Kapan Punya Rumah?

pindah rumahSejak menikah pada tahun 2007 hingga detik ini, kami masih berpindah-pindah tempat tinggal alias nomaden. Beginilah balada seorang kontraktor, insan manusia yang selalu mengontrak rumah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Rumah kontrakan pertama kami berlokasi si Punge Jurong, Banda Aceh. Di serambi mekah ini tak cukup lama, sekitar satu tahun sampai lahir anak pertama kami, Aga pada tanggal 14 Juli 2008. Alhamdulillah, masih sempat jalan-jalan bersama ibu, melihat kapal PLTD Apung I yang besaaarrr sekaliii….trus sempet jalan-jalan juga ke Musem Rumoeh Aceh. Sepertinya itu adalah kenangan jalan-jalan berdua saja bersama ibunda tercinta. Entah kapan bisa terulang lagi.

Sempat menikmati alam Saree, Lhokseumawe, sayang museum tsunami waktu itu masih dalam proses pengerjaan. Kemudian karena kontrak kerja suami tercinta sudah usai, maka kami menjual murah isi rumah dengan harga murah ke salah seorang teman di sana.

Kemudian dari Banda Aceh, kami sempat tinggal di kost-kostan selama 1 bulan di daerah Matraman, Jakarta Pusat sembari mencari rumah kontrakan kedua.

Berjodohlah kami dengan rumah kontrakan di daerah Cipinang Muara sekitar ulan Juni 2009, bersebelahan dengan Banjir Kanal Timur. Di sana kami juga tidak lama, hanya beberapa bulan karena ada sesuatu dan lain hal (rahasia yeee…)

Tahun 2010 rumah kontrakan ketiga, berlokasi di Cipinang Melayu, tepatnya di Jalan Harapan III B. Di rumah ini banyak kenangan di sana. Mayoritas warga adalah suku Jawa sedikit mengobati kerinduan akan kampung halaman. Sempat kebanjiran ketika hamil anak kedua. Ada Tante Helena, tetangga yang asyik untuk diajak cerita dan jalan. Ada juga kenangan indah ketika banjir melanda. Tepat saat usia saya bertambah, suami membawa kue tart yang cukup besar dan yummy kemudian dibagikan ke tetangga yang juga kebanjiran.

Banjir reda, beberapa bulan kemudian, suami ditugaskan ke Padang, Sumatera Barat. Baiklah, it’s okay. Akurapopo. Dan ternyata, sebulan kemudian kami pun diijinkan sama Allah untuk menyusul ke sana. Dan kabar baiknya lagi, ibu pemilik rumah kontrakan kami ibu Paul (Mitje) tidak menyewakan kamar yang kami tempati. Kata beliau, nanti bagaimana kalau Aga balik dari Padang. Baiknya engkau wahai Ibu Kontrakan. Padahal kami sudah memindahkan barang-barang ke sebuah kamar kost (kami sewa tentunya sampai kami kembali ke Jakarta lagi) yang masih satu lokasi dengan rumah kontrakan yang sekarang. Alhamdulillah.

Kembali cerita soal Sumatera Barat, mumpung di sana, kami jalan-jalan ke pantai air manis. Sebuah pantai yang menjadi legenda Si Malin Kundang. Benar-benar takjub dengan keberadaan batu yang berbentuk seorang laki-laki yang bersujud seolah-olah memohon ampun. Juga batu berbentuk tali tambang kapal yang besar dan sebagian badan kapal yang masih terlihat kokoh. Semua berwarna coklat muda.

Tak lupa jalan-jalan ke Ngarai Sianok, wuih indah sekali alam ciptaan Allah yang satu ini. Ke Goa Jepang yang super keren. Mendinginkan diri di Bukit Tinggi, yang cenderung lebih adem daripada di Kota Padang yang gerah membahana.

Juga sempat ke Lembah Echo, di Payakumbuh pemandangan alam hijau, lembah tinggi menjulang, air terjun yang deras mengucur. Istana Pagar Ruyung nun jauh di sana juga kami sambangi. Sayangnya pas tiba di lokasi ternyata sedang di renovasi karena habis terbakar. Baiklah, kami sudah cukup senang bisa melihat dengan mata kepala sendiri indahnya bumi Sumatera Barat ini.

Dan bahagianya lagi, saya ketemu dengan teman satu kost waktu di Jogja, Uly anak Langsa. Juga mempunyai teman baru dari Payakumbuh, Lisma, juga tetangga kost-kostan dari Bukit Tinggi, Jakarta, dan Tasik.

Selesai urusan di Padang, kami kembali ke Jakarta lagi. Dengan alasan banjir, kami pun mencari rumah kontrakan (lagi).

Rumah kontrakan keempat kami berlokasi di Pasar Minggu. Di sana kami tinggal, sampai Apim, anak kedua lahir pada tanggal 07 April 2011. Cukup intens bertetangga dengan sesama penghuni kontrakan yang baik hati, suka menolong, dan tidak sombong, lagi-lagi kami harus pindah kontrakan yang rame anak-anak.

Rumah kontrakan kelima, masih di Pasar Minggu di Jl. H. Saidi. Di sanalah anak-anak kami mendapatkan banyak teman bermain. Suka duka bermain ada di sana. Di sebuah kampung betawi yang guyub, saling menyapa dan bercanda. Juga suka membantu sesamanya ketika membutuhkan bantuan. Satu tahun di sana, suami dipindahtugaskan ke Bandung. Kami sekeluarga pun pindah dengan berat hati apalagi Aga yang sudah mempunyai banyak teman. Sempat tidak mau pindah namun akhirnya bersedia.

Rumah kontrakan keenam berlokasi di Perumnas Sadang Serang, Sekeloa, Coblong, Bandung. Sepertinya Bandung adalah tempat yang paling asyik untuk menjadi rumah tinggal. Udara sejuk, orangnya someah (ramah), biaya hidup juga tidak terlalu tinggi. Cozy bingits…hehehe…banyak tempat di sekitar Bandung yang sudah kami kunjungi selama tinggal di Bandung. Sebutlah Museum Geologi, Taman kota yang di sudah renovasi dengan apik oleh walikota, Tangkuban Parahu, Taman Raya Cibodas, Taman Bunga Cipanas.

Juga Aga sempat merasakan sekolah yang asyik banget, orangtua muridnya juga keren-keren, asyik diajak diskusi, baik, ramah. Jadi bertambah deh tali persaudaraan. Ada Mrs. Eka Mutiara, Mrs. Yeni Wiraniayu, Mrs. Fauziah, Mrs. Anies Mutiari, Mrs. Teti Sumiati, Mrs. Efi, dan masih banyak lagi. Guru-guru kelas yang menyenangkan, Bu Indri, Bu Hani, Bu Ema. Merindukan kalian semua…

Setelah suami memutuskan resign per tanggal 28 Februari 2015, juga harga rumah kontrakan di perumnas ini naik, maka kami memutuskan pindah rumah kontrakan (lagi). Rumah kontrakan ketujuh kami berlokasi di Cihanjuang, Parongpong, Bandung Barat. Dekat dari Kota Cimahi, Jawa Barat. Sekitar satu jam dari Kota Bandung. Dengan Alhamdulillah dengan bantuan beberapa teman dari kantor suami, proses pindahan terasa lebih ringan. Ada Om Asim, Om Brata, Bang Sobri, Om Zaldy, Pak Enjang, Pak Nono, Ozie, Tri, Warid, Mas Sigit, Chitalia, yang membantu. Thank Guys.

Senengnya ada halaman yang luas, jadi kami berencana berkebun di sana. Udara lebih dingin dari Kota Bandung, seger deh. Banyak pepohonan besar penghasil oksigen bagi warga sekitar. PR buat saya harus lebih intens berbahasa Sunda mlipir.

Rumah kontrakan kedelapan? Ah, semoga bukan rumah kontrakan yang kami tempati nantinya. Tapi rumah tinggal dengan hak milik sendiri. Amien.

Advertisements

6 thoughts on “Kapan Punya Rumah?

  1. aamiin. kalau masih berpindah2 tugas emang lebih enak kalau ngontrak dulu mbak. lha kalau kita sdh punya rmh di satu kota, ternyata kerjanya masih pindah2 kan repot juga hehe… BTW rmh yg di banjir kanal timur itu yg ada ‘mahkluk lain’ nya ya?

    Like

  2. Kalo kata teman yang juga seorang “kontraktor”.. serunya itu, bisa selalu punya barang baru, kenalan dengan orang baru dan yang paling asyik bisa jalan-jalan menjelajahi berbagai destinasi di daerah yang baru…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s