Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Advertisements

Edit Pasangan?

Jumat, 27 April 2018

Kelas Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati kali ini membahas tentang mengotak-,atik pasangan.

Baik atau enggak, ya, meminta pasangan untuk berubah sesuai keinginan kita?

Kuy, simak materi dari Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini kulwap ke-117, kita akan bahas materi “mengedit” pasangan.
Tema ini sudah lama singgah di kotak pesan saya dan selalu bikin nyengir. Mengedit? Naskah, kaleee.

Mengedit naskah itu kan memperbaiki konten, meluruskan kalimat yang keriting, sekaligus meluweskan kalimat yang kaku.

Apakah pasangan juga memiliki potensi diedit seperti itu? Eheheh

Saya pernah menulis bahwa pernikahan itu seperti sepasang sandal, kanan dan kiri, digunakan untuk melangkah bersama. Tentu tidak enak melangkah dengan sandal sisi kanan dua-duanya. Adakah toko yang jual sandal seperti itu? 😀

Dalam bahasa Jawa, memiliki pasangan itu seperti “tumbu etuk tutup” seperti bakul yang menemukan tutupnya. Tidak perlu dibahas mana yang bakul dan mana tutupnya—apalagi pakai bawa-bawa berat badan #eh

Artinya, kita siap menerima perbedaan karena memang ada dua manusia yang terlibat dengan urusan hari ke hari.

Ada yang pernah bertemu dengan seseorang lantas kita merasa “Saya tampaknya cocok sama dia. Aduh, saya merasa klik dengan dia. Ngobrol sekali langsung nyambung, seperti ada chemistry gitu.”
Ah, saya sih tidak percaya.

Anda mungkin merasa cocok dan terkagum-kagum kepada saya karena saya kan senang bikin pencitraan di media sosial. Coba Anda tinggal seminggu saja sama saya, bisa jadi Anda akan terkena migrain ringan hingga sedang ahahah.
Jadi, saya baru percaya yang disebut cocok itu ya setelah bersama bertahun-tahun dan saling menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan pasangan.
Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini, kita akan saling menularkan pengaruh. Yang berantakan bisa terpengaruh jadi rapi, dan yang rapi pun bisa tertular jadi messy.
Kata Bu Elia, pasangan itu saling menginspirasi, dalam hal ini saling mengedit.

Dalam editing, ada yang disebut dengan hard editing dan mild atau light editing.
Kita semua tahu bahwa pernikahan terjadi antara dua manusia yang berbeda.

Ketika kita sesekali mengalami kejadian yang disebut dengan konflik batin, berbda pendapat dengan diri sendiri, berbeda antara harapan dan kenyataan dengan diri sendiri, mengapa kita selalu ingin cocok dengan orang lain—pasangan kita itu kan tetap manusia lain.

Tidak cocok itu biasa, saling mencocokkan diri itu yang perlu perjuangan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika kita merasa bahwa pasangan benar-benar memerlukan editing?

Ini yang bisa kita tanyakan:
Lihat visi dan misi pernikahan. Jika masih terjaga, tenang dulu, jangan buru-buru membatin “kami sudah tidak ada kecocokan.” – ada yang hafal frasa ini?
Ingat, mungkin di antara kita dan pasangan memang ada ketidakcocokan, tapi kecocokan yang lain pun ada, dan ini yang perlu dibangun lagi dan lagi.

Lihat juga urgensinya.
Apakah editing perlu dilakukan sekarang atau nanti saja, ketika kita sudah sama-sama tenang? Apakah ada hal yang memang sebaiknya dibiarkan begitu saja apa adanya—just enjoy the difference, nikmati perbedaannya. Hasilnya, kita tetap jadi manusia mandiri, tetap punya eksistensi personal—ini akan kita bahas kapan-kapan 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Anak Dihantui Bayang-Bayang Sukses Saudara Kandung?

Anna Farida berkata di Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Mohon maaf terlambat post materi. Ini kulwap ke-115, kita akan membahas tentang menemani anak percaya diri di bawah kesuksesan orang tua atau saudara.

Ada yang pernah cerita begini:
Anak saya yang kedua, sembilan tahun, mendadak ingin les musik karena kakaknya menang lomba musik dan dielu-elukan keluarga besar saat Lebaran. Padaal, dia tidak mau ikut les sebelumnya. Lantas di sekolah, kakaknya diikutsertakan lomba komik dia juga ikut-ikutan mendadak suka bikin komik. Apa pun yang kakaknya lakukan dia ingin lakukan juga, padahal sebelumnya tidak.

Saya jadi sedih, jangan-jangan ini karena saya kurang kasih perhatian ke dia sehingga dia merasa kurang istimewa dibanding kakaknya. Dia suka main game, dan memang menurut saya itu kan bukan prestasi. Mana ada orang mengelu-elukan anak yang doyan main game—kecuali para gamer, tentu. Tapi saya juga tidak ingin dia ikut-ikutan kakaknya karena ingin dapat pujian padahal dia tidak suka kegiatannya. Bagaimana?

Pertanyaan saya (saya = Anna):
Mengapa anak pertama suka (dan dapat dukungan) musik dan menggambar, sedangkan anak kedua suka (dan dapat dukungan) main game?
OK abaikan dulu, isunya bukan itu.
Isunya adalah anak yang ikut-ikutan karena melihat orang lain sukses.

Apakah ini wajar?
Sangat wajar.
Pada tahap tertentu, kakak beradik adalah teman. Pada tahap yang lain, secara natural akan ada yang memimpin dan dipimpin. Tidak selalu yang lebih tua memimpin yang lebih muda–sebagaimana saya menjadikan anak ketiga saya sebagai panutan dalam hal tertentu.

Akan ada saat ketika anak melihat saudaranya sebagai panutan, dan tugas kita sebagai orang tua adalah menemani pemimpin dan yang mengikutinya.

Bagaimana caranya?

+ Berlaku objektif. Yang baik ya disebut baik, prestasi ya disebut prestasi dan diapresiasi. Anak yang suka main game dianggap bukan prestasi padahal dia yang selalu membereskan selimutnya sendiri. Mengapa membereskan selimutnya diabaikan? Secara objektif, ini prestasi. Coba gali kebaikannya, fokus pada itu dulu.

+ Beri peluang. Siapa tahu dia memang tertarik ke musik dan menggambar—kalaupun karena ikut-ikutan, so what? Kok kaya kita nggak pernah melakukan sesuatu karena ikut-ikutan saja, ah #tutupmuka
Biarkan dia ikut-ikutan, lihat perkembangannya, beri peluang padanya. No prejudice.

+ Passion? Bisa jadi passion adalah sesuatu yang memang jadi panggilan jiwa. Tapi, saya juga punya keyakinan bawah passion bisa hadir ketika kita menekuni sesuatu. Mungkin awalnya dia tidak suka musik dan hanya ingin ikut-ikutan. Ketika dia menekuninya, dia bisa jatuh cinta dan jadilah musik passion-nya.

+ Tar dia jadi follower, dong? To follow dan being followed itu alamiah. Kita mengikuti orang lain dalam satu hal dan diikuti orang lain lagi dalam hal lain itu wajar. Selama yang diikuti itu tidak melanggar kesehatan dan agama, biarkan dulu. Beri dia waktu.

+ Sampai kapan? Jika dia memang ikut-ikutan, dia akan berhenti segera. Sayang ongkos, dong, kalau dilesin lantas dia berhenti. Iya, memang sayang. Piye jal? Mau bagaimana lagi? 😀 Sesuaikan dengan anggaran dan kondisi keluarga, beri dia batasan—misalnya tiga bulan.

+ Sabar, lihat dulu, tahan komentar. Beri dia waktu untuk menimbang tanpa didesak, apalagi ketika dia masih dalam waktu percobaan yang tiga bulan itu, misalnya. Hindari pertanyaan “Gimana, ternyata kamu suka atau tidak?”
Dukung, ingatkan dan temani dia latihan, apresiasi gambarnya, ajak kakaknya untuk mendukungnya

+ Jika kakaknya jadi terintimidasi karena merasa ada saingan, kita bahas pada kulwap yang lain.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Beda Hobi dengan Pasangan?

Anna Farida berkata:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap ke-116, kita akan membahas tentang “Hobiku berbeda dengannya”

Entah kapan, saya pernah menulis bahwa pasangan suami istri itu seperti sandal. Desainnya memang kiri dan kanan, dibuat berpasangan. Satu kiri satu kanan, satu rapi satu berantakan, satu terobsesi dengan diet dan sering gagal, satunya lagi memang doyan makan.

