Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Sahabat Berkaki Empat

28 April 2017 13:41 WIB

Kulwap (kuliah via whatsapp) yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart kali ini menampilkan dokter hewan yang bekerja di Balai Karantina, Jakarta, Julia Rosmaya. Yuk, kita simak pemaparan beliau yang kaya ilmu.

Suci Shofia: Sepertinya Mba Julia sedang sibuk bekerja, jadi saya yang akan membagikan materi yang telah beliau tulis.

Julia:  “The best therapist has fur and legs”

Pernah baca quote di atas?
Cerita berikut hanya dipahami oleh orang yang memiliki hewan peliharaan.

Tina stress, semua terasa salah di kantor hari ini. Beberapa pekerjaan yang dilakoni dengan sepenuh jiwa dianggap tidak layak oleh atasannya.

Saat pulang, dia terjebak macet parah. Hujan pula.
Dengan tubuh basah, Tina membuka pintu rumahnya. Rumah gelap, tidak ada orang di rumah. Kedatangannya hanya disambut 2 ekor kucing… yang berusaha mencari perhatian dengan berlari mengikuti di sekitar kakinya

Dengan tenaga yang tersisa, disiapkan makan malam untuk para kucing itu. Setelah mandi, Tina langsung ambruk di kasur.

Beberapa saat kemudian dia mendengar dengkur halus dan rasa hangat di dadanya. Kedua ekor kucingnya berebut duduk di dada dan leher. Secara reflex, Tina mengulurkan tangan untuk mengelus bulu lembut dan halus peliharaannya itu.

Dan… Secara perlahan perasaan relax menjalar ke sekujur tubuh. Pikirannya menjadi terang untuk menganalis masalah.

Dipandangnya kedua kucing yang masih mendengkur manja di dadanya. Mereka balas memandang.. “Terima kasih Momo, Bubu.. Kalian memang paling tahu kalau aku stress!”

Hehehe..  Cermini dikit ya..
Memelihara kucing atau anjing memang telah terbukti mampu meredakan stress. Bahkan di beberapa RS di negara Barat, hewan peliharaan telah menjadi bagian dari proses terapi penyembuhan.

Eh tapi..  Kucing kan bisa menyebabkan penyakit.. Katanya Toxoplasma, yang menyebabkan Ibu hamil keguguran atau janin cacat. Malaslah pelihara kucing. Belum pup-nya, makannya.. Riweh…

Tahukah anda, bahwa memakan daging kambing setengah matang juga  dapat menyebabkanToxoplasma? Jadi kucing tidak bisa dituduh 100% sebagai penyebab Toxoplasma, banyak lagi penyebab lainnya.

Lalu bagaimana mencegah penyakit dari kucing atau hewan lain yang kita pelihara?

Pertama, jaga kebersihan. Sediakan tempat untuk pup dan bersihkan fesesnya secara teratur. Tidak hanya kucing, hewan pelihara lain seperti anjing, burung, kelinci, ayam semua diperlakukan sama. Kebersihan harus utama.

Bila memelihara unggas seperti ayam dan burung. Harus lebih ekstra hati-hati menangani feses-nya. Virus flu burung dapat ditemukan di feses. Gunakan sarung tangan atau pelindung lainnya saat membersihkan kandang. Seminggu sekali, semprot kandang dengan cairan bayclin untuk mematikan virus penyakit yang mungkin ada. Kandang juga harus terkena sinar matahari dan dalam keadaan kering.

Bagaimana dengan anjing? Biasanya anjing sering kutuan. Mandikan anjing secara teratur dengan shampoo khusus anjing. Bersihkan kandang dengan cairan pembersih lantai seperti karbol. Jangan lupakan bagian dinding dan atap. Bila perlu, bawa anjing ke dokter hewan untuk mendapatkan obat anti kutu.

Kedua, vaksinasi anjing dan kucing anda. Vaksin utama adalah Rabies. Rabies menyerang manusia melalui gigitan hewan tertular. Bila manusia terkena Rabies, maka tingkat kematiannya hampir 100%.

Cara penanganan lupa gigitan, segera bersihkan dengan air mengalir, lalu beri betadine dan sejenisnya lalu segera ke dokter manusia 😁! Bukan ke dokter hewan ya.  Anjing/kucing/kera yang menggigit bila memungkinkan ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan atau dokter hewan. Hewan terduga Rabies akan dikarantina minimal 14 hari untuk mengetahui apakah hewan tersebut positif atau tidak terhadap Rabies. Hewan Rabies biasanya akan mati selama waktu tersebut.

Hati-hati bila berada di daerah Rabies seperti Bali, Sumatra Barat dan beberapa wilayah Sumatra lainnya. Hindari kontak dengan anjing/kucing/kera liar.

Tahukah anda bahwa kasus kematian manusia di Indonesia akibat Rabies lebih banyak daripada karena flu burung?

Ketiga, beri makan minum yang cukup dan kasih sayang. Hewan jangan hanya dipelihara, tapi wajib disentuh, dielus dan disayang. Terutama anjing dan kucing.

Oh iya. Lupa memperkenalkan diri. Saya Drh. Julia Rosmaya. Saat ini bekerja sebagai dokter hewan karantina, tetapi tidak membuka praktek. Saya memiliki 7 ekor kucing dan 1 anjing di rumah.Semoga penjelasan singkat saya cukup. Mari kita berdiskusi.

Drh. Julia Rosmaya R, M.Si
Dokter Hewan Karantina
WA: 08161121134
Blog: juliarosmaya.blogspot.co.id
Email: julia.rosmaya@gmail.com
FB: Julia Rosmaya Riasari
Twitter :@MAYA_JR2

Jawaban Inner Child

Kali ini sesi tanya jawab di kelas Kulwap Keluarga Sehati, 3 April 2017 1:48 PM

Suci Shofia: Siang, teman-teman semua.

Jawaban kali ini agak berbeda dengan biasanya.

Menurut Bu Elia narasumber kita (psikolog): “Materi inner child itu sangat klinis sesungguhnya. Biasanya hanya biasanya dapat diselesaikan di tempat terapi dan ruang konseling.

Jika dibahas selintas mungkin bisa, namun mmg utk memutus rantai membutuhkan bbrp jenis terapi yg harus dipraktekkan.”
Berikut jawaban untuk semua pertanyaan:

Bu Elia:

Salam. Selamat siang semua. Pembahasan kita kali ini cukup seru yang terkait dengan masalah inner child.

Dari artikel yang disampaikan di grup oleh mbak Anna, cukup memberikan penjelasan inner child itu seperti apa.

