Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Advertisements

Tetap Merdeka Setelah Menikah

Jumat, 17 Agustus 2018, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke- 73. Kulwap ke-132 kali ini memaknai kemerdekaan dalam pernikahan.

Yuk, simak pemaparan dari Mbak Anna Farida narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-128, dan kita sedang merayakan hari kemerdekaan. Jadi, kita akan membahas kemerdekaan dalam pernikahan.

Apakah masih ada kemerdekaan ketika kita sudah menikah? Jika masih ada, apakah levelnya sama seperti kita belum masih lajang? Jika kita merasa kehilangan kemerdekaan setelah menikah apakah kita bisa mendapatkannya kembali?

Pendek kata, setelah kita menikah, apakah kita masih merdeka?
Dengan definisi yang pas tentang kemerdekaan, jawabannya tentu YA, masih. Kita bukan hanya masih medeka, kita bahkan bisa menambah levelnya seperti keripik-keripik itu 😀

Kita definisikan kemerdekaan dengan salah satu aspeknya, ya. Kita boleh tidak bersepakat. Santai saja.

Salah satu definisi kemerdekaan adalah kemampuan untuk mendapatkan kebahagiaan. Lagi-lagi kita harus mendefinisikan kebahagiaan—ribet amat, ya 😀

Dalam pernikahan, kebahagiaan sangat bisa diraih. Untuk mendapatkannya, perlu dua orang yang kuat, karena yang dia dukung bukan hanya dirinya sendiri tapi juga pasangaannya—apalagi jika pasangannya overweight #apaseh

Kebebasan itu tidak terjadi secara individual, bukan kebebebasanmu saja atau kebebasanku saja. Bukan dalam arti kebebasanmu akan memangkas kebebasanku.

Dengan dukungan pasangan, kebebasan justru bisa meningkat levelnya karena ada orang yang menjaga kita, membantu kita saat ada kesulitan, dan jadi “pagar” ketika kita hendak kebablasan.

Bagaimana mewujudkannya? Bagaimana jika pasangan tidak memiliki pemahaman yang sama? Bagaimana jika pasangan justru memiliki konsep kebebasan yang “berpihak” pada kita?

+ Sadari bahwa pernikahan adalah milik dua orang dewasa. Artinya, keduanya bisa saling berbincang merumuskan bersama makna kebebasan yang disepakati bersama.

+ Ketika ada bagian yang tidak disepakati, perhatikan bagian mana yang bisa dilakukan bergantian. Merdeka dari satu hal selalu berarti terikat pada hal lain, kan? Jadi, ketika aku tidak bisa memutuskan hal ini sesuai dengan kehendakku, aku akan memutuskan hal itu sesuai keputusanku, yaaa. Jika kita tidak bisa bersepakat, kita bergantian mengambil keputusan.

+ Be an expert, jadilah ahli. Umumnya manusia, termasuk pasangan kita, cenderung mendengarkan ahlinya. Jika kita mau didengar, jika kit hendak memiliki kebebasan untuk memutuskan sesuatu, kita mesti jadi ahlinya. Misalnya, bagi para ibu,umumnya baru bisa bepergian setelah repot duluan di rumah. Apakah para bapak mengalami hal yang sama? Apakah mereka juga sibuk menyiapkan ini itu untuk anak istri mereka sebelum pergi? #ehitucurhatsiapaya—maaf dipakai bahan kulwap.