Hobi pun tidak selalu sama, dan ini mesti dikelola supaya tidak jadi perkara.

Suami saya hobi bersepeda. Bagi saya, bersepeda itu buat gaya-gayaan saja. Biar dianggap punya pola hidup sehat, gitu, ahaha. Mimpi dia adalah membawa semua keluarganya bersepeda keliling kota. Baru dua anak berhasil dibawanya dan kapok karena salah satu nyaris tersambar angkot. Bandung kan terkenal dengan lalu lintasnya yang tak peduli jalur sepeda. Belum lagi janjiannya, kapan mereka punya waktu–karena bersepeda itu bisa seharian. Janjian dengan anak zaman sekarang lebih rumit daripada janjian dengan wali kota.

Sejak saat itu dia memutuskan untuk menjalani hobinya sendirian. Mana saya mau diajak bersepeda naik bukit dan menyusuri pematang sawah yang licin. Seram! Kali ini mending setrika, deh, sambil nonton.

 

Kawan saya lain lagi. Suaminya suka sekali burung sedangkan dia tidak suka. Demi memberikan kenyamanan bagi burung-burungnya saat malam, sang suami membuat kandang besar di dalam rumah yang luasnya tidak seberapa. Bahaya kalau di luar bisa sakit atau dicuri, katanya.

Semula dia tidak banyak bicara karena toh burung-burung itu mendatangkan penghasilan ketika anak-anaknya dijual—walau yang dipelihara tetap lebih banyak dengan alasan sayang. Jumlah yang dipelihara makin banyak, makin banyak.

Suatu hari sang istri merasa cukup. This is it.
“Aku keberatan tinggal di kandang burung,” begitu katanya usai sarapan.

Dia merasa dialah yang nebeng di rumah itu, dan burung-burung itu jadi penguasa. Ritme hidup mereka diatur oleh burung yang mereka pelihara—kapan harus makan, kapan harus pergi dan pulang—suami istri ini jarang pergi berdua karena salah satunya harus jaga rumah, atau lebih tepatnya jaga burung.

Saya tidak sempat kasih masukan apa-apa saat dia bercerita, karena kami hanya berjumpa sejenak di antara acara di sela kerumunan.

Setelah sekian lama, kawan saya itu memberi kabar. Semua burung mereka dijual, sebagian lagi masih dititipkan di pet shop, sebagian diberikan ke teman. Kawan saya itu lega setelah perang dingin dengan suaminya sekian lama.
“Rumah kami jadi rumah manusia lagi,” katanya.

“Sip, lah. Kabar suamimu bagaimana?”
“Itu yang mau kutanyakan. Dia sih sekarang punya hobi baru, dan tidak pernah lagi bicara soal burung.”
“Tapi … pasti ada tapinya, kan?”
“Iya. Sejak semua burung disingkirkan dari rumah, rasanya ada yang hilang dari sikapnya padaku. Aku tidak bisa memastikan apa, tapi kadang saat kami bicara, aku merasa ada ganjalan. Aku lega, tapi sekaligus menyesal. Jika dia agak ketus sedikiit saja, aku selalu menduga pasti karena burung-burung yang kuusir itu.”

Memiliki hobi yang berbeda dengan pasangan itu biasa. Kita tidak perlu memaksakan diri suka jika memang tidak suka. Selama tidak melanggar kesehatan dan agama, hobi apa pun boleh, bahkan dianjurkan—pilihan hobinya ditakar-takar saja sesuai anggaran dan kondisi, lah.

Punya hobi itu sehat, dan mendukung hobi pasangan itu menyehatkan pernikahan. Anda tidak suka makan jamur kuping sementara pasangan sangat doyan? Masak saja sesekali buatnya, lantas temani dia makan sambil mengunyah kuping yang lain ahaha.

Anda tidak suka nonton film horor?
Buatkan saja dia minum dan kudapan ketika sedang nonton. Lantas Anda ngapain? Main WA juga boleh 😀

Dibawa enteng saja, tapi jangan dientengin.

Bagi umumnya orang, hobi itu sangat berarti. Beri ruang padanya untuk mengembangkan hobinya, anggap saja itu jeda di antara kesibukan sebelumnya.

Saat Anda mulai keberatan, seperti kasus burung di atas, bahas dengan objektif.
Teman saya itu bisa dengan baik-baik bicara bahwa sebaiknya mereka menabung untuk membuat kandang burung di luar. Rumah tetap nyaman, burung pun riang.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Kenapa Dia Defensif?

Hai sahabat pembelajar, Kulwap Keluarga Sehati ke 110 kali ini membahas sistem pertahanan diri.

 

Langsung saja, ya.

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu semua.
Mohon maaf, saya terlambat post materi. Kita mau bahas tema pasangan defensif pada kulwap ke-109 ini 😀 –> Mbak Anna suka lupa.

Sebenarnya defensif itu apa, sih?
Secara umum, defensif artinya sikap bertahan. Kita (saya aja, kaleee) melakukan kesalahan tapi tidak mau ngaku dan cari alasan ini itu. Saya telat post materi karena banyak kerjaan, anak saya harus diantar ke sana kemari, air PDAM tidak ngocor, saya mendadak harus belanja karena mau ada tamu.
Padahal, saya tinggal minta maaf. Saya tidak mampu mengatur waktu dengan baik, maafkan saya.
Tapi nanti kan saya kena tuding tidak tertib oleh Mahmud Admin.
Jadi, ketika dia mengingatkan saya untuk post materi, saya bilang dia tidak pengertian, tidak berempati, baperan, daaan sebagainya.
Padahal, saya yang jelas-jelas salah, tapi saya yang duluan marah.
Mungkin punya firasat yang tajam, saya tidak ditagihnya, ahaha.

Errr … ada tidak yang bergaya begitu di rumah?
Marah duluan padahal salah 😀

Kita sesekali defensif karena cemas jika tidak bela diri, nanti kita terlihat salah. Defensif adalah salah satu cara untuk jaim alias jaga image.
Bagi orang yang defensif, komentar miring sedikiiit saja dianggapnya sebagai kritik pedas yang akan menjatuhkan wibawanya.

Jadi, ketika pasangan terindikasi defensif, kita harus bagaimana?
+ Turunkan volume suara, turunkan bahu. Tarik napas, ingat keluarkan lagi 😀
+ Ajak dia bicara dengan suara yang perlahan. Dia sedang merasa tidak aman, merasa buruk atau merasa kekurangannya tersingkap.
+ Alihkan topik pembicaraan, atau cari cara untuk menyingkir sejenak. Pindah ke ruang sebelah saja, jangan ke mall.
+ Jika situasi memungkinkan, manfaatkan kontak fisik—ingat, jangan sentuh bola matanya, bahaya.

Tunggu, tunggu.
Empat hal di atas hanya bisa kita lakukan jika kita sendiri tidak ikut defensif, lho.
Nah, yang paling kenal pasangan kan kita.
Kita hafal benar hal apa yang biasa membuatnya defensif, misalnya ketika ditanya kenapa lupa bawain martabak.
So, cari cara, deh, ya.
Bagaimana caranya agar martabak dapat, dia nggak perlu defensif.
Pesan online?
Beli sendiri?
Bikin sendiri? – ini tidak akan saya lakukan 😀

Kadang kita mengharap banyak hal dari pasangan dan mengajukan tuntutan dengan berbagai cara: kadang caranya bagus kadang tidak.
Seharusnya dia berada pada posisi paling nyaman ketika bareng kita. Seharusnya dia tidak perlu malu mengakui kesalahannya pada kita.

Tunggu.
Jangan-jangan kita (saya saja, kalee) yang memberikan contoh bersikap jaim dan tidak ingin terlihat lemah atau tidak salih/ah di hadapan pasanangan 😀
Akhirnya, dia pun lambat laun mengadopsi sikap yang sama.
Bukankah kata Bu Elia, pasangan itu kan saling menginspirasi.

Eh, btw, suatu saat saya ditanya, “Mbak Anna, Anda itu orangnya defensif, nggak?”
Jika saya spontan jawab “tidak”, saat itu saya sedang defensif 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Gimana, Sih, Prosedur Pengangkatan Anak?

10 November 2017

Jumat siang kali ini bertepatan dengan hari Pahlawan Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Buku Marriage With Heart membahas tema Pengangkatan Anak.

Kondisi anak yang diasuh atau diangkat di Indonesia masih jauh dari peraturan yang berlaku.