Dari keempat pertanyaan sebetulnya memiliki kemiripan kasus satu sama lainnya. Ada yang tidak terselesaikan masalah/trauma di masa lalu yang masih atau kadang kala muncul di masa kini, ketika berhadapan dengan situasi serupa atau ketika kondisi emosi sedang tidak terlalu tenang.

Sepertinya menjadi sulit untuk di kendalikan.

Sesuatu yang tidak terselesaikan di masa lalu biasanya terbawa di masa kini dan ikut mewarnai bagaimana dia berkeluarga, bekerja, berinteraksi dan ketika menjadi orang tua.

Seperti kasus di atas, sesungguhnya cukup sadar akan tetapi kenapa kadang tidak dapat dikendalikan?

Ingin berdamai, ingin menghilangkan trauma dan ingin memutus rantai, tapi tidak tahu caranya.

Bahkan salah satu kasus di atas si istri ikut terduplikasi dari sikap suaminya yang keras/kasar yang diduga memiliki inner child.

Beberapa cara yang dilakukan sebenarnya bisa menggunakan hypnotherapy atau forgiveness therapy dan membutuhkan beberapa sessi untuk menyelesaikan masalah inner child tersebut.

Ada juga teknik sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan personal life line.

Misal : seseorang membuat garis di atas kertas kosong. Dibagi ke dalam 4 bagian. kiri kanan dan atas bawah.

Tuliskan sekitar 20 peristiwa yang bermakna yang cukup mempengaruhi kita di masa lalu dan masa kini berdasarkan lintasan umur dan waktu. Bagian atas hal-hal yang membahagiakan dan bagian bawah adalah hal-hal yang kurang atau tidak membahagiakan.

Semakin bawah semakin bermakna trauma yang tidak membahagiakan dan semakin atas merupakan kebahagiaan.

Selanjutnya kita rasakan setiap peristiwa, jika ternyata masih tersisa sampah-sampah emosi yang masih mengganjal berarti kita belum berdamai dengan peristiwa-peristiwa tersebut dan terbawa ke masa kini dan berdampak pada perilaku yang kurang kita sadari.

Begitulah rasakan berbagai peristiwa tersebut dan berikan angka kedalaman terhadap hal yang kita rasakan.

Kita harus menjelaskan peristiwanya apa? Siapa saja yang terlibat disana, apa saja yang sesungguhnya diharapkan terjadi dalam peristiwa tersebut.

Bentuk komunikasi seperti apa? bentuk sentuhan seperti apa? Dan penyelesaiannya seperti apa? Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memang clear terselesaikan.

Setiap orang dapat melakukannya dengan satu persatu diselesaikan secara individual. Jika belum mampu menghapus semua peristiwa, paling tidak mengurani beban emosi mental secara bertahap satu persatu yang dibawa dari masa lalu.

Demikian semoga bermanfaat.

Maaf saya kirim gambar panduan dari Bu Elia untuk pembagian kolom yang sudah dijelaskan oleh beliau di atas. Ada ralat, pembagiannya atas bawah.

Bu Elia Daryati: Abjad itu nama-nama peristiwa, sekaligus hal tersebut menunjuk di usia berapa peristiwa tersebut terjadi.

Abjad-abjad bercerita ttg masa lalu, awal-awal kehidupan dan terus maju ke masa kini.

Abjad begerak dari A…sd…seterusnya. bergerak dari masa lalu ke masa kini.
Anna Farida: Terima kasih, Bu Elia.

Teman-teman, saya tidak ikut-ikutan jawab, ya. Nanti salah resep 🙈

Saya juga mau ikutan bikin tabelnya, sambil takut-takut gitu mengakui beberapa hal yang sudah berlalu 🙊
[4/3, 4:34 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: meresapi materi
[4/3, 4:38 PM] Dieni Elha Kulwap: PR banget ini. Semoga bisa mengatasi inner child ya 🙏🏻
[4/3, 4:42 PM] Suci Shofia: amiinn, semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu yang kurang menyenangkan😇
[4/3, 7:26 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: blm paham, yg atas masa lalu bawah masa depan atau gmn? 😆
[4/3, 7:28 PM] Suci Shofia: atas untuk inner child yang menyenangkan, bawah untuk inner child yg tak menyenangkan😇
[4/3, 7:36 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: oohh ic , saya kalo lagi marah yg terbayang wajah emak lagi marahin saya.. huaah .. PR banget nahan si Inner Child ga keluar

H: kalo sy lagi ga waras dan dede bkin kesel padahal usianya 3 tahun aja belum, dia nangis kejer saya kayak dengerin musik.. harus terapi ini yah
R: Terimakasih bu elia buat jawabannya. Smoga saya bsa segera mendamaikan inner child saya..dngan proses ga lama lama

Diskusi Pemilihan Jurusan

5 April 2017

5:43 AM

Salah satu peserta Kulwap Keluarga Sehati menanyakan perihal pilihan jurusan di bangku kuliah :

A: Salahkah memaksa anak untuk menempuh pendidikan yg lebih tinggi / dengan jurusan tertentu, sedangkan anak tidak berminat ??

Atau mungkin anak lebih ingin dengan jurusan A, tapi orang tua lebih senang dg jurusan B, karena orang tua tahu klo si B punya potensi di bidang B

Atas jawaban terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu panjenengan semua.
U: Saya belum punya anak yang menginjak usia kuliah.. Tapi kalau tentang memaksa.. Rasanya memang salah. Apapun paksaannya 🙏🏼
Ea: Saya sangat berminat ke fakultas hukum. Sejak SMA saya berminat ke hukum.
Tapi saat kuliah saya diminta ke psikologi. Dan akhirnya saya nurut orangtua masuk ke psikologi.
Tapi hati kecil saya selalu ingin ke fakultas hukum. Teman2 saya jg semua ke banyakan dr fakultas hukum.
Skrg saya bekerja sebagai wirausaha. Saya berbisnis.
Jika saya dibolehkan mengulang, saya tetap ingin ke fak hukum.

Atau saya diberikan kesempatan S2, saya masih ingin ke fak hukum rasanya 😊
V: kuliah lagi aja mbak..sy gitu..karena kuliah ikatan dinas ya sesuai saran ortu..stlh skrg sy ambil.lagi peminatan awal sy..toh gak ganggu siapa2 juga😊
Ea: Iya mbak..
Tergantung keadaan nanti..
Klo dalam waktu dekat belum ada rencana kuliah. Baby2 saya masih jadi prioritas saat ini 😊
D: Saya pun mengalami hal yang sama dengan mbak Ea nih.

