Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Advertisements

Kok, Enggak Adil?

Ada yang merasa kehidupan rumah tangganya penuh dengan ketidakadilan? Daripada belajar ilmu kebatinan, mending santap ilmu dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida berikut ini:

Salam, Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-94, kita akan bahas tema pernikahan, tentang adil.

Beberapa waktu yang lalu, entah topik apa, kita pernah membahas konsep ini:
Kita ini pasangan, saling melengkapi, saling menginspirasi. Kamu baik aku tentu baik; kamu jadi buruk, aku akan tetap baik.

Ternyata belakangan ada yang protes, “Nggak adil, dong! Dia baik ya saya baik, dia jadi buruk masa juga kudu baik. Enak di dia susah di saya.”
—ini ucapannya saya dramatisir. Ucapannya aslinya sih halus, tapi kan biar seru 😀

Dalam membina hubungan pada era modern ini, kita ingin relasi yang setara, ingin diperlakukan secara adil, dan berbagi tanggung jawab bareng-bareng.

Saya sampaikan, adil menurut saya itu bukan lantas 50:50. Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman rumpi saya, pembagian seperti itu justru bikin perkara.

Hari ini kan aku sudah ngepel, Ayah nyikat kamar mandi, dong.
Aku sudah antar anak-anak seminggu ini. Minggu depan Mama yang antar.
Aku sudah kasih semua gaji, masa lebih sering makan masakan warung.
Aku sudah kasih sekian, kamu harus mengembalikannya dengan nilai yang sama.
Aku sudah baik begini, masa sih kamu masih saja nggak bisa baik sama aku.

Dalam berumah tangga, prioritas yang paling utama adalah rumah tangganya, bukan suaminya atau istrinya sebagai pribadi.

Jadi, yang menjadi ukuran adilnya bukan ketika masing-masing memperoleh haknya secara setara, tapi apakah pernikahannya berjalan baik.

When the marriage works well, bukan saatnya lagi hitung-hitungan siapa yang punya peran lebih banyak, atau siapa yang mengacaukannya lebih sering—eheheh.

Penafian: bahasan ini menafikan unsur KDRT, ya. Jika ada kekerasan atas nama menjaga keberlangsungan pernikahan, adil yang saya sebut dalam bahasan di atas tidak berlaku.

Balik lagi.
kita (atau saya deh) kesal ketika pasangan tidak menunjukkan sikap yang menurut kita pantas, padahal kita sudah merasa melakukan banyak kebaikan.

“Kok sepertinya saya yang harus keluar effort lebih untuk membuat suasana pernikahan kami menyenangkan, ya? Pasangan saya santai saja tinggal menikmati hasilnya.”

Bukan berarti kepentingan masing-masing jadi hilang juga, lho, ya. Adil dalam pernikahan juga bukan berarti mengorbankan diri.

Adil di sini adalah keluwesan.
Kapan mengalah, kapan unjuk taring—pastikan taring Anda sehat, bebas dari karang gigi 😀

Yang wajib diperhatikan adalah kepentingan Anda, kepentingan pasangan, dan kepentingan pernikahan.
Ada saatnya salah satunya harus diprioritaskan, artinya ada yang wajib menyisihkan keinginan.

“Ih, Bu Anna. Perasaan saya melulu, deh, yang ngalah. Dia sih seperti nggak mau ngerti pengorbanan saya.”
Tunggu.
Jangan-jangan pasangan kita pun membatin hal yang sama #tutupmuka

Ayo temani saya berpikir berdasarkan fakta. Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan? Menjaga keharmonisan rumah tangga?
Buat apa?

Tarik semua pertanyaan ke sana.
Pernikahan yang asyik itu buat siapa, sih? Masa masih mau itung-itungan dan kirim tagihan?

Anyway, saya menulis berdasarkan obrolan saya dengan teman—ada juga beliau di sini, semoga sudah lupa pernah bahas ini—jadi mungkin tidak berlaku pada Bapak Ibu sekalian.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Diet dengan Cara Menipu Tubuh

download
vemale.com

Siapa yang tidak memiliki impian bertubuh langsing juga sehat? Hati-hati, lo, jangan sampai saking semangatnya menurunkan berat badan, berbagai usaha dilakukan tanpa memperhatikan asupan sehat. Apabila pola diet Anda kurang memperhatikan kesehatan tubuh, alih-alih langsing, malah semakin menggelembung, deh.

 

Daripada coba-coba program diet tak jelas, simak tips diet sehat dari DR. Phaidon L. Toruan, MM, dalam buku karyanya “Fat-Loss Not Weight-Loss: Gemuk Tapi Ramping” berikut ini:

Frekuensi Makan
Kalau Anda terbiasa makan sehari sekali dengan alasan diet, sampai-sampai membuat badan lemas, keluar keringat dingin, kurang berenergi, lalu malah berat badan bertambah, Anda harus menghentikannya sekarang juga. Kebiasaan tersebut merupakan kesalahan terbesar dalam diet. Pasalnya, metabolisme menjadi menurun berdampak pada tubuh yang kesulitan membakar lemak.

Screenshot_2017-09-26-02-50-33
IG @gorrygourmet

Menurut penelitian, frekuensi makan lima sampai dengan enam kali dalam sehari dianggap dapat membantu membakar lemak dalam tubuh. Penjelasannya bahwa dalam proses mengolah makanan, tubuh memerlukan energi. Jadi, saat proses pengolahan energi bertambah, metabolisme tubuh juga kian meningkat. Harus diingat, frekuensi makan yang sering yaitu mengonsumsi makanan sehat rendah kalori. Semakin berkurang frekuensi makan, maka menurun pula metabolisme tubuh.

 

Jumlah Asupan
Para binaragawan menerapkan pola negative calori food. Alasannya, dengan mengonsumsi makanan non kalori tersebut tak akan membuat badan gemuk. Makanan apa, tuh? Pasti penasaran, kan? Jawabannya brokoli. Sayuran dengan nol kalori ini memberikan tugas bagi tubuh dalam proses mencernanya yang membutuhkan tenaga.

brokoli disehat com
disehat.com

Brokoli mampu memberikan sensasi kenyang pada tubuh. Anda bisa menambahkan menu berupa timun dan tomat, sayuran ini juga termasuk bervolume penuh. Untuk menambah cita rasa, Anda bisa menambahkan vinegar dan minyak zaitun.

 

Fakta tentang brokoli yang perlu Anda ketahui, sayuran jenis krusivera ini yang termasuk juga dalam keluarganya, yaitu kembang kol, pok cai, dll, kaya zat diindolymethane. Fungsinya membantu menambah jumlah estrogen dan testosteron. Nah, bagi Anda yang memiliki kesibukan yang cukup tinggi, makanan diet bisa Anda peroleh dengan mudah. Caranya Anda bisa melakukan pemesanan di catering online. Emang ada, gitu? Ada, dong. Catering sehat yang berkantor di Jakarta ini bisa menjadi pilihan. Anda tinggal masuk ke alamat situs http://www.gorrygourmet.com lalu pilih menu diet yang Anda inginkan. Bagi yang berdomisli di luar Jakarta, Anda tetap bisa melakukan pemesanan, lo. Asyik, bukan? Satu lagi, Gorry Gourmet ini sudah memiliki sertifikasi halal.

Air

mydmg blogspot com.jpg
http://www.mydmg.blogspot.com

Hal yang memberikan persepsi rasa kenyang pada otak yaitu saat lambung meregang. Air bisa menjadi pilihan jitu dalam menipu otak. Cobalah minum 2 sampai dengan 3 gelas air putih sebelum makan makanan kurang sehat. Dijamin Anda akan merasa kenyang terlebih dahulu.

Undangan Makan-Makan

Kala menerima undangan baik itu pernikahan, ulang tahun, reuni, atau sekadar kumpul bareng, pastinya akan terhubung dengan menu makanan enak berbagai macam jenis. Apalagi saat musim nikah, dalam seminggu undangan yang datang bisa lebih dari dua. Nah, cara menghindari mengonsumsi makanan kurang sehat di lokasi pernikahan dengan mengisi perut Anda dengan makanan sehat dari rumah. Tak sampai kenyang, cukup setengah kenyang saja. Jadi, diet Anda tetap berjalan lancar, sisa waktu bisa Anda pakai untuk beramah tamah dengan teman dan sahabat.

pixabay com
pixabay.com

Pilihan lain saat Anda tak sempat makan makanan sehat dari rumah, kala menghadapi aneka makanan penggoda mata, ambil terlebih dahulu menu buah lalu isi penuh piring Anda. Mengonsumsi buah-buahan mampu memberikan 3 keuntungan, perut kenyang, asupan vitamin dan mineral yang banyak, dan kandungan serat yang menutup lemak masuk ke dalam tubuh. Buah-buahan mampu menetralkan asam dalam menu makanan tak sehat, kelebihannya risiko terkena osteoporosis lebih kecil.

 

Selamat melakukan tipuan diet, ya!

Menikmati Indahnya Curug Tilu Leuwi Opat

Masa liburan pasti seru dengan menikmati keindahan alam yang ada di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat ini.

Sebuah air terjun mini yang berjumlah tiga bakalan menyita perhatian Anda. Curug Tilu Leuwi Opat (bahasa Sunda) yang berarti air terjun sebanyak tiga buah dengan empat sungai besar.