Mari kita cerna informasi berikut ini:

Selamat siang, Ibu dan Bapak semua,

Perkenalkan saya Suratman, seorang suami, dan ayah dari 3 jagoan. Selama ini bergiat di isu perlindungan anak.

Saya diminta oleh admin kulwap Keluarga Sehati, Suci Shofia untuk mengisi materi hari ini.

Mohon menyiapkan waktu sejenak untuk menyimak karena cukup panjang dan serius.

Saya memilih masih banyaknya praktek pengangkatan anak secara ilegal di Indonesia.

*Pengangkatan Anak Yang Legal di Indonesia*

Praktek pengangkatan anak secara tidak semestinya banyak terjadi di tengah masyarakat. Sering kita dengar bayi yang terlantar di rumah bersalin yang kemudian diasuh dan diakui sebagai anak sendiri oleh perawatnya atau warga sekitar yang mau mengasuhnya.

Terdapat juga kasus-kasus dimana ibu-ibu yang terlantar dan hamil, setelah melahirkan kemudian menitipkan anaknya di panti. Anak tersebut kemudian dibesarkan di panti dan diberikan oleh pihak panti ke keluarga lain karena ibunya yang tidak mengambil anak tersebut kembali.

Selanjutnya anak tersebut dibuatkan akte kelahiran oleh orang yang mengasuhnya dimana di dalam kutipan akte kelahirannya dinyatakan bahwa anak itu adalah anak dari orang tua yang mengasuh tersebut .

Keseluruhan proses tersebut terjadi tanpa melibatkan dinas sosial maupun aparat pemerintahan lainnya sebagaimana digariskan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal ini berpotensi memunculkan masalah di kemudian hari karena ketidakpastian status hukum, serta dapat memicu terjadinya beragam pelanggaran hak anak, mulai pemalsuan akte kelahiran hingga praktek jual beli anak dan bayi baik untuk tujuan eksploitasi maupun perdagangan organ serta menempatkan mereka berisiko terhadap segala bentuk kekerasan, penelantaran, dan eskploitasi.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui tentang pengangkatan anak beserta syarat dan tata cara yang telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku agar masyarakat tidak telibat dalam pelanggaran hukum serta lebih jauh lagi, juga sebagai bekal pengetahuan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam memantau indikasi terjadinya praktek pengangkatan anak yang ilegal.

*Apa itu Pengangkatan Anak?*

Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.

Beberapa rambu yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini antara lain:

– Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan terbaik anak dan sejalan dengan adat istiadat yang masih berlaku dan penetapan pengadilan;

– Tidak memutuskan hubungan darah;

– Agama calon anak angkat dan calon orang tua angkat harus sama;

– Pengangkatan anak antar negara sebagai pilihan terakhir;

– Serta orangtua angkat wajib memberitahukan anak angkatnya tentang identitas orangtua kandungnya.

Rambu-rambu ini dibuat untuk memberikan kepastian hukum baik bagi orang tua angkat maupun untuk anak angkatnya, memberikan perlindungan pada hak-hak anak, serta menghindari permasalahan di kemudian hari terkait keturunan, hak waris, status hukum, dan lain sebagainya.

Pengaturan lebih lanjut tentang pengangkatan anak diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak dan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 110 tahun 2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak

Syarat Calon Anak Angkat dibagi dalam 3 (tiga) kategori:

1. Anak belum berusia 6 (enam) tahun merupakan prioritas utama, yaitu anak yang mengalami keterlantaran, baik anak yang berada dalam situasi mendesak maupun anak yang memerlukan perlindungan khusus;

2. Anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan belum berusia 12 (dua belas) tahun sepanjang ada alasan mendesak berdasarkan laporan sosial, yaitu anak terlantar yang berada dalam situasi darurat;

3. Anak berusia 12 (dua belas) tahun sampai dengan belum berusia 18 (delapan belas) tahun yaitu anak terlantar yang memerlukan perlindungan khusus.

Syarat Calon Orangtua Angkat (COTA):

– Sehat jasmani dan rohani

– Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun

– Beragama sama dengan agama calon anak angkat

– Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan

– Berstatus menikah paling singkat 5 tahun

– Tidak merupakan pasangan sejenis

– Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak

– Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial

– Memperoleh persetujuan anak dan ijin tertulis orang tua atau wali anak dan izin tertulis dari orang tua kandung atau wali anak;

– Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak;

– Adanya laporan sosial dari Pekerja Sosial Instansi Sosial Propinsi setempat;

– Memperoleh rekomendasi dari Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota;

– Memperoleh izin Kepala Instansi Sosial Propinsi.

*Tata Cara Pengangkatan Anak*

– COTA mengajukan permohonan izin pengasuhan anak kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi diatas kertas bermaterai cukup dengan melampirkan semua persyaratan administratif Calon Anak Angkat dan Calon Orangtua Angkat;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi/Kabupaten/Kota menugaskan Pekerja Sosial Propinsi/Kab/Kota untuk melakukan penilaian kelayakan Calon Orangtua Angkat;

– Permohonan pengangkatan anak diajukan kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi melalui Instansi Sosial Kabupaten/Kota;
Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota mengeluarkan rekomendasi untuk dapat diproses lebih lanjut ke propinsi;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi mengeluarkan Surat Keputusan tentang Izin Pengangkatan Anak untuk dapat diproses lebih lanjut di pengadilan;

– Setelah terbitnya penetapan pengadilan dan selesainya proses pengangkatan anak, COTA melapor dan menyampaikan salinan tersebut ke Instansi Sosial dan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota;

– Instansi sosial mencatat dan mendokumentasikan serta melaporkan pengangkatan anak tersebut ke Kementerian Sosial RI.

– Pengajuan pengangkatan anak ke pengadilan dilakukan oleh COTA atau kuasanya dengan mendaftarkan permohonan pengangkatan anak ke pengadilan.

Bila praktek pengangkatan anak dilakukan secara tidak semestinya seperti gambaran diawal serta tidak mengikuti syarat dan tata cara pengangkatan anak diatas, maka hal itu adalah praktek pengangkatan anak ilegal dan merupakan tindak pidana yang dapat diancam dengan pidana penjara sebagaimana diatur dalam:

– UU Perlindungan Anak, Pasal 79, ancaman hukumannya berupa pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100 juta rupiah.

– KUHP Pasal 277 ayat (1) : Barang siapa dengan salah satu perbuatan sengaja menggelapkan asal-usul orang, diancam karena penggelapan asal-usul, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.”

 

– KUHP Pasal 278: “Barang siapa mengakui seorang anak sebagai anaknya menurut peraturan Kitab Undang- undang Hukum Perdata, padahal diketahuinya bahwa dia bukan ayah dari anak tersebut, diancam karena melakukan pengakuan anak palsu dengan pidana penjara paling lama tiga tahun.”

– Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO), Ketentuan pidananya terdapat pada banyak pasal, misalkan Pasal 2 – 6 dan beberapa pasal lainnya, termasuk pemberatan 1/3 masa hukuman jika korbannya anak-anak.

Mari berdiskusi 😃

Tanya Jawab Komunikasi dengan Pasangan Bersama Abyz Wigati

17 November 2017

6:21 PM

Abyz: Saya coba nyicil jawab satu persatu ya, ini mumpung anak saya Bening lagi sibuk menggambar 😄
Tanya 1:

Bagaimana cara meminimalkan campur tangan orang ketiga?

 

Jawaban Mbak Abyz: hehehe… kalo masih tinggal di pondok mertua indah atau ortu residence memang agak sulit krn sejatinya mereka sangat perhatian dan sayang sehingga ingin turut memberi solusi walau kadang justru nambah masalah 😄
Tapi jika sudah tinggal di istana sendiri meski hanya sepetak kamar, akan lebih mudah meminimalisirkannya.
Prinsipnya persoalan suami-isteri adalah persoalan pribadi yg menyangkut dua hati. Jadi merahasiakannya berdua saja akan mempercepat tersampaikannya harapan. Biar nggak keburu kecium pihak lain ya jangan kelamaan disimpen. Kudu segera dibahas sebelum melebar dan memanjang. Ajakin suami ngebahas dengan penuh cinta dan senyuman manis 😍

Tanya 2:

Apa maksud menghindari meminta apresiasi?

 

Jawaban Mbak Abyz:

Bahasa sederhananya jangan minta dipuji 😅 Ketika kita merasa sudah berusaha baik kan harapannya dapat apresiasi, nah jetika itu nggak didapat akan membuat kecewa sehingga uring2an. Kalau sudah begitu, Pesan yg kita sampaikan jadi gak jelas, suami makin blunder deh.