Saya mengambil kuliah keguruan seperti yang diharapkan Ibu saya dan saya berusaha menjalani profesi saya sekarang dengan senang hati dan perlu saya akui.. Dr tempat saya bekerja ini dan juga para kolega, saya mendapat banyak ilmu tentang parenting, yang bisa jadi tidak saya temukan di bidang yang saya idamkan.

Meskipun betul.. Jauh di dasar lubuk hati saya masih ada perasaan “menyesal” kenapa tidak coba keukeuh dengan cita2 pribadi. Melihat teman yg sukses di bidang yg saya inginkan dulu. Kadang ada perasaan.. “andai saja.. Pasti skrg bisa begini begitu.. Bisa kesana kemari”. Toh saya punya skill juga. #hahahahahaPEDE

Tapi keputusan itu sudah saya ambil dan inilah saya sekarang.
Jadi berusaha mencintai apa yang saya miliki sekarang.

Tapi entah ini ada kaitannya dengan Innerchild topik kmrn apa tidak.. Apakah bisa disebut saya belum “berdamai” dengan masa lalu. Tapi yang jelas sepertinya saya akan memberikan sedikit banyak kebebasan kepada anak-anak untuk menjalani passion mereka Tentu saja dengan sedikit banyak arahan dan nasihat #maklumEmak2 😁
M: Kalau menurut saya #sotoy
Inner child ini terkait dengan tahapan perkembangan psikologi yang belum tuntas, sehingga ketika dewasa akan mencari jalan untuk menuntaskannya.
Misalkan orang yang ketika kecilnya belum tuntas pada tahapan air, ia akan “senang” bermain air ketika dewasanya.

Diskusi Bra, Cantolan Bayi, Menstruasi, dan Narkoba

Yuk, ikuti diskusi seru narasumber dan peserta kulwap di hari Jumat, 24 Maret 2017.

 

[3/24, 12:08 PM] Suci Shofia: Yes! Jangan ikut gila😆
Yn: Kadang kelepasan ikut gila…

Tapi nggak sampe bikin banyak ufo dadakan dirumah.
Ls: Nah itu diaa bu Anna….
Menahan diri untuk tidak ikut gila sembari melayani dengan baik (dengan harapan dia akan membaik ) kok ya …duh…kadang telaten kadang enggak yaaa…(akhirnya ikutan bete..)
Ir: siappp jgn ikut gila mendingan jdi 🤡 hihi
lahh beneran sy kadang merasa kalo suami lgi krg enak bodi sy mulailah berperan ganda hahah termasuk mjd 🤡 yg bukan profesi untung gk pake acara ngecet muka tppi ckp buat lucu lucan ..
sampe suami berkata ..ummi kenapa ..demam k 😂

dan selesailah gk enak bodinya
Ma: haha…ya ..butuh cooling down ituh kanda prabu… 😄
A: Gila tdk, tp melarikan diri darinya alias kabooor😅😅
D: Jangan gila .. jangan marah sayang ..
Nanti kau menyesal 😊😋
Katakan abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Versi BCL
[3/24, 1:20 PM] Suci Shofia: kaburnya jangan kelamaan yaaa😬
[3/24, 1:21 PM] Suci Shofia: Kalau ada pertanyaan seputar pembahasan kali ini, silakan japri ke saya.

Sebelum jam 24.00 malam ini.
[3/25, 6:10 PM] Anna Farida: Saya sedang lipat baju. Upeng (10 th) bantuin. Dia melipat breast holder dan tanya bagaimana pakainya dan kenapa pakai.
Kami jadi bicara ttg menyusui, tentang haid.
Ingatkan saya untuk cerita nanti, yaaa. Sudah magrib.
Hp: siap, mengingatkannya skrg ahaha
[3/25, 6:11 PM] Suci Shofia: Siap!
Is: asyik…
ini bagian yang perlu banget cikgu

bagaimana menyiapkan diri menghadapi putri kita yang mendapatkan haid pertamanya
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Jadi mari cerita.
# emang kenapa harus pakai?
@ nanti payudara kan tumbuh membesar. Kan nanti buat nyusuin bayi. Lagian kalau payudara membesar, nggak enak kalau dibiarkan boing boing
# Hahahahahaha Ibu mah
Ubit teriak dari atas.
% Ibuuu ada ubit nih. Ubit kan laki-laki!
@ Lah laki-laki juga kudu tau. Nanti juga punya istri.
% Iya, tapi istilahnya jangan (vulgar) gitu. Malu.
@ oke maaaaf.
Nah, Upeng, payudara tumbuh buat nyiapin ASI. Ini biasanya bareng dengan rahim juga siap.

Allah bikin tubuh kita menyiapkan tempat buat bayi setiap bulan. Dinding rahim menebal nanti buat cantolan bayi. Kalau bayinya nggak ada, dindingnya nggak kepake, keluar jadi haid. Nanti bulan depan gitu lagi.

# berdarah gitu?
@ iya. Biasanya ada sakit perut dulu, atau sakit pinggang. Makanya Ubit juga kudu tau, nanti istri haid kudu tahu juga.
% Iyaaaa – sambil males gitu haha

@ tar kalau upeng haid segera bilang ibu. Ibu punya menspad baru. Kayaknya ibu perlu pesan lagi buat jaga-jaga.
Jangan pakai pembalut sekali pakai – kalau darurat sih oke tapi jangan jadi kebiasaan. Tar banyak sampah.

# jadi (breast holder) ini disimpan di mana?
@ rak nomor 3
[3/25, 7:34 PM] Anna Farida: Sudah
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Rumpi cewek selesai, kami segera bahas hal lain
Nggak perlu kepo dia paham atau enggak.
Sampaikan saja setiap ada kesempatan.
[3/25, 7:35 PM] Anna Farida: Mari makaaaan #eh
A: 👍👍👍
Map: Semoga kami dikaruniai anak perempuan, agar ceritanya lebih lengkap.
Um: Assalaamu’alaikum …subhanalloh banyak ilmu yg amat bermanpaat. Jazakalloh…ikut gabung ya bun. Ummi zamzam.