FB_IMG_1505565114235
koleksi pribadi

Perjalanan dari Cimahi menempuh waktu sekitar 50 menit. Lalu, Anda harus melalui jalan setapak sekitar 45 menit. Beberapa pemandangan dan pengalaman seru akan Anda nikmati seperti menyeberangi jembatan bambu ala kadarnya, jalur pipa air, jalur menanjak, licin, mantap deh pokoknya! Bolak-balik terpeleset? Serunya di situ.

Anda bisa membawa buah hati berpetualang juga sebagai sarana mengenalkan dan mensyukuri karunia Tuhan berupa keindahan alam yang ada di Indonesia.

FB_IMG_1505565126612.jpg
koleksi pribadi

Aga (7) semangat berpetualang meski bolak-balik terpeleset. Si kecil Apim (4) saat jalur menanjak dia bilang, “Apim capek.” Tandanya dia minta gendong ayahnya. Kalau jalur landai, dia bilang, “Apim udah enggak capek.” Kembali bersemangat berpetualang.

Nah, sesampainya di curug pasti langsung  tergoda untuk nyemplung mencicipi dinginnya air.

Aga seneng banget melewati bebatuan di sungai, meski sesekali terjatuh. Main ciprat-cipratan air, seru banget!

FB_IMG_1505565139125.jpg
koleksi pribadi

Memandang aliran air yang cukup tenang merasakan dingin dan jernihnya air Curug Tilu Leuwi Opat, bakalan menghanyutkan segala permasalahan yang bikin kepala cenut-cenut.

Setengah jam sudah cukup bikin menggigil. Penasaran? Kalau lokasi Anda jauh dari Jawa Barat, cukup klik tiket.com. Beli tiketnya dan segera merasakan sensasi petualangan di bumi parahyangan.

Murah meriah dan bahagia!

Oleh-Oleh? Harus, Ga, Sih?

Pernah, dong, ya, ditodong oleh-oleh sama teman dan saudara begitu terdengar kabar kamu mau jalan-jalan alias travelling? Gimana rasanya? Bahagia? Dongkol? Bete? Atau ada rasa lain? Rasa yang pernah ada, gitu? Ngomong apa ini? Kembali ke topik, ya.

Kalau ada dananya, tenaganya, waktunya, sih, enggak masalah. Kalau ternyata duit pas-pasan, trus transportasi dan penginapan yang kamu pilih aja semurah mungkin, belum lagi pengen bebas eksplorasi enggak mau ribet mikir yang lain, bawaan diri aja udah bikin repot, tambah lagi cari lokasi oleh-oleh kalau bisa dapat yang murah. Haduh, gimana, ini?
Tenang. Kamu berhak membawa oleh-oleh atau tidak. Semua itu bukan sebuah kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban sama bu RT setempat. Misal emang enggak ada duitnya, tak perlu maksain ngutang.
Ada tips, asyik, nih, kalau kamu ada dana, waktu, dan tenaga buat nyari oleh-oleh:
1. Murah dan Banyak
Cari oleh-oleh dengan harga yang murah dan dapat banyak. Misalnya pin, gantungan kunci, gelang. Di jalan keluar dari Candi Prambanan ada, lo, yang jual gelang dan pernak-pernik harga seribuan. Ini pengalaman penulis di Januari 2017 kemarin.
2. Satu Lokasi
Nah, kalau kamu lagi travelling ke Pulau Tidung, bawain aja pasirnya. Tinggal dikemas dalam botol plastik mungil, jadi, deh, oleh-oleh unik ala kamu. Bisa juga beli ke penjaja oleh-oleh yang berseliweran di sekelilingmu. Sekalian membantu perekonomian mereka, tuh. Enggak menghabiskan waktu atau memotong waktu buat refreshing kamu, kan?
3. Aman
Pastikan oleh-oleh yang kamu bawa aman di jalan. Bukan pecah belah, benda cair yang bakalan tumpah ruah bikin perjalanan enggak asyik, atau beraroma menyengat seperti bawang merah, durian, dll.

Oiya, ada tempat jualan oleh-oleh Indonesia, lo. Namanya Omiyago.

_20170914_074252
http://www.omiyago.com

Di sini kamu enggak perlu ribet sama yang namanya oleh-oleh, apalagi buat para pecinta kuliner di berbagai pulau di Indonesia. Lengkap, deh! Tinggal klik, pilih makanan atau barang yang kamu pengen kasih ke orang-orang terdekat, bayar, deh. Barang langsung dikirim ke tujuan. Tahu, enggak, sih, kemasannya cantik dan berkelas, lo. Enggak malu-maluin buat dikasih ke orang terdekat. Asyik, kan?
Atau kamu mau kasih oleh-oleh khas Indonesia ke orang tercinta berupa tiket perjalanan menuju lokasi yang lagi kamu nikmati, karena ternyata indah banget, harus segera pesan tempat sebelum kehabisan.

_20170914_075007
http://www.laditatour.com

Kanu bisa pesan tiketnya ke Ladita Tour. Sekali klik kamu bisa milih penerbangan, hotel, persewaan mobil, toko asesoris juga.
Nah, kalau kamu tidak punya budget buat beli oleh-oleh, gimana, dong?
1. Asertif
Sama kaum peminta-minta harus berani bilang “tidak”. Contohnya, “Mau dibeliin, apa? Sini duitnya transfer juga, boleh.” Ayo, kamu pasti bisa!

2. Buang Rasa Tak Enak Hati
Kalau ngurusin rasa enggak enak hati bakalan tiada akhir. Nyantai aja kayak di pantai. Woles, Bro! Takut diomongin? Berarti mereka perhatian sama kamu, sampe disempetin membahas kamu. Lagian, kata ustadzah, dosa, lo, ngomongin orang lain. Dosa orang yang diomongin bakalan berpindah ke yang ngomongin.

3. Buka Bisnis Oleh-Oleh
Wah, kalau ide yang satu ini bakalan menyenangkan. Kamu bisa jalan-jalan dengan tenang, uang pun datang. Setiap makhluk di bumi yang hendak travelling lalu butuh oleh-oleh bisa menghubungi kamu. Mereka liburan dengan asyik, oleh-oleh sampai di tujuan. Ada teman yang suka nodong oleh-oleh? Kasih saja kartu nama bisnismu. Suruh pilih oleh-oleh apa aja, trus jangan lupa suruh bayar juga.

Gimana? Udah enggak pusing lagi, kan, sama urusan oleh-oleh?

Selamat liburan, ya!

Ada Apa di Cirebon?

Bagi pengguna jalan raya jalur pantura tentu saja sudah tak asing lagi dengan daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang satu ini. Cirebon merupakan wilayah pesisir dengan banyak wisata sejarah, terkenal akan terasi udang-nya, juga mempunyai kerajinan batik cantik bermotif Mega Mendung.

Sega Jamblang

Cirebon memiliki makanan khas bernama Sega Jamblang/Sego Jamblang/Nasi Jamblang. Penampakannya berupa nasi putih sekepalan tangan orang dewasa yang dibungkus daun jati sekitar 1-2 lembar. Daun ini berfungsi menjaga nasi supaya tidak mudah basi.

google.com
google.com

Kuliner yang satu ini sudah ada sejak pembangunan jalan Anyer-Panarukan pada tahun 1808 yang melintasi Cirebon. Sega Jamblang merupakan konsumsi para pekerja pada waktu itu. Sega Jamblang juga dijadikan sebagai makanan siap saji bagi para kuli pelabuhan, kereta api, pabrik gula, sopir, dan pasar. Di dalamnya hanya terdapat sepotong ikan asin dan sedikit sambal. Teman makan si Sega Jamblang cukup beragam saat disajikan di warung makan. Mulai dari sate telur puyuh, sate udang, sate kentang, telur balado, semur jengkol, semur hati, semur daging, cumi, ikan asin, sambal goreng ati, tahu sayur, telur dadar, blakutak (sejenis cumi yang dimasak dengan tinta yang terdapat dalam tubuhnya), dll. Bagi yang belum pernah mencicipi tentu penasaran, kan, sama makanan yang satu ini? Segera meluncur ke lokasi, ya!

Tari Sintren

Tarian khas daerah pesisir ini bermula dari kisah cinta yang tak direstui antara putri Sulasih dan Raden Sulandono. Lalu, Putri Sulasih memilih pergi dari rumah dan mengabdikan diri menjadi penari, sedangkan Raden Sulandono memilih menyepi dengan bertapa.

pikiran rakyat
google.com

Dalam menarikan tarian tersebut, syarat mutlaknya yaitu perempuan yang masih perawan. Penari ditemani oleh seorang pawang dan 6 orang yang memainkan gending. Alat musik gambyung/tembikar juga ikut serta meramaikan tarian penuh mistis ini. Unsur mistis dalam tarian tersebut berupa pemanggilan roh bidadari ke dalam tubuh si penari sebagai simbol pertemuan antara Putri Sulasih dan Raden Sulandono.