Kalau kita ingin diapresiasi itu lumrah, tapi menyampaikannya nggak pada saat kejadianlah… misalnya saat makan malam suami lahap banget dan tampak sangat menikmati masakan kita. Tapi dia nggak ngomong apa2. Nah, menjelang tidur kita bisa sentil begini “Say, lain kali kalau masakanku enak kasih apresiasi dong buat saya, berupa pelukan juga boleh, biar aku makin semangat masak…”

H: kadang kebawa ego, gengsi atau malu 😅😅😅

L: Pernah ikut salah satu grup ttg pernikahan yang menyatakan ( ini penangkapan saya siih..) bahwa pasca bersitegang passion di tempat tidur biasanya meningkat karena hormon pemicunya sama yaitu adrenalin.
Tanya 3:
Kalau suami dan istri sama-sama punya kebiasaan kalau marah diam. Setelah marahnya hilang baru membahas, bagaimana Bu ?

Apakh itu oke?

Jawaban Mbak Abyz:
Tdk apa asal diamnya nggak lama2 😊

Tanya 4:

Seperti apa membahas masalah di tempat terbuka, Bu?

Jawaban Mbak Abyz:

mengenai bahasan masalah di tempat terbuka, saya sering juga melakukannya, misal saat suami protes karena banyak kegiatan arisan ibu2 di sekitar ada pkk, dasa wisma, paguyuban ortu dll.
Nah, suatu ketika saya ajak suami untuk nimbrung di arisan yg ada sebagai narsum ttg metode mengajak anak olahraga 😄
Tanpa banyak debat, suami jadi paham bahwa meski hadir di majelis arisan saya gak selalu ikut kopyokan krn emang gak ikut, cuma mengguyupi saja dan dlm acara arisan saya mengkondisikan agar forumnya mengandung sharing ilmu. Nah, setelah itu malah suami sering mendorong saya menghadiri arisan. “Kalau umi ga datang nanti ibu2 ngerumpi lho…”
Intinya ketika kita perlu menunjukkan contoh dari hal2 di luar diri kita dan pasangan 🙏
Semoga bisa menggambarkan yg saya maksud ya 🙏

Tanya 5:

Pasangan saya suka membawa masalah masa lalu. Bagaimana menghadapinya? Lelah rasanya setiap ada permasalahan selalu melihat ke belakang.

Jawaban Mbak Abyz:

Respon pertama berikan senyum, tarik nafas lalu komunikasikan prolognya, misal sampaikan “baiklah, saya dulu memang pernah salah, dan terima kasih karena dirimu telah memaafkannya sejak dulu.” Peluk pasangan dan beri ciuman lembut. Hehehe… dongkol yg di hati simpen dulu ya… saat jelang tidur, bisa dibuka percakapan lanjutan, misal “saya minta tolong ya suamiku yg pemaaf… aku ingin kesalahan2 masa lalu nggak diungkit lagi agar kita bisa kerjasama untuk saling memperbaiki…”
Intinya tetap minta maaf, apresiasi dan ajak kerjasama 🙏

Tanya 6:

Bagaimana dengan melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan permasalahan karena tak kunjung menemukan titik temu?

Jawaban Mbak Abyz:
Boleh dan sangat dianjurkan utk kondisi kritis.
Pilih orang yg bisa dipercaya dan benar2 memahami persoalan.
Pertimbangkan dulu manfaat dan risiko yg akan terjadi jika melibatkan pihak lain dlm masalah rumah tangga kita. Tuliskan kesepakatan antara anda dan pasangan mengenai kriteria pihak ketiga yg akan dilibatkan.

Abyz: Saya kembalikan ke mbak Suci dulu ya… mau ndongeng buat Bening.
Suci Shofia: Suwun, Mba Abyz untuk ilmu yang bermanfaat.
Ada yang mau bertanya atau diskusi.
Tanya 7:

Mba mau tanya, terus terang sy orgnya diem bgt sehingga kalo lg ada unek2 yg bikin sy gk suka, sy lebih bnyk diam. Dan jujur saja itu menyiksa batin sy sndiri. Kadang pengen ngomong tp tkt nanti jd bertengkar, dan sy orgnya klo sudh mengeluarkan amarah dlm bntuk prkataan, stlah nya lgsung nyesel. Itulah knp sy lebih suka menyimpan
Apa sifat sy ini baik utk ke depan mba? Terutama utk membangun komunikasi sm suami?

I: Ahhh idem,
Dan klu saya perlu ngomong dan diajak ngomong pasti pake nada ketus
Hla tapi suami saya kok reaksinya biasa biasa saja , gak nanya ada apa , kenapa… , sikapnya juga kyk g terjadi apa2 saya dibiarin sampe sembuh sendiri😬😬
Biasanya sampe 3 -4 hari🤦‍♀, dan emg selama itu marahku berkurang berkurang dan hilang
Pinginnya pas lagi marah2nya (dgn aksi diam), mbok ya ditanyai
Suami saya pelit pujian , nah kadang ini bikin meledak😎
✌🏾
T:  Hihi…suami sy awalnya kaget mba, karena ya namanya baru 😆
Tp ke sni2 trbiasa dg sy yg pndiam. Mgkn dibiarkan karena susah bedain ini diam lg marah atau memang lg pengen diem karena kan biasanya jg jarang ngomong, nah di stu sya bingung ngasih kode apa 😅
H: kalo saya lgi kesel atau marah, cemberut klo di tanya nangis 😭

Jawaban Mbak Abyz:

Coba menanggapi pertanyaan berikutnya dr mbak T, sikap diam istri itu sebenarnya membingungkan suami lho…. tak jarang justru bikin suami panik dan salting. Memang sih setelah beberapa waktu emosi kita akan mereda sendiri, tapi persoalan tdk terselesaikan. Dulu saya juga begitu sih hehehe… daripada ribut, ngmel dan debat kok mending diem aja. Nah, pas saya dan suami melakukan ‘evaluasi cinta’ (kami melakukannya 2x dlm setahun dan sdh berjalan 10 th terakhir ini) suami saya bilang bahwa hal yg paling membuatnya panik adalah ketika saya melakukan aksi diam. Padahal kepanikan justru membuat org makin banyak melakukan kesalahan. Sejak itu saya mengganti aksi diam saya dengan mengatakan “Maaf saat ini saya lagi gak enak hati, tolong beri waktu untuk jeda, nanti kalo sdh adem kita ngobrol ya… ” Nah, setelah jeda ya saya sampaikan apa yg bikin saya gak enak hati. Ehm, kami berusaha mengawali ‘percakapan tegang’ dengan kalimat, “maaf sayang, demi kebaikan kita …”
Oya, pernikahan kami saat ini 17 th. Artinya ada masa sekitar 7 tahunan untuk berproses hingga menemukan formula2 yg saya ceritakan di atas, hihihi…. lambat ya 😅
I: kalau saya bisa berlama-lama diam….

berharap dia bertanya “ada apa sayang…..ko diem aja…”

dan saya tau itu gak akan dilakukannya…

dan semakin lama lah diam saya….

hmmm…betapa besar ego dalam diri ini….
Abyz: Gpp nangis sambil peluk suami aja… jangan peluk guling. Agar suami gak makin bingung hehe… lalu sampaikan saja “aku lagi kesel, tapi saat ini aku blm bisa jelasin…” jangan lupa sambung dengan kalimat cinta ya 😄😍
Kalo lagi baikan pas di tempat tidur gitu, boleh disampaikan keinginannya ini, mbak. Misal, sayang, sebenarnya kalo pas lagi marah dan aku diem manyun tuh, aku pengeeen… banget ditanyain, ada apa sayang kok diem aja? Hitu dooong…” jangan lupa barengi dengan sentuhan fisik ya 😍😜
Biasanya kalo kita berani terus terang dengan keinginan kita, suami juga bakal terdorong menyampaikan keinginannya. Jadi masa batin-membatin dikir2 akan berlalu 😄

C: Saya jg begitu..kalo sedang marah kadang bisa diungkapkan…kadang diam dan cemberut..ngga mau dideketin 😅
Karena saya konyol dan cerewat berat…jd kalo saya mendiamkan suami..dia bingung.. dan seringnya…dia minta maaf duluan tanpa tau salahnya apa😂😂😂
Akhirnya bisa dibicarakan 😊
T: 7th ya mbaa? Apalah artinya dibanding sy yg baru 3bulan 😭😅
Sy memang agak sulit terbuka sm org baru, tp kalo udh kenal beberapa lama bisa ngalir bgtt. Yah mgkn itu proses yg hrs sy tempuh, yaitu komunikasi.
Trima kasih teteh dan mba semua…
Sy cm kadang takut ngga bs jd istri yg baik, baru seumur jagung bgt pernikahan ini dan perasaan2 takut dan was2 msh suka muncul 😁

H: wajar baru 3 bulan 😘😘😘
C: Setidaknya..mba F sdh lebih banyak ilmu sekarang… 😍
Suci Shofia: sering berkomunikasi yang baik dengan pasangan, insya Allah akan semakin memudahkan jalan menuju kebaikan bagi suami maupun istri😉
Abyz: Hehehe… begitulah, tiap pasangan butuh waktu utk berproses. Makin banyak belajar, Insya Allah bisa makin mempercepat proses penyesuaian. 😄🙏

Tanya 8:

Ada kawan SMA laki-laki yang memanggil kawan perempuan dengan panggilan “Beb”. Suami membaca chat, lalu marah. Dianggap selingkuh. Hilang kepercayaan suami terhadap istri.