R: Ya ampuun, belom biasa pake menspad..hiks…
Ls: Wah..
Jd mas Ubit dilubatkan juga yaa…
Mm..blm pernah sih bahas hal2 kewanitaan dgn sulung saya yang cowok.
🙏🙏
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Amin amin P Muzayin, selamat rumpi, Ummi Zamzam
menspad bisa dibiasain. Saya juga baru bbrp tahun ini.
[3/25, 8:03 PM] Anna Farida: Ubit nguping – jadi ikut komen hahah
Dap: Anak2 saya cwo semua jd blm cerita masalah haid, tp giliran uminya ga sholat mereka protes bingung deh ngejelasinnya. Gimana ya?
[3/25, 8:13 PM] Anna Farida: 3 anakkku cowok, biasa bahas haid kok.
[3/25, 8:14 PM] Anna Farida: Kan nanti jadi suami. Jadi perlu tau juga. Bahas saja seperti bahas mau makan apa besok pagi 😬
Iq: di simpen dlu lom punya anak cowok ..nyari tips aa bisa dpt anak cowok 😁
[3/25, 8:35 PM] Suci Shofia: hahaha, boing boing, pesawat kaliii 😝

kedua anak saya laki semua 8 thn dan 5 thn sudah tahu soal mens, krn pas waktunya salat jamaah, bundanya ga ikutan.

sakit ga kalau keluar darah (mens), ya saya jelasin aja mirip kisah cantolan bayi (baju kali cantolan, hehehe)
Md: Habis bingung boing boing skrg cantolan bayi😂
[3/25, 9:05 PM] Suci Shofia: 😝😝
[3/25, 9:16 PM] Kh: 😍😍
[3/26, 6:39 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Kemarin ini anak tertua saya umur 8 nanya apa sih drugs.
Saya tanya liat dimana kata2 drugs.
Itu loh mi, di papan di pinggir jalan.say no to drugs.
Oh itu. Jadi giniiii….

Drugs itu obat. Ada obat yg kalo kita ga sakit trus pake sembarangan, malah bikin sakit. Itulah drugs.
Kog bisaga sakit minum obat? Emangnya beli dimana?

Nah kadang sengaja dibeli sama orang yang mau menghindar dari masalah. Misalnya, dia lagi sedih karena ga bisa bisa main piano (anak saya belajar piano tapi suka lebay ga latihan) tapi dia malah minum obat itu supaya dia merasa dia bisa main piano. Jadi begitu dia makan obat itu dia akan merasa senang, bahagia, bisa tidur, berasa hebat piano nya. Itu efek obatnya. Jadi begitu efek obatnya habis, coba tebak, dia bisa main piano ga?
Enggaaaa….. Koor duo bocah 8-6taon

Nah jadinya dia ulangi terus makan lagi obatnya supaya berasa bisa. Makin sering makan obatnya, makin jelek akibatnya.

Itu kalo minum drugs dengan sadar. Nyari sendiri obatnya.

Adalagi yang secara ga sadar dikasih obat sama orang jahat.
[3/26, 6:52 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Lanjut ga nih?
Lanjut dong mi…..

Inget ga pas lebaran suster pulang kampung? Kan pake bus tuh, sering ketemu banyak orang. Nah, kadang suster atau orang yg pulkam sering ngobrol sama org lain di tengah jalan dan kadang saling membagi makanan dan minuman. Ini harus hati2. Karena ada yang memasukkan obat di makanan atau minuman tersebut, trus kita jadi ketiduran. Begitu bangun, barang yang kita bawa sudah dibawa kabur sama orang itu, atau kalau kamu anak kecil bisa saja kamu diangkut sekalian,diculik, atau uang di dompet diambil. Kan kamu tidur.

Makanya jangan suka terima makanan minuman dari orang asing. Kalo dikasih, tanya mami dulu boleh ga diambil. Mami bilang ok baru boleh.
Soalnya sekarang banyak anak sekolah yang dikasih permen sama orang yang sering duduk2 di sekitar sekolah. Kamu sering liat orang itu, jadi pikir ini orang biasa disini kog, bukan orang asing.
Permennya gratis, isinya ada obatnya. Pertama kali kamu makan, ga berasa apa2, paling kamu jadi senang, bahagia.
Besok kamu minta lagi obat yg enak itu. Dikasih lagi. Beberapa kali dikasih gratis, kamu jadi ketagihan. Kepengen terus. Itu salah satu efek si drugs.
Nah kali ini, orang itu ga mau ngasih kamu gratis. Dia minta kamu bayar. Kalo kamu ga ada uang, dia suruh ambil duit mami atau barang di rumah dikasih ke dia.
Jadi karena sudah ketagihan dan kepengen, dan kalo ga minum obat itu kamu malah sekarang berasa sakit badannya,maka kamu mulai bohong tuh sama mami. Mulai ambil duit, barang. Itu mencuri.
Nah makin lama barang atau uang yg diminta orang itu makin banyak dan besar. Akhirnya kamu jadi terbiasa nyuri.

Jadi drugs itu bagus ga?
Enggaaaa…… Si duo bocah masih koor.
Kenapa?
Ntar bikin kita mencuri dan ga mau latihan piano lagi.

Okeh deh. Bibir mami sudah jontor. Mami haus. Yuk kita minun es campur.
😁😁😁
[3/26, 6:58 AM] Anna Farida: Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Masalah drug dibahas, latihan piano jalan – soal drug belum pernah kubahas sedetail itu. Catat!
Thanks, Greysiaaaa
[3/26, 7:16 AM] Greysia Susilo Junus kulwap: Wkwkkwk… Kreasi dalam masa kefefet bundaaa
Em: Emak emang kudu kreatif ya.. hehehe
Rw: Dicatat semua, dua lelaki yang baru akil baligh sudah mengerti tentang haidh, bahkan Mas kedua suka ngomong, yah calon adik kita sudah pergi, kl saya haidh.
Menyiapkan dua gadis kecil yang masih menyamakan menspad dengan popok dede atau popok Simbah☺

Th: Makasih mba Anna cerita tentang menstruasinya. 👍🏻😊
Anak perempuanku (8,5 thn) sudah mulai tanya-tanya tentang ini.
Mba Greysia, makasih juga ceritanya tentang drugs. 👍🏻😊

Beberapa bulan lalu pernah ada pameran/bazar dari kepolisian. Sosialisai turn back crime, kalau ga salah. Saya ajak anak-anak lihat dan tanya-tanya seputar drugs (ada stand khusus drugs), yang jelasin polisi yang jaga stand.
Saya juga baru tahu jenis-jenis drugs mulai dari ganja, heroin, sabu, dll., karena ada display-nya. Beneran barangnya, bukan cuma gambar. 😊
Is: masih ngebahas haid kan?
putri2 kecilku suka penasaran soal haid, saya masih pakai pembalut😬
mereka bilang bunda pake pampers.
setiap saya haid dibuntuti… ternyata mereka penasaran gimana cara pakaianya…
ya udah akhirnya aku perlihatkan cara memasang pembalut di celana dalam.
tentu saja bukan di kamar mandi
😊
setelah itu mereka stop membuntuti saya …
😊
Df: Kalau berhasil..

Share tipsnya ya mbak 😉
[3/26, 1:27 PM] Greysia Susilo Junus kulwap: Pengen juga sih dikasih liat, lewat yutub misalnya, tapi ga tau ada yg ramah anak apa engga. Tar mereka meniru malah bahaya
[3/26, 8:19 PM] Anna Farida: Iya hati hati dengan kampanye antidrugs – banyak yang nggak ramah anak – adegan memakai narkoba tidak boleh ditampilkan

Beauty and The Beast Pernikahan

Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati menyampaikan materi di hari Jumat, 24 Maret 2017:

 

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-79. Tak terasa, Saya dapat tema “Beauty and the Beast” dan sambil menebak-nebak, ini maknanya apa.

Apakah tentang suami yang lembut hati tapi bertampang sangar? Ehehe

Dalam pernikahan tentu ada saat semua baik-bak – ini yang ditampilkan di dinding media sosial buat eksis. Saat semua sesuai rencana, rasanya semua mendukung – semua serba benar, kekurangajaran jadi bahan candaan, kesalahan jadi bahan tertawaan. Pokoke mau berbuat atau bicara apa pun dengan pasangan, hasilnya bikin bahagia sentosa 😃

Namun demikian, ada saatnya semua serba tidak pas.

Pasangan kita mendadak uring-uringan—atau bahkan diam, atau tidak seramah biasanya. Sikap kita dianggap salah, omongan kita ditanggapi seaadanya, jadi bikin suasana canggung. Ini nggak akan masuk FB, dong, ya. Atau ada yang memajangnya ke seluruh dunia? Haha.

Kita bingung, kok mendadak tidak enak begini. Kenapa, sih, ini?

Eh, dia tidak mau cerita.

Pada saat ini tidak ada bedanya lelaki dan perempuan, semua punya kalimat andalan yang maknanya bisa sangat berbeda dengan arti kamusnya bisa: “Nggak papa kok. Aku ra popo.” 😝

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan ketika suasana nggak enak seperti ini?

Ada dua pilihan:

+ Jujur brutal: sampaikan padanya Anda tidak nyaman. Tanyakan apa yang terjadi, dan minta dia bicara kenapa dia bersikap tidak biasanya. Perhatian, ini mengandung risiko berlapis. Anda dalam kondisi tidak nyaman duluan, jadi cara ngomongnya bisa jadi sudah beraroma emosi negatif.

+ Diamkan dulu. Beri dia waktu. Mungkin  sedang tidak enak badan, mungkin sedang ada masalah, mungkin juga sedang capek (capek ngomong dengan Anda, maksudnya hahah)

+ Jangan ikut gila. Sori kalau pilihan katanya agak vulgar—mau cari ungkapan lain tidak ada yang lebih pas. Artinya, saat ini di sedang tidak bisa diajak baik-baik. Anda jangan ikut-ikutan bertingkah. Bersikaplah biasa saja, ajak bicara seperti biasa—nggak usah baper kalau dicuekin. Lihat dalam beberapa jam atau seharian ini. Kalau masih belum membaik, tingkatkan level pelayanan, bukan level kegilaan. Jika dia masih seperti itu walau sudah diajak baik-baik, baru bahas.

 

Banyak pertengkaran dan masalah besar terjadi karena Anda ikut gila.  Jika Anda mau menahan diri sedikit saja, siapa tahu lebih baik hasilnya. Jika ternyata tidak berhasil, baru ke langkah selanjutnya: bicara, minta penjelasan, hingga minta bantuan.

 

Nah, bagaimana? Pilih yang mana?

Mari merumpi – belum 500 kata tapi saya mau buru-buru pergi. 😃

 

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Pernikahan

Tanya 1:

Saya mau tanya gimana caranya mengatasi komunikasi yg dingin,dimana pasangan kita cenderung mau didengar tanpa mendengar.

Jawaban Anna Farida:
Salah satu keterampilan yang “mahal” harganya adalah mendengarkan. Berbahagialah jika kita merasa sudah cukup mampu mendengar dan tidak hanya ingin didengar.
Komunikasi yang dingin biasanya berupa suasana saling tidak peduli, sih. Ini masih ada yang mendengar dan didengar, berarti masih ada komunikasi, insya Allah.

Lantas bagaimana agar lawan bicara mau mendengar kita juga?
+ Pastikan kita pun adalah pendengar yang baik yang memberikan respon yang baik ketika orang lain berbicara.
+ Berbicaralah yang singkat, sampaikan pesan yang jelas, fokus. Nggak usah bawa-bawa pelajaran sejarah 😀 Pesan yang padat akan mudah “didengar”.
+ Gunakan I-message — masih ingat?
+ Gunakan jeda. Saya biasa ngomong panjaaaag – suami saya akan lebih memperhatikan justru ketika saya berhenti di tengah ocehan itu.
+ Komunikasi kan tidak selalu verbal. 80% pesan akan sampai melalui bahasa tubuh, raut muka, bahasa cinta 😉
Satu kata plus satu usapan akan jauh lebih bermakna daripada 500 kata yang Anda baca dalam materi kulwap, haha.

Apa lagi, ya?
Intinya sih sadari bahwa didengar itu memang menyenangkan. Jadi ya saya kadang memang berniat memberi kesenangan itu pada orang yang saya dengarkan – ehehehe
Jawaban Bu Elia :

Sesungguhnya yang namanya komunikasi termasuk di dalamnya menyangkut pola interaksi. Jika pola interaksinya baik, maka pola komunikasinya akan baik.

Pola interaksi yang baik, bukan hanya melibatkan masalah fisik, namun juga melibatkan interaksi psikologis di dalamnya. Sekarang yang perlu di evaluasi sebelum melangkah ke pembahasan komunikasi adalah relasi ibu dan suami…inyeraksinya seperti apa.

Namanya komunikasi biasanya melibatkan dua orang atau lebih. Nah…ibu dalam hal ini hanya melinatkan pasangan suami saja. Dikatakan ibu suami cenderung komunikasinya searah, dimana hal ini dirasa kurang adil dan egois.

Apa yang harus dilakukan :

Hal ini harus disampaikan dengan baik-baik tanpa harus saling menyalahkan. Hal lain yang harus dievaluasi adalah sudah berapa lama ibu menikah? Dengan waktu yang sudah berjalan ibu akan tahu saat yang tepat untuk bicara hal yang menjadi persoalan sekarang ini.
Caranya tidak menuduh, membandingkan, menyalahkan dan segala hal yang membuat pasangan menjadi lebih kuat pertahanan dirinya dan merasa nyaman.
Biasakan melakukan komunikasi dalam jarak yang dekat kurang dari satu meter ( jarak intim), dan bisa dilakukan ketika kondisi nyaman.

Jika iklim psiologis ini dilakukan secara rutin, secara bertahan suami akan tergiring dalam situasi ini. Lakukan secara berulang dan penuh kesabaran. Boleh jadi tidak seinstan yang kita harapkan, tapi biasanya selalu ada sedikit perubahan. Sekecil apa pun perubahan hargai itu sebagai suatu perubahan.

Kuncinya adalah rasa cinta yang besar pada pasangan dan bersabar atas ikhtiar yang dilakukan. Biarkan yakinkan pada diri pada akhirnya akan terjadi perubahan yang kita harapkan. Suami.kita berubah, kita pun sesungguhnya berubah. Jarak yang awalnya jauh laun akan mendekat pada akhirnya. Interaksinya memnaik, insya Allah…komunikasinya pun membaik.

Tetap untuk bersemangat….semangat perubahan ke arah yang lebih baik.

Hanya ada satu pertanyaan, ya😇

Diskusi Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

18 Maret 2017

BA: Mksh bu @Anna Farida, TOP BGT

Klo anak cewek said : kenapa to (sih:red) ibu selalu nurut dan ngikutin ( patuh.red) ayah terus?
“Karena seorang istri itu harus patuh pd suami kak, karena ridho Allah tergantung pada Ridho Suami, dan juga anak harus patuh pada orang tua, tapi dalam hal kebaikan dan ketaatan pada Allah.

#Sudah pas apa belum ya cikgu dengan pilihan bahasanya? sudahkah pesan tersampaikan utk mempersipkan kakak menjadi “calon pendamping”
Anna Farida: Kalau saya sih bukan karena harus patuh semata, tapi karena kesadaran bahwa di antara saya atau suami harus ada yang terus berbuat baik 🌿 Suatu saat anak saya tanya, dalam suatu peristiwa, “Kenapa Ibu ngalah?”
Saya jawab begini,
“Coz I’m in control. It’s not always about winning”
Sr: 😲👏🏻👏🏻
Cikgu keren. Saya jadi ingat sering berencana kelak kalau punya anak laki-laki akan saya ajari begini begitu agar istrinya senang. Eh tapi saya sering lupa bagaimana mencontohkan sikap istri ke suami. Paling banter cuma ayah sebagai pemegang keputusan tertinggi.

BA: Terima kasih cikgu, inspirarif bgttt😊

Menyiapkan Anak Menjadi Pasangan yang Baik

Salam sehati, Bapak Ibu.

Maafkan atas keterlambatan kulwap ke-79 kita. Tukang servis mesin cuci datang pagi-pagi menyela bikin saya terpesona 😃

Nah, kita bahas tema yang sudah lama diajukan tapi selalu terlewat, mendampingi anak menjadi (calon) pasangan yang baik. Apa yang mesti kita lakukan sebagai pasutri agar anak-anak sedini mungkin memiliki konsep yang baik tentang pernikahan dan bersedia menjaganya.

Anak-anak ini belajar dari apa pun yang ada di sekelilingnya. Ada yang baik ada yang buruk, ada yag langsung diserap ada pula yang tidak—artinya, ada anak yang bisa menyaring ada yang tidak, ada yang bisa memberi pemaknaan setelah dia dewasa ada yang tidak. Misalnya, anak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar dengan suara tinggi—ada anak yang menyerap dan meyakininya sebagai cara berumah tangga hingga dewasa, sehingga dia melakukan kekerasan yang sama. Ada pula yang menemukan hal lain dalam tumbuh kembangnya dan ketika dewasa dia memaknai pertengkaran orang tuanya sebagai sesuatu yang salah dan memutuskan untuk tidak menirunya. Kita sih maunya anak-anak kita menyerap yang baik dari pernikahan orang tuanya dan mengoreksi yang salah, kan? Jadi buat jaga-jaga, kita bisa melakukan beberapa tips sederhana seperti ini:

+ Tunjukkan ungkapan cinta secara visual – perlihatkan bahwa Anda saling sayang. Ada yang bilang cinta itu kan terpancar dari hati—memang, sih. Tapi ingat, cara belajar anak-anak kan konkret operasional—apa yang dia liat, itu yang dia pahami. Dia lihat ayahnya memeluk ibunya = ayah sayang — walau dalam hati ayah sebenarnya sedang bete sama ibu karena sebab tertentu.

+ Kelola konflik. Rumah tangga mana yang nirkonflik? Ada, pasti. Tapi kita tidak sedang bahas kekecualian. Kita bahas yang umum saja, bahwa sebagai pasutri kita pasti pernah bertengkar. Ada yang bilang itu bumbu pernikahan—bumbu yang tidak enak dan salah resep!

Ketika bertengkar, minimalkan dampak pada anak. Mereka itu peka, lho. Jangankan perang terbuka dan bertengkar di depan anak, ayah ibu mengurangi intensitas percakapan sedikiiit saja, mereka akan merasa tidak nyaman—anak tidak selalu paham bahwa ayah ibunya sedang ribut tapi ada suasana tidak nyaman melingkupi mereka. Limpahi mereka dengan kebaikan yang lebih sehingga rasa tak nyaman itu bisa terobati.

+ Temani mereka bersiap. Sejak dini, saya biasa bicara gini ke anak-anak, “Nanti pas Kakak punya istri, bantu dia angkat jemuran juga, ya, seperti Kakak bantu ibu,” atau “Ayo, yang rajin mandi. Ibu malu, nih, sama istrimu nanti kalau kebiasaan menunda mandi ini terbawa sampai gede,” atau “Nanti baik-baik, ya, sama istrimu” daaan sebagainya. Jadi konsep bahwa someday mereka akan jadi pasangan orang lain itu bisa disampaikan sambil lalu sejak anak masi kecil.

+ Tetaplah jadi pasangan yang baik. Ini yang paling penting. Karena kita ingin mengajak anak memeiliki konsep yang benar tentang pernikahan, sudah tentu kita pun akan memperbaiki diri sebagai pasangan. Yangn terbaik tentu kompak saling dukung. Jika tidak—jika kita dikaruniai pasangan yang tidak selalu sependapat dengan kita, ada sikap penting yang perlu diambil: kamu baik aku baik, kamu kurang baik aku akan berusaha tetap baik. Anak akan melihat bahwa salah satu orang tuanya selalu menginspirasikan kebaikan dalam pernikahan—walau kadang orang tuanya yang satu lagi terlihat tak peduli atau bahkan mementahkannya. Anak akan tetap melihat bahwa ada salah satu dari orang tuanya berupaya.

