Ketika Anak Berkata “Kotor”

Awal kami pindah rumah dari perkotaan ke pedesaan, sempat muncul rasa khawatir karena anak-anak belum memiliki teman. Sampai-sampai kami mencarikan sekolah untuk mereka.

Si Kecil (4 tahun) asyik aja menikmati masa percobaan di sebuah TK yang berdekatan dengan rumah. Namun, berbeda bagi Si Sulung (6 tahun), dia tetap pada pendiriannya untuk tetap berada di rumah.

Sampai, suatu ketika kurang lebih 1 bulan setelah pindah, dia mulai akrab dengan teman dekat rumah. Kemudian mulai bertambah lagi dan lagi pertemanannya.

Rasa khawatir pun sirna. Memang orangtua terlalu banyak kekhawatiran yang membuat anak ikut stres jika panutannya menyikapi masalah secara berlebihan.

Sayup-sayup terdengar ada teman yang berkata kotor (anjing). Namun, saya tidak begitu jelas mendengarnya. Maka, saya abaikan suara yang tidak jelas tersebut sambil tetap waspada.

Pada suatu sore, ketika anak sulung saya membawa benda dan menyenggol ke pagar rumah, reflek ia bilang:

“Anjing,” katanya.

“Eh, tadi Abang bilang apa? anjing?” tanya saya memastikan ucapannya.

Ia mengangguk sambil senyum-senyum. Merasa bersalah namun tidak paham di mana letak kesalahannya. Sepertinya nada suara kaget saya terdengar lebih tinggi.

“Anjing itu binatang, sama kayak kucing. Kalau ada anjing, boleh kita bilang ‘Itu anjing’. Tapi, kalau Abang Aga sedang jalan terus nggak sengaja menyenggol sesuatu, tidak bagus bilang ‘anjing’ ” jelas saya. Berusaha untuk tidak memarahi, namun nasihat tetap tersampaikan.

Sepertinya dia paham.

Kemudian, maghrib tiba. Temannya yang berkata kotor tadi datang ke rumah, bersama teman lainnya. Katanya mau menginap di rumah Aga.

Baiklah. Saya minta mereka sholat berjamaah di ruang tamu. Selesai sholat, merea baca Iqra, kemudian bermain di kamar.

Tiba-tiba Aga keceplosan lagi berkata kotor. Temannya yang terbiasa berkata kotor tadi mengingatkan Aga untuk tidak berkata kotor. Lucu juga …

Selang beberapa waktu tidak berkata ‘kotor’, ia mulai berkata kotor lagi, karena begitu intensnya ia bermain dengan temannya tersebut. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Maka saya menyampaikan ke Aga kalau saya tidak suka dia bermain dengan anak tadi. Alasannya karena temannya suka berkata kotor, tidak sopan.

“Kalau dia ngajak main gimana?” tanyanya.

Bener juga neh. Putar otak.

“Boleh main, asal sama Mas Agung (12 tahun).” ucap saya. Agung lebih dewasa dan bisa mengingatkan saudaranya untuk tidak berkata kotor.

Maka saya kembali tak lelah mengingatkan untuk tidak berkata kotor. Juga saya mengirim pesan singkat kepada budhe nya, yang notabene dititipi oleh orangtua si anak tadi.

Intinya, saya meminta untuk memberitahu pada anak tersebut untuk tidak berkata kotor. Kita kerjasama mendidik anak-anak kita supaya menjadi anak yang baik. Tidak ada kalimat marah-marah atau memaki-maki saudara dari anak tersebut.

Ketika berjumpa dengan budhe tadi juga kami membahas dengan baik-baik. Tidak dengan ribut-ribut.

Sampai saat ini tidak terdengar lagi kata ‘kotor’ dari mulut imutnya. Namun, kami selalu berusaha menjaganya dari pengaruh buruk lingkungan.

Karena, pelajaran terbaik tercipta dari keluarga yang kuat dalam mendampingi anak. Selalu berusaha untuk mendidik tanpa teriakan, tanpa bentakan, tanpa paksaan. Belajar harus MENYENANGKAN. Anak pun BAHAGIA menjalani KEHIDUPANNYA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s