Jawaban Mbak Abyz:

Terkait kecemburuan suami saat kira bercanda dengan panggilan mesra pada teman lawan jenis, hmm… itu bisa diartikan sebagai cara suami mengekspresikan keromantisannya lho… cemburunya suami harus disyukuri dooong… tapi tuduhan selingkuh mesti kita klarifikasi. Permintaan maaf jelas harus, berikutnya sampaikan terimakasih krn suami sudah memberi teguran tanda cinta. Selanjutnya buktikan bahwa tuduhan selingkuh tidak benar dengan cara memberikan ‘service’ yg lebih berkualitas pada suami. Jika suami mengungkit di kemudian hari, bisa gunakan metode seperti yg sdh saya jelaskan di atas. Di tanggapan pertanyaan keempat 😊🙏
Abyz:

Semoga jawaban2 saya bisa membantu mencerahkan ya… 😄

Suci Shofia: sangat mencerahkan 😍😍

I: Sangat sangat sangat mencerahkan😍😍😍

L: 👍🏼😍
T: Trima kasih mba atas pencerahannya kepada junior ini 😁🙏

H: Belajar dari yg sudah lebih dulu mengalami (saya maksudnya), sebaiknya segera cari cara terbaik menyampaikan ketidaknyamanan kepada suami Mbak F. Daripada kuatir tanpa alasan, diskusikan saja dgn suami, beliau maunya istri itu mesti gimana & gimana…
Sebelum makin lama “tersiksa” batin karena memendam “rasa”… (nasihatin orang enak ya ternyata… 😄😜)
Eh tapi, masak mau nunggu 7 thn atau 10 thn seperti sy… 🙈
Mencerahkan sekali Bunda… setidaknya sy tahu kalau sy tidak sendiri menghadapi kesulitan untuk bisa “klik” dengan suami… meski urusan “klik” tetap terus berkembang seiring waktu… sy tetap semangat untuk terus belajar jadi “baik” buat pasangan 😍☺
L: Usia pernikahan saya Alhamdulillah 21 tahun.
Masalah komunikasi, duluu…sering mengalami apa yang Bunda-bunda ceritakam spt di atas.
* saya suka ngambek, suami tidak mau bertanya dsb…

Namun Alhamdulillah makin ke sini makin ‘ngeh…apa yg harus dilakukan saat ada sesuatu yang dirasa masalah dan perlu dikomunikasikan. Ego disimpan dulu dan fokus ke tujuan ingin rukun bersama.

Tidak selalu lancar juga…😆
Masih ngalami “tanduk di kepala keluar” juga..😆

Tapi yaa…
Try on….try on teruus deh pokoknya

Pernikahan itu belajar seumur hidup sih kayaknya…
penyesuaian terus gituu…
😊.

U: Pernikahan saya tak bs dipertahankan 😔 padahal saya sudah kasih lampu hijau u dia berpoligami.. Tp ternyata menelikung lebih indah mungkin bagi dia n pasangannya… Sampai lupa diri n melupakan istri n anak2nya.. Alhamdulillah…
H: MasyaAllah… peluuuk bunda U 😘😘

Semangaaat ya, Mbak…
Karunia Allah begitu besar untuk kita.
Tak ada keindahan bagi yg menelikung, kebahagiaan sejati hanyalah milik orang2 yg baik…

#meski saya belum tentu sanggup 😔

Suci Shofia: Ada hikmah di balik setiap kejadian, semoga selalu diberikan kekuatan dan semangat untuk Mba U 😘😘
L: Peluuuk mbak U.😘😘
U: Betul mbak shofia… Selalu ada hikmah semenjak kejadian saya makin merdeka beribadah, makin dekat dengan yg menggenggam jiwa. .dulu.. Saya tunggu sampai dia mau kembali.. Berharap hanya u anak2.. Jangan berfikir u saya. Nyatanya tidak pernah muncul. Akhirnya saya ajukan cerai awal tahun 2017.. Alhamdulillah.. Sekarang sudah putusan tanpa dia hadir sekalipun di pengadilan.
Hari hari indah… Rejeki slalu ada dari allah tanpa kita sangka..
Aamiin ya robbana..
E: I feel you… 🤗
U: Semangat terus buun.. Alhamdulillah saya diamanati 4 orang anak oleh Allah… Semoga menjadi mujahid n mujahidah yg disayang o Allah…
L: Amin..ya robbal alamin…
😊😊

H: Aamiiin yaa Robbal alamiiin..H: peluukkkk mbak @Yani Yuni Kulwap 😘😘😘

Suci Shofia: amiiinnn ya rabbal ‘alamin😘

Suci Shofia: Senang mendengar Mba U memutuskan dengan sadar demi kebaikan anak-anak juga pribadi Mba U. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan, semakin mendekat kepada-Nya😍
U: Saya tunggu dari tahun 12 mbak @Suci Shofia.. Ternyata mereka makin menjadi.. Setelah wanitanya bersumpah palsu.. Padahal suami saya sudah mengaku terus terang semuanya… Saya ikhlas apa yg akan terjadi nanti. Karena bagi saya sumpah itu sangat sakral apalgi memakai nama tuhan, rosul, agamanya sebagai jaminan.. Naudzubillah tsumma naudzubilah… Akibatnya ngeri sekali 😰
Suci Shofia: Sekarang memaafkan perlahan-lahan tindakan mereka, semoga diberikan kesadaran dan mendapatkan ampunan, ya, Mbak U.

Abyz: Semangat ya ibu-ibu semua, selama kita masih bernyawa maka Allah masih memberi kita kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Semoga kita semua dikuatkan untuk terus berusaha memperbaiki kondisi diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Peluk buat semua 😘😘😘
U: Hampir tiap hari selesai sholat n malam sebwlum tidur n selesai sholat malam mbak… Alhamdulillah…
U: Belajar, koreksi diri terus… Betul bun… Saling menutupi kelemahan ke arah yg positif 👍
Suci Shofia: amiiinnn, peluukkk semua😘
T: Mba U , peluk jauh….
Semoga semakin disayang Allah, mujahidah tangguh InsyaAllah ini mah 😍

Salam sayang untuk 4 mujahidnya 🤗

H: Aamiiin…
Anna Farida: Mbakyu Abyyyzzz. Nuwun sudah bersedia berbagi ilmu dan kehangatan hati di kelas ini.

Abyz: Weleh…. cikgu, berasa tersanjung iki jadinya 😍
Y: MasyaAllah…

Nggak bisa ngomong apa2. Kuat sekali mbak. 😭😭😭
Terima kasih sharing ilmunya mbak @Abyz… Baru selesai baca. Saya baru nikah 3 tahun dan setahun ini nggak tinggal dengan orang tua atau mertua rumah tangga jadi lebih adem.

Apalagi sejak saya resign. Rumah tangga jadi otonomi berdua.

Nggak pernah curhat apaapa tentang keputusan rumah tangga dengan orang tua….
Abyz: Terimakasih kembali.’Terimakasih semua yg sudah menyimak, saya juga belajar dari cerita ibu2 di sini 😊
Y: 💐💐💐💐
W: Subhanallah… Terimakasih ata ilmu dan pengalaman saudara2ku di group ni.. Memacu utk jd lebih baik.
20 November 2017
[ 4:56 AM] Suci Shofia: Pagi semua😃

Hari ini kesempatan terakhir tanya jawab dengan Mba @Abyz di kelas.

