Lindungi Anak Dari Ancaman Pornografi

Selamatkan Anak Kita dari Ancaman Pornografi
Kekerasan terhadap anak telah mewabah secara nasional. Sampai-sampai Presiden kita menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap anak adalah bencana nasional. Meskipun tidak menampik bahwa kekerasan terhadap anak dalam bentuk lain (kekerasan fisik, psikis) juga perlu penanganan secara khusus. Namun media massa lebih mem-blow up berita yang berhubungan dengan isu seksualitas daripada isu kekerasan terhadap anak dalam bentuk lain, sehingga membuat isu kekerasan yang lain tidak terangkat ke permukaan.
Dalam rangka menanggulangi kekerasan seksual terhadap anak, maka diadakan acara Seminar Parenting “Melawan Bencana Kekerasan Seksual” bersama Ibu Elly Risman, Psi. sekaligus Grand Launching SEMAI2045 bersama Yayasan Buah Hati dan bekerjasama dengan Motherhood ITB, media cetak, dan radio dan televisi ternama di Bandung. SEMAI2045 adalah gerakan kolaborasi berbagai pihak dari berbagai latar belakang, dan status sosial. Gerakan ini netral, lintas agama, lintas komunitas, dan tidak berafiliasi pada politik manapun (www.semai2045.org). Acara diadakan di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung, BTC (Bandung Trade Center) Pasteur.
Ibu Elly memaparkan fakta yang ada tentang isu kekerasan seksual yang terjadi di negara kita. Semua peserta antusias mengikuti acara ini, serius menyimak dan sesekali ada yang menyeka air mata. Ada juga yang terperangah melihat fakta yang mencengangkan tentang kekerasan yang terjadi. Tidak jarang peserta mengucap “Aduh”, “Astagfirullah”, “Ck..ck..ck..” membaca dan mendengar fakta yang disampaikan oleh beliau. Demikian juga Ibu Elly sendiri juga sesekali menitikkan air mata, melihat kondisi generasi emas kita. Harus dari mana kita membenahinya?
Beliau pun mengajak kami para peserta untuk menjadi Agent of Change. Semua orang dengan segala keterbatasannya bisa membagikan ilmu kepada sesama. Caranya dengan menyebarkan info apa yang telah didapatkan dari acara seminar ini kepada minimal 3 orang di sekitar kita. Kepada saudara kandung/ipar kita, sesama orangtua tempat anak kita bersekolah, dan tetangga (orangtua dari teman main anak kita). Tidak menutup kemungkinan membagi info via media sosial, salah satunya dengan menjadi relawan jari. Melalui situs http://www.semai2045.org, facebook.com/semai2045, twitter dan instagram @semai2045, juga youtube.com/semai2045.
“Bencana paling besar adalah ketika kita orang dewasa (baca: orangtua) tidak tahu akan bencana kekerasan seksual itu sendiri,” ujar Ibu Elly. Beliau menekankan untuk menjaga anak kita dari bahaya kekerasan seksual yang mengepung dari berbagai arah. Kekerasan dan pornografi masuk melalui beberapa media seperti majalah, koran, tabloid, televisi, novel, buku, komik, internet, games, VCD, lagu.
Beliau menayangkan informasi tentang 11 sinetron yang tidak layak tayang. Namun sayangnya, KPI baru mampu memberikan informasi kepada khalayak ramai tentang tayangan yang layak dan tidak layang tayang. Belum sampai pada tahap penarikan sinetron tidak layang tayang dari televisi terkait.
Kondisi saat ini orang dewasa atau anak yang lebih besar sudah teracuni lewat media tersebut di atas dan mereka berada di sekitar anak kita. Jadi masih mau tidak peduli dengan kondisi yang mengerikan tersebut? Masih tidak mau peduli dengan serangan dari berbagai macam media? Bagaimana dengan anak-anak kita yang kita jaga dengan baik di rumah, namun ketika keluar dari rumah bahaya mengepung dari berbagai penjuru?