Karenanya, jadilah ahli. Jika memang tidak ada yang bisa diandalkan mengurus dapur, atur agar keperluan minimalnya terpenuhi. Tentu standar saya berbeda dengan para ibu yang lain. Standar dapur aman buat saya adalah tidak ada sampah menginap, ada beras atau nasi, dan telur. Jadi anak-anak bisa memasak sendiri jika makanan yang saya siapkan habis. Rumah berantakan sedikit atau berantakan banyak bukan masalah buat saya. Namanya juga rumah yang hidup dan dinamis #ngeleeess

Jadi ukuran jadi ahli itu bukan ketika kita bisa melakukan sesuatu sesuai standar orang lain, tapi melakukan sesuatu yang membuat kita bahagia dan pada gilirannya memberikan kemerdekaan.
Hindari belenggu yang membuat kita terjajah oleh ketidakpuasan yang kita ciptakan sendiri. Wah, kalimatnya instagrammable 😀

Kemerdekaan dalam definisi yang lain adalah life to the fullest. Jalani kehidupan yang ada dengan sebaik-baiknya, bukan berandai-andai dengan kehidupan yang tidak kita miliki.

Sudah, ah. 😀

Merdeka! 🇲🇨🇲🇨

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Buku bisa diperoleh melalui saya

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done – Nelson Mandela

Cinderella Complex

Jumat siang, 24 Agustus 2018

Kulwap Keluarga Sehati sudah masuk materi ke-132.

Berikut paparan dari narsum kita, Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini adalah kulwap ke-129 dan kita akan membahas tentang Cinderella Complex. Saya akan menyarikan beberapa informasi untuk kita bahas bersama.

Tahu Cinderella, dong? Gadis cantik yang di-bully ibu tiri dan saudari-saudari tirinya. Kisahnya berbalik jadi bahagia karena pertolongan Ibu Peri, kemudian pangeran ganteng jatuh cinta padanya, dan datang menjemputnya.

Dalam khasanah psikologi, dongeng ini jadi inspirasi Colette Dowling, terapis sekaligus penulis buku “The Cinderella Complex”. Dia menemukan konflik mendalam yang terjadi pada perempuan, yang berhubungan dengan kemandirian. Kata Dowling, perempuan pada umumnya tidak dididik untuk menghadapi ketakutannya, tidak diajarkan mengatasi masalahnya sendiri, dan mengharap ada penyelamat seperti sang pangeran.

Ah masa?
Coba kita lihat sekeliling. Benarkah perempuan yang dianggap ideal itu yang bersikap halus, lemah lembut, rela menderita, setia dan langsing (#eh). Ia diharapkan dapat menerima semua kondisi hidup, bahkan yang terpahit sekalipun. Toh nanti ada yang menyelamatkannya, dan kisah akan berakhir bahagia.

Kata Dowling, kondisi ini sedikit banyak berasal dari pola asuh.
Anak laki-laki diharapkan untuk mandiri dan tangguh, anak perempuan dilindungi dan dijaga.

Anak perempuan umumnya menerima dorongan lebih sedikit untuk mandiri dan lebih sedikit tekanan untuk membangun identitas diri yang kuat. Hubungan antara anak perempuan dan orang tua cenderung lebih harmonis dibandingkan dengan anak laki-laki, karena biasanya anak perempuan itu biasanya nuruuut. Karena nurut, orang tua cenderung lebih ramah, sehingga anak kian lengket dan tergantung pada orang lain (orang tua).
Sebaliknya, anak lelaki ditempa untuk mandiri dan meninggalkan sikap manja juga ketergantungan agar tidak dianggap seperti perempuan.

Tar … tar … saya gerah.
Mbak Dowling bikin saya pingin bilang, “Ah, masa?”
Yang saya temui, perempuan yang bergantung pada orang lain itu dianggap manja. Sebaliknya, perempuan yang mandiri dan tidak bergantung dianggap bossy #serbasalah 😀
Pertanyaan besarnya: apakah perempuan itu bisa menjadi anak, istri, ibu, dan individu yang mandiri?
Kalimat di atas boong banget, deh, ah.
Saya tulis pertanyaan besar, padahal jawabannya sudah jelas: bisa.
+ Sebagai orang tua, berikan porsi tanggung jawab pada anak perempuan dan lelaki dengan adil (sesuai takaran)
+ Hindari memaklumi kesalahan atau kemanjaan anak karena dia perempuan. Maklumi mereka karena mereka memang masih anak-anak. Salah itu biasa, manja juga asyik-asyik saja—syarat dan ketentuan berlaku.
+ Sebagai istri, jaga terus kesinambungan belajar untuk selalu meng-upgrade diri. Zaman ini berlari, ayo ikut bergerak.
+ Dalam kondisi yang memestikan kita mengambil keputusan, ambil sikap bahwa saya memutuskan ini karena ini yang menurut saya benar, bukan karena saya perempuan, saya akan menunggu saja seseorang memutuskannya untuk saya.
+ Jika saya salah, itu karena saya kurang berpengalaman, kurang pengetahuan, bukan karena saya perempuan. Karenanya, saya akan belajar, bukan menyesali nasib saya menjadi perempuan dan mengharap ada pangeran datng.

