Curug Panganten

curug panganten

Liburan kali ini diisi dengan menikmati keindahan bumi ciptaan Allah di Kabupaten Bandung Barat.

Kami berempat naik sepeda motor sekitar 10 menit dari rumah kami di Cihanjuang, masuk ke komplek perumahan Katumiri.

Sepeda motor kami titipkan ke ibu warung yang baik hati. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Petualangan menuju Curug Panganten sangat seru dan menyenangkan. Kami harus melalui jalan setapak yang licin karena baru saja diguyur hujan beberapa menit yang lalu. Sandal kami harus bergelut dengan tanah basah, langkah pun semakin lama terasa semakin berat. Jalan naik turun, kadang harus berjalan melalui jurang dan sungai. Dag dig dug…

Alhamdulillah Aga (6,8 tahun), anak sulung kami mampu melewati segala rintangan. Dia begitu menikmati perjalanan serunya. Pengalaman bersekolah di sekolah alam yang sering mengeksplorasi alam dengan jalur serupa, membuatnya kangen untuk kembali bernostalgia dengan indah dan asyiknya berpetualang.

Suami tercinta pun dengan sukarela menggendong Apim (3,11 tahun) di punggungnya. Pulang pergi. Wow…sesekali dia mengajak bercanda Apim dengan melompat-lompat ala kodok.

“Ha..ha…ha…” tawa Apim lepas persis cara ayahnya tertawa.

Saya sendiri sudah ngos-ngosan membawa badan yang sudah mulai bertambah simpanan lemak di tubuh, plus tas ransel berisi baju ganti dan bekal selama pejalanan (padahal cuma snack sama air putih 500 ml :p ). Mereka sudah berhasil membuat saya bernafas satu dua tiga.

Sembari menikmati hijaunya alam sekitar. Juga suara burung berkicau, sapi melenguh, kodok bernyanyi…hehehe…

Ga sadar ternyata kami didampingi dari belakang oleh orang yang sudah menguasai kawasan Curug Panganten.

Beliau dengan sigap segera berjalan ke depan membuka jalan dan membuat cekungan tanah supaya kami tidak terpeleset.

curug panganten2

Tak terasa setelah berjalan sekitar 30 menit, kami pun sampai di lokasi. Percikan air terjun telah menyambut dengan suka cita. Ritme dentuman air terjun setinggi kurang lebih 10 meter itu terdengar begitu indah di telinga.

Anak-anak pun dengan segera berinteraksi dengan dinginnya air Curug Panganten.

Tak lupa selfie-selfie sebagai kenang-kenangan telah berbahagia di sana.

“Da…da…ail teljun…nanti main lagi ya…” ucap Apim dalam gendongan ayahnya.

Perjalanan naik turun bukit dimulai lagi…ayo semangat…!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s