Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Advertisements

Perlukah Menyampaikan Pengorbanan Orangtua Kepada Anak?

Jumat, 11 Januari 2019

Kali ini, saya admin memposting tema parenting yang telah disampaikan oleh narasumber tetap Kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida.

Memang orangtua penuh dengan jasa ke anak yang telah diamanahkan oleh-Nya. Namun pertanyaannya perlukah menyampaikan segala pengorbanan yang sudah kita perjuangkan untuk mereka?

Yuk, kunyah perlahan materi berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-148. Kita akan membahas tema menjelaskan pengorbanan orang tua kepada anak.
Ketika tema ini diajukan—yang mengajukan tidak perlu ngaku—saya jadi ingat pertanyaan seorang bijak, “Tentang anak-anak kita, mana yang lebih tepat: mereka hadir untuk kita atau kita hadir untuk mereka?”
Saya memahaminya begini, mungkin Bapak Ibu tidak sependapat, feel free to say no 😀

Mereka hadir untuk kita artinya KITA yang jadi tokoh utamanya, anak-anak adalah pelengkap kebahagiaan hidup orang tua. Saya tidak bilang pelengkap penderita, lho, ya.
Sebaliknya, jika kita hadir untuk mereka, ANAK adalah tokoh utamanya, orang tua adalah para pemeran pendamping mereka, yang menemani mereka menuju usia dewasa.

Saya tak hendak mengatakan mana yang lebih utama, setiap keluarga memiliki kekhasannya. Ada konsep bahwa anak adalah amanah Tuhan dan orang tua akan diminta bertanggung jawab atas titipan itu. Ada pandangan bahwa anak itu bagai kertas putih dan lingkungan yang akan mewarnainya, ada pula pendapat bahwa anak membawa kediriannya secara unik sejak nyawanya dihadirkan. Perbedaan pandangan itu sedikit banyak berpengaruh pada peran orang tua dalam kehidupan anak.

Apa pun pandangan kita, posisi orang tua tetap krusial pada kehidupan anak, terutama ketika mereka masih dalam tanggung jawab pengasuhan kita (batasannya ada beberapa, kita pilih yang paling sederhana saja, sampai anak punya KTP sendiri—walau sebagian besar orang tua—termasuk saya—masih heboh mengurusi anak-anak berkumis di atas 17 tahun) 😀

Nah, dari kelahiran seorang anak hingga mereka tumbuh sebagai individu mandiri, tentu banyak “pengorbanan” yang kita lakukan untuk mereka.
Saya beri tanda petik karena istilah ini memiliki makna yang berbeda-beda.

Jika kita hadir untuk mereka, berarti peran yang kita lakukan selama ini sebenarnya bukan “merely” pengorbanan. Karena itu saya lebih senang menggunakan istilah “peran”. Jadi memang kita dan anak-anak tumbuh bersama, dengan peran masing-masing.
Karena kita kerja duluan dan punya penghasilan duluan, kita mengongkosi hidup mereka. Karena pengalaman kita lebih banyak karena lahir duluan, kita mendampingi mereka menjalani kehidupan yang penuh godaan ini #halah.

So, ketika saya merasa bahwa ada hal yang tidak sesuai harapan, saya berusaha tidak terlalu baper. Setidaknya, bapernya sebentar saja.

Yang saya katakan bukan “Aku sudah berkorban ini dan itu. Tenagaku, pikiranku, masa produktifku, semua sudah kukorbankan untukmu, Nak. Tapi kok kamu masih seperti itu? Betapa tega kau padaku. Apa dosaku?” #aladrama

Saat sedang “lucid” atau lebih tepatnya sedang waras (ehehe, maaf istilahnya agak keras mengingat banyaknya kegilaan yang saya lakukan sebagai orang tua yang mengaku dewasa), saya akan segera berpikir, “Rasanya aku sudah melakukan yang seharusnya. Kok anakku masih seperti ini hasilnya, ya? Sebelah mana peranku yang masih belum kujalani dengan baik?”

Sekali lagi, itu saat saya sedang waras.

So, jika tema yang diajukan adalah menjelaskan makna pengorbanan orang tua pada anak, saya justru bingung. Yang saya lalukan selama ini mengorbanan atau peran figuran (yang nggak bagus-bagus amat?)?

Mari kita berdiskusi 😊

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Tanya Jawab Menerima Pasangan Apa Adanya

Senin, 7 Januari 2019

Setiap Senin siang pertanyaan yang diajukan oleh peserta Kulwap Keluarga Sehati dijawab oleh narasumber tetap kami (Bu Elia dan Mbak Anna Farida)

14:13 Suci Shofia: Siang, teman-teman semua😊

Mohon maaf terlambat posting jawaban🙏🏻

Tanya 1:
Bagaimana menyikapi suami yg belum tergerak hatinya utk sholat, bu. Anak cowok kami sdh beranjak ABG. Teladan kondisinya seperti itu. Saya tak lelah meminta pada Allah untuk melembutkan hatinya dan pasrah totalitas jika memang seperti ini kondisi beliau sampai ajalnya. Saya juga ajak dia berjamaah di waktu sholat. kadang mau kadang cari alasan. intinya dia malas. dia suka berbagi harta, dia puasa ramadhan. dia sayang keluarga. saya malu saat ada keluarga menginap/kami
menginap di rumah keluarga. keluarga saya bukan tipe melalaikan sholat. keluarga dia tipe melalaikan sholat.

Jawaban Anna Farida:

Semakin anak dewasa, dia akan memilih teladan yang menurut dia layak. Dalam kondisi seperti itu, Ibu mesti ambil peran tanpa harus menjelekkan ayah di hadapan anak. Kuatkan diri, jadilah teladan utama dalam keluarga dalam hal ibadah.

Memang, lazimnya, kepada kita diajarkan bahwa salat itu hal pertama dan utama, benteng keimanan, juga pembeda yang jelas. Meski demikian, salat adalah urusan privat antara manusia dan Tuhan.

Sikap Ibu sungguh mulia karena selalu mengingatkan tanpa bosan, mengajak dengan kasih sayang, serta mendoakan tanpa putus. Selebihnya kita bersandar pada Allah untuk melembutkan hatinya. Kita tidak tahu kapan harapan itu dikabulkan dan dalam bentuk apa.

So, jika hal itu dianggap masalah, beri dia porsi energi 20% saja.

Selebihnya, energi Ibu yang 80%, gunakan untuk membangun rasa aman, nyaman, dalam keluarga termasuk di dalamnya ibadah.

Itu tugas Ibu karena sementara ini suami memilih untuk fokus pada hal lain. Jadi bagi tugas 🙂

Jaga energi, Bu. Tetap dampingi dan doakan beliau. Keep smiling.

Jawaban Bu Elia Daryati:

Persoalan ibadah adalah sesuatu yang sifatnya sangat pribadi, antara seorang hamba dan penciptanya. Hal seperti ini biasanya sudah terlihat di awal-awal kenal dan di awal-awal pernikahan. Umumnya apa yang terjadi di.awal.sebagai hal yang bisa diprediksi di masa depan. Mengingat hal ini menyangkut “nilai- nilai” yang sudah tertanam di dalam diri. Boleh jadi bagi suami.ibu, hal yang lebih penting adalah perbuatan kebaikan, daripada orang yang taat tapi perbuatannya kurang baik. Mungkin seperti itu.

Menyikapi orang dengan pendapat seperti ini memang tidak mudah, apalagi jika itu pasangan hidup kita. Ayah dari anak kita.