Gua Sunyaragi

Berdasarkan wawancara lewat pesan singkat dengan Mustaqim Asteja, Ketua Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula, Gua Sunyaragi dibangun oleh Pangeran Aria pada tahun 1703. Lokasinya berada di Jl. Brigjen AR. Dharsono, Kota Cirebon. Kata Sunyaragi sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, sunya yang berarti sepi, dan ragi yang memiliki makna raga. Jadi gua ini diperuntukan sebagai tempat tafakur/tahanut dan istirahat para sultan Cirebon dan keluarganya. Menurut riwayat, gua yang eksotis ini pernah dijadikan markas perang.

images (1)
google.com

Bagiannya sendiri terdapat 12 lokasi, terbagi sesuai fungsi masing-masing. Salah satunya ada Gua Kelanggengan yang memiliki fungsi sebagai tempat bersemedi dengan tujuan agar memiliki jabatan yang awet. Gua Sunyaragi dibangun dengan perpaduan gaya antara Hindu, Tiongkok, Islam, dan Eropa.

Gua yang masuk dalam cagar budaya ini memiliki luas 1,5 hektar, jadi kalau Anda berniat berkunjung ke sini, pastikan kostum yang Anda pakai tepat dan menyediakan bekal secukupnya untuk menghindari dehidrasi selama mengeksplorasi wisata sejarah yang satu ini.

Pantas rasanya untuk mengunjungi wilayah Indonesia di propinsi Jawa Barat ini, bukan?

Semoga dengan semakin mengenal berbagai daerah di Indonesia akan menumbuhkan rasa cinta pada bangsa, berupa melestarikan budaya yang merupakan ciri khas suatu bangsa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Cirebon, didukung oleh Smartfren dalam rangka mempromosikan wisata dan budaya Cirebon.

rebon.org
rebon.org

Ayo cintai budaya negeri sendiri!

Stop Being Drama Queen and King

28 Juli 2017

14:43 WIB

Disiarkan langsung dari Bandung, narasumber kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati, Anna Farida menyampaikan materi: Salam Sehati, Bapak Ibu.
Ini adalah kulwap yang ke-86 dan kita akan membahas tema pernikahan, STOP BEING DRAMA QUEEN AND KING.

Salah satu teman saya pernah curhat—so, hati-hati cuhat sama saya, nanti jadi materi kulwap 😀

“Bingung saya sama dia, Mbak. Rasanya saya ini cukup perhatian, sudah meluangkan waktu spesial hanya untuk kami berdua. Tapi baginya, saya masih saja belum memenuhi harapan sebagai pasangan ideal. Masalah-masalah sepele dia buat besar, dan lama lama saya berpikir kok jadi sering ada drama. Urusan saya kan banyak.”

Ada orang yang lurus menjalani hidupnya lurus-lurus saja, sampai pasangannya rindu dinamika. Ada yang hidupnya beralih dari krisis ke krisis yang lain dan kita mendoakannya. Ada pula yang memang (sadar atau tidak sadar) senang menciptakan drama dan memang cari drama.
Istilahnya drama queen atau king—yang sering meributkan sesuatu yang tidak penting, dan caranya ribut itu bikin gempar.
Walau berlaku bagi kaum lelaki dan perempuan, istilah drama queen atau ratu drama lebih populer—sebel, ih!
Karenanya, ayo cari istilah lain, misalnya drama addict 😀

Biasanya, secara emosional, dia mudah meledak karena hal hal yang tidak sesuai kehendak—hal-hal yang kecil, yang sebenarnya tidak perlu dibawa marah. Kita pernah bahas dalam materi “RECEHAN”.
Salah satu contohnya adalah bangun telat, padahal tidak akan ke mana-mana, tapi ngomelnya ke mana-mana, ke siapa pun yang ada di dekatnya, dan lama.
Ujung-ujungnya dia mengasihani diri karena merasa tidak diperhatikan, juga malu karena tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Mau tahu contoh lainnya? Tonton satu saja opera sabun—ingat, ya, satu saja—Anda akan dengan cepat menemukan karakter ini. Kemudian kita sama-sama lihat, adakah karakter itu ada dalam diri kita—mungkin sekian persen saja?
Lantas, bagaimana kira-kira perasaan pasangan kita menjalani hidupnya dengan karakter kita ini? Eheheh.
Tentu, ada orang yang terlihat seperti ratu atau raja drama, dan dia memang hidup dalam kesulitan—ini harus dibantu. Ada orang yang memang sakit dan selalu memiliki keluhan kesehatan, ada juga yang merasa selalu sakit tanpa mau diperiksa lebih lanjut, dengan alasan takut ketahuan penyakitnya. Yang terakhir inilah yang drama.

Kita perlu tahu sebabnya, supaya bisa menghindarinya. Demi pasangan kita, dan tentu demi diri kita.
1. Bosan. Bagi beberapa orang, menciptakan drama akan membuat hidup lebih menarik. So, alih-alih main drama, mari kita cari hobi baru yang membuat hidup lebih berwarna. Ajak pasangan melakukan hal baru, kebiasaan baru, menu baru. Yang murah meriah saja, yang penting seru.
2. Cari perhatian. Dia memancing reaksi orang lain untuk lebih perhatian. Minta perhatian pasangan bisa dilakukan dengan banyak cara, bukan meributkan hal kecil dan menuduhnya tidak perhatian. Energi itu memantul. Perhatian kita terhadap pasangan akan menular. Omelan kita padanya akan menular. Drama kita padanya pun akan menular. Energi positif menular, yang negatif pun demikian.
3. Menghindari masalah yang sesungguhnya. Misalnya, masalahnya sebenarnya adalah takut overweight—ini saya banget—dan caranya menghindar adalah dengan curiga saat pasangan terlihat rapi, telat pulang, sibuk dengan pekerjaan, lupa jawab WA, dsb dst.  Kalau mau dapat berat badan ideal ya olahraga dan berhenti ngemil, dong, Bu Anna. Plis, deh.
Nah, dari tiga penyebab di atas, sedikit banyak manusia mengalaminya—artinya takarannya berbeda-beda. Wajar, lah, sesekali main drama. Tapi drama yang beratus-ratus episode kan lama-lama bikin bosan juga.
Demikian refleksi hari ini, semoga bikin teater kehidupan yang sedang kita mainkan di dunia kian bermakna.
Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Mbak Hesti.
Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Madame and Monsieur Bovary

Pernahkah mendengar nama tersebut di judul? Sedikit saya berikan kisi-kisi, nama tersebut adalah wayang dalam sebuah novel asing. Sebuah pernikahan yang jauh dari komunikasi asyik bagi pelakunya. Istri menginginkan romantisme, sedangkan suami dingin bak freezer. Atau bisa jadi sebaliknya. Dan, faktanya memang ada lakon pernikahan yang sealiran dengan model tersebut.

 

Langsung aja, yuk, kita simak materi di Kuliah via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh buku bermutu, Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati. Mereka sengaja membuka kelas keren ini untuk beramal kebaikan bagi sesama.

 

ANDAKAH MADAME DAN MONSIEUR BOVARY?

Masih ingat rumpian kita tentang “Madame Bovary”?
Setelah membaca bukunya beberapa bulan yang lalu, saya nonton filmnya. Cerita filmnya dibuat lebih sederhana, dan saya akan mengisahkannya untuk Anda.
Setting-nya tahun 1500-an, tapi kisahnya sangat up to date.

Emma adalah gadis berpendidikan. Dia senang baca karya sastra, hobi musik, dan membahas hal-hal yang indah.
Dari novel-novel yang dia baca, Emma punya konsep idaman tetang pernikahan. Dia mendambakan romantisme, hari-hari yang penuh kejutan, detail-detail yang membahagiakan.
Dia kemudian dijodohkan dengan dokter yang baik, sederhana, duda.
Dengan harapan yang dibawanya sejak remaja itulah Emma menemukan bahwa pernikahannya jauh dari harapan. Suaminya baik, tapi datar banget—menurut saya terlalu polos untuk seorang dokter.

Misalnya, ini adegan yang bikin saya gemas:
Emma menghabiskan waktu untuk menata makan malam agar terhidang cantik.
Ketika suaminya pulang, komentarnya gini, “Seharian ini kamu bikin makanan ini? Padahal minta pembantu metik buah saja. Praktis, tidak repot.”

Ya ampun!

Apa salahnya bilang “Nuwun, sudah mau repot bikin makanan secantik ini”.
Emma berpikir dirinya kurang menarik dan mulai berdandan.
Sayangnya, setiap upaya yang dilakukan Emma untuk tampil menawan atau membuat rumah mereka indah juga ditanggapi lurus-lurus saja oleh sang suami—termasuk ketika Emma kehilangan kendali, berbelanja baju dan barang-barang mahal atas bujukan pemilik toko.

Pengabaian itu membuat Emma mudah tergoda ketika ada petugas pajak muda yang mau melayani obrolannya tentang sastra. Affair singkat terjadi, tapi Emma segera sadar diri sebagai istri.

Berikutnya, Emma dan sang dokter hadir di pesta dan ada acara berkuda. Sang suami menolak ikut berkuda dan memilih duduk-duduk di lokasi, membiarkan Emma jadi primadona di antara lelaki. Affair berikutnya terjadi dengan tuan rumah pemilik pesta kemudian diputuskan sang lelaki.

Affair berulang ketika Emma bertemu lagi dengan petugas pajak muda.

Seiring waktu, tagihan belanja Emma meledak, suaminya tak mampu bayar, barang-barang disita, termasuk rumah mereka.
Dua mantan kekasihnya pun menolak membantu. Upaya Emma merayu pemilik toko ditolak dengan hina.