Sudah, ah. Mulai hangat aroma tulisannya, ahahaha, tar saya dianggap menebar provokasi 😀
Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, bisa kontak Mbak Suminar.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Beda Gaya Pengasuhan

Jumat, 03 Agustus 2018
Kuliah via WhatsApp ke 130 (narasumber salah sebut ke-128 :p) Tetap bergizi tinggi, kaya nutrisi, dan pastinya tanpa menggurui.

Simak, yuk, penjelasan dari Anna Farida berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-128, kita akan membahas tema perbedaan pola asuh antara ayah dan ibu.

Dalam tumbuh kembangnya, anak memerlukan asuhan ayah dan ibu. Umumnya, anak membutuhkan gaya mengayomi yang biasa diberikan para ibu, dan gaya yang lebih menantang yang biasa dicontohkan para ayah–Walau tidak selamanya berlaku pada kasus tertentu, karena ada juga ibu yang dapat julukan “Tiger Mom” #grauuung

Pada dasarnya, ayah dan ibu adalah dua orang yang berbeda. Bukan masalah siapa yang lebih mengayomi dan mana yang lebih tegas, keduanya manusia yang berbeda, datang dari latar belakang yang berbeda. Wajar jika kemudian mereka memiliki gaya dan daya asuh yang berbeda.

Tentu anak tidak bisa memilih gaya asuh mana yang akan mereka terima. Orang tualah yang wajib menyadari bahwa perbedan suami istri mesti diselaraskan untuk menjalankan fungsi pengasuhan yang baik. Jika upaya tersebut tidak dilakukan, kemungkinan berikut ini bisa terjadi:
+ anak bingung, harapan mana yang kudu kupenuhi, Mama atau Papa?
+ anak akan terpaksa memihak ke salah satu orang tua yang dianggapnya memenuhi harapannya
+ ketika mereka beranjak dewasa, konflik gaya asuh antara ayah dan ibu bisa membuat anak tertekan dan dampak susulan bisa terjadi.

Lantas bagaimana menyesuaikannya?
+ Negosiasi. Sebaiknya antara ayah dan ibu berdiskusi dulu, bagaimana perbedaan ini mau diatasi. Sepakati dulu sebelum memberikan keputusan pada anak.
+ Jika kata sepakat tidak diproleh, putuskan siapa yang mendukung dan siapa yang didukung. Misalnya, siapa yang pegang suara saat anak hendak menginap, atau saat hendak pilih sekolah. Misalnya Ibu. Apa pun keputusan Ibu, Ayah kudu mendukung.
+ Sepakati nilai spiritual yang mengikat keluarga. Walau dalam keluarga tetap dibuka peluang perbedaan, akan sangat membantu jika ada nilai spiritual yang mengikat. Dengan demikian, ketika terjadi perbedaan, semua bisa kembali ke nilai tersebut.
+ Ini tetap tanggung jawab bersama. Ketika dalam komitmen dan saling dukung itu terjadi kesalahan, ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yang sama, tidak saling menuding. Toh keputusan yang diambil pada dasarnya adalah keputusan bersama.
+ Libatkan anak. Saat ada beda pendapat, pada level tertentu, tanya pda anak mana yang menurutnya lebih baik: pandangan ayah atau ibu. Konsekuen, ya, jika anak sudