Naik Roller Coaster Bersama Remaja

ilustrasi: komangsuardika.blogspot.com
ilustrasi: komangsuardika.blogspot.com

Simak penjelasan dari Mb Anna Farida, narsum Kulwap Keluarga Sehati,

Banyak orangtua yang mengaku kehilangan rasa percaya diri begitu anak-anak beranjak remaja. Ketika anak masih kecil, Anda adalah orangtua yang mesra, penuh kasih, suka memeluk, suka bercanda, dan menjadi idola anak. Tapi, begitu anak mulai belasan tahun, rasanya semua berangsur hilang. Anak tak lagi suka dipeluk—apalagi di depan umum.

Dia tak mau diajak berbincang lama-lama, lebih memilih bercanda dengan teman-temannya, dan cenderung mudah tersinggung. Susah, deh, bicara sama Bapak. Beneran aku nggak gitu. Bapak nggak mau ngerti aku, sih!

Anda barangkali sudah berusaha mengerti perasaannya, membaca bahasa tubuhnya, menyesuaikan diri dengan dunianya, menerima teman-temannya, tapi selalu saja ada yang meleset. Anda sudah merasa banyak mengalah, merasa banyak diam, tapi dia merasa bahwa Anda tidak cukup mau mengerti. Yang jelas, ada saja celah untuk konflik, kadang karena hal-hal sepele.

Di usia belasan, anak mulai punya keinginan yang kuat untuk menjadi “diri sendiri,” padahal dia sendiri belum yakin dengan dirinya. Konflik remaja dan orangtua mungkin masih berkutat di seputar tugas sekolah, pekerjaan rumah, cara dia bersikap atau berbicara.

Bagi orangtua, dia masih anak-anak. Di sisi lain, remaja mulai ingin diakui bahwa dia sudah bukan anak-anak—tapi dia pun belum siap dengan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Galau, kan?

Gesekan yang mulai muncul adalah ketika remaja minta izin menginap di rumah teman. Orangtua menjelaskan banyak pertimbangan mengapa sebaiknya dia tidak menginap, apalagi jika orangtua temannya sedang tidak di rumah.

Bagi remaja, kekhawatiran orangtuanya bisa diartikan sebagai sikap tidak percaya atau curiga. Perhatian yang diberikan orangtua seperti “Sudah mandi? Semua buku sudah dibawa? Alarm sudah dipasang?” sekarang terdengar seperti ungkapan “Kamu harus selalu diingatkan karena kamu masih kecil.” Anehnya, kalau yang bertanya tentang hal-hal kecil itu adalah teman-temannya, dia merasa enjoy saja. Tapi begitu hal yang sama ditanyakan oleh orangtuanya, dia merasa kedewasaannya diragukan.

Tenang saja, “perang” jenis ini tidak berbahaya, asal manajemennya benar. Baik orangtua maupun anak remajanya sebetulnya saling sayang. Tapi, kedua pihak sedang berjuang menemukan cara baru untuk mengungkapkannya.

Mengalami konflik dengan remaja tidak selalu berarti hubungan Anda dengannya buruk. Justru, komunikasi yang sehat adalah ketika Anda dan anak saling merasa nyaman menyampaikan isi hati, baik yang manis atau yang pedas.

Apa pun konflik yang bisa terjadi, anak harus tahu bahwa dia tetap harus menghormati orangtua. Ketika menyatakan ketidaksetujuannya dengan pendapat orangtua, sikapnya harus tetap santun. Pilihan katanya wajib tetap sopan. Sebaliknya, orangtua juga sudah saatnya memberikan ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri.

Jadikan konflik ini sebagai teladan bagi anak, bahwa orangtuanya adalah teman berdebat yang fair, layak dihargai dan tetap dicintai. Awali dengan berusaha memahami dia, maka dia pun akan memahami Anda. Memang mudah diucapkan tapi tidak mudah dilakukan. Tapi, itulah barangkali pilihan terbaik yang kita punya.

Mungkin materi di atas masih bersifat umum, pertanyaan dan koemntar Bapak Ibu akan membuatnya spesifik dan mendalam. Mari kita bahas bersama J

(Artikel ini diambil dari buku “Parenting with Heart” – Elia Daryati dan Anna Farida)

Advertisements

2 thoughts on “Naik Roller Coaster Bersama Remaja

  1. Reblogged this on Teaching Adventure and commented:
    Kulwap-2 Keluarga Sehati

    Bagi remaja, kekhawatiran orangtuanya bisa diartikan sebagai sikap tidak percaya atau curiga. Perhatian yang diberikan orangtua seperti “Sudah mandi? Semua buku sudah dibawa? Alarm sudah dipasang?” sekarang terdengar seperti ungkapan “Kamu harus selalu diingatkan karena kamu masih kecil.” Anehnya, kalau yang bertanya tentang hal-hal kecil itu adalah teman-temannya, dia merasa enjoy saja. Tapi begitu hal yang sama ditanyakan oleh orangtuanya, dia merasa kedewasaannya diragukan.

    Gimana, dooong?

    Setiap Sabtu, 13.00-14.00 WIB, bersama Bu Elia Daryati dan saya saya (iya, Anna Farida), kita akan merumpikan aneka topik pengasuhan anak dan pernikahan.

    Gratis, terbatas.
    Anda bisa mendaftarkan nomor WA ke Suci Shofia, pemilik http://www.uchishofia.wordpress.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s