Kampung Naga

koleksi pribadi

Ini adalah perjalanan kami berempat. Saya, suami, dan dua jagoan kami, Aga 6 tahun, dan Apim 3,5 tahun. Diantara banyaknya tempat wisata di Jawa Barat, ternyata ada suatu tempat wisata yang sangat unik di kawasan Salawu Tasikmalaya. Sebuah perkampungan adat yang jauh dari hiruk pikuk dunia modern dan segala macam yang berbau kemajuan zaman. Tidak ada listrik, tidak ada rumah berdinding semen. Semua rumah berbahan kayu ala rumah panggung.

Untuk menuju kesana dari Kota Bandung diperlukan waktu tempuh sekitar 2 jam menggunakan kendaraan pribadi. Ada juga kendaraan umum yang bisa mengantarkan anda kesana, dengan menggunakan bus umum non AC 35.000 rupiah per penumpang (sebelum BBM naik J) jurusan Bandung-Singaparna dari terminal Cicaheum.

Tentunya waktu tempuh menjadi lebih lama karena bus sering menaikturunkan penumpang di mana saja dan kapan saja. Belum kemacetan yang harus dihadapi. Bisa jadi waktu tempuh menjadi 4 jam atau lebih. Anda harus siap-siap dengan gerah dan padatnya bus yang anda tumpangi.

Ketika memasuki gapura yang menandakan telah memasuki wilayah Kampung Naga, anda akan disambut berbagai penjaja kerajinan tangan berbahan jerami, seperti tas, sandal, topi, juga kerajinan dari bambu berupa perlengkapan dapur. Juga sebuah Monumen Kujang berdiri dengan kokohnya disana.  Tidak ada tiket untuk masuk ke sana, alias FREE…

“Adik nanti kuat nggak?” sapa seorang mahasiswi Fotografi salah satu Universitas Swasta, kepada anak kedua kami.

Kami hanya tersenyum mewakili si kecil.

“Waduh, jangan-jangan bakalan melelahkan nih.” Batin saya dalam hati.

Memang, saya kurang mendapatkan banyak informasi tentang lokasi ini. Suami saya hanya mengatakan kalau ini adalah kampung adat, tidak pakai listrik. Dan dalam benak saya sebuah perkampungan tradisional. Berarti harus pakai sandal gunung, dan tas ransel untuk memudahkan perjalanan. Itu saja.

Ternyata, untuk menuju ke Kampung  Naga, anda harus melewati anak tangga yang menurun tajam, yang lumayan curam dan berliku. Panjang anak tangga kurang dari satu meter, jadi anda harus berbagi jalan dengan sesama pengguna jalan.

Lebih baik kalau mau berkunjung kesana antara pagi hingga sore jadi masih ada matahari yang menyinari Kampung Naga. Mau foto-foto terlihat jelas pemandangan alam dan kampungnya. Namun kalau ingin mencoba eksotisnya malam hari, harus waspada, karena minim penerangan.

Jangan lupa bertegur sapa dengan penduduk sekitar dengan mengucapkan “Punteun (baca:punten) alias permisi dalam bahasa Indonesia. Sebagai bekal anda, sebaiknya sedikit banyak tahu kosakata bahasa Sunda untuk mempermudah komunikasi dengan masyarakat sekitar.

Konon kata orang sekitar yang pernah menghitung anak tangga tersebut ada  366 anak tangga. Namun, jangan berkecil hati dulu. Pemandangan sekitar yang begitu elok, sedap dipandang mata, berupa sawah membentang, sungai yang bersih indah tak akan membuat perjalanan anda terasa berat.
Penjaja kelapa muda seharga 7000 rupiah perbuah (sebelum BBM naik yaa…) siap melayani dahaga anda yang berlokasi disamping masjid. Beberapa penjual minuman kemasan dingin juga warung makan juga tersaji disana.

Udara dingin yang menyergap membuat anda ingin buang air kecil? Tenang. Ada MCK yang dibuat dengan cukup unik. Tiang yang berdiri diatas kolam ikan, dan dikelilingi oleh spanduk bekas untuk menghalangi pandangan orang dari luar, cukup membantu. Tinggi spanduk tersebut sekitar ¾ tinggi orang dewasa.  Air yang digunakan adalah air yang mengalir dari sumber alam. Dingin menyegarkan. Brrr…

Sepanjang perjalanan melewati anak tangga, mata anda akan dimanjakan oleh berbagai tumbuhan liar disisi kiri dan kanan.  Pengalaman yang membuat saya takjub, ketika menuruni anak tangga tersebut adalah ketika melihat seorang pemuda, menggendong seorang nenek menuju keatas. Entah itu ibunya, atau neneknya. Yang jelas pemandangan yang sangat menyentuh hati. Wow!

Ketika kita sudah selesai berurusan dengan anak tangga tadi, kita akan melewati jalan berkerikil sekitar 100 meter menuju ke Kampung Naga. Hamparan sawah di sebelah kiri, dan air sungai di sebelah kanan.

Begitu memasuki Kampung Naga, anda seperti berada di jaman dulu kala. Dimana rumah-rumah tradisional berdiri, berdindingkan kayu, beratapkan jerami, atau entah apa namanya. Berupa serat-serat panjang berwarna hitam. Anak-anak asyik bermain petak umpet, kemudian melemparkean senyum kepada kami berempat. peralatan dapur yang sederhana, tidak ada paving, hanya tanah merah yang bisa licin kapan saja ketika hujan turun.

Mata akan langsung tertuju oleh masjid tradisional dengan beduk dan kentongan. Semua terlihat alami. Sebuah tempat sampah terbuat dari anyaman bambu berdiri dengan indahnya disana. Kampung yang bersih dan rapi.

Niat awalnya pengen nginep disana, eh pas tanya-tanya ke Pak RT (FYI: disana cuma ada satu RT), harus ijin dulu sama sesepuhnya minimal satu minggu sebelumnya.  Baiklah, saya tidak jadi menikmati malam tanpa listrik di kampung eksotis ini. Kapan-kapan harus bisa..hahaha…

Lagi asyik diskusi sama Pak RT yang ramah, baik hati, dan tidak sombong ini, tentang kampung naga (sampai lupa menanyakan nama Pak RT) anak-anak udah ga sabar pengen main di sungai yang jernih banget airnya.

koleksi pribadi

Oya, Pak RT nya santai banget dandanannya, memakai kaos oblong yang sudah koyak di sana sini, cuek gitu. Kami diberi hidangan air putih dan pisang hasil bumi Kampung Naga. Tampilannya sih ga oke ya, tapi rasanya…manis, lembut…sayang ga sempet foto-foto…

Penasaran kan? Datang aja sendiri kesana…Olahraga dan memanjakan mata dengan pemandangan indah di Kampung Naga.

Advertisements

6 thoughts on “Kampung Naga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s