Tak mampu menahan malu dan rasa bersalah, Emma mengakhiri hidupnya.
Dalam novelnya, cerita kelam tidak menutup hidup Emma tapi juga suaminya. Dia merasa bersalah karena mengabaikan istrinya, baru sadar ketika surat-surat cinta Emma pada dua kekasihnya dia temukan. Sang dokter pun meninggal dalam derita. Anak perempuan mereka yang tidak diceritakan dalam film juga menderita sepeninggal mereka.

Sudah.

Jadi, mari kita lihat bersama, jangan-jangan kita pun menjadi Madame atau Monsieur Bovary.
Saya tidak membela Emma atas jalan yang dia pilih. Apa pun alasannya, affair tidak bisa dibenarkan.
Pada saat yang sama, dokter yang baik hati itu pun rasanya perlu ikut kulwap biar lebih peka dengan keinginan istrinya.

Bu Elia mengajarkan pada kita bahwa setiap pernikahan itu wajib memiliki visi dan misi bersama. Dalam kisah ini, tak sekali pun saya melihat Emma dan suaminya membahas tujuan pernikahan mereka.

Semua dijalani secara “alamiah” saja. Saya beri tanda petik karena kata alamiah kadang diartikan sebagai apa adanya alias ogah usaha.

Bagi pasangan tertentu, kita belajar dari generasi terdahulu, mungkin tanpa diskusi apa pun, pernikahan bisa langgeng hingga liang lahat. Kita tidak bahas pasangan yang seperti ini.

Yang kita bahas adalah ketika ada ruh Bovary dalam pernikahan kita, entah dari sisi suami maupun istri.
Ada pihak yang merasa tidak diapresiasi, ada pihak yang merasa baik-baik saja. Ada pihak yang punya konsep tertentu, sementara pihak lain tidak menyadarinya—saya tak hendak menuduh ada pihak yang tidak peduli. Yang ada adalah pihak yang tidak tahu, dan pihak lain tidak berusaha memberi tahu.

It takes two to tango. Pernikahan itu milik bersama. Dan layaknya sebuah tim, akan ada salah satu pihak yang jadi leader-nya. Bisa suami bisa istri, masing-masing jadi pemandu pasangannya dalam aspek yang berbeda.

Jika suami lempeng dan istri ingin “bunga-bunga”, pimpin jalannya. Demikian pula sebaliknya. Jika ingin ada romantis-romantisan, bilang saja ke pasangan.

Malu?
Coba, Iqa, jelaskan ke anggota kulwap yang baru bergabung, masihkan perlu malu? Ahahah.
Jika suami lempeng dan istri pun lempeng, lain lagi urusannya. Ini bisa panjang kulwapnya.

Baik, kita diskusi, ya.
Siapa tahu ada Bovary di sekitar kita.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Long Distance Marriage

Jumat, 30 Juni 2017

13:01 WIB

Suci Wulandari kulwap: Tips menjalani LDM
Assalammualaikum warahmatullah wabarakatuh

Halo warga kulwap, salam kenal semuanyaaa… berhubung masih suasana lebaran saya ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1438 H.. semoga Allah menerima amal ibadah kita semua sebagai nilai pahala yang penuh keberkahan, Aamiin..

Kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang tips menjalani LDM (Long Distance Marriage) atau pernikahan jarak jauh, biasanya karena urusan pekerjaan yang mengharuskan suami istri berpisah dalam jangka waktu tertentu..

Kita sama-sama belajar ya Bapak Ibu.. karena saya juga bukan ahlinya, hanya kebetulan saya sekarang ini sedang menjalani LDM, bisa dikatakan masih pemula dalam dunia per-LDM-an.

Pekerjaaan suami saya mengharuskan dia jauh dari rumah selama 6 bulan, dulu bahkan hampir 1 tahun . Kini syukur-syukur kalau pas ada kesempatan 3 bulan sekali sudah bisa pulang.

Apakah mudah? Tentu saja tidak. Namun bukan berarti menjadi sulit untuk dilakukan.

Menjalani pernikahan jarak jauh itu katanya rentan terhadap pertengkaran ( yang dekat aja sering, apalagi yang jauh hehehe) tapi menurut saya, waktu yang sangat sebentar itu terlalu berharga jika hanya digunakan untuk cek cok tiada henti. Jadi sebisa mungkin saat ada sesuatu yang sekiranya bisa bikin suasana tidak kondusif, saya dan suami akan berusaha meluruskan persoalan itu sesegera mungkin, ngga betah marahan lama-lama ☺

Untuk itu, berikut ini adalah beberapa hal yang setidaknya dapat kita lakukan agar pernikahan jarak jauh senantiasa aman damai sejahtera :

🌷 Percaya
Modal awal sebuah hubungan adalah percaya kepada pasangan. Memberikan kepercayaan penuh bisa membuat pasangan kita merasa dihargai. Dan ketika seseorang diberikan penghargaaan sebegitu besar, ia akan sadar betapa kita telah mencintainya dengan tulus. Logikanya, jika seseorang memberikan kepercayaan kepada kita, apakah kita tega mengkhianatinya. Jadi saya selalu menempatkan diri seperti apa jika pasangan tidak mempercayai kita. Ini akan membantu kita untuk lebih mudah memberikan kepercayaan pada pasangan.

🌷Komunikasi
Kita semua pasti sudah memahami bagaimana pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan, terlebih jarak jauh. Biasanya selepas suami kerja, kami menyempatkan diri untuk ngobrol, pillow talk jarak jauh. Sekedar bercerita tentang apa saja yang telah sama-sama kami lalui (tentunya jika signal mendukung, jika kondisi tidak memungkinkan untuk bertanya kabar akibat signal atau cuaca buruk, kembali ke poin pertama) . Komunikasi ini dapat membantu pasangan untuk tetap rekat dan saling terbuka. Jangan biasakan memendam uneg-uneg di hati, bicarakan apa yang perlu dibicarakan, namun tetap perhatikan cara penyampaiannya. Di kulwap sudah pernah dibahas mengenai komunikasi asertif kalau tidak salah 😁 boleh tanya info ke Mba Admin yaa..

🌷Stop interogasi
Para pria tidak suka dicurigai, dan terlebih, terlalu banyak curiga hanya akan membuang waktu kita. Percaya saja, cobalah untuk berbaik sangka. Jika mulai galau dan muncul “kok perasaanku ngga enak ya” segera alihkan. Lihat sisi lain dari pasangan yang telah bekerja keras mencari nafkah dan berusaha membahagiakan kita. Sebaiknya hindari pertanyaan-pertanyaan interogasi seperti, hari ini ngapain aja? Tadi siapa aja yang telepon/sms? Kamu ngga macem-macem kan? Dan lain sebagainya. Ini bisa bikin pasangan kita emosi, udah capek kerja malah ditodong pertanyaan ngga penting. Ingat, kita sudah cukup dewasa, bukan anak kemarin sore yang dikit-dikit ngambek hanya karena telat ngabarin 1 menit. Harus bisa lebih sabar dan bijak ya..

🌷Abaikan komentar orang lain
Tak jarang, hidup jauh dari suami mengundang berbagai komentar miring dari orang lain. Jika tidak pandai-pandai menyaring perkataan mereka, atau bahkan menutup telinga, bisa-bisa kita sering makan ati. Jadi jangan pedulikan apa kata orang lain yang mengatakan hal buruk tentang suami. Kita yang kenal suami lebih baik dari siapapun.

🌷Perbanyak bersyukur
Ketika melihat pasangan lain yang bisa setiap hari bersama-sama, tak jarang ada rasa iri di hati. Apalagi ada banyak moment terlewati tanpa kehadiran suami misalnya saat lebaran dan lain-lain. Maka yang perlu kita lakukan adalah berbesar hati, perbanyak rasa syukur. Pahami bahwa rejeki setiap orang itu berbeda. Ada yang dekat, dan ada yang mengharuskan seseorang itu jauh dari keluarganya. Dukung suami dalam setiap karir dan perjuangannya sehingga ia tidak merasa sendirian.

Jadi Bapak Ibu.. itulah beberapa hal berdasarkan pengalaman pribadi yang dapat saya sampaikan. Semoga dengan adanya tulisan ini mampu mengubah pola pikir tentang LDM, yang semula menganggap LDM itu mengerikan, ternyata bisa dijalani dengan santai. Karena sesungguhnya, jarak paling jauh dari sebuah hubungan adalah kesalahpahaman, bukan pada ribuan kilometer yang memisahkan. Sebisa mungkin mari kita minimalisir kesalahpahaman yang terjadi sehingga kehidupan pernikahan jarak jauh tetap aman terkendali.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi Bapak Ibu semua..

Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf..

Terimakasih Mba Suci, sudah diberi kesempatan untuk berbagi di sini 😊

Wassalammualaikum warahmatullah wabarakatuh..
[6/30, 13:05] Tuti Herawati Kulwap: Wa’alaikumussalaam.

Terima kasih sudah berbagi pengalaman.
Terus terang, saya salut sama pasangan yang bisa menjalani LDM.