Tugas ibu, betul adalah berdo’a setulus-tulusnya agar kebaikan yang dimiliki suami lambat laun dapat tersempurnakan. Sejauh beberapa yang pernah terjadi dalam kehidupan.. *semua orang baik pada akhirnya akan mudah menerima kebenaran* . Insya Allah.

Adapun mengenai putra ibu, dimana ibu sangat khawatir terhadap contoh yang kurang baik dari ayahnya. Wajar jika ibu khawatir putra ibu akan menirunya. Akan tetapi setiap anak juga memiliki naluri kebenaran mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak akan memilih tokoh signifikan dalam peniruan perilaku dari orang-orang yang mengasuh di sekitarnya.
Ibu boleh jadi dijadikan sebagai tokoh identifikasi bagi anak secara ritual keagamaan, salah satunya *sholat* dan kebaikan-kebaikan lain dia meniru dari perilaku baik ayahnya.

Jika anak sudah cukup besar dan sudah remaja. Anak dapat ibu sertakan untuk sama-sama, menginspirasi ayah dan mendo’akan ayahnya. Semua berikhtiar untuk kebaikan agar saling menyempurnakan. Sehingga anak dilibatkan secara spiritual untuk mencintai ayahnya dengan cara agar ayahnya menjadi lebih baik dari sisi.menjalankan perintah agama.

Semoga dengan do’a dan penerimaan yang tulus dari ibu dan putra ibu, dapat menggerakkan hati suami ibu atas ijinNya..
*rumusnya adalah orang baik lambat laun dapat menerima kebenaran*

Tanya 2:

Pernikahan saya sudah berjalan 19 thn penuh dgn liku-liku. Terutama masalah dengan pasangan. Saya merasa sudah toleran dgn sikap suami karena saya pikir saya pun bukan perempuan sempurna seperti yg diharapkan suami.
Hanya saja ada hal yg saya terlalu toleran menurut saya, yaitu tidak terlalu mendorong suami dalam mencari nafkah. Dari awal pernikahan saya sdh bekerja. Saya membantu suami dengan doa, dgn membuatkan surat lamaran, dengan memberi tahu ada lowongan di beberapa tempat, dsb. Tapi rupanya itu tidak cukup. Saya bilang ke suami saya jarang menuntut minta ini itu tapi tolong agar kita bisa saling menghargai satu sama lain. (Kami sering ribut karena sikap suami yg possesif). Jadi setelah lamanya pernikahan ini saya lah yang mencari uang utk keluarga meskipun kadang-kadang suka ada dari suami. Sekarang saya suka sedih dan bingung sendiri, anak pertama sudah mau kuliah, utang saya banyak, tagihan bulanan yg juga mau tidak mau hrs dibayar, dan saya pikirkan sendiri meskipun saya selalu sampaikan ke suami masalah ini tapi jawabannya “saya juga pusing”. Pertanyaan saya, apa yg saya lakukan sama dengan “toleran” yg dimaksud dalam materi? Tp kalau ternyata sesudah kita maklumi saya sebagai seorang istri malah kebingungan dan tidak tau lg hrs berbuat apa. Mohon pencerahan apa bisa saya memgubah atau berharap suami bisa berubah karena sebenarnya kewajiban suamilah yg mencari nafkah utk keluarga. Maaf kalau bahasanya kurang baik. Wassalam. 🙏🏻🙏🏻

Jawaban Bu Elia Daryati:

Beberpa anak laki-laki yang dibesarkan dalam perlindungan, tanpa tantangan dan selalu diberi pertolongan dalam banyak hal. Akan tumbuh menjadi pria yang kurang bertanggung jawab atas perannya. Dia tidak terlatih untuk bertanggung jawab, mengingat selalu ada uluran tangan dimana-mana.
Adapun kondisi berikutnya adalah, suami ibu mendapatkan fasilitas yang sama, yaitu menyandarkan tanggung jawab keluarga kepada istri sepenuhnya. Adapun 19 bukan waktu yang singkat dalam memahami perbedaan. Inspirasi yang ibu berikan sudah sangat luar biasa, kesabaran yang ibu lakukan juga sudah sangat luar biasa. Sedikit banyak pasti ada efek pada pasangan, berupa pembelajaran untuk bertanggung jawab. Tapi sekali lagi ini bukan hal mudah.
Idealnya dalam pernikahan jangan ada aalah satu pasangan yang teraniaya satu sama lain. Sekalipun ada perbedaan, bukan sesuatu yang bisa dinafikan. Pasti ada. Sebaiknya, lakukan evaluasi pernikahan dalam bentuk musyawarah. Hal ini perlu dilakukan, sehingga ibu menjadi tahu target-target nya, juga target ibu dan ujungnya mengerucut pada target keluarga. Setelah itu sampai batas mana ibu dapat beroleransi. Pada saat penetapan target, ibu akan melihat secara realistis target maksimal suami sebatas mana dan ibu.sebatas mana? Akhirnya ibu dan suami bisa menarik kesimpulan yang paling realistis terhadap kondisi keluarga ibu. Jalan akhirnya ada 2, yaitu menyesuaikan secara bertahap terhadap kondisi yang ada atau bertoleransi menarima kondisi suami apa adanya sambil terus support….
Ketenangan dalam menyesuaikan diri atas kondisi yang ada, selalu akan ada titik terang jalan keluarnya.
Prinsipnya, *rizki itu mengejar bukan dikejar* yang paling penting ikhtiar. *rizki itu sudah tertakar, tidak tertukar dan tidak pernah tercuri. Semua sudah pas sesuai peruntukkannya* Yakinlah selalu ada jalan, sejauh tetap bersyukur dan berusaha, entah keran siapa yang lebih mengucur deras. Apakah dari kita atau pasangan kita.

Semangat terus ibu…..Prinsipnya Allah tidak menjanjikan hidup ini mudah. Tapi setiap kesulitan akan ada kemudahan. 😊

Itu tadi dua pertanyaan yang masuk ke saya sebagai admin alias mahmud admin (panggilan sayang dari Cikgu Anna, hehehe)

Fiuh, berat juga ya, permasalahannya. Keren jawaban Mbak Anna untuk tidak terlalu banyak memberikan porsi pikiran. Gunakan energi untuk memikirkan hal positif lainnya.

Adem bener jawabannya Bu Elia, Allah tidak menjanjikan hidup itu mudah. Namun dia menjanjikan setelah satu kesulitan ada dua kemudahan.

Selamat menjalani kehidupan dengan penuh suka cita apapun keadaannya.

Menerima Pasangan Apa Adanya

Jumat, 5 Januari di awal tahun 2019

Berikut materi dari narasumber Kulwap Keluarga Sehati, Cikgu Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-147. Kita akan membahas tema menerima pasangan apa adanya, eh, atau ada apanya? 😀

Kita pernah membahas dalam materi sebelumnya bahwa salah satu ancaman dalam pernikahan adalah berharap bahwa pasangan kita akan berubah demi membahagiakan kita. Yang tadinya malas jadi rajin, yang tadinya ngorok jadi tidak ngorok, yang tadinya wangi jadi tidak wangi #yanginidusta

Alasannya biasanya ini: Jika dia memang cinta aku, dia akan berusaha berubah demi aku, kan, ya?
Ternyata tidak.
Ada yang bilang bahwa berharap pasangan berubah itu seperti berharap ayam menggonggong (aduh, perumpamaannya enggak banget). Ternyata, salah satu perekat pernikahan adalah kesediaan menerima pasangan apa adanya.

