Mengenang Kisah Tsunami 2004

Kriiing…

“Halo, R***…” kusebutkan nama kantor tempatku bekerja.

” Halo, Mb … saya saudaranya Era … Tolong didoakan … semoga keluarga Era baik-baik saja … di sana …” lirih nyaris tak terdengar suara si penelepon.

“Oh, iya …” jawabku singkat, sampai lupa menanyakan dari siapa karena tiba-tiba membuka percakapan dengan ucapan dan nada demikian.

Aku berjalan menuju ke tempat dudukku yang berjarak 3 meter dari telepon duduk. Aku sendirian di lantai bawah. Beberapa staf sedang mengadakan rapat akhir tahun di lantai atas.

Setelah aku kembali serius di depan komputer, terlihat sekilas gerakan orang dari depan telepon duduk tadi mengarah ke kantor bagian dalam.Orang yang mirip dengan Mba Era, memakai jilbab dan baju dengan warna senada yaitu hijau yang sering ia kenakan. Dengan muka pucat melihat ke arahku.

Anehnya, gerakan yang terlihat bukan kaki yang melangkah, namun bergeser menyamping, tidak ada gerakan kaki di sana.

“Ah, paling cuma halusinasiku saja,” batinku.

Tidak lama berselang, teman-teman dari atas menuju kebawah dengan heboh, beberapa menangis sesenggukan …

“Ada apa gerangan?” batinku.

Dan salah satu staf kantor mengatakan telah mendapatkan kabar bahwa Mba Era beserta suami dan bayinya telah meninggal karena tsunami Aceh.

Innalillahi wainnailaihi raji’uun …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s