Saya mah, suami tugas luar kota beberapa hari saja bisa berasa kehilangan satu sayap. 😊
*lebayinihmah. 😁
[6/30, 13:06] Suci Wulandari kulwap: Hehe sama-sama Mba, sebetulnya kalau ditanya juga mgkn ngga ada yang mau LDMan, tp karena kondisi, jadi ya mau ngga mau 😊
[6/30, 13:22] Julia Rosmaya kulwap: Saya mantan pelaku LDM selama 7 tahun…

Bedanya.. Saya yang bekerja jauh dari rumah.. Bukan Suami hiks…
[6/30, 13:24] Julia Rosmaya kulwap: Tempat kerja saya
Badan Karantina Pertanian penuh dengan pelaku LDM..
Karena kami pegawai negeri pusat yang harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia.

Cerita LDM teman-teman saya pernah rangkum dan tulis di blog saya…

Mohon ijin share link blog untuk menambah wawasan
[6/30, 13:25] Suci Wulandari kulwap: berati skrg udah engga jauhan lg ya Mba ☺
[6/30, 13:25] Julia Rosmaya kulwap: http://juliarosmaya.blogspot.co.id/2016/02/long-distance-married-tips-ala-petugas.html?m=1
[6/30, 13:26] Julia Rosmaya kulwap: http://juliarosmaya.blogspot.co.id/2016/03/long-distance-married-tips-ala-petugas.html?m=1
[6/30, 13:26] Suci Wulandari kulwap: Asyikk lebih banyak lagi yang berbagi pengalaman.. makasi Mbaa
[6/30, 13:27] Julia Rosmaya kulwap: Alhamdulillah sejak 2011 ditempatkan di UPT dekat rumah

Tapi ini Mulai deg deg plus karena sudah 6 tahun disitu.. Sepertinya harus siap pindah lagi
[6/30, 13:27] Julia Rosmaya kulwap: 😘
[6/30, 13:34] Devy Nadya Aulina kulwap: Barangkali anaknya super aktif atau sangat aktif, Pak. Kalau hyper aktif, itu suatu kelainan dan memerlukan terapy.

Anak hyper aktif, biasanya sulit konsentrasi. Juga sebaiknya menghindari makananan yang mengandung gluten (berbahan tepung terigu), karena ada masalah juga dengan pencernaannya.

Banyak sekali orang tua bahkan pendidik sekali pun, melabeli anak yang aktif bergerak, cenderung punya energi berlebih dengan sebutan ‘anak hyper aktif’. Padahal tidak semudah itu memberikan label ‘hyper aktif’ pada anak. Perlu pemeriksaan dokter, juga psikolog.

Saya bisa menjawab ini, karena dulu putra saya dicap hyper aktif. Padahal Reza, dia anak sangat aktif atau super aktif. Reza juga termasuk type anak kinestetik. Sejak bisa jalan di usia sebelas bulan, dia cenderung tidak bisa diam. Di TK dan kelas 1 SD, dicap nakal. Ia belum puas kalau barang yabg menarik perhatiannya belum ia pegang. Padahal dia pintar.

Karena selama ini, banyak para pendidik, khususnya di pendidikan dasar, tidak mendapatkan ilmu psikologi anak dan macam-macam type belajar anak. Anak baik, manis dan pintar, biasanya disematkan pada anak yang duduk manis di kelas dan cenderung diam.

“kalau Ibu anaknya diaaaam … saja, nanti ibu malah bingung,” begitu biasanya jawaban kenalan saya para dokter dan psikolog.

“Anak Ibu sehat dan cerdas. Dia tidak apa-apa, koq, ” jawaban yang membuat saya tak peduli lagi pada apa kata orang lain tentang anak saya.

Sekarang Reza kelas lima SD. Tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, kreatif dan tidak mudah sakit. Kesukaannya pada dunia elektronik, sudah saya perhatikan dimulainya sejak usianya 2 tahun. Usia yang sangat muda. Usia 4 tahun sudah bisa membuat mesin sederhana menggunakan dinamo bekas, dan barang-barang bekas di sekelilingnya. Kinestetiknya berkurang, dan yang terlihat sekarang malah, audio dan visualnya yang lebih menonjol. Sikap kritisnya pun sering membuat kami terpana.

Sahabatku, para ayah dan bunda. Jangan cepat melabeli anak dengan cap yang negatif. Kita dapat berdiskusi dengan para orang tua yang lebih berpengalaman dalam hal pengasuhan anak. Atau, bisa bertanya pada orang yang lebih ahli dan paham.

Dan, yang harus kita para orang tua sadari, setiap anak itu merupakan pribadi yang unik. Mereka diciptakan Allah ta’ala dengan istimewa. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

*Devy Nadya Aulina.*
Bunda dari dua anak.

Kota Angin, 6 Syawal 2017 (30 Juni 2017)

#DevyNadyaAulina
#Parenting
#DiskusiParenting
#MenulisDariHPItuAsyik
#MenulisSpontan
[6/30, 13:35] Devy Nadya Aulina kulwap: ☝☝ Alhamdulillah, jadi punya tulisan satu artikel parenting yang akan saya bust status FB dan postingan blog.
[6/30, 13:36] Suci Wulandari kulwap: Makasi Mba Devy… saya juga sedang belajar mengasuh dan mengasihi anak saya yang juga aktif… seperti dapat pencerahan
[6/30, 13:37] Julia Rosmaya kulwap: 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
[6/30, 13:43] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak aktif, pertanda anak kita sehat dan bahagia, Mbak @Suci Shofia
Dia penuh tawa, dan lebih supel dalam pergaulan.

Kewajiban kita untuk mengasihi dan mencintai anak-anak kita. Alhamdulillah anak-anak saya tumbuh normal, sehat, dan cerdas.

Saya mencatat perkembangan mereka sejak dari kandungan. Saya hafal kapan mereka mulai memiringkan badan, tengkurap, duduk, merangkak, bicara, jalan dan semua tumbuh kembang mereka. Karena bagi saya, proses tumbuh kembang mereka itu ‘amazing’.
[6/30, 13:52] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak hyper aktif ada ciri-ciri yang bisa kita kenali. Biasanya tidak ada kontak mata saat berkomunikasi, sering tantrum, sulit konsentrasi dll. Ini yang sering membuat para orang tua terkecoh melabeli anaknya yang aktif, sangat aktif/super aktif dengan sebutan hyper aktif.

Suami saya dulu pernah sakit hati, saat saya terpengaruh dengan orang yang melabeli Reza dengan sebutan ‘hyper aktif’. Padahal dia sahabat saya, dan isteri seorang dokter. Kekecewaan suami diungkapkan pada saya, waktu Reza masih kecil.

Suami selalu mengatakan Reza cerdas, nyatanya Reza memang cerdas. Alhamdulillah. Cerdas dengan kekhasannya. Reza pun cerdas musical. Dia bisa menaikan lagu yang baru didengarnya dengan pianika. Padahal dia sama, sekali tidak les musik.

Alhamdulillah, saya sudah melihat potensi dan minat anak-anak saya sejak mereka kecil. Saya tidak bisa memaksa pada dua anak saya, agar mereka menyenangi dunia kepenulisan dan bisnis seperti bundanya. Suami selalu menekankan pada saya, anak-anak punya dunia sendiri.

Saya tidak ingin, anak-anak mengalami seperti saya dulu. Mama memaksakan kehendaknya pada saya, padahal saya punya cita-cita sendiri, yang ingin saya wujudkan.
[6/30, 13:55] Devy Nadya Aulina kulwap: Sama-sama, Mbak @Suci Wulandari kulwap #eh, Dik Suci. Semoga bermanfaat sharing dari saya. 😘😘
[6/30, 14:52] Suci Shofia: hihihi
[6/30, 14:55] Suci Shofia: betul banget, saya LDM 1 bulan trus nyusul deh 😁
[6/30, 14:56] Suci Wulandari kulwap: Klo masih bisa disusulin mah enak..
[6/30, 14:56] Ella Kurniasetiani kulwap: Saya saat ini sedang LDM, kapan libur, nyusul.. 😁☺
[6/30, 14:58] Suci Wulandari kulwap: 😁 asyiknyaa
[6/30, 14:59] Suci Shofia: hehehe untungnya bisa 😉
[6/30, 15:00] Ella Kurniasetiani kulwap: Soalnya kerjaan suami terbilang gak jelas jam kerja. Bisa pagi, siang, sore atau malam breaknya. Ya sudah, saya aja yg ngalah. Tapi ya,liat kondisi keuangan juga sih. Istilahnya kan punya dapur dua, gitu…
[6/30, 15:02] Suci Shofia: Mba @Julia Rosmaya kulwap hebat euy!
[6/30, 15:09] Julia Rosmaya kulwap: 😘
[6/30, 15:17] Ari Dian Sari Kulwap: Awal2 nikah saya juga LDM. tapi tiap minggu ketemuan, cuma terpisah pulau aja. 2 tahun lah begitu. Trus saya pindah kerja ikut suami ke Pulau itu 😁

Terakhir LDM pas suami kuliah di yogya. Saya ditinggali 3 anak, mana yg kecil masih bayi 😂. Tanpa orang tua, waduh berasa banget deh. Suami pulang pas lebaran aja.

Alhamdulillah sekarang udah kumpul sama2 lagi ☺
[6/30, 15:27] Suci Shofia: wuih, nano nano rasanya pastinya. keren bisa melewatinya 😉
[6/30, 15:28] Ari Dian Sari Kulwap: Alhamdulillah Mbak Suci ☺
[6/30, 15:57] Tuti Herawati Kulwap: Mba Devy, 👍😘
Terima kasih sudah menjelaskan panjang lebar. 🙏🏻

That’s why di atas saya tanya dulu si penanya.

Banyak yang keliru memahami istilah “hiperaktif”. Hiper dan hipo itu perlu penanganan dan tidak sembarang dilabelkan ke anak.
[6/30, 16:01] Suci Shofia: setuju😉
[6/30, 16:04] Abu Ayyub Hadi Kulwap: Oh gih, super aktif jiddan… Hehehehe wes super pakai jiddan…
[6/30, 17:17] Devy Nadya Aulina kulwap: Sama-sama, Mbak @Tuti Herawati Kulwap 😘
[6/30, 17:20] Devy Nadya Aulina kulwap: Anak-anak aktif, beri rangsangan lebih agar daya kreasi mereka tersalurkan, Pak @Abu Ayyub Hadi Kulwap
Enggak selalu dengan barang mahal, barang murah-meriah dan murah pun, OK, koq.
[6/30, 18:12] Julia Rosmaya kulwap: Kalau sekarang mengenang masa itu rasanya seru ya hehehe

Padahal waktu menjalani berat-berat gimana gitu
[6/30, 18:20] Ari Dian Sari Kulwap: Haha iya mbak Julia… Gak berasa penantiannya 😂
[6/30, 19:11] Kholifah Haryani kulwap: Terima kasih… bagus nih buat persiapan yg mau/akan LDM-an…
meski sy bisa dibilang “gagal” LDM 😬
[6/30, 19:15] Suci Wulandari kulwap: Mudah-mudahan bisa sedikit kasih gambaran sekilas kehidupan LDM.. lho ,kok, gagal? 😦
[6/30, 19:16] Kholifah Haryani kulwap: hehe… berpotensi “konflik”, kami memutuskan untuk bersama saja… 😁
[6/30, 19:17] Kholifah Haryani kulwap: secara juga masih memungkinkan untuk hidup bersama, mbak Suci
[6/30, 19:18] Kholifah Haryani kulwap: alhasil, rumah ditinggal, anak2 pindah sekolah, & kami cari rumah tinggal baru di tempat baru…
[6/30, 19:20] Suci Wulandari kulwap: Alhamdulillah pkoknya mana aja yang dirasa baik utk berdua ya Mba.. semoga langgeng bahagia selamanya aamiin
[6/30, 19:33] Julia Rosmaya kulwap: Bener banget
Bila memungkinkan… Misalnya istri gak bekerja lebih baik ikut Suami pindah.

Atau bila istri kerja.. Ikut pindah kerja.
[6/30, 19:36] Suci Shofia: saya malah ngalah keluar kerja, di lokasi baru mau nyari kerja eh keburu mabok hamil.
[6/30, 19:43] Julia Rosmaya kulwap: 👍🏻 hehehe
[6/30, 19:47] Julia Rosmaya kulwap: LDM itu potensi bahayanya besar..
Banyak contoh di instansi saya..
[6/30, 19:59] Kholifah Haryani kulwap: Aamiiin…
Alhamdulillah…
Iya mbak, berupaya terus menerus untuk menjadi lebih baik… ☺
Terima kasih mbak…
[6/30, 20:00] Kholifah Haryani kulwap: Setuju… 😊
[6/30, 20:32] Devy kulwap: Bahayanya apa aj y mba julia 😊
Krn khan dari td tips2 antisipasi aj yg dijelaskan
[7/1, 06:39] adjeng kulwap: “Jarak paling jauh dari sebuah hubungan adalah kesalahpahaman, bukan pada ribuan kilometer yang memisahkan”

 

Sukaaaaa nih, Mbak.
Terima kasih sudah berbagi
[7/1, 09:04] Julia Rosmaya kulwap: Kesepian adalah bahaya terbesar dari LDM

Bagaimanapun juga, sentuhan fisik perlu untuk pasangan yang sudah menikah.

Bukan dalam arti ML… Tapi just holding hands, cuddling, tatapan mesra dan sejenisnya..

Kebetulan di kantor ada beberapa kasus perceraian karena LDM..

Mendengar para pasangan saling mengeluh karena jarak yang terpisahkan membuat saya selalu memberi saran ke junior.

Ikutlah pasanganmu kemanapun dia bertugas. Rejeki bisa dicari, tetapi keutuhan rumah tangga Nomor 1.
[7/1, 09:06] Julia Rosmaya kulwap: Ada teman saya yg menolak jabatan lebih tinggi dan prestigious karena kemungkinan terpisah sama keluarga.
[7/1, 09:14] Suci Shofia: keputusan yang sama diambil oleh suami, keinginan kuliah lagi/tawaran pekerjaan di luar negeri mau diambil asal bisa bawa keluarga (nabung dulu) 😀
[7/1, 09:17] Devy Nadya Aulina kulwap: Saya rela berhenti kerja menjelang nikah, karena ingin melayani suami. Saat hamil 7 bulan sampai Putri pertama usia 3 bulan, saya LDM dengan suami. Mama menginginkan cucu pertamanya lahir di Bandung.

LDM itu menurut saya enggak enak, pengeluaran jadi dobel. Apalagi bagi kami pengantin baru. 😊

Walapun setelah punya anak sampai sekarang, saya sering ditinggal suami dinas, diklat, sekolah lagi je luar kota. Saya dengan anak-anak saja. Tapi dengan begitu, saya jadi mandiri. Apalagi tampa ART.

Sekarang, LDM paling sebulan sekali, suami dinas atau diklat ke luar kota paling lama seminggu.😊
[7/1, 09:18] Devy Nadya Aulina kulwap: Saya kesepian justru saat suami di kantor dan anak-anak sedang sekolah. Tapi suasana ini enak untuk menulis.
[7/1, 09:23] Julia Rosmaya kulwap: Kasus terakhir perceraian karena LDM di kantor

Mereka baru menikah dan Suami ditempatkan di Kalimantan. Keluarga istri dan si istri menolak ikut Suami karena baru dapat pekerjaan dengan Gaji tinggi di kota asal di pulau Jawa

Bertahun-tahun berpisah akhirnya sang istri lelah.. Dan menjalin affair…

Saat itu si Suami dipindahkan ke kota asal.. Tapi sudah Terlambat dan akhirnya mereka pisah.

Cerita semacam ini banyak di Instansi saya..

Itu sebabnya bos besar berusaha keras menyatukan keluarga yang terpisah. Tapi tentu saja tidak mungkin bisa buat semua. Karena lokasi tugas kami ada di seluruh Indonesia…

Pasti akan tetap ada pasangan LDM
[7/1, 09:44] Devy Nadya Aulina kulwap: Teman saya cerai dengan isterinya karena LDM. Pasangannya seorang IRT dan menjalin affair. Padahal teman saya sedang di puncak karier. Kasihan.
[7/1, 09:48] Julia Rosmaya kulwap: ☹

Ini yang selalu saya sarankan… Kalau pasangannya IRT… Bawa ke kota tempat tugas. Rejeki pasti ada.

Alasan sekolah… Sekolah bagus tidak hanya di Jawa…
[7/1, 09:51] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul sekali. Itu sudah komitmen saya sebelum menikah. Suami harus diiukuti. Lha, untuk apa nikah kalau harus tinggal terpisah.

Maaf.

Memang, saya harus menunda impian saya di kota kecil ini. Di Bandung saya sudah diundang jadi dosen oleh ikatan alumni, lapangan pekerjaaan di kantor pun luas. Tapi saya menyadari, berkarier untuk seorang wanita enggak harus selalu di luar rumah. Dan, saya sangat bersyukur dengan yang saya alami, dengan segala romantikanya.

Saya bisa mengasuh anak-anak dengan tangan sendiri berdua suami, tanpa campur tangan pengasuhan dari orang tua. Saya pun bisa mengeksploitasi dan memaksimalkan passion yang Allah ta’ala berikan pada saya. Yaitu menulis dan mengenalkan potensi lokal hingga ke luar negeri.

Selalu ada hikmah indah di balik semua yang kita alami.
[7/1, 09:55] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul sekali, Mbak @Julia Rosmaya kulwap

Tapi seringkali sang isteri diberati pihak keluarga untuk mengikuti suaminya. Akhirnya, setelah kejadian hal yang tidak diinginkan, Si Isterilah yang menanggung resiko. Hal ini banyak terjadi.

Suami itu mencari isteri karena butuh didampingi dan dilayani. Isteri yang ibu rumah tangga pun tetap bisa memaksimalkan potensinya walaupun di rumah. Di grup ini, banyak, koq, yang bisa menjadi inspirasi. 😊
[7/1, 09:56] Julia Rosmaya kulwap: Benar…
IRT jaman sekarang gak seperti dulu…

Belajar n bisnis bisa via medsos…
[7/1, 10:00] Devy Nadya Aulina kulwap: Betul, Mbak. IRT sekarang sangat dimudahkan dengan kemajuan teknologi dan medsos. Saya tetap bisa belajar jarak jauh. Bisnis, parenting, kepenulisan dll. Murah meriah.

Medsos menjadi mudarat dan bermanfaat, bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya.
[7/1, 10:00] kurnia kulwap: Berbicara ttg LDM, Ada kisah nyata..

 

Ada seorang wanita pns, insyaAllah nikah dlm waktu dekat ini dgn seorang lelaki yg masih kuliah. Mungkin mereka bersama hanya sebulan setelah nikah krn lelaki ini harus masuk kuliah. Jarak antara mereka cukup jauh, butuh jalur udara, darat dan laut.Dan ini kmungkinan terjadi selama setahun, sampai lelaki tsb mnyelesaikan studynya.

Bagi wanita tsb,keluar dari pns bukanlah solusi terbaik u saat ini. Dan juga wanita tsb tinggal tanpa sanak family ddaerah tmpt kerjanya (Numpang kerja)

Ada yg bisa share tips or nasehat u wanita tsb (pemilik kisah). ?
[7/1, 10:02] Julia Rosmaya kulwap: Kemungkinan si lelaki setelah kuliah ada tidak untuk kerja di tempat wanita? Di kota yg sama?
[7/1, 10:03] Julia Rosmaya kulwap: Si wanita PNS pusat atau pemda?
Kalau pemda susah untuk pindah…

Kalau pusat ada kemungkinan
[7/1, 10:17] kurnia kulwap: PNS Pemda, jika lulus kuliah insyaAllah lelaki tsb siap mengikut dan mencari kerja ditempat wanita tsb..
[7/1, 10:26] Suci Shofia: Semua kembali ke pelaku LDM mau konsisten dengan janji pernikahan atau mencari-cari alasan untuk bermain api.

Bagi yang masih ber LDM tetap semangat😉 sudah ada beberapa sharing dari teman-teman untuk menjaga ikatan cinta agar tetap kuat terjaga😊
[7/1, 10:33] Iqa Rifai Kulwap: Saya termasuk yg sdh melwati waktu itu suami dipapua ..coz yg pernah Di kota Papua pasti tau gimna mitos ktanya yg kerja Di tembagapura kalo setiap bulan g disalurkan akan mengkrital ….hingga begitu menjamurnya prostitusi ..Dan berakibat Papua hiv terbesar diindonesia ..
Dan semua kembali kepada pribadi imannya yg main kalo sdh urusan ini
[7/1, 10:36] Julia Rosmaya kulwap: Sementara gak ada problem berarti…

Mau gak mau ya LDM

Sudah ada tips di atas 😁
[7/1, 10:36] Julia Rosmaya kulwap: Benar
[7/1, 10:37] Iqa Rifai Kulwap: 1catatan yg sy dpt dlm surah annur (buat yg Muslim)laki2 yg baik utk prp Yang baik Dan seterusnya silakan tengok surah annur ayat 26 yakini itu.
Dan bila mentok suami krg baik yakinkan Allah punya jalan terbaik dgn kesabarn Kita menjaga pernikahan
[7/1, 10:39] Iqa Rifai Kulwap: Tetap semangat ..hmm sy kenal group ini persis ketika sy Dan suami sdh bersama Dan beruntunglah kwn2 yg lagi menjalani LDM krn and berada Di group yg tepat solusi utk hati pernikahan anak bahkan tetangga n mantan Ada disini
[7/1, 12:25] Ari Dian Sari Kulwap: Niat dari para pelaku LDM mesti kuat, berakar, menancap ke relung2 paling dalam 😆😆

Suami saya selalu bilang, kalau mau selingkuh, tentu mudah saja, tapi jika sekali saja dilaksanakan akan bikin ketagihan dan gak akan bisa keluar dari kenikmatan itu. Jadi sibukkan diri dengan hal2 yang positif, jauhi lingkungan yg menyerempet2 dengan hal itu.

Itu sih kata suami saya ya😂
[7/1, 12:31] Suci Wulandari kulwap: Sebetulnya saya juga ngga mau LDM an.. tp apa daya, ngga bisa diikutin dan disusulin. Jadi memang harus mengumpulkan niat sekuat tenaga.. supaya kami berdua tetap dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Suami juga ingin suatu saat nanti bikin usaha dirumah aja, tanpa harus meninggalkan keluarga. Semoga nanti ada jalan..
[7/1, 12:34] Tasya Sugito kulwap: Baru buka grup….rame yaa ternyata bahas LDM 😍
Terimakasih semua teman2 yg sudah berbagi tentang ini, semakin menguatkan saya & suami untuk tidak ber-LDM ria…karena kalau kata suami saya, “bagaimanapun juga, laki2 butuh penenang pandangan&hati setelah seharian berada di luar rumah..dan itu didapat di rumah dari anak2 dan istrinya”
Mungkin setiap orang berbeda, tapi kalau saya sepertinya belum siap kalau harus LDMan 😂, pernah ditinggal paling lama 40hari aja udah kayak kehilangan separuh sayap 😝
[7/1, 12:39] Suci Wulandari kulwap: Gabung di grup ini juga salah satu cara jadi sarana belajar. Karena ada banyak pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran bersama
[7/1, 12:48] Iqa Rifai Kulwap: wkt sy LDM duh bnr2 deh gk punya group yg mencerahkan pikiran, ada kwn2 ehh yg ada ikut ngomporin atw ceritanya gk enak didgr keadaan disana,lahh biar gimnapun tetep ja dag dig dug ,,tpi alhamdulillah semua berlalu dgn indah yg nyesek kalo anak sakit itu yg bikin airmata trn trz hehe
[7/1, 17:52] Vivi Fajar Anggraeni kulwap: sy sejak 2009 hingga skrg dan berpotensi begitu spanjang karir swami😊..bener buat nano2nya..bersyukur diberi tantangan lebih begini karena jadi sarana kami sekeluarga terus belajar..termasuk blajar saling menjaga satu sama lain..smoga begitu seterusnya
[7/1, 17:59] Suci Wulandari kulwap: Aamiin… saling mendoakan ya mba
[7/1, 17:59] Sri Apriani Kulwap: just enjoy it…yg penting sama-sama slg mengingatkan utk sll bersandar kpd Yang Maha Kuasa..sejauh ini tdk ada masalah..malah kangennya pake banget..☺..beruntung dlm setiap bulan ada 2 minggu utk keluarga.
[7/1, 20:19] Devy kulwap: Betul banged 😊👍
Cara pikir saya jd lbh positif dan lbh enjoy menjalankan peran sbg istri dan ibu RT setelah kelamaan jadi wanita karier slm 10 thn 😋🙈(hampir telat nikah diusia 28 keasyikan kerja😊)
[7/2, 00:26] Anna Farida: Thanks, Suci dan teman-teman yang sudah berbagi kisah kasih jarak jauh. Berkah melimpah, pokoknyaaaa
[7/2, 08:50] Niar Kulwap: Saya juga mengalami LDM sementara waktu sejak 2006 karena suami lebih banyak bertugas di Jakarta dan keliling Indonesia.

Bersyukurlah ada whatsapp line bbm dll yang bisa menghemat pulsa telpon hehe.

Tapi bener, memang saat menjalani LDM kita perlu bener2 saling menguatkan dan mengecek ulang komitmen pernikahan kita karena banyaknya godaan di pihak yang meninggalkan dan di pihak yg ditinggalkan di rumah.

Bukan hanya kebutuhan saling berdekatan atau biologis, tapi juga saling pengertian dan menghibur terutama untuk istri yg kadang mudah diterpa bete karena urus rumah dan anak2 sendirian *curcol hehehe
[7/2, 09:07] Eka Murti Kulwap: Berat ya.. hebat bs LDM dlm jk waktu lama dan baik2 aja. Saya pengalaman paling lama cuma 4 bulan aja udah ribet bgt…

Sahabat Berkaki Empat

28 April 2017 13:41 WIB

Kulwap (kuliah via whatsapp) yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart kali ini menampilkan dokter hewan yang bekerja di Balai Karantina, Jakarta, Julia Rosmaya. Yuk, kita simak pemaparan beliau yang kaya ilmu.

Suci Shofia: Sepertinya Mba Julia sedang sibuk bekerja, jadi saya yang akan membagikan materi yang telah beliau tulis.

Julia:  “The best therapist has fur and legs”

Pernah baca quote di atas?
Cerita berikut hanya dipahami oleh orang yang memiliki hewan peliharaan.

Tina stress, semua terasa salah di kantor hari ini. Beberapa pekerjaan yang dilakoni dengan sepenuh jiwa dianggap tidak layak oleh atasannya.

Saat pulang, dia terjebak macet parah. Hujan pula.
Dengan tubuh basah, Tina membuka pintu rumahnya. Rumah gelap, tidak ada orang di rumah. Kedatangannya hanya disambut 2 ekor kucing… yang berusaha mencari perhatian dengan berlari mengikuti di sekitar kakinya

Dengan tenaga yang tersisa, disiapkan makan malam untuk para kucing itu. Setelah mandi, Tina langsung ambruk di kasur.

Beberapa saat kemudian dia mendengar dengkur halus dan rasa hangat di dadanya. Kedua ekor kucingnya berebut duduk di dada dan leher. Secara reflex, Tina mengulurkan tangan untuk mengelus bulu lembut dan halus peliharaannya itu.

Dan… Secara perlahan perasaan relax menjalar ke sekujur tubuh. Pikirannya menjadi terang untuk menganalis masalah.

Dipandangnya kedua kucing yang masih mendengkur manja di dadanya. Mereka balas memandang.. “Terima kasih Momo, Bubu.. Kalian memang paling tahu kalau aku stress!”

Hehehe..  Cermini dikit ya..
Memelihara kucing atau anjing memang telah terbukti mampu meredakan stress. Bahkan di beberapa RS di negara Barat, hewan peliharaan telah menjadi bagian dari proses terapi penyembuhan.

Eh tapi..  Kucing kan bisa menyebabkan penyakit.. Katanya Toxoplasma, yang menyebabkan Ibu hamil keguguran atau janin cacat. Malaslah pelihara kucing. Belum pup-nya, makannya.. Riweh…

Tahukah anda, bahwa memakan daging kambing setengah matang juga  dapat menyebabkanToxoplasma? Jadi kucing tidak bisa dituduh 100% sebagai penyebab Toxoplasma, banyak lagi penyebab lainnya.

Lalu bagaimana mencegah penyakit dari kucing atau hewan lain yang kita pelihara?

Pertama, jaga kebersihan. Sediakan tempat untuk pup dan bersihkan fesesnya secara teratur. Tidak hanya kucing, hewan pelihara lain seperti anjing, burung, kelinci, ayam semua diperlakukan sama. Kebersihan harus utama.

Bila memelihara unggas seperti ayam dan burung. Harus lebih ekstra hati-hati menangani feses-nya. Virus flu burung dapat ditemukan di feses. Gunakan sarung tangan atau pelindung lainnya saat membersihkan kandang. Seminggu sekali, semprot kandang dengan cairan bayclin untuk mematikan virus penyakit yang mungkin ada. Kandang juga harus terkena sinar matahari dan dalam keadaan kering.

Bagaimana dengan anjing? Biasanya anjing sering kutuan. Mandikan anjing secara teratur dengan shampoo khusus anjing. Bersihkan kandang dengan cairan pembersih lantai seperti karbol. Jangan lupakan bagian dinding dan atap. Bila perlu, bawa anjing ke dokter hewan untuk mendapatkan obat anti kutu.

Kedua, vaksinasi anjing dan kucing anda. Vaksin utama adalah Rabies. Rabies menyerang manusia melalui gigitan hewan tertular. Bila manusia terkena Rabies, maka tingkat kematiannya hampir 100%.

Cara penanganan lupa gigitan, segera bersihkan dengan air mengalir, lalu beri betadine dan sejenisnya lalu segera ke dokter manusia 😁! Bukan ke dokter hewan ya.  Anjing/kucing/kera yang menggigit bila memungkinkan ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan atau dokter hewan. Hewan terduga Rabies akan dikarantina minimal 14 hari untuk mengetahui apakah hewan tersebut positif atau tidak terhadap Rabies. Hewan Rabies biasanya akan mati selama waktu tersebut.

Hati-hati bila berada di daerah Rabies seperti Bali, Sumatra Barat dan beberapa wilayah Sumatra lainnya. Hindari kontak dengan anjing/kucing/kera liar.

Tahukah anda bahwa kasus kematian manusia di Indonesia akibat Rabies lebih banyak daripada karena flu burung?

Ketiga, beri makan minum yang cukup dan kasih sayang. Hewan jangan hanya dipelihara, tapi wajib disentuh, dielus dan disayang. Terutama anjing dan kucing.

Oh iya. Lupa memperkenalkan diri. Saya Drh. Julia Rosmaya. Saat ini bekerja sebagai dokter hewan karantina, tetapi tidak membuka praktek. Saya memiliki 7 ekor kucing dan 1 anjing di rumah.Semoga penjelasan singkat saya cukup. Mari kita berdiskusi.

Drh. Julia Rosmaya R, M.Si
Dokter Hewan Karantina
WA: 08161121134
Blog: juliarosmaya.blogspot.co.id
Email: julia.rosmaya@gmail.com
FB: Julia Rosmaya Riasari
Twitter :@MAYA_JR2

Jawaban Inner Child

Kali ini sesi tanya jawab di kelas Kulwap Keluarga Sehati, 3 April 2017 1:48 PM

Suci Shofia: Siang, teman-teman semua.

Jawaban kali ini agak berbeda dengan biasanya.

Menurut Bu Elia narasumber kita (psikolog): “Materi inner child itu sangat klinis sesungguhnya. Biasanya hanya biasanya dapat diselesaikan di tempat terapi dan ruang konseling.

Jika dibahas selintas mungkin bisa, namun mmg utk memutus rantai membutuhkan bbrp jenis terapi yg harus dipraktekkan.”
Berikut jawaban untuk semua pertanyaan:

Bu Elia:

Salam. Selamat siang semua. Pembahasan kita kali ini cukup seru yang terkait dengan masalah inner child.

Dari artikel yang disampaikan di grup oleh mbak Anna, cukup memberikan penjelasan inner child itu seperti apa.

Dari keempat pertanyaan sebetulnya memiliki kemiripan kasus satu sama lainnya. Ada yang tidak terselesaikan masalah/trauma di masa lalu yang masih atau kadang kala muncul di masa kini, ketika berhadapan dengan situasi serupa atau ketika kondisi emosi sedang tidak terlalu tenang.

Sepertinya menjadi sulit untuk di kendalikan.

Sesuatu yang tidak terselesaikan di masa lalu biasanya terbawa di masa kini dan ikut mewarnai bagaimana dia berkeluarga, bekerja, berinteraksi dan ketika menjadi orang tua.

Seperti kasus di atas, sesungguhnya cukup sadar akan tetapi kenapa kadang tidak dapat dikendalikan?

Ingin berdamai, ingin menghilangkan trauma dan ingin memutus rantai, tapi tidak tahu caranya.

Bahkan salah satu kasus di atas si istri ikut terduplikasi dari sikap suaminya yang keras/kasar yang diduga memiliki inner child.

Beberapa cara yang dilakukan sebenarnya bisa menggunakan hypnotherapy atau forgiveness therapy dan membutuhkan beberapa sessi untuk menyelesaikan masalah inner child tersebut.

Ada juga teknik sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan personal life line.

Misal : seseorang membuat garis di atas kertas kosong. Dibagi ke dalam 4 bagian. kiri kanan dan atas bawah.

Tuliskan sekitar 20 peristiwa yang bermakna yang cukup mempengaruhi kita di masa lalu dan masa kini berdasarkan lintasan umur dan waktu. Bagian atas hal-hal yang membahagiakan dan bagian bawah adalah hal-hal yang kurang atau tidak membahagiakan.

Semakin bawah semakin bermakna trauma yang tidak membahagiakan dan semakin atas merupakan kebahagiaan.

Selanjutnya kita rasakan setiap peristiwa, jika ternyata masih tersisa sampah-sampah emosi yang masih mengganjal berarti kita belum berdamai dengan peristiwa-peristiwa tersebut dan terbawa ke masa kini dan berdampak pada perilaku yang kurang kita sadari.

Begitulah rasakan berbagai peristiwa tersebut dan berikan angka kedalaman terhadap hal yang kita rasakan.

Kita harus menjelaskan peristiwanya apa? Siapa saja yang terlibat disana, apa saja yang sesungguhnya diharapkan terjadi dalam peristiwa tersebut.

Bentuk komunikasi seperti apa? bentuk sentuhan seperti apa? Dan penyelesaiannya seperti apa? Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memang clear terselesaikan.

Setiap orang dapat melakukannya dengan satu persatu diselesaikan secara individual. Jika belum mampu menghapus semua peristiwa, paling tidak mengurani beban emosi mental secara bertahap satu persatu yang dibawa dari masa lalu.

Demikian semoga bermanfaat.

Maaf saya kirim gambar panduan dari Bu Elia untuk pembagian kolom yang sudah dijelaskan oleh beliau di atas. Ada ralat, pembagiannya atas bawah.

Bu Elia Daryati: Abjad itu nama-nama peristiwa, sekaligus hal tersebut menunjuk di usia berapa peristiwa tersebut terjadi.

Abjad-abjad bercerita ttg masa lalu, awal-awal kehidupan dan terus maju ke masa kini.

Abjad begerak dari A…sd…seterusnya. bergerak dari masa lalu ke masa kini.
Anna Farida: Terima kasih, Bu Elia.

Teman-teman, saya tidak ikut-ikutan jawab, ya. Nanti salah resep 🙈

Saya juga mau ikutan bikin tabelnya, sambil takut-takut gitu mengakui beberapa hal yang sudah berlalu 🙊
[4/3, 4:34 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: meresapi materi
[4/3, 4:38 PM] Dieni Elha Kulwap: PR banget ini. Semoga bisa mengatasi inner child ya 🙏🏻
[4/3, 4:42 PM] Suci Shofia: amiinn, semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu yang kurang menyenangkan😇
[4/3, 7:26 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: blm paham, yg atas masa lalu bawah masa depan atau gmn? 😆
[4/3, 7:28 PM] Suci Shofia: atas untuk inner child yang menyenangkan, bawah untuk inner child yg tak menyenangkan😇
[4/3, 7:36 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: oohh ic , saya kalo lagi marah yg terbayang wajah emak lagi marahin saya.. huaah .. PR banget nahan si Inner Child ga keluar

H: kalo sy lagi ga waras dan dede bkin kesel padahal usianya 3 tahun aja belum, dia nangis kejer saya kayak dengerin musik.. harus terapi ini yah
R: Terimakasih bu elia buat jawabannya. Smoga saya bsa segera mendamaikan inner child saya..dngan proses ga lama lama