Silakan teman-teman yang ingin bertanya boleh 2 pertanyaan lagi😊
Suci Wulandari: Pagi Mba Suci 😘.’Baru ngikutin materinya… terima kasih banyak Mba @Abyz … suka banget. Sebagai pembelajaran untuk terus bisa berkomunikasi yang baik dg pasangan

Suci Shofia: pagi juga, Mba Suci 😘😘
Tanya 9:

2 bulan yang lalu suami mengakui dekat dengan teman kerjanya. Dia mengakui hanya sebatas chat pribadi tentang hari-hari yang dilewati. Dia mengakui ke istri karena diteror oleh pacar dari teman kerja tadi.
Istri marah, mengucapkan kata yang merendahkan harga diri suami. Dampaknya, suami menjadi pendiam, enggak genit lagi sama istri. Urusan ranjang tidak terpengaruh.
Setelah masalah selesai mereka sepakat untuk memperbaiki.
Apa yang harus dilakukan istri? Istri sudah minta maaf, tampil cantik, sudah ditanyain juga suaminya tentang perubahan sikap dan jawabannya pingin banyak muhasabah.
Jawaban Mbak Abyz: Ok coba saya tanggapi ya, teman2 lain boleh berpendapat juga lho….
Kalau yg saya pahami sepertinya pihak suami butuh waktu untuk memulihkan rasa percaya diri akibat kesalahan yg terlanjur diperbuat.
Sikap istri ya sebaiknya berempati dengan tdk mengungkit perubahan sikapnya dan menyikapi suami secara wajar.
Meminta maaf juga atas keterlanjuran sikap marah dan berkata kasarnya yg di luar kendali.
Perbanyak mengapresiasi suami.
Ajak suami bekerja sama untuk meningkatkan kualitas rumahtangga.
Semoga jawaban saya bisa membantu 🙏

Tanya 10:
Bagaimana bila istri yg sebaliknya. Maksudnya suami sering sekali merendahkan istri padahal kesalahan yg sepele.
Yg akhirnya membuat istri malas utk cerita pada suami. Karena setiap kali minta maaf selalu terulang lagi kata2 kasar, merendahkan dll yg sejenisnya 🙏🏼
Jawaban Abyz: Ketika terjadi yg demikian, bisa coba diterapkan teori mengomunikasikan dengan suami seperti yg sdh saya tuliskan di awal, ttg hal2 yg harus diperhatikan, termasuk waktu, tempat dan sikap tubuh.
Tentunya butuh proses, tdk langsung berhasil. Fokusnya pada proses terbaik ya … soal hasil kembali pada Sang Penguasa Membolak-balikan hati. 🙏
[11/20, 4:37 PM] Devy Nadya Aulina kulwap: Oh.😍😘

Di notifikasi koq, ada Mbak Abyz @Abyz. 😊
[11/20, 4:38 PM] Devy Nadya Aulina kulwap: Mbak Abyz Wigati ini, finalis Wanita Inspiratif Nova tahun 2013 di Bandung. Kebetulan saya hadir di acara itu.
[11/20, 4:39 PM] Lina Slamet Safrida kulwap: 👍👍bu Abyz keren.
..putra putrinya juga..👍
[11/20, 4:44 PM] Abyz: 2014 ki N peace award. 2015 KNG. 2016 OOPS, 2017 Natur-e, 2018…. halah… pamer… nggak sih, meluruskan saja 😄😅🤣
[11/20, 4:44 PM] Suci Shofia: Walah lali😆. Mba Devy ingatannya pancen josss.

Baiklah, sudah cukup, ya tanya jawabnya, teman-teman😉.

Terima kasih banyak untuk kesediaan Mba Abyz untuk meluangkan waktu dan ilmu di kelas kami. Semoga amal baiknya diterima Allah Swt.

Semoga lekas pulih, ya😘😘
[11/20, 4:44 PM] Suci Shofia: oh saya hadir pas peace award nya, hehe
[11/20, 4:45 PM] Abyz: Kalau PIN 2013 saya pemenang mbak, yg finalis KNG 2015 😄😄😄
Meluruskan lagi 🙏🤣
[11/20, 4:45 PM] Suci Shofia: 2019, 2020 hehehe. Semoga bermanfaat virus good parenting-nya😘😘
[11/20, 4:47 PM] Abyz: Ibu juga keren… semoga putri ibu bs jadi penerus perjuangan saya… eh, kok koyok ngajak besanan iki yak … 😄😅😂🤣
[11/20, 4:47 PM] Devy Nadya Aulina kulwap: Duh, ini tanua-jawab apa, belum ta, scroll ke atas.

Sik … sik … ta manjat, sik.😎😎
[11/20, 4:48 PM] Abyz: Kartini Next Generation Award
[11/20, 4:55 PM] Lina Slamet Safrida kulwap: Ha..ha…mau atuh bu Abyz. 😄😄
[11/20, 5:01 PM] Abyz: Emak2nya pada mau anake lho ora kepikiran 😅🤣
[11/20, 5:02 PM] Suci Shofia: 😅 bener kuwi
[11/20, 5:05 PM] Abyz: Ok, ibu2 hebat nan smart…
Saya harus undur diri dari kelas yg seru ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dan terimakadih atas segala kehebohannya ….. 😊😜👍🙏
[11/20, 5:07 PM] Suci Shofia: matur suwun sanget, Mba Abyz untuk ilmunya. Semoga selalu dalam lindungan Allah Swt😘😘

 

Mohon maaf masih berantakan. Mumpung ada kesempatan menyimpan materi.

 

selamat belajar 😉

Diskusi Komunikasi dengan Pasangan

Berikut diskusi peserta kulwap Keluarga Sehati dengan narasumber Mbak Abyz Wigati.

[11/17, 2:28 PM

H: Haha… jadi ingat… saya dulu pendiam, masalah antara saya & suami saya simpan saja rapat2… hingga suatu ketika, suami menyampaikan “kekecewaannya” terhadap saya kepada keluarga besar saya…
Seperti api dalam sekam, saya tersulut… keluar juga semua “kekecewaan” terhadap suami yg lama saya simpan sendiri…
Nah, lho… suami kaget juga rupanya, saya jadi “gak pendiam” lagi… 😜
Tapi itu duluuu, pas masih menikah seumur jagung…
Kalau sekarang… jadi biasa aja ada orang ke-3… meski tidak selalu.
Ya… sesuai kebutuhan… 😁
#just share, tidak untuk ditiru… ☺🙏🏻

Suci Shofia: 😆. Selalu ada kisah seru diawal pernikahan terkait komunikasi, ya.
H: Betuuul… biasalah… penyesuaian… 😄😜
Suci Shofia: Tips dari Mbak H kalau ada campur tangan pihak ketiga seperti apa?

H: Pihak ke-3 yg pernah saya alami paling hanya keluarga besar aja Mbak, ortu atau saudara kandung, gak pernah keluar sih, kecuali “darurat”
Suami ngadunya ke ortu saya, saya ngadunya ke ortu suami… 😄
D: Itu cerita yg sedang saya alami 😭 Setelah 14 tahun pernikahan😭
H Cup-cup… sabaaar Mbak D… 😘😘

Suci Shofia: peluk Teh D 😘😘😘😘
Jadi saling adu ini, hehehe. Baiknya diselesaikan internal dulu, ya. Baru dibawa keluar.
D: 😭😭😭😭
H: Kalau pihak ke-3-nya ortu atau saudara, mungkin bisa sekalian minta saran2 dari mereka, Mbak Nia… toh mereka sudah “terlanjur” tahu permasalahan yg kita hadapi… kecuali mereka lepas tangan & menyerahkan penyelesaiannya kepada kita.
Semoga segera ada jalan keluar ya, Mbak… 😘😘
Suci Shofia: amiiinnn😊
H: Naaah… jawabannya adalah komunikasi, seperti yg disampaikan Bunda Abyz… 😍😍

D: Terima kasih😓

H: Sama2… InsyaAllah Mbak Nia pasti bisa melewatinya… 😚
D: Tp sedih ya rasanya kalo udah ga dipercaya ama pasangan😭
T: Betul sekalii 😌
H: Kalau saya ucapan sepertinya sudah asertif, tapi sikap sedikit “agresif” 🙈
Lebih hati2 berkata & bersikap, selalu jujur & terbuka, beri perhatian lebih pada pasangan, terus semai kebaikan, beri janji & buktikan dengan ditepati, tunjukkan kalau kita layak dipercaya…

Itu yg saya harapkan dari pasangan Mbak D.
Karena posisi saya sebagai yang “tidak lagi” percaya pada pasangan, mungkin harapan saya itu bisa jadi tips untuk dilakukan…

Semangaaat… 😍😍
D: Semangat🤣
Suci Shofia: 😆 sama, ga tahan untuk nyerempet. Masih belajar dan terus belajar😉
H: 😄😄 dibawa bahagia saja Mbak… 😍

C: Tema pernikahan itu memang ngga ada habisnya…. selalu dapat ilmu baru… tips baru.. alhamdulillah…👏🏻👏🏻👏🏻💐💐💐
N: Kalo udah nyerempet ada rasa lega lega menyesal ya mbak Suci…
C: Kalo sudah nyerempet.. asa tanggung…. sikat aja sekalian…🍌🍌

Hihihi..jangan ditiru…😅😅
T: Betul, dunia pernikahan itu mengejutkan sekali. Ternyata seperti ini rasanya

Suci Shofia: gitu deh🙈 eh ada pengantin baru, hayu belajar dari pengalaman kami hehe

N: Nah manten baru ini perlu rajin baca chat grup. Belajar dari para pengantin tua 😂

Suci Shofia: wkwkwkwk
N: Tapi kalo pengalaman saya sendiri itu terjadi di 5 tahun awal pernikahan, mbak. Masih Belajar mencari pola komunikasi yg baik.
Makin kesini makin asyik komunikasinya dan kita bisa marahan dengan wajah yg lebih lempeng dan derajat kata2 yang lebih baik kastanya 😊
H: “marah”… sambil terus aja nyapu, bersih2, nyuci piring sama baju…
Laaah… marahnya sama siapaaa? 😂😂
N: Hihihi iyaaa.. Marahnya disalurkan ke bersih2 karena terbukti efektif dan mempercepat kerjaan bersih2 ini selesai.
Setelahnya ngos ngosan sendiri hehehe…
H: Haha…
Setelah itu “minggat” ke salon Mbak… 😍😍
“Aku capek, pingin nyalon sejam dua jam!” 😂😂
N: Kok tau mbak 😂😂
Tapi saya kalo marah trus ke salon tuh tetep laporan dulu.

SAYA MAU KE SALON!

gitu 😂
H: Ituuuh… saya juga laporaaan 😄
M:  Yang saya hindari adalah marah Atau memendam marah sambil ngemil (apalagi kacang). Takut keselek sendiri 😂
Suci Shofia: sekadar pelampiasan, masalahnya enggak selesai, masih ada di dada. Esok lusa ada masalah lagi, cari pelampiasan lagi. Jadi bom waktu, deh 😉
H: Nges-krim ajaaa… biar adeeem 😍
Yihaaaa… itu klo masih awal2 nikah Mbak… klo sekarang sudah nggak… malamnya langsung diselesaikan 😜
N: Ya gak juga sih mbak suci.. Tekanan perasaan dialihkan dulu. Ntar kalo sudah rada lega baru bicara.
Suami sudah paham saya kalo tensi tinggi bisa histeris dan historis 😂 jadi kalo saya minggat ke dapur atau salon dia sudah paham kalo itu adalah cara saya menyelamatkan kami berdua 😀
Kasur adalah penyelesaian terbaik yaaa 😂

Suci Shofia: mendadak jadi ahli sejarah, ya😆
N: Sejarah lampau yg segala gak enak yg pertama diinget 😄
A: Got Emosi ya, daripada marah ke anak atau suami mending mamam indomie pake telor dan cabe rawit 😅😅
N: Kalo kepedesan tinggal salahkan rawitnya 😂
H: saya kadang juga menjelma jadi sejarawan, ditambah saya “memang” matematikawan… lengkap sudah… plus hari, tanggal, jam, menit & detiknya… 🙈😜
M: Mudah2an bukan sekalian akuntan dan auditor sehingga segala biaya masa lampau pun dihitung. Saya perhatikan grup ini suka Hot pada topik2 tertentu ya.. 😂. Pada topik2 lain adem ayem semua..
C: Karena yg hot topik masih terulang lg…😅

 

L: Karena konon kata ahlinya, marah atau tegang akibat dr hormon adrenalin, hormon yang sama yang dibutuhkan untuk berjibaku di tempat tidur.
#eaaa….😀
N: Iyakah… Wah pengetahuan baru nih..
Abyz: Wuiiih …. sdh rame banget…
N: Apakah tingkat hebohnya marah berbanding lurus dengan tingkat hebohnya berjibaku di tempat tidur? 😂
Abyz: Meluruskan, kalo utk marah hormon kortisol bu 🙏
Adrenalin itu pemacu motivasi 😊
N: Pertanyaan saya gugur dengan sendirinya ya kalo begini.

Membangun Komunikasi yang Sehat dengan Pasangan

13.29 WIB

Jumat siang, 17 November 2017

Narasumber kelas Kuliah Via Whatsapp (kulwap) Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Buku Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida, kali ini diisi oleh Mbak Abyz Wigati.

Suci Shofia:

Berhubung Mba Abyz masih ada kesibukan, beliau meminta saya untuk membantu mem-posting materi.

Silakan dicerna 😉

Abyz Wigati:

Pengetahuan dan ketrampilan berkomunikasi dengan pasangan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hubungan suami-istri dalam membina rumah tangga.

Dari rumah rangga yang harmoni, akan menjadi media yang baik bagi anak-anak tumbuh dan berkembang hingga menjadi manusia dewasa yang mumpuni dalam menghadapi tantangan kehidupan. Karenanya, komunikasi yang sehat perlu dibangun oleh pasangan suami-isteri.

Bagi saya, komunikasi yang sehat antara suami-isteri, merupakan proses yang bisa menjembatani harapan-harapan dari pasangan kepada pasangannya. Ketika saya menyampaikan sesuatu apapun pada suami, tentu ada harapan yang terselip di dalamnya, setidaknya berharap untuk didengarkan.

Sebagai pasangan, saya dan suami pun pernah mengalami ‘gagal’ dalam berkomunikasi akibatnya terjadi kesalahpahaman yang membuat saya kesal dan uring-uringan sementara suami tidak paham salahnya di mana dan apa yang seharusnya dilakukan, yang terjadi berikutnya adalah masing-masing merasa benar dan saling menyalahkan, sementara substansi persoalan malah tidak terselesaikan.

Kondisi tersebut banyak dialami juga oleh pasangan suami-isteri yang lain. Nah, dari pengalaman tersebut kami belajar bahwa, proses komunikasi yang terpuji bagi pasangan suami-isteri sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut (terkait dengan sikap selama proses berkomunikasi):

– Hindari berasumsi negatif.

– Pinggirkan pikiran ‘merasa benar’ apalagi paling benar

– Tidak mengungkit masalah yang sudah lama

– Hindari meminta apresiasi (dipuji)

– Tidak menganggap umum pendapat pribadi

– Menggunakan kata yang jelas dan tidak membingungkan pasangan

– Tidak menjadikan dramatis (hyperbola) hal yang dibicarakan

– Hargai sikap positif pasangan

– Hindari penggunaan istilah yang negatif

– Tidak membanding-bandingkan

– Posisikan diri sejajar-sama (tidak merasa lebih)

– Jujur

– Minimalkan campur tangan pihak luar

Berikutnya, terkait dengan waktu; menentukan waktu yang tepat sangat mempengaruhi proses berkomunikasi, maka hindari membicarakan masalah langsung pada saat kejadian, saat lelah dan saat emosi melanda.

Waktu paling efektif adalah saat menjelang tidur tetapi sebelum ngantuk berat. Bisa juga di waktu lain pada suasana yang nyaman.

Perlu diperhatikan juga soal tempat, sesuaikanlah dengan apa yang akan dikomunikasikan agar suasana bisa mendukung proses komunikasi, misal perlu privacy atau justru butuh tempat terbuka atau harus di tempat tertentu agar bisa menjadikannya contoh atau untuk menggiring kearah persoalan yang hendak dikomunikasikan.

Yang tak kalah penting, sikap tubuh saat berkomunikasi, usahakan ada kontak mata, ada sentuhan fisik (punggung tangan biasanya lebih efektif).

Ada pengalaman lain yang bisa melengkapi? Atau ada unek-unek yang perlu dibahas?

Mari kita diskusikan bersama.