Perlu diketahui, usia yang sesuai untuk anak memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar adalah 7 tahun. Karena pada usia tersebut sel-sel syaraf otak baru mulai bersambungan. Bisa anda bayangkan jika usia dibawah 7 tahun, anak sudah masuk SD. Dengan sistem pendidikan di negara kita ini yang penuh dengan beban pelajaran yang menuntut otak kiri untuk bekerja lebih keras. Belum lagi orangtua selalu membombardir anaknya dengan pertanyaan, “Sudah mengerjakan PR? Bagaimana nilai hari ini? Sudah makan belum?, Jangan lupa bereskan kamar!” dan berbagai pertanyaan yang membuat buah hati masa depan bangsa kian tertekan dengan berbagai macam tuntutan yang belum pada waktunya. Mulai sekarang, cobalah tanyakan bagaimana perasaan mereka hari ini, ada cerita seru apa tadi di tempat anak-anak kita beraktifitas? Jangan sampai mereka berprestasi secara akademik namun kosong jiwa.
Usia 0-8 tahun termasuk dalam usia dini. Pada usia ini otak kanan yang lebih aktif, perasaan yang digunakan. Jika perasaan anak tidak dinaungi dengan baik, maka hilanglah empati si anak, berarti hilang juga kebahagiaan anak. Maka dari itu pesan dari Ibu Elly, di usia ini harus ada salah satu orangtua yang mendampingi anak di rumah.
Apakah anak kita mengalami BLAST? Boring, Lonely, Angry, Afraid, Stress, Tired. Boring (bosan) karena rutinitas yang itu-itu saja yang dilakukan. Bangun tidur, sekolah, pulang, les, makan, tidur, bangun, sekolah lagi. Lonely (kesepian), tidak ada yang mengisi jiwa anak, orangtua sibuk dengan dunianya sendiri (bekerja, gadget, salon, merapikan rumah, dll). Angry (marah) dan Afraid (takut) karena tidak ada tempat yang nyaman untuk bercerita tentang dunianya. Bisa karena tidak mendapatkan nilai sesuai harapan orangtua, takut orangtua marah. Marah pada diri sendiri kenapa tidak bisa mendapatkan nilai yang bagus. Stres dengan beban kurikulum yang belum waktunya disampaikan kepada mereka. Tired (lelah) secara fisik dan mental, dengan berbagai les tambahan, dan aktifitas yang mengejar sisi kognitif. Sediakan selalu waktu untuk mendengarkan cerita mereka, isi hati mereka, pemenuhan kasih sayang yang memang sudah hak mereka untuk mendapatkannya secara baik dan benar.
Perlu diketahui, ketika orang menonton konten yang berbau pornografi, maka kerusakan otak bagian atas alis (korteks) sama dengan rusaknya otak seorang pengemudi mobil yang menabrak tiang sampai mobil penyok, dan kepala bagian kanan depan yang terluka. Maka jaga anak-anak kita dari bahaya kerusakan otak yang ada dalam berbagai macam media yang penuh kekerasan dan pornografi.
Sekedar informasi, sasaran utama bisnis pornografi adalah anak laki-laki. Kenapa? Ada 3 hal, yaitu: laki-laki lebih banyak menggunakan otak kiri daripada otak kanan, laki-laki lebih mudah fokus, dan hormon testosteron pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Sasaran lain adalah anak laki-laki yang belum baligh (kurang lebih dibawah usia 7 tahun). Dan ketika sasaran telah tercapai dengan adanya perpustakaan porno yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, muncul dampak pronografi yaitu rusaknya otak secara permanen dan mendorong pada tindakan asusila.
Untuk anak usia 5-7 tahun ajarkan pada mereka untuk membedakan antara orang asing (tak dikenal), kenalan, teman, sahabat, dan kerabat (saudara). Misalkan, orang asing (tak dikenal) adalah orang yang berada di luar lingkungan rumah kita, kita tidak pernah berbicara atau bertemu sebelumnya dan kita tidak tahu asal usulnya. Kenalan adalah orang yang pernah kita temui dan saling berkenalan. Teman adalah orang yang kita kenal, tahu di mana rumahnya, siapa orangtuanya. Sahabat adalah lebih dari teman, orang yang kita ajak berbagi cerita mengenai rahasia kita, sahabat (kerabat) adalah saudara, bisa dari garis ayah atau ibu.