Bagaimana caranya?
Saya sarikan beberapa nasihat dari buku dan artikel yang pernah saya baca. Seingatnya, ya. Buru-buru ini.

+ Hati-hati dengan ekspektasi yang tidak pas. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan pasangan, cek dulu. Pasangan kita yang memang kudu berubah atau ekspektasi kita yang perlu disesuaikan? Tanya pada diri kita, mengapa sih dia harus berubah dan menjalani hidupnya demi memenuhi harapan kita?

+ Berpikir positif. Kabarnya bagi sebagian orang, berpikir negatif itu lebih mudah karena tidak perlu usaha selain menyalahkan pihak lain. Padahal, ada yang bisa dilakukan: berpikir positif, melihat kebaikan pasangan, dan melengkapi kekurangannya dengan kebaikan yang kita miliki. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, jadi saya akan menggenjot minat berbenah saya. Dia tampaknya kurang punya minat berbenah, saya juga tidak suka berbenah. Lantas mengapa dia yang harus berubah? Ehehe. Dia kurang punya minta berbenah, dan saya santai saja, karena dia punya minat yang besar dalam mengajak saya jalan-jalan, misalnya. Artinya, tidak punya minat berbenah tidak lantas membuatnya jadi orang jahat, kan? Nyebelin sih iya, ahahaha. Just kidding.

+ Lebih ramah pada diri sendiri. Kadang penilaian kita pada orang lain adalah hasil dari kekecewaan kita pada diri sendiri. Jika kita bisa berdamai untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, ingin segalanya serba sesuai dengan keinginan kita, pandangan dan tuntutan kita pada orang lain pun biasanya akan lebih ramah.

+ Fokus pada hari ini. Berkat tahun baru yang saya rayakan bareng keluarga, saya dapat quotes bagus dari Nhat Hanh yang dinyanyikan: Happiness is here and now, I’ve dropped my worries. Nowhere to go nothing to do, and no need a hurry.
Kebahagiaan akan manis jika kita nikmati hari ini. Tidak mengungkit yang lalu dan tidak cemas akan masa yang akan datang. Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja yang ada sekarang.
Dalam satu dan lain hal, saya sepakat. Kebersamaan kita dengan pasangan dan keluarga sudah melewati banyak hal baik dan buruk, dan masih akan mengalami perjuangan yang tidak bisa sepenuhnya diperkirakan. Rasa cemas akan masa lalu dan masa depan ini kadang membuat kita lupa menikmati masa sekarang. Here and now.

Sudah, ya.
Jadi pingin nangis siang-siang ahahah.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Obrolan Menghadapi Ujian Akhir Sekolah

Jumat pagi, 30 September 2018

Anna Farida: Nanti siang mau bahas apa, ya? Biasanya sesekali kulwap kita menyisakan slot buat bahasan bebas selama masih bertema parenting dan marriage.

Tema dari Mahmud Admin selalu ada berdasarkan usul Bapak Ibu semua, sih. Siapa tahu mau bincang-bincang aneka tema.

Lies Adjeng Kulwap: Bagaimana kalau bahas tentang hasil belajar anak, Cik Gu?
Sekarang kan musim PAS, lanjut ke bagi rapot.
Kasih pencerahan doong tentang ini ☺

Suci Shofia: Ide bagus, Mbak Adjeng.

Cara menemani (memotivasi) anak belajar, merespon hasil ujian anak, dsb

Anna Farida: Bapak Ibu mungkin punya kasus tentang reaksi ortu atau anak terhadap rapor?

U: saya termasuk agak ‘lempeng’ soal rapor🙈
tapi sangat antusias saat proses keseharian menunjukkan kemajuan pesat,bahkan lupa TTD 🙈🙈🙈🙈

L: Ketika musim ujian, di medsos banyak tayang status ttg deg-degannya ortu yg anaknya ujian. Yang sekolah siapaa…. yang repot siapa 😬😁

D: Bukan cuma deg degan, Bu … Ibunya sampe flu😁

K: Nyaris tak ada… baik ayahnya, bundanya, juga si anak lihat rapor biasa aja… #rapor bukan “segalanya” 😁
Sampai2 pas dapat kiriman foto rapor uts anak yg di pesantren, matematikanya dapat nilai 4… saya bingung mau bereaksi gimana… kata si ayah, “lah, gimana bundanya?” dengan nada menggoda melihat ekspresi saya yg gak jelas… #maaf, bundanya sarjana matematika yg nilainya lumayan, lah ini anak saya dapat nilai 4 dari poin maksimal 100 … *trus hub-nya apa coba 😅😅

Yg sering justru reaksi dari guru kelas, bolak balik ngingetin kami buat ngingetin ananda agar belajar di rumah… berasa banget saya seperti ibu yg nggak ngurusi anaknya… padahal… ya gitu dah 😅🤦🏻‍♀
Duh … curhat lagi pagi-pagi 🤭

Sayidah Rohmah: Nyimak. Anak baru mau pertama hadapi ujian. Ujian TK. 😂

D: Sekolah sd anak saya ga pake buku dan ga ada pr dan konsepnya belajar di sekolah…

Ini lumayan bikin pusing karena saya yg ga siap dengan konsep itu jadi susah buat bantuain anak di rmh.

Nilainya baik2 tidak bagus dan tidak jelek. Cuman sering dibilang dan dianggap bodoh sama teman2nya. Kalau ada kerja kelompok, temennya bagian mikir, dia bagian kerja, karena temannya merasa lebih pintar hehhe.

Sampai persiapan mau menghadapi UN. Saya bilang, target kita nilai UN ya. Bunda ga peduli disekolah kamu diajarinnya gimana. Tapi kamu ikut bunda.

Kami berjuang dgn soal2, mulai dari hanya mentargetkan enduronya dalam mengerjakan soal saja, sampai target kecepatan mengerjakan soal.

Diawal sempet bilang aku capek, di sekolah belajar di rmh belajar. Saya bilang ok, kamu istirahat di sekolah aja, ga usah serius. Dirmh kita belajar.

Alhamdulillah sejalan dengan persiapan un, Nilainya disekolah naik, beberapa kali dapat nilai tertinggi di kelas. Dan bahagia sekali dong… Dari yg dibilang bodoh sampai dapat nilai tinggi. Dia bilang temen2 sekelas pada ga percaya.

Pas pembagian nilai un juga alhamdulillah nilainya bagus, meskipun tidak istimewa. Tapi masuk 4 besar nilai UN di kelas. Dan percaya dirinya meningkat. Ranking dan nilai cukup memperlihatkan pada teman2nya kalau dia tidak bodoh.

Ini yg saya suka dari perjuangan un dia, percaya dirinya meningkat.

Sampai saat ini ketika di sekolahnya motivasi belajar tidak bisa di dapat. Saya bilang, berapapun nilai kamu saya ga masalah. Asalkan kamu mau belajar. Kalau salah ya kamu tau apa salahnya dan betulnya gimana. Kl kebanyakan pelajaran, ya pilih beberapa dan prioritaskan.

Kalau ga kuat belajar banyak2, ya belajar dikit aja, tapi beberapa kali, dan dibiasakan. Sesuatu itu kl dijadikan kebiasaan akan mudah. Malah susah diubah kl udah kebiasaan.

Ya krn belajar, nilainya jadi ga akan jeblok2 amat, itu sudah bonusnya.