SOBATKU, Tabungan Online Berbasis Aplikasi

Screenshot_2017-10-24-15-10-31Perkembangan teknologi yang semakin maju, memberikan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Seperti SOBATKU, sebuah tabungan online berbasis aplikasi yang hadir sebagai bentuk perkembangan fintech atau financial technology yang dilengkapi beragam fitur menabung dan kemudahan bertransaksi, serta gratis tentunya.

SOBATKU merupakan kependekan dari Simpanan Online Sahabatku, sebuah layanan yang diluncurkan oleh Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sahabat Mitra Sejati dengan merk dagang Sahabat UKM. KSP Sahabat Mitra Sejati memiliki badan hukum berbentuk koperasi yang bergerak dalam bidang usaha simpan pinjam.

Berbagai kemudahan yang kita dapatkan saat menjadi nasabah SOBATKU, di antaranya bebas transfer sesama rekening sobatku, biaya transfer antar bank cukup murah, tidak ada biaya administrasi dan saldo minimal, beli pulsa tanpa biaya administrasi, serta gratis tarik tunai di Alfamart/Alfamidi.

Screenshot_2017-10-24-15-07-08Satu lagi ada Undian Milyaran Rupiah  juga tersedia grand prize senilai 100 juta rupiah yang diundi setiap 3 bulan. Totalnya ada ratusan miliar rupiah. Asyik, kan?

12 Oktober 2017 yang lalu, SOBATKU telah mengadakan dua kali pengundian sebesar ratusan juta rupiah. Disaksikan oleh pejabat Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Kementrian Sosial Republik Indonesia, Polsek Setiabudi, notaris, undangan, serta anggota dan calon anggota KSP Sahabat Mitra  Sejati. Hadir juga Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah), Agus Muharram serta jajaran pengurus dan pengawas KSP Sahabat Mitra Sejati. Ketua KSP Sahabat Mitra Sejati, Ceppy Y. Mulyana mengungkapkan, “Sejak peluncuran SOBATKU pada rangkaian Hari Koperasi Nasional ke-70 di Makassar pada 12 Juli 2017 lalu, miliaran rupiah telah diakumulasikan. Selanjutnya sejalan dengan kemitraan kami pada hari ini dilaksanakan pengundian hadiah bulanan dan grand prize uang tunai SOBATKU senilai 100 juta rupiah. Pelaksanaan undian hari ini juga merupakan upaya KSP Sahabat Mitra Sejati untuk menjalin komunikasi, meningkatkan relasi, dan memberikan apresiasi kepada seluruh anggota dan calon anggota yang terus mempercayakan kebutuhan dan melakukan transaksi keuangannya di KSP Sahabat Mitra Sejati.”

Nah, kalau kamu ingin menikmati berbagai kemudahan dari SOBATKU, unduh (download) aplikasinya secara gratis melalui Google Play dan App Store, lalu segera buka rekeningnya dengan cukup mengisi data diri via telepon canggih (smartphone). Nomor telepon genggam sebagai nomor rekening. Tak perlu terjebak macet di jalan, juga antrian panjang seperti di tempat penyimpanan dana konvensional.

Yang harus diingat, pastikan nomor PIN (personal identification number) bukan tanggal lahir-mu, ya. Sistem OTP (one time password) akan memberikan jaminan keamanan transaksi. Saat kamu mengalami musibah smartphone hilang, segera hubungi call center SOBATKU di 1500-218 agar nomor rekening kamu bisa cepat diblokir demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Buat kamu yang memiliki dana lebih di dompet, daripada uang dibiarkan nganggur, mending tabung saja uang nganggur ke SOBATKU. Lumayan, kan, nabung uang nganggur yang apabila terkumpul cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau perencanaan keuangan yang kamu miliki, seperti untuk membeli hewan qurban, membayar uang sekolah atau kuliah, membeli buku bermutu, tabungan masa depan, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Setoran awal hanya sepuluh ribu rupiah saja, lo. Setelah mengisi data diri, kamu bisa melakukan setoran tunai, transfer, tarik tunai, pembayaran, di Alfamart/Alfamidi.

KSP Sahabat Mitra Sejati mulai beroperasi sejak 2009. Demi mendukung perkembangan bisnis di Indonesia, KSP Sahabat Mitra Sejati melakukan sinergi dan kolaborasi bisnis dengan PT Bank Sahabat Sampoerna pada tahun 2011 lalu. Sudah tersedia 120 jaringan kantor yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kamu bisa mendapatkan informasi lebih banyak dengan menghubungi Sahabatku via email atau nomor telepon, juga ke alamat website http://www.sobatku.co.id

Screenshot_2017-10-24-15-09-50

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan SOBATKU. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi.

Kok, Enggak Adil?

Ada yang merasa kehidupan rumah tangganya penuh dengan ketidakadilan? Daripada belajar ilmu kebatinan, mending santap ilmu dari narasumber kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida berikut ini:

Salam, Bapak Ibu. Ini kulwap yang ke-94, kita akan bahas tema pernikahan, tentang adil.

Beberapa waktu yang lalu, entah topik apa, kita pernah membahas konsep ini:
Kita ini pasangan, saling melengkapi, saling menginspirasi. Kamu baik aku tentu baik; kamu jadi buruk, aku akan tetap baik.

Ternyata belakangan ada yang protes, “Nggak adil, dong! Dia baik ya saya baik, dia jadi buruk masa juga kudu baik. Enak di dia susah di saya.”
—ini ucapannya saya dramatisir. Ucapannya aslinya sih halus, tapi kan biar seru 😀

Dalam membina hubungan pada era modern ini, kita ingin relasi yang setara, ingin diperlakukan secara adil, dan berbagi tanggung jawab bareng-bareng.

Saya sampaikan, adil menurut saya itu bukan lantas 50:50. Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman rumpi saya, pembagian seperti itu justru bikin perkara.

Hari ini kan aku sudah ngepel, Ayah nyikat kamar mandi, dong.
Aku sudah antar anak-anak seminggu ini. Minggu depan Mama yang antar.
Aku sudah kasih semua gaji, masa lebih sering makan masakan warung.
Aku sudah kasih sekian, kamu harus mengembalikannya dengan nilai yang sama.
Aku sudah baik begini, masa sih kamu masih saja nggak bisa baik sama aku.

Dalam berumah tangga, prioritas yang paling utama adalah rumah tangganya, bukan suaminya atau istrinya sebagai pribadi.

Jadi, yang menjadi ukuran adilnya bukan ketika masing-masing memperoleh haknya secara setara, tapi apakah pernikahannya berjalan baik.

When the marriage works well, bukan saatnya lagi hitung-hitungan siapa yang punya peran lebih banyak, atau siapa yang mengacaukannya lebih sering—eheheh.

Penafian: bahasan ini menafikan unsur KDRT, ya. Jika ada kekerasan atas nama menjaga keberlangsungan pernikahan, adil yang saya sebut dalam bahasan di atas tidak berlaku.

Balik lagi.
kita (atau saya deh) kesal ketika pasangan tidak menunjukkan sikap yang menurut kita pantas, padahal kita sudah merasa melakukan banyak kebaikan.

“Kok sepertinya saya yang harus keluar effort lebih untuk membuat suasana pernikahan kami menyenangkan, ya? Pasangan saya santai saja tinggal menikmati hasilnya.”

Bukan berarti kepentingan masing-masing jadi hilang juga, lho, ya. Adil dalam pernikahan juga bukan berarti mengorbankan diri.

Adil di sini adalah keluwesan.
Kapan mengalah, kapan unjuk taring—pastikan taring Anda sehat, bebas dari karang gigi 😀

Yang wajib diperhatikan adalah kepentingan Anda, kepentingan pasangan, dan kepentingan pernikahan.
Ada saatnya salah satunya harus diprioritaskan, artinya ada yang wajib menyisihkan keinginan.

“Ih, Bu Anna. Perasaan saya melulu, deh, yang ngalah. Dia sih seperti nggak mau ngerti pengorbanan saya.”
Tunggu.
Jangan-jangan pasangan kita pun membatin hal yang sama #tutupmuka

Ayo temani saya berpikir berdasarkan fakta. Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan? Menjaga keharmonisan rumah tangga?
Buat apa?

Tarik semua pertanyaan ke sana.
Pernikahan yang asyik itu buat siapa, sih? Masa masih mau itung-itungan dan kirim tagihan?

Anyway, saya menulis berdasarkan obrolan saya dengan teman—ada juga beliau di sini, semoga sudah lupa pernah bahas ini—jadi mungkin tidak berlaku pada Bapak Ibu sekalian.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com