Peran ayah sangat diperlukan dalam mendampingi tumbuh kembang kejiwaan anak kita. Bukan tugas ibu saja dalam mendidik anak, namun tugas dari ayah dan ibu. Ketika seorang anak laki-laki kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah, maka kemungkinan mereka akan menjadi anak nakal, agresif, terjerumus narkoba, dan seks bebas. Jika anak perempuan tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah, maka kemungkinan dia akan menjadi depresi, dan melakukan seks bebas. Mereka adalah amanah Allah, jangan sampai amanah ini di subkontrakkan kepada lembaga pendidikan di luar keluarga. Jangan sampai merasa cukup dengan menyekolahkan anak ke sekolah yang berbau agama, diikutsertakan les mengaji, dan segala hal yang berbau agama, namun kita sebagai orangtua tidak memberikan contoh nyata dalam mendidik anak berlandaskan agama.
Kenalkan anak pada 3 macam sentuhan. Ada sentuhan baik (dari bahu ke atas, dari lutut ke bawah), sentuhan membingungkan (sentuhan dari bahu ke bawah sampai di atas lutut), sentuhan buruk (sentuhan pada bagian yang ditutup pakaian renang yaitu payudara (dada), penis, dan pantat). Hal tersebut bisa menjadi pedoman bagi anak ketika ada orang yang berniat tidak baik pada anak.
Juga ajarkan mengenai rahasia baik dan rahasia buruk. Rahasia baik adalah ketika anak melakukan suatu kebaikan dan orangtua ingin memberikan hadiah kepada anak, namun tidak ingin membuat anaknya yang lain merasa iri). Rahasia buruk adalah ketika ada orang yang mengancam anak untuk tidak melaporkan tindakan buruk yang telah anak dapatkan, ancaman berupa akan membunuh.
Bagaimana jika anak-anak kita adalah pelaku? Bicarakan dengan wali murid, selalu punya praduga tak bersalah, perhatikan jumlah waktu anak ketika bermain games atau internet (normalnya 15-20 jam/minggu), lacak situs atau game yang anak lihat dan anak mainkan, berbicara dengan anak, mulai membicarakan apa yang dilakukan teman-temannya, tanyakan tentang dirinya, jelaskan konsekuensi dunia akhirat (PMS, mengganggu hubungan suami istri dan keutuhan anggota keluarga, dosa menyebabkan masuk neraka).
Lalu bagaimana tanda bahwa anak kita adalah korban? Tanda-tandanya adalah menghindari buang air kecil, menjadi pemalu, maupun menarik diri dari lingkungan. Kesadaran akan masalah kelamin dan tindakan serta kata-kata yang berkonotasi seksual yang berkonotasi seksual sering terucap. Ketakutan yang luar biasa dan mencolok akan seseorang atau tempat tertentu. Jadi kita harus peka terhadap bahasa tubuh dan keluhan anak.
Maka tindakan yang harus kita ambil adalah periksa kemaluan anak, berikan banyak pelukan dan belaian sebagai bentuk rasa aman, tanyakan pada anak secara perlahan apa yang telah dia alami, siapa pelakunya, dan apa yang dirasakan. Lakukan terapi, laporkan ke kepolisian jika korban merasa yakin bahwa kasusnya akan dilanjutkan, hubungi P2TP2A untuk memperoleh informasi atau meminta pendampingan. Usahakan kasusnya jangan beredar di masyarakat untuk memudahkan pengusutan dan penangkapan pelaku.
Mari tanyakan pada diri sendiri. Baca perlahan-lahan dan renungkan. Apakah kami sudah siap menjadi orangtua di era digital? Apakah sebagai orangtua dan guru sudah kompak dan terlibat penuh dalam pengasuhan? Apakah kami mengetahui bahwa dampak anak mempunyai HP, berinternet ria, dapat merusak otaknya? Sudah sejauh mana ya terjadi gangguan pada anak-anak kami? Apakah hubungan kami dengan anak-anak dekat dan hangat? Apakah kami bisa berbicara dari hati ke hati dengan mereka? Apakah anak-anak kami merasa dirinya berharga? Apakah mereka cukup mampu berfikir kritis? Apakah mereka tahu dan sadar, internet dan games bisa merusak otaknya? Bagaimanakah masa depan anak-anak kita?
Demikian ilmu yang saya dapat dari acara Seminar Parenting Melawan Bencana Kekerasan Seksual. Let’s Be Hero! Let’s Be Agent Of Change!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s