Prinsip di atas itu berlaku umum. Tidak usah ge er bahwa kita yang selalu lebih baik dari pasangan. Siapa tahu pasangan kita yang lebih sering menguatkan diri dengan berkata “kamu baik aku baik kamu kurang baik aku tetap baik” tentang kita #tutupmuka #manabaskom

Btw, ketika anak-anak saya nyisir berlama-lama di cermin, saya sering nyeletuk, “Plis, jangan terlalu ganteng begini. Nanti ibu cepat mantu dan punya cucu” 😃

Nah, siapa yang sudah mau mantu?

 

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Buku bisa diperoleh melalui penerbit Kaifa.
Salam takzim,
Anna Farida

http://www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Tanya Jawab Ayah Asyik

13 Maret 2017

 

Waktunya menjawab pertanyaan kelas Kulwap Keluarga Sehati, yang disponsori,oleh Buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart

Tanya 1:

Bagaimana memaksimalkan peran ayah yang bekerja di luar kota (ketemu anak tidak setiap hari)?

Jawaban Bu Elia Daryati:

Memaksimalkan peran ayah di luar kota, berkaitan dengan sejauhmana seorang ayah ” hadir” dalam jiwa seorang anak. Dengan demikian, walau wujudnya tidak dekat dengan anak, tapi mereka “ada” untuk anak.

Namun demikian kehadiran seorang ayah dalam diri anak, tidak sekedar hadir tiba-tiba. Semua melalui proses. Apalagi jika anak masih dalam usia balita. Bereka membutuhkan hadir secara wujud dan hadir secara jiwa. Di sentuh, dipeluk dan disayang secara fisik dan diterima melalui getaran rasa, ikatan bathin antara ayah dan anak.

Mensiasatinya, jika berjarak tempat dan waktu, maka tidak boleh berjarak hati. Sekarang media yang semakin canggih dapat meminimalisir hal-hal yang terkurangkan oleh jarak. Akan tetapi, secanggih-canggihnya alat tidak dapat menggantikan kehadiran ayah secara fisik dan jiwa.

Ketika ayah ada sebaiknya, wajib hukumnya untuk memenuhi kebutuhan anak atas fisik dan jiwanya. Jangan sampai ayah ada tapi ayah tiada. Ada juga yang ayah tiada tapi ada (ini.kondisi daripada-daripada karena situasinya memang mengharuskan berpisah). Adapun yang paling keren adalah…:”ayah ada dan bermakna”.

Jawaban Anna Farida

Memang ada yang tak tergantikan saat ayah tidak selalu di sisi anak-anak, terutama yang masih kecil, yaitu sentuhan fisik.

Riset banyak mengiyakan bahwa skin to skin contact itu besar sekali efek positifnya pada tumbuh kembang anak.

Walau begitu, jika kondisi memang memestikan ayah jauh sekian lama, optimalkan komunikasi.
Bukan hanya saling telepon atau video call, tapi lebih dari itu, sertakan selalu kehadiran ayah dalam kehidupan anak.

Sebut namanya, ajak anak mendoakannya. Begitu pun dengan Ayah. Hadirkan anak dalam kehidupan. Berceritalah tentang dia pada teman-teman Anda. Jangan cerita pertandingan bola melulu, Ayah!
Kisahkan pada teman putra Ayah sedang apa, putri Ayah umur berapa dan makanan apa yang dia sukai.

Sebut namanya, berceritalah tentang dia, Ayah.
Dengan ini dia akan dekat walau tak selalu di sisimu #halah
[3/13, 20:49] Suci Shofia: Tanya 2:

Bisakah PDKT dengan sosok ayah pengganti (kakek, om, keluarga besar berjenis kelamin laki-laki), agar mau repot mengasuh anak kami karena sudah berpisah atau sosok ayah biologis yg kurang bertanggung jawab?
Jawaban Bu Elia Daryati:

Pada prinsipnya ada ayah biologis dan ayah psikologis. Ayah biologis.adalah ayah yang.melahirkan dan ayah psikologis adalah yang ikut membesarkan anak.dengan segala cinta yang mereka.miliki.

Apapun itu. Jika memang pada akhirnya ayah psikologis.yang.membesarkan, maka yang tetap harus dibangun adalah pola pengasuhannya. Pola pengasuhan yang ajeg dan terkonsep dengan.baik, sehingga mampu membangun karakter yang.baik.
Mengapa demikian? Anak yang hadir dalam keluarga berkonflik memiliki faktor resiko jiwa yang kurang stabil. Bagaimana pun ada “luka” yang terbawa akibat perpisahan orang tuanya. Peran ayah pengganti.menjadi penting.sebagai penyembuh luka, sekaligus sebagai pembangun karakter. Ayah pengganti apakah, paman, kakek, tidak terlalu masalah yang terpenting memiliki kesepakatan yang sama untuk membuat seorang anak untuk kuat, tumbuh dan sehat secara psikologis.

Jawaban Anna Farida

Bisa. Anak itu pembelajar sejati. Saar dia tidak menemukan ayah di rumah, dia akan cari figur ayah di tempat lain. Karenanya, melibatkan kerabat tepercaya untuk ikut menemani anak.

Sampaikan pada anak bahwa ayahnya tidak bisa menemaninya saat ini, jadi kalau mau cerita bisa ke Mama atau kakek, misalnya

Pastikan Ibu menyampaikan konsep pendidikan yang ibu yakini pada kerabat yang akan dimintai bantuan. Syukur jika beliau bersedia seiring sejalan, jika tidak, Anda sudah menyampaikannya.

Semangat, Bu.
Anak itu mudah menyesuaikan diri. Yakinkan bahwa dia punya Ibu dan Ibu akan hadir untuknya.

Diskusi Ayah yang Asyik

Jumat siang [3/10, 10:46] Suci Shofia: 😁 sedap banget nih
KH: Syeddaaap bettuuul…
Terima kasih, Bu Anna… 😍😍

Mesti langsung bagi ke wa misua nih… 😁😁

L: ❤❤❤👍🏽jzk bu anna
TH: Materi terkeren dari semua materi kulwap yang pernah dibahas di sini. 😊
Terima kasih, mba Anna. 👍🏻☺
[3/10, 10:59] Suci Shofia: pada rindu peran ayah dalam pengasuhan sepertinya😄

DF: Saya share k suami..

Respon dia emoticon
“😂😂😂😂😂”
Terima kasih banyak bu Anna 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
[3/10, 11:00] Suci Shofia: baguusss😄
TH: Alhamdulillah, banyak poin di atas sudah didapat anak-anak saya dari ayahnya. 😊
N: 😘 sukaaa
Poin pertama ini yang banyak kesenggol mungkin ya 😃
Suci Shofia: Tosss! 😀😀🖐🏻 Mb TH
TH: 👋🏻😀
M: Termasuk mencarikan anak bujangnya pasangan yang baik.
Suci Shofia: saya memilih menyiapkan si anak. Ini belum dibahas di kelas😇
M: Bisa disiapkan sebelum baligh dan setelah baligh
K: MasyaAllah👍👍😊 keren bingitz article nya
K: Kecuali poin pertama, peran “ayah” sudah dilakoni oleh suami… tapi ya gittu, tetap emaknya yg bawel ngingetin & setengah “memaksa” 😜😁
Suci Shofia: sepanjang masa, Pak M.