Saya bilang belajar akan bikin kamu pinter, setidaknya kamu akan lebih mudah mencerna ilmu selanjutnya. Karena yg kamu pelajari itu sadar ga sadar, bisa jadi dasar ilmu selanjutnya. Ini seperti menaiki tangga.

Menghafal sekarang mungkin besoknya kamu lupa. Tapi coba di rasakan. Menghafalkan sesuatu yg
belum pernah hafal dengan menghafal sesuatu yg dulu pernah hafal, lebih mudah yg mana?

E: Ponakan saya bilang gini sama mamanya klo dia disuruh belajar.

“Kamu seharian mainan hp melulu, kapan belajarnya”

Si anak jawab: “mama pikir aku dr pagi disekolah jualan lotek apa?”

Adaaaa aja jawabannya.

Apa krn para ortu kurang empati sama anak ya?

Kita jg klo disuruh belajar terus2an bete jg kali ya. Tp kan emaknya ketar ketir anaknya ga bs ngerjain ujian 😂

N: Reaksi saya dan suami datar2 aja kalo rapor Cikgu. Tidak deg degan dan tidak surprise banget. Toh selama ini kita udah tau seperti apa anak kita belajar di rumah, nilai harian dan ulangan kecil2nya juga udah menjadi bayangan nilai rapornya.

Sebenarnya kalo raportan begitu malah saya amati banyak ortu yg agak tertekan yaa.. Entah apakah membandingkan rapor anaknya dengan rapor sahabat anaknya, atau takut kalo nilai anaknya menjadi penilaian orang terhadap pola parenting dan pengajaran ortunya.

L: Ketika saya jadi anak dulu, saya juga gak suka tuh dibilangin gitu.

Eeeh begitu jadi ortu, saya pernah kejeblos juga ngomong gitu sama anak 😏😆🙈

[11/30, 20:02] Suci Shofia: Seru juga, ya, cerita para ibu menemani anak

Ada juga kasus ibu yang minta anaknya belajar yang dijawab, “Mamah pikir aku dari pagi sampai sore dodolan cilok ning sekolah?”

Anna Farida: Ikutan:

Waktu anak saya yang ketiga masih SD, ketika saya tanya tadi ngapain saja di sekolah jawabannya macam-macam:

Mengecat jerapah
Menunggangi paus
Main catur sama kepala sekolah

apa pun — trus disambung dengan kalimat: Ya belajar, lah. Emang ngapain lagi di sekolah

Kadang kita itu mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak penting, bukan kadang, sering malah. Ketika dia ujian dan tetap main game, dia bilang:

Yang ujian itu aku (dia sebutkan namanya) Ibu tenang saja. Gusti Pangeran … bagaimana ini 😀
Walau bilang oke, saya tetap mengondisikan dia untuk bobok lebih awal, jaga kesehatan ekstra, apalagi saat ini musim hujan dan sering pulang kehujanan

So, saya tetap berjaga tanpa harus rewel dan bikin dia tambah bete.

I: 😅😅 ko kepikiran ya menunggangi paus…main catur sama kepala sekolah….

cerdik….😍
anak yang unik memang suka…ngangenin

dan banyak cerita yang tercipta….

Anna Farida: tentang rapor, saya tetap ingin nilainya sesuai dengan usahanya

setiap terima rapor kami akan evaluasi singkat kira-kira mana yang perlu diperbaiki mana yang perlu diapresiasi, tentu dengan bertanya untuk berikutnya Ibu bisa bantu apa.

Prinsipnya adalah jangan sampai anak abai dengan kewajibannya sebagai pelajar, toh Mama tidak urusan dengan rapor, jadi ya aku cuek saja — percayalah, saya pernah mengalami pukulan yang tidak pernah saya lupakan karena saya cuek dengan prestasi anak.

terhadap rapor, anak tetap harus menghargai
anak dan ortu tetap berada pada barisan yang sama bahwa rapor yang baik itu asyik

Meski demikian, ketika ada yang tidak sesuai harapan, lakukan evaluasi bareng — kuatkan hatinya perkaya minatnya siapa tahu dia bisa unggul pada bidang lainnya.

Yes, Mama 😀

Anna Farida: Jadi, U dan A ingat tanda tangan 😀

Anna Farida: Thanks para ibu sudah berbagi pengalaman. Jadi mikir ulang juga saya berkat beberapa ceritanya. Tampaknya saya pun kudu mengoreksi beberapa hal 😀

Ada juga sih yang pulang bawa nilai 2 sambil tertawa – jadi ingat nilai saya pas SD juga sesekali ada yang tidak jauh dari itu 🙈
OK, kamu dapat nilai 2. What’s next? Apa yang dapat Ibu bantu?Tapi ngomongnya sambil ngemil cilok, ya, Bu. Bukan sambil kacak pinggang 😀

E: Berarti saya termasuk terlalu santai ya. Saya bilang gini: kelas 7 dan 8 nikmati sekolahmu. Kelas 9 baru serius siapkan UAN krn kunci masuk SMA adalah nilai UAN. Mama percaya modalmu cukup, tinggal disiplin belajar sejam sehari pas kelas 9 dan fokus ke pelajaran UAN. 😬 Malah saya cerita omnya dulu yg selalu ranking bawah, waktu UAN digeder belajarnya, dpt nilai bagus dan masuk sma favorit. Sekolah itu yg penting gimana kamu berhubungan dg berbagai manusia, bukan tentang kemampuan akademik 😬
Permisif banget ya saya 🤔😥

Anna Farida: 😀 enggak santai juga, Mbak E. Toh tetap ada target yang jelas. Anak-anak tahu bahwa mereka akan kerja serius pada kelas 9 nanti. Pada kelas sebelumnya dia belajar berinteraksi dengan teman pun pada gilirannya akan membuat anak saling belajar dan saling menginspirasi, kok.
pilihan-pilihan itu yang penting buat anak.

Anak saya ada yang tidak mau bimbel dan baru sibuk saat ujian akhir. Ada yang sejak kelas 1 ngeyel minta bimbel dan baru saya kabulkan ketika kelas 2 – tar kamu nggak sempat main 😀

E: Anak sulung saya lebih nyaman curhat via WA ke mamanya.

L: Saya juga longgar ke anak kalau soal belajar atau nilai.

Mungkin krn penglman saya dulu ya.. Yg pinter dan selalu rangking tapi kok ya minderan.
😀

Jadinya prioritas ke anak anak, yg penting mereka PD, suka dgn kegiatan di sekolah, begitu.

Untungnya sih, mereka tipikal rajin belajar, jd nilainya pun bagus.

Ujian tengah semester kemarin si bungsu dapat nilai di bawah KKM 5 mapel.
Saya tenang saja.

Cuma nanya : itu krn nggak belajar apa krn sibuk kegiatan lain?

Dia jawab : dua-duanya.

😀

Apa saya terlalu nyantai ya? 😀

E: Tipenya dia ga bisa dipaksa sih. Tapi memang peer pressure pengaruh juga. Sesantai2nya dia, anak saya akhirnya menyampaikan kecemasannya ke saya lewat WA. Pas begitu lsg saya masuk 😁

K: Mungkin disesuaikan juga dengan kondisi anak… soalnya 3 anak saya yg sudah kenal dunia sekolah, beda2 kondisinya. 😁

Anna Farida: Biasanya sih emak paling apal style belajar anak masing-masing. Jadi kita tahu apakah dia belajar atau abai saja dengan sekolahnya.

