Sate Ayam di Kala Rintik Hujan

Sore menuju petang adalah saat-saat dimana perut mulai memberikan sinyal ‘lapar’. Suhu udara di Bandung yang dingin menusuk tulang karena seharian diguyur hujan, membuat raga enggan untuk keluar rumah sekedar membeli makanan, pun untuk berkutat di dapur idaman. Pilihan jatuh kepada sate ayam keliling  yang sering lewat di depan rumah warga perumahan Sadang Serang Sekeloa Coblong Bandung ini beberapa menit setelah adzan maghrib tiba atau sekitar jam 6 sore.

“Sate … Sate … !!!” teriak ibu-ibu setengah baya mempromosikan satenya diantara remang-remang lampu jalanan dan rintik hujan.

Dengan bantuan selembar kain yang dibentuk bulatan lebih kecil dari kepala, dia memanggul dagangannya diatas kepalanya tanpa khawatir terjatuh dari kepala. Tangan kanan menjinjing alat pembakar sate plus dengan bara api dari arang yang membara dengan malu-malu.

“Beli…!!!” teriak salah satu warga perumahan tersebut.

Penjaja sate ayam segera menghampiri, dan mencari posisi terbaik untuk beraksi. Setelah menanyakan berapa pesanan si pelanggan, daging sate mentah segera dibolak balik diantara bumbu kacang yang telah menunggu dengan setia diatas piring, lalu dibakar diatas bara api. Sambil diberi bantuan angin dari kipas tangan untuk menjaga si bara api. Asap pun memenuhi segala penjuru arah angin. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, sate pun siap disantap.

Satu tusuk sate ayam berisi tiga irisan sedang daging ayam. Salah satunya ada kulit ayam sebagai penyeimbang. Daging yang terasa begitu lembut, tidak alot, dan matang sempurna, plus rasa bumbu kacang yang meresap sampai bagian terdalam. Dipadu dengan siraman bumbu kacang kental yang diolah dari berbagai rempah-rempah, di lengkapi dengan kecap manis yang mempermanis rasa daging, dan beberapa tetes air jeruk nipis, terasa pas di lidah, membuat lidah tidak mau berhenti sampai suapan terakhir.

Dilengkapi dengan lontong yang dibungkus dengan daun pisang, dikemas dengan ukuran sedang, lalu dipotong-potong ditata disamping sate ayam, bertekstur begitu lembut, empuk, langsung lumer di mulut. Nyam…nyam…nyam…

Cukup dengan mengeluarkan uang 10.000 rupiah saja, kita sudah bisa menikmati seporsi sate ayam lengkap dengan lontongnya. Ingin juga mencobanya? Yuk datang ke rumah kontrakan saya…hehehe…

Advertisements

2 thoughts on “Sate Ayam di Kala Rintik Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s