Suci Shofia: gitu deh😬 Mb KH
M: Alhamdulillah,
semua sudah dilakukan, cuma mungkin gradenya masih perlu ditambah.
Juga poin-poinnya.
Suci Shofia: wah, Ayah yang asyik nih! bisa jadi agen perubahan di lingkungan terdekat😇
SR: Mewakili bangeeettt… 😂
Banyak poin yang sudah dilakukan sampai plus plus, tapi yang poin minus juga sampai anjlog. Duh, curcol, wkwk.
Wakili para bapak dong Pak. Apalagi yang perlu atau yang mungkin berlebihan dari harapan para ibu. Biar kami mengerti. 😁

M: Menjadi ayah yang asyik dengan memilihkan ibu yang asyik
Suci Shofia: sharing dong Pak M  seperti apa yang diterapkan dalam keluarganya😀
Suci Shofia: kerjasama yang kompak.
SR: Loh balik lagi, padahal kata ibu2:
Menjadi ibu yang asyik karena perlakuan ayah yang mengasyikkan.
KH: Keasyikan ibu akan terjaga selama ayah terus mengasyikannya…
😜😁

Suci Shofia: saling timbal balik ya, kalau ayah ga asyik, ibu bisa terpengaruh juga ya.
KH: Hehe… pastinya… #ups 🙊
LS: Kereeen !! 🙏🙏
M: Mengajak anak tidur di Masjid masuk poin berapa ya?
Untuk mempersiapkan agar kelak mereka menjadi pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid.
LS: 👍👍
DF: Betul mbak Suci 👍🏼
Suci Shofia: saya kok kurang setuju kalau tidur di masjid. bukankah air liur itu najis (Imam Syafii)?

mungkin maksudnya memakmurkan masjid ya?
Anna Farida: Kayaknya para ibu berpesta hari ini.

 

Suci Shofia: ahahaha
Anna Farida: Selamat menjadi ayah dan ibu yang asyik, say pamit sampai magrib 💪🏼
M: Poin pertamanya senang di Masjid.
Masalah liur najis itu teknis.
Orang dewasa juga ada yang ngiler kalau tidur.
Bisa diatasi.
KH: Bapak mertua saya punya kebiasaan, mengumpulkan anak-anaknya, lalu membacakan 1 ayat/hadits kepada mereka (termasuk suami saya juga), lalu menjelaskan beberap hal yg terkait dengan ayat/hadits tersebut, hampir tiap sore itu dilakukan

#dikutip langsung dari cerita suami, meski si pencerita belum bisa mempraktikkannya 😬
Suci Shofia: Berhubung anak saya masih 8 thn, paling saya sering ajak ke masjid. mengenalkan laki-laki akan menjadi imam, bacaan yang bagus. Mereka akan lebih semangat kalau ada teman seumuran yang ke masjid.

Bagus tuh Mba KH.

M: Alhamdulillah, di Masjid sini banyak anak seumuran.
KH: Iya Mbak Suci… baru 2 malam lalu saya ingatkan dengan “menggoda” suami, sepertinya sudah waktunya kebiasaan bapak itu dipraktikkan.
Si ayah cuma senyum2 saja sambil njiwit 😁😁
Suci Shofia: sebelah mana yang dijiwit Mba? #EhDibahas
KH:hehehe
DA: Mungkin maksud tidur dimasjid itu i’tikaf
Y: Duh adem banget kulwapnya.
Dulu ibubapak saya sibuk. Pulang-pulang bukannya cerita nanya PR. Nilai berapa. Kalo curhat malah diolok.
InsyaAllah berusaha meluangkan waktu buat anak. Jangan sampe anak saya, bernasib kayak saya😉

Bismillah
Suci Shofia: i’tikaf berdiam diri di masjid sambil mengingat Allah (dzikir)😊
sippp, niat baik, banyak belajar, praktek deh😊. Kata Mb Anna Farida, kalau gagal, ulangi lagi. Start restart. Masa kecil saya juga mirip seperti itu.
IR: nice post ..nih kalo dishare pasti bapak-bapak bilang nih yg nulis pasti bu ibu hihu
NQ: 😍😍😍 langsung share ke ayah ayah 💐

Y: InsyaAllah
M: Kalau untuk kegiatan abahnya sudah mafhum lah.
Tapi untuk anak-anak, intinya mabit itu ya tidur di masjid.
Kalau embel-embelnya bisa macam-macam. Bercerita kisah Islami, mengulang hafalan, dsb. Bisa dikembangkan lagi
Anak saya Syafiq 6 tahun dan Dzaky 4 tahun.
Suci Shofia: ya pemahaman sementara di usia mereka, lambat laun seiring bertambahnya usia akan semakin paham makna ibadah😇

Pertanyaan seputar tema kali ini saya terima (japri) sebelum hari Sabtu esok tiba😇
Ad: Tema yang sangat mengasyikkan 😍😍😍😍
Boleh ijin share dengan mengikutsertakan nama siapa mbak? Grup? Mbak Anna?

P: Kulwap kali ini banyak modusnya 😆
Kalo suami saya tipe yg sering keluar kota…susah juga 😌

Suci Shofia: Sumbernya Kulwap Keluarga Sehati ya Mba😇
F: Terima kasih masukannya Bu @Anna Farida
Saat makan siang n malam saya bisa slow n legowo liat anak makan sambil baca
Tapiii…klo pagi hari itu yg sering bikin baper Bunda…
Udah bangunnya keduluan matahari, mau kekamar mandi msh byk yg bikin gagal fokus eh…waktu makan yg kurang dr 30 menit dr jam masuk sekolah, masih juga asyik baca buku cerita, pada akhirnya masuk gerbang sekolah dimenit2 terakhir sblm bel berbunyi…
#maaf…malah curhatnya kebablasen…😂
V: punya anak suka baca itu berkah bu..🙂👍🏻
A: Aamiin, mksh bu VA .

 

VA: thanks sharingnya ya bu Eli n teh Anna…ini kluarga kami banget…kalo kata kami mah..masing2 menganggap anggota kluarga yg jauh..layaknya detak.jantung yg kami bawa kmn kami pergi…#RAN mode on..😍