Karena dia memilih sekolah, atau karena saat ini dia ada di sekolah, dia ada pada ketentuan sekolah itu. Sebagaimana dia ada di rumah, dia ada pada aturan rumah.

Walau tentu tidak diterapkan dengan tekanan, fakta bahwa ada aturan yang akan menjadi bagian dari hidupnya nanti perlu juga dilatihkan sejak dini.

Paling tidak tentang rapor dan sekolah, kita bisa awali dengan membuat kesepakatan-kesepakatan.
Mana yang bisa dilonggarkan mana yang tidak, mana yang bisa disesuaikan dengan kondisi anak mana yang bisa disisihkan. Prinsipnya adalah kompromi positif — istilah apa pula itu 😀

K: Tapi memang saya jadi “nyantai” karena prestasi akademik anak pertama ketika SD yg “bottom level”… jadi tidak terlalu anak2 yg lain juga… & lebih fokus juga pada menumbuhkan kepercayaan diri & tanggung jawabnya sebagai makhluk (lebih ke aspek beribadahnya).
Sekarang anak pertama sudah kelas XI (di pesantren), saya masih santai bilang ke dia untuk menyiapkan dengan baik kemampuan akademiknya… & sering mengingatkan bahwa targetnya adalah meraih beasiswa bisa masuk universitas di Mesir atau Arab Saudi (ini target emak atau target anak sih! 😁)… tapi karena iklim santai yg kami bentuk, anak saya juga jadi santai nanggapinya… & termotivasi untuk berusaha lebih.

Anna Farida: termotivasi atau tidak termotivasi, K?

K: eh, yg mana ya… bener termotivasi kayaknya Cikgu… dia tunjukkan dgn hasil rapor yg lebih baik & tambahan hafalan quran yg lebih banyak… bener yg mana yaaa, cikgu? 🤭

Anna Farida: ahaha mau mastiin saja tidak ada kontradiksi antara santai dan termotivasi. Jika takarannya pas, itu bisa menjadi wujud kepercayaan orang tua. Yang harus diwaspadai adalah ketika atas nama memberi kebebasan kita jadi melepaskan tanggung jawab membimbing dan mendampingi mereka.

So, setiap keluarga sangat khas. Ora ana default-nya 😉

K: hehe… maksud saya, iklim santai itu sudah membantu anak saya jadi lebih percaya diri & semoga dia merasa bahwa kami percaya dia bisa.

Anna Farida: Amin, amin. Nanti kirimi Bulik Anna kartu pos dari Mesir, yaaa.

K: 😅😅 aamiiiin… beneran, ini kayaknya target emaknya deh 🤭

Diskusi Password Smartphone

Mengomentari materi Rahasia Gelap Pernikahan, berikut beberapa tanggapan dari para peserta Kulwap Keluarga Sehati:

Q: Alhamdulillah hp bebas dibuka suami, istri juga tahu password hp suami jadi aman lah..paling kalau ada telpon sales (nomor tak dikenal) baru saling dorong siapa yang mau angkat 🤭😁

K: Kalau mau hidup tanpa beban… jangan ada yg disembunyikan dari pasangan… amaaan & nyamaaan…
#itu tips saya sih 😅

E: Di zaman sekarang warisan yang harus diurus tak hanya harta tapi juga akun media sosial, email, blog, nomor hp dsb. Jadi penting memberitahu pasangan semua password #justmytwocents

Anna Farida: 😀 tentang rahasia, password, masing-masing punya kebijakan sendiri, silakan saja.

anak saya ada yang selalu kasih pw, bilangnya “in case I’m dead” tapi saya selalu lupa pw-nya itu 😀
Hape suami? Hape saya saja sudah ngabisin waktu minta ampuuuun. Masa mau ditambah ngurus hape dia 🤦‍♀

EK: Sejak suami ganti profesi, haoenya selalu dipassword. Alasannya supaya menjaga sy gak sakit hati dll. Ya sudah,sy juga di pw juga hapenya. Tapi pada dasarnya, kadang suka penasaran, dan ingin tau isi hape suami. Tapi di saat yg sama, sy gak mau dipusingkan dgn hal2 seperti itu. Ngurus anak2, rumah, kerjaan dll aja udah pusing, ya kaan…

NE: Sy tau PW suami, tp dy ga tau PW sy, n dy mah masa bodo sama hape sy..wkwk..walopun dy pernah bilang, ga percaya sama sy hahaha..😅…diperkirakan bakal baper s sy nya…

L: Suami pernah mengutarakan niat untuk mempasswords HP.
Saya tidak berkenan dgn HP password-password an.

Kalau tetap maksa juga. Ya sudah.

Malam hari, jangan harap saya ngasih kalau dia minta.

😀😀

NI: Hape kami semua diwajibkan pake password/fingerprint. Demi keamanan hape kita juga dari tangan2 orang lain.

Tapi kita saling izin rekam fingerprint di hape suami/istri dan anak. In case of ada sesuatu yg penting terjadi sama saya/mereka atau pada hp saya/hp mereka.

Kalo ada yg rubah password kudu laporan, dan rekam fingerprint ulang. Walopun pada kenyataannya kita jarang saling ngecek isi hape 😄

T: Hp suami juga di PW tapi saya tau PW nya
Kalau saya tdk dikasi tau bisa manyun 5cm 🤣

Walpaper suami, saya ganti foto berdua saya,saya bilang wajib pakai foto kita 🤣🤭
Kalau mau aneh aneh liat layar hp 🤣

Rahasia Gelap Pernikahan

Jumat, 7 Desember 2018

Seru nih, pembahasan kali ini. Semua orang tentu saja memiliki rahasia. Baik itu rahasia terang maupun gelap. Apaan sih pakai istilah gelap dan terang? Rahasia terang itu menurut saya seperti saat seseorang mengagumi suaminya sampai demikian terpesonanya saat dia memasak. Terlihat seksi sekali. Namun malu untuk mengungkapkannya. Dapet ga sih ilustrasinya?

Kalau rahasia gelap? Para pelaku pernikahan boleh angkat bicara. Hehehe.

Tak perlu panjang lebar lagi, kuy simak pemaparan materi dari narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-145, kita akan membahas rahasia gelap pernikahan.

Beberapa malam yang lalu saya dan suami saya nonton sebuah film di rumah. Saya sebenarnya tidak terlalu berminat karena filmnya film asing dan di-dub ke dalam bahasa Inggris. Menurut saya, film dubbing yang paling asyik itu hanya Doraemon 😀

Karena suami saya tertawa-tawa melulu, saya jadi ikutan nonton.
Tiga pasang suami istri dan seorang lelaki jomblo berkumpul untuk makan bareng di rumah salah satu di antara mereka. Sambil ngemil, mereka main game.
Semua hape dikumpulkan di atas meja. Jika ada hape yang berdering—ada telepon atau pesan—semua harus tahu apa isinya. Telepon diterima pakai speaker. Pesan dibacakan keras-keras oleh teman lain.

Sepakat. Toh semua merasa tidak punya rahasia dengan pasangan masing-masing.

Mula-mula semua lucu-lucuan. Ada yang salah sambung, ada yang ditelepon sales, atau apa pun itu.
Ketegangan mulai terjadi ketika salah satu suami (sebut saja A) ingat. Ini kan hari apa ya saya lupa, dan jam sekian akan ada kiriman foto nakal di salah satu grupnya, dan dia dikenal sebagai suami yang taat.
Kebetulan hapenya sama dengan si teman yang jomblo. A punya ide untuk tukar hape saja supaya tidak ketahuan istrinya. Si jomblo menolak tapi A memohon-mohon.
Deal! Mereka tukar hape.

Dan benar saja. Pada jam yang sudah ditentukan, bermunculanlah gambar-gambar syuuur di hape A tadi. Whuaaa, semua menggoda si jomblo dan bilang nggak sangka.
Fyuuuh … selameeet.

Berikutnya SMS. Ternyata untuk si jomblo. Tapi karena hapenya ditukar, semua menyangka itu buat A. Ketika dibacakan keras-keras, isinya bilang aku rindu kamu.
Istri A kaget, tapi A bilang itu SMS nyasar. OK, sementara aman.

Eeeh, ada lagi pesan masuk, kali ini pesannya makin nakal.
Hape direbut istrinya, ternyata namanya ada di contact – mana mungkin pesan nyasar kalau nama pengirimnya tersimpan – Jenny atau apa saya lupa 😀
So, Anda tahu bahwa sebenarnya SMS itu buat si jomblo. Adegan pertengkarannya tambah panas ketika lama-lama identitas Jenny ini terkuak, tapi saya tidak akan cerita di sini eheheh. Kepanjangan.

Telepon berikutnya dari toko perhiasan ke tuan rumah. Speaker on, semua mendengar, maka berlangsunglah percakapan ini:
Halo … apakah dia suka kalungnya?
Iya. Istri saya suka. Nanti saja ya, teleponnya. Sedang banyak tamu.
Eeeh … tunggu. Apakah dia juga suka giwangnya?
—- suami diam —- istri memandangnya —
Giwang yang mana? Kamu beli giwang buat siapa? Kamu hadiahkan ke siapa?
Dan heboh lah semua. Saya juga tidak akan cerita siapa penerima giwang itu. Tak disangka!

Telepon berikutnya berdering.
Sales yang dari tadi menelepon ternyata menelepon lagi. Salah satu di antara mereka berniat menggoda si sales, jadi telepon diangkat.
Ternyataaa … yang ditulis di kontak sebagai sales itu sebenarnya pacar salah satu di antara mereka. Si pacar sedang panik minta segera ketemuan karena merasa “telat”.

Dhueng! Istrinya mengamuk.
Pasangan yang semula menyangka diri mereka saling aman ternyata justru paling parah. Heboh lagi, bertengkar lagi.

Tambah seru, ketika hape istrinya A bunyi. Ternyata dari teman chat rahasianya. Dan isi chatnya mesra semua. Si A marah besar! Istrinya bilang itu hanya chat di dunia maya, hanya fantasi. Tapi suaminya tetap marah. Namanya saja orang “taat”, kaaan?

Dan semakin malam, rahasia mereka di balik hape masing-masing jadi makin terkuak. Semua punya rahasia yang saling tidak disangka.
Pasangan yang tampak mesra ternyata menyimpan rahasia masing-masing. Jomblo yang selama ini disangka cuek saja ternyata punya rahasia besar juga.

Mereka semua teman dekat, tapi semua hanya saling kenal di permukaan. Masing-masing punya rahasia gelap.

Filmnya simpel, lokasi yang dipakai sepanjang film nyaris semua di ruang makan, dan setiap telepon berdering, saya ikut deg-degan menunggu, rahasia apa lagi yang bakal terungkap, ahaha.

Ending-nya kurang greget, tapi pesannya kena banget buat saya dan suami yang sama-sama doyan kelayapan di media online.

Dia bilang, “Hayooo, kita tukar hape sehari. Kita lihat siapa yang bakal kontak. Berani?”
Ahaha. Mana saya mau.

Kepada suami saya menjawab, “Supaya kita aman-aman saja, tolong Bapak jangan pernah buka hape Ibu.”
Just kidding 😀 😀

Dalam buku “Marriage with Heart” ada bahasan khusus tentang hal ini dan pertanyaan yang paling saya sukai adalah, “Apakah Anda biasa menghapus chat tertentu karena takut ketahuan pasangan Anda?” 😀

So, itu film yang saya tonton akhir pekan lalu. Judulnya “Nothing to Hide”.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Relasi Ibu dengan Anak Laki-Laki

Jumat 14 Desember 2018, Kulwap Keluarga Sehati membahas tema parenting.

Yuk, nikmati materi dari narasumber Anna Farida berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-146, kita akan membahas relasi anak lelaki dengan ibunya.
Eyang Ralph Waldo Emerson, transendentalis Amerika, bilang “a man is what his mother makes him”.
Para bapak boleh protes, “Kok kami tidak diaku!” 😀

Umumnya, para ayah membangun relasi dengan anak lelaki mereka—termasuk dengan anak perempuan—melalui permainan yang “macho” misalnya kejar-kejaran, bersepeda, bikin berantakan rumah, bikin kesel ibu, ahahah.
Bagi ibu dan anak lelaki, ada relasi yang sedikit berbeda. Ketika anak masih bayi, pengasuhan seorang ibu terhadap anak lelaki dan perempuan relatif sama. Begitu anak lelaki mulai tumbuh, ada hal berbeda yang lazim terjadi.
Dari beberapa artikel yang saya baca berkaitan dengan kasus-kasus antara ibu dan anak lelaki, terlihat bahwa hubungan seorang perempuan dengan suaminya berpengaruh besar pada relasinya dengan anak lelakinya.
Disebutkan bahwa jika relasi istri dengan suami dalam situasi kurang nyaman, seorang ibu cenderung sulit bersikap santai dengan anak lelakinya. So, karena ini urusan dua orang dewasa, jika hal ini sedang terjadi (semoga tidak), kita perlu waspadai. Secara tidak disadari, sikap kita bisa membentuk konsep diri anak lelaki tentang “kelelakiannya”.
Saat ibu dan ayah sedang ada masalah, perlu disadari bahwa perjuangan untuk membangun relasi yang sehat dengan anak tentu perlu perjuangan yang lebih kuat. Pada saat yang sama, ikatan seorang ibu dengan anak lelakinya biasanya sangat dalam dan kuat pengaruhnya pada perkembangan jiwanya.
Karena itu, relasi itu semestinya sehat dan memiliki daya dukung yang optimal—saya jadi ingat iklan oli 😀
Bagaimana caranya?
+ Dengar dan amati. Kadang ibu tidak mengerti atau tidak bisa mengimbangi omongan atau minat mereka. Duduk saja dekat mereka—misalnya saat mereka makan. Temani saja, paling lima menit. No hape, ya 😀
+ Sesekali kepo tentang kesenangan mereka juga boleh. Saat ini anak saya main game, sesekali saya tanya lagi main sama siapa. Kepo kan brbeda dengan interogasi. Umumnya anak lelaki tidak suka menceritakan detail kegiatannya, apalagi jika dia tahu emaknya tukang online. Sejak dua atau tiga tahun lalu dia bilang “Jangan post tentang aku di medsos Ibu” ahahah.
+ Kenali teman-temannya. Mengenal nama teman-temannya membuatnya merasa diperhatikan. Sebenarnya ini pe er saya. Saya tidak segera hafal nama para pemuda yang sering menginap di rumah, para remaja yang sering main di rumah. Lain halnya dengan nama teman-teman anak perempuan saya, saya relatif lebih ingat. Kenapa, coba?
+ Terapkan disiplin dan buat komitmen bersama. Ketika anak lelaki melakukan pelanggaran, kalimat yang sebaiknya tidak terucap adalah “tunggu sampai ayah pulang” yang sebenarnya adalah pesan bahwa ibu tidak berdaya. Saya tidak tahu persisnya, tapi saya menduga kalimat ini jarang diucapkan pada anak perempuan. Biasanya anak perempuan justru nunggu ayah pulang untuk cari pembela 😀
+ Perhatikan privasi. Kadang ada anak lelaki yang sudah tidak mau dipeluk di depan umum. Pelukan itu sehat, kita semua tahu, tapi ada beberapa jenis kontak fisik dari ibu yang membuat anak lelaki tidak nyaman, khususnya ketika mereka mulai tumbuh.
Buat kesepakatan tentang ruang privat masing-masing antara ibu dan anak lelaki, misalnya urusan masuk kamar, urusan kamar mandi, atau hal lain yang masing-masing keluarga berbeda. Misalnya, ada keluarga yang mengizinkan ibu dengan anak lelaki di rumah keluar dari kamar mandi berpakaian seadanya, ada yang tidak.
Itu dulu, kita diskusi lebih detail karena setiap keluarga pasti berbeda.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Self Esteem untuk Kebahagiaan Keluarga

Materi Kuliah via WhatsApp (kulwap) yang selalu menghadirkan materi asyik memang bikin rindu.

Yuk, simak pembahasan dari Mbakyu Anna Farida berikut ini:

Salam Sehati, Bapak Ibu sekalian. Ini kulwap ke-142, kita akan membahas tentang self esteem dalam relasi suami istri. Dalam kulwap sebelumnya, kita sudah membahas tentang peran self esteem dan mendefinisikan sebagai cara seseorang memandang dirinya.

Ada seseorang yang sangat percaya diri sebagai istri atau suami, tapi begitu menjalankan perannya sebagai orang tua, dia mendadak gamang.

Demikian pula sebaliknya. Ada yang demikian lincah bertukar kata dengan orang lain, tapi langsung bungkam begitu berhadapan dengan pasangan—sampai ada gurauan tentang asosiasi suami takut istri maupun istri takut suami.

 

Lantas di mana peran self esteem dalam relasi pasutri?

 

Menjalin relasi dengan siapa pun perlu memiliki visi dan misi. Begitu pun dalam pernikahan. Relasi macam apa yang hendak dibangun? Suami sebagai imam dan istri jadi makmum?

Btw konsep ini kadang disalahpahami sebagai bentuk kepasrahan total, padahal dalam ibadah sekalipun, makmum wajib mengingatkan ketika imam melakukan kesalahan.

Atau relasi kemitraan yang sejajar? Kita bisa panjang lebar mendefinisikan makna sejajar, makna adil, dan makna-makna lain. Seperti apa, sih, yang dimaksud dengan kemitraan yang saling mendukung?

 

Berkaitan dengan self esteem, bisakah dia mewarnai pernikahan atau bentuknya yang harus menyesuaikan diri dengan pernikahan?

Misalnya, saya tumbuh sebagai remaja yang punya self esteem biasa-biasa saja, apakah nanti dalam pernikahan saya juga akan biasa saja?

 

Ataukah pernikahan bisa mengubah pandangan saya terhadap diri sendiri, misalnya dulu saya biasa pede bin mandiri dan setelah menikah jadi minderan dan serba bingung ambil keputusan. Atau sebaliknya, awalnya canggung lantas jadi sigap penuh energi karena yakin bisa apa saja?

Bu Elia Daryati menjelaskan bahwa paling ideal self esteem dipupuk sejak kecil, tapi tetap bisa tumbuh saat manusia dewasa, termasuk saat dia menapaki dunia baru bernama pernikahan.

Pasangan diharapkan saling menginspirasi dalam kebaikan dan saling dukung agar pasangan memiliki cara pandang yang positif tentang dirinya dan perannya sebagai suami atau istri.

Bagaimana?

+ Perhatikan, kapan pasangan kita tampak pede dan kapan dia terlihat menarik diri. Saat bahas apa? Saat dalam kondisi apa?
+ Hal apa yang membuatnya tampak bersemangat menjadi leader dan kapan dia terlihat ingin jadi follower saja?
+ Bantu pasangan menemukan hobi Dan beri dukungan sepatutnya. Takar-takar, tentu saja. Dia hobi pelihara kalajengking dan Anda lihat kecoa saja panik, bagaimana coba? 😂
+ Katakan cinta. Rasa aman karena dicintai akan menghadirkan self esteem yang kuat. Wujudnya bisa berupa ungkapan verbal, fisik, psikologis. Kita sudah pernah bahas belum, ya?
+ Maafkan khilafnya, mintalah maafnya pula ketika Anda bersalah. Rasa nyaman yang berasal dari saling memaafkan juga menghadirkan rasa percaya diri dan self esteem yang baik.
+ Ucapkan terima kasih, apresiasi kebaikannya. Jangan biarkan kebaikan jadi hal biasa dan kesalahan jadi perkara.

Sudah itu saja, jempol saya sudah tak berdaya #tutupmuka

Salam dari atas bus, saya otw Boyolali ke pernikahan saudara.

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Tanya Jawab Self Esteem Dunia Pernikahan

Hai, pembaca.

Kali ini tanya jawab di kelas Kuliah via WhatsApp (kulwap) hanya ada satu pertanyaan. Semoga mampu mencerahkan dunia pernikahan kalian, yaaa!

Mohon maaf, kami baru sempat mengirim jawaban😊

Tanya 1:

Assalamualaikum.

Saya merasa memiliki self esteem yg rendah bu Anna. Mungkin karena pola asuh Ibu yang dominan, otoriter, tidak terbiasa mengapresiasi, mudah mencela/merendahkan ya..

Saya contohkan beberapa :
-saat saya SD ingin mengirim jawaban TTS ke majalah Bobo, niat tersebut di mentahkan dgn kalimat ‘kamu nggak akan menang/dapat hadiah, kan saingannya banyak se-Indonesia, sudah tak usah dikirim.. ‘
-saya tak diperbolehkan memilih baju saat remaja.
Tak diperbolehkan maksudnya selalu beliau pilihkan. Kalau saya agak ngotot memilih sesuai yg saya mau, biasanya dicela. Saya baru memilih/membeli baju sendiri saat sudah menikah.
-Saya kenyang dengan cubitan, pukulan, atau tangan diikat di kursi, saat kecil. Bisa karena main kelamaan (waktu makan siang tdk segera pulang), atau karena memecahkan mangkuk kesayangan Ibu.
-dll

Saya tumbuh dengan rasa minder.
Dulu saya tak mengerti kenapa saya minder, dan selalu kagum pada teman-teman yang pemberani dan percaya diri.

Kini saya mengerti kenapa sy mengalami minder yg (sepertinya) sekarang pun masih sering menghampiri.

Mungkin krn self esteem saya rendah ya Bu?

Saya tak hendak menyalahkan Ibu atau Bapak bu Anna. Sejak beberapa tahun lalu saya sudah sampai pada tahap memaafkan mereka.

Nah.
Suami saya bukanlah orang yang suka membaca/mengerti psikologi. Jadi beliau juga tak berbuat banyak yang sekiranya membantu mengatasi minder saya. Lebih banyak diam dan membiarkan, begitu.

Self esteem rendah ini (kalo saya pikir-pikir) sangat mempengaruhi hubungan dengan suami.
Jadi suka cemburu tanpa alasan kuat (gara-gara saya yang tdk PD).
Dan cenderung posesif ke suami.

Sementara kalau ke anak-anak, tak ada gangguan berarti.

Saya bukannya tdk berusaha memperbaiki diri, namun rasanya perkara self esteem ini up and down, begitu.
Kadang naik.. Kadang turun.

Yang ingin saya tanyakan : ada apa dengan saya Bu? Dan apa yg harus saya lakukan, bila usaha meningkatkan self esteem ini (sepertinya harus) dari saya sendiri.

🙏🙏

Jawaban Anna Farida:

Salam, Ibu.
Saya optimis Ibu bisa memupuk self esteem karena Ibu sendiri sudah tahu penyebab masalah yang ada. Saya juga percaya Ibu bisa bangkit karena Ibu sendiri sadar bahwa self esteem akan hadir terutama atas upaya personal didukung oleh orang terdekat dan lingkungan sekitar.
Nah, sekarang mari coba beberapa hal kecil:
1. Buat daftar hal positif yang Ibu miliki, sekecil apa pun. Saya bahkan menulis bahwa saya bisa mengangkat panci panas tanpa alas asal cepat (lah, iya. Kalau lama-lama bisa melepuh haha). Saya punya kebiasaan menuliskannya sehingga saya bisa baca ketika ada serangan minder yang kadang nyelonong.
2. Tekuni hobi. Tekuni artinya lakukan sedikit lebih banyak upaya untuk membuat hobi itu istimewa. Misalnya, hobi saya nonton film. Saya senang baca-baca review film di internet untuk membandingkan pandangan saya tentang film itu dengan pandangan orang lain. Just for fun, memang, tapi somehow saya kadang merasa senang kita pandangan saya sejalan atau tidak sejalan dengan reviewernya.
3. Lakukan yang terbaik hari ini. Jangan bandingkan diri dengan orang lain maupun diri sendiri pada masa lalu. Jadi referensi boleh, tapi tidak lantas jadi minder karena size baju saya dulu S atau M, sekarang L atau … apa coba?:-D
4. Minta bantuan orang terdekat. Tidak semua orang peka pada upaya kita memupuk self esteem. Minta bantuan agar mereka mengerti—mau bantu atau tidak urusan nanti, yang jelas kita proaktif minta bantuan. Contoh: “Ibu sedang belajar masak. Tolong bantu kasih masukan tapi jangan kejam-kejam kalau kasih kritikan, yaaa. Mild saja :-D”
5. Mengajarlah. Ibu pasti punya hal yang bisa diajarkan kepada orang lain, seremeh apa pun itu. Mengajar adalah belajar, itu prinsip saya.
6. Bantulah orang lain. Apa pun bentuknya, bantu orang lain. Berikan hiburan bagi orang yang sedih, temani orang yang berkeluh kesah.

Semoga bermanfaat. Enam resep di atas berlaku buat saya. Mungkin Ibu bisa memodifikasinya sesuai style Ibu.
Salam sayang 😊
Chin up, be brave.

Tetap Merdeka Setelah Menikah

Jumat, 17 Agustus 2018, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke- 73. Kulwap ke-132 kali ini memaknai kemerdekaan dalam pernikahan.

Yuk, simak pemaparan dari Mbak Anna Farida narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-128, dan kita sedang merayakan hari kemerdekaan. Jadi, kita akan membahas kemerdekaan dalam pernikahan.

Apakah masih ada kemerdekaan ketika kita sudah menikah? Jika masih ada, apakah levelnya sama seperti kita belum masih lajang? Jika kita merasa kehilangan kemerdekaan setelah menikah apakah kita bisa mendapatkannya kembali?

Pendek kata, setelah kita menikah, apakah kita masih merdeka?
Dengan definisi yang pas tentang kemerdekaan, jawabannya tentu YA, masih. Kita bukan hanya masih medeka, kita bahkan bisa menambah levelnya seperti keripik-keripik itu 😀

Kita definisikan kemerdekaan dengan salah satu aspeknya, ya. Kita boleh tidak bersepakat. Santai saja.

Salah satu definisi kemerdekaan adalah kemampuan untuk mendapatkan kebahagiaan. Lagi-lagi kita harus mendefinisikan kebahagiaan—ribet amat, ya 😀

Dalam pernikahan, kebahagiaan sangat bisa diraih. Untuk mendapatkannya, perlu dua orang yang kuat, karena yang dia dukung bukan hanya dirinya sendiri tapi juga pasangaannya—apalagi jika pasangannya overweight #apaseh

Kebebasan itu tidak terjadi secara individual, bukan kebebebasanmu saja atau kebebasanku saja. Bukan dalam arti kebebasanmu akan memangkas kebebasanku.

Dengan dukungan pasangan, kebebasan justru bisa meningkat levelnya karena ada orang yang menjaga kita, membantu kita saat ada kesulitan, dan jadi “pagar” ketika kita hendak kebablasan.

Bagaimana mewujudkannya? Bagaimana jika pasangan tidak memiliki pemahaman yang sama? Bagaimana jika pasangan justru memiliki konsep kebebasan yang “berpihak” pada kita?

+ Sadari bahwa pernikahan adalah milik dua orang dewasa. Artinya, keduanya bisa saling berbincang merumuskan bersama makna kebebasan yang disepakati bersama.

+ Ketika ada bagian yang tidak disepakati, perhatikan bagian mana yang bisa dilakukan bergantian. Merdeka dari satu hal selalu berarti terikat pada hal lain, kan? Jadi, ketika aku tidak bisa memutuskan hal ini sesuai dengan kehendakku, aku akan memutuskan hal itu sesuai keputusanku, yaaa. Jika kita tidak bisa bersepakat, kita bergantian mengambil keputusan.

+ Be an expert, jadilah ahli. Umumnya manusia, termasuk pasangan kita, cenderung mendengarkan ahlinya. Jika kita mau didengar, jika kit hendak memiliki kebebasan untuk memutuskan sesuatu, kita mesti jadi ahlinya. Misalnya, bagi para ibu,umumnya baru bisa bepergian setelah repot duluan di rumah. Apakah para bapak mengalami hal yang sama? Apakah mereka juga sibuk menyiapkan ini itu untuk anak istri mereka sebelum pergi? #ehitucurhatsiapaya—maaf dipakai bahan kulwap.

Karenanya, jadilah ahli. Jika memang tidak ada yang bisa diandalkan mengurus dapur, atur agar keperluan minimalnya terpenuhi. Tentu standar saya berbeda dengan para ibu yang lain. Standar dapur aman buat saya adalah tidak ada sampah menginap, ada beras atau nasi, dan telur. Jadi anak-anak bisa memasak sendiri jika makanan yang saya siapkan habis. Rumah berantakan sedikit atau berantakan banyak bukan masalah buat saya. Namanya juga rumah yang hidup dan dinamis #ngeleeess

Jadi ukuran jadi ahli itu bukan ketika kita bisa melakukan sesuatu sesuai standar orang lain, tapi melakukan sesuatu yang membuat kita bahagia dan pada gilirannya memberikan kemerdekaan.
Hindari belenggu yang membuat kita terjajah oleh ketidakpuasan yang kita ciptakan sendiri. Wah, kalimatnya instagrammable 😀

Kemerdekaan dalam definisi yang lain adalah life to the fullest. Jalani kehidupan yang ada dengan sebaik-baiknya, bukan berandai-andai dengan kehidupan yang tidak kita miliki.

Sudah, ah. 😀

Merdeka! 🇲🇨🇲🇨

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Buku bisa diperoleh melalui saya

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done – Nelson Mandela