlambat. Saya pernah membaca sebuah kisah seorang anak yang dianggap “madesu (masa depan suram)”. Pokoknya tiada harapan, deh. Setelah berbagai upaya pendidikan dilakukan orang tua dan gagal, anak itu dibuang ke laut.

Maksudnyaaaa …

Orang tuanya mengeluarkan si remaja dari SMA dan membawanya bekerja. Bukan ke tempat yang nyaman, tapi jadi anak buah kapal penangkap ikan. Nggak bisa kabur wong di tengah laut. Remaja itu bertugas menyikat lantai kapal. Kalau tidak bersih tidak dapat uang tidak dapat makan. Di saat yang sama, si anak melihat ayahnya bekerja sangat keras, tapi tak pernah mengeluh. Endingnya bahagia. Ketika masa magang berlalu si remaja memutuskan untuk tetap bekerja di kapal.

Barangkali, inilah yang disebut Bu Elia sebagai ortu yang punya kekuatan menginspirasi. Jadi bukan hanya membanjiri anak dengan nasihat dan omelan, tapi menjadi teladan.

Huaaa, lancar banget nulisnya, seret juga ngejalaninnya.

Pertanyaan 4

Bagaimana caranya agar kepercayaan yg kita berikan ke anak remaja, tidak disalahgunakan oleh mereka?

Jawaban Bu Elia

Remaja akan merasa dirinya berharga jika dipercaya. Sikap saling percaya antara anak dan orang tua adalah modal dasar dalam berinteraksi. Adalah bijaksana juga jika orang tua tidak menggeneralisir sebuah perilaku. Ketika sesekali remaja berbuat kesalahan, berdamai dengan mereka akan membuat mereka percaya diri, pada akhirnya mereka akan bisa mengontrol  diri sendiri.

Jawaban Anna Farida:

Ada komitmen untuk saling kontrol. Sampaikan pada remaja bahwa manusia punya kecenderungan untuk berbuat baik dan buruk. Kepercayaan yang diberikan dengan niat baik dari ortu mesti dihargai dengan tanggung jawab. Salah satu bentuk tanggung jawab adalah komitmen untuk bersedia saling kontrol antara orang tua dan anak. Kalau tidak ada kontrol bukan kepercayaan, dong, tapi pembiaran, pengabaian.

Contoh, anak diberi kepercayaan untuk punya gadget sendiri. Wujud tanggung jawabnya adalah password yang diketahui orang tua—saya tahu password anak-anak, dan mereka akan mau ngasih tahu, tapi saya jarang juga bukain gadget mereka. Mending buka gadget saya sendiri, laah ahahah—maaf, menyesatkan. Maksudnya dengan mereka mengizinkan kita pakai hape atau laptop mereka tanpa mereka enggan, itu pertanda baik. Kalau adaaa saja alasan untuk menolak, nah, perlu waspada. Eng ing eeeng, menyembunyikan apa dia di sana.

Balik ke jalan yang benar.

Yang paling penting adalah membuat kesepakatan sejak awal. Kepercayaannya di dalam hal apa, komitmennya apa, bagaimana jika terjadi pelanggaran—apa konsekuensinya. Jadi sejak awal sudah ada dulu. Bukan ketika terjadi masalah ortu menjatuhkan hukuman. Balik ke jawaban B Eia, kalau terjadi pelanggaran, jangan melulu menyalahkan. Koreksi bersama, mulai lagi dari awal. Salah lagi? Mulai lagi. Lagi. Lagi. Start, restart. Start, restart. I will never give up on you. Bapak Ibu akan terus  percaya padamu. Semampu kami – kok suasana hati saya jadi mellow, ya?

Pertanyaan 5

Apa saja kiat agar si ABG tetap merasa nyaman dgn kita, orangtuanya. Supaya tetap senyaman waktu dia masih kecil, santai kalau mau curhat.

Jawaban Bu Elia:

Jadikan mereka sebagai teman. Yakinkan mereka bahwa “diriku juga penting”. Dengan demikian, terciptalah iklim psikologis yang nyaman bagi semua pihak.

Jawaban Anna Farida:

  1. Up to date dengan isu remaja.
  2. Tanya dia, “Perlu Ibu?ayah temani?” – jangan sembarangan mendesakkan diri pingin dekat dengan mereka padahal mereka sedang pingin sendiri.
  3. Dahului curhat ke mereka, tentang harga cabe, tentang arisan yang tak kunjung keluar – halah (artinya, libatkan mereka dalam pengelolaan keluarga)
  4. Ceritakan masa remaja kita. Tapi jangan jadi membandingkan, “Masa remaja ayah jauh lebih baik darimu. Kamu sih sekarang enak, ada internet. Dulu ayah … daaaa seterusnya. Lha iya, emang blom ada internet. Kok protesnya ke remaja masa kini huehehe
  5. Rambu: singkat saja. Ngobrol sama remaja efektif 3-5 menit (ini ukuran saya) trus selingi dengan hal lain. Saya ini ceriwis, bawel. Kalau ngomong lebih lama sedikit bisa bahaya. Nasihat bisa puanjang, anak langsung teler, deh! Dan saya pun jadi motivator yang gagal tampil 😀

Pertanyaan 6

Bagaimana cara menggali info yg lebih banyak dari anak yang cool dan pendiam?

Jawaban Bu Elia:

Setertutup apa pun seseorang, dia tetap membutuhkan interaksi dengan orang lain. Hanya perasaan nyaman yang akan membuat mereka bisa menceritakan banyak hal. Perasaan diinginkan, dicintai, dan dihargai menjadikan orang-orang yang “cool” lebih mudah diajak berkomunikasi. Ingat, komunikasi tidak sama dengan interogasi.

Jawaban Anna Farida:

Jangan melulu minta dia bercerita tentang dirinya. Ajak dia cerita tentang apa yang dia bisa atau suka. Misalnya, remaja ini suka komik tertentu. Minta rekomendasi dia tentang komik apa yang cocok buat anak SD, mengapa komik ini bagus. Siapa pengarangnya … Siapa tahu Anda memang dapat informasi berharga sekaligus membuka jalan komunikasi. Ada anak yang pendiam. Nggak pernah mau gaul, pokoke mingkem total. Eh, pas ditanya tentang jenis-jenis beras, dia ngoceh panjang. Agak terbata-bata tentunya, karena tidak terbiasa. Ternyata bapaknya punya kios beras.  — Ini ngarang abis, tapi kira-kira begitulah ilustrasinya.

Pertanyaan 7

Bagaimana kita mendeteksi ABG yang sudah kecanduan pornografi?  Bagaimana kita mendeteksi ABG yang sudah kecanduan pornografi?

Jawaban Bu Elia:

Ciri adiksi pornografi:

-Perubahan dramatis pada suasana hati, nilai-nilai, dan cita-cita

– Tidak punya motivasi positif

– Terisolasi, penuh rahasia, memberikan penjelasan yang panjang lebar untuk menutupi perilakunya, dan menciptakan berbagai alasan.

– Marah atau kesal ketika ditanya/dikonfrontasi tentang pornografi

Prestasi akademik menurun

Tambahan Anna Farida:

Ini tambahan saja. Ajak diskusi remaja tentang bahaya pornografi. Banyak filmnya di youtube. Sampaikan konsep kepercayaan dalam pertanyaan sebelumnya. Di rumah, kami pakai komputer di ruangan yang sama, jadi seperti warnet hahaha. Tidak ada komputer atau gadget di kamar (Nah bagian ini yang sering dianggar karena alasannya buat alarm. Saya berniat beli jam weker kok belum kesampaian saja) Beli, ah, yang suaranya berisik.

Pertanyaan 8

Untuk ABG perempuan, saya masih berani untuk memeluk erat ketika berbaring, tapi untuk sulung yang putera terasa agak sungkan.Kekhawatiran saya,  apakah ketika dipeluk ibunya anak laki2 akan berimajinasi yang lebih jauh?

Jawaban Bu Elia:

Memeluk anak baik anak laki-laki maupun perempun sebenarnya sama saja. Memeluk menunjukkan adanya kedekatan fisik dan batin. Tak ada efek apa-apa pada anak laki-laki asal dilakukan dengan wajar, dan bukan pelukan yang mengarah pada “hasrat”.

Jawaban Anna Farida:

Sentuhan fisik ke remaja sangat perlu. Tapi kan tidak harus nguyel-uyel. Ciuman singkat, tepukan di pipi, usapan di kepala atau punggung, bisa dibikin sering. Bahkan pukukan atau tendangan bisa jadi ungkapan kasih sayang bagi keluarga atlet karate. Lah iya! Anda mau coba?

Anak saya yang kedua tidak begitu suka dipeluk. Kakaknya masih saja melendot ke ibunya walau sudah mahasiswa. Untuk yang kedua ini punya tugas khusus motong ujung rambut saya sebulan sekali. Jadilah dia satu-satunya tukang cukur spesial ibunya.

Artinya sentuhan fisik bisa diinovasikan, kok. Wajib adanya, bentuknya bisa macam-macam. Saya biasa menyentuh pipi anak saya setelah cuci tangan – jadi kena basah. Dia bilang bete, dingin! Tapi kalau saya lewat saja kadang dia komentar, tumben Ibu nggak bikin basah pipi 😀

Pertanyaan 9

Jadi terpikir bagaimana menjalin komunikasi yang baik antara ortu dgn ABG. Karena saya juga guru di SMP. Terkadang ada murid yang selalu titip salam kpd temannya lain jenis.

Dulu yang sempat punya twitter dan line, ponakan saya yang ABG mem- follow. Sampai-sampai saya mempunyai julukan tante gaul. Ortu mereka tidak punya fasilitas komunikasi tersebut alias gaptek.

Jawaban Bu Elia:

Komunikasi dengan remaja kuncinya gunakan dua kuping, 1 mulut (bukan dibalik) dan pemancarnya adalah hati. Jika semua perangkat digunakan optimal, komunikasi akan berjalan dengan lancar.

Jawaban Anna Farida:

Yang sering terjadi, kuping yang dua biji ini berubah jadi mulut.

Kita menjelma jadi mahluk bermulut tiga, dan ketiganya pintar bicara (kita? Aku aja kaleee).

Makanya saya batasi kalau kira-kira saya punya misi mulia tersembunyi mau kasih nasihat, saya batasi 3-5 menit saja. Jika tidak bisa merepet sampai jaaauuuuhhh

Dan berikutnya si ABG akan mencari cara melarikan diri dari obrolan bersama saya. Di Line atau media sosial yang lain, kita bisa jaid teman dengan tidak terlalu jadi stalker. Nggak perlu komen di setiap statusnya, nggak perlu selalu nimbrung di grup mereka. Tetap jaga batas, guru kan bukan melulu teman gaul, tapi juga punya fungsi jadi pemandu. Kalau kebanyakan nimbrung di grup, murid akan berkesimpulan bahwa Bu Guru ini main medsos melulu, kapan bikin silabusnya? Huehehe padahal grup WA juga banyak, ya, Buuu

Pertanyaan 10

Bagaimana waktu anak ABG?  Suka khawatir melihat pola kegiatan anak sekolah jaman sekarang.

Pagi sekolah,  siang-sore les.

Takut nggak cukup waktu untuk mendidik etikanya.

Jawaban Bu Elia:

Membuat skala prioritas, mana primer, sekunder, tersier.

Selanjutnya mengatur waktu. Bikin komitmen. Diskusikan, libatkan anak dalam mengambil keputusan. Hal ini akan membuat mereka lebih bertanggung jawab. Komitmen lebih bisa dipegang. Jika ada yang meleset, tugas orang tua sekadar mengingatkan bukan melulu menyalahkan.

Jawaban Anna Farida:

Sepakat, Bu Elia. Ajak anak memilih mana prioritasnya. Sesuaikan juga dengan kondisi fisiknya, kondisi keuangan keluarga juga. Jangan sampai anak maksain diri les karena teman-temannya ikutan, trus dia jadi mudah sakit.  Peran teman teman kan sangat kuat. Jika anak terlihat cenderung mengambil keputusan karena ramai-ramai saja, ada kemungkinan rasa percaya dirinya kurang. Apa sebabnya? kita bisa merujuk ke pertanyaan tentang memberi kepercayaan kepada anak.

Satu hal lagi yang menurut saya penting adalah, pastikan anak bukan hanya menyukai kegiatan yang dipilihnya. Artinya, di usia remaja, dia sudah bisa diajak memilih kegiatan yang bermanfaat jelas, sesuai dengan minatnya. Misalnya, anak suka motor, trus ikut klub motor. Pastikan orang tua terlibat ketika dia memilih kegiatannya itu.

ilustrasi: dokumen pribadi
ilustrasi: dokumen pribadi

Acara ini didukung oleh buku Parenting With Heart (Penulis Anna Farida dan Elia Daryati)

mau ikutan kulwap? Silakan hubungi saya (Suci Shofia) via nomor Whatsapp 0896 5041 6212.

Baca juga tanya jawab sesi 2 di sini.

Advertisements

One thought on “Tanya Jawab Seputar Remaja

  1. Reblogged this on Teaching Adventure and commented:
    Tanya Jawab Kulwap Keluarga Sehati ke-2, tema “Naik Roller Coaster Bersama Remaja sesi-1”

    Pertanyaan yang masuk banyak sekali, sampai dibagi menjadi dua babak, penyisihan dan final 😀

    Bagaimana menjelaskan sexual intercourse pada remaja? Bagaimana mengasuh remaja yang introvert? Bagaimana melatih tanggung jawab remaja? Bagaimanaaaa?

    🙂

    Setiap Sabtu, 13.00-14.00 WIB, bersama Bu Elia Daryati dan saya saya (iya, Anna Farida), kita akan merumpikan aneka topik pengasuhan anak dan pernikahan.

    Gratis, terbatas.
    Anda bisa mendaftarkan nomor WA ke Suci Shofia, pemilik http://www.uchishofia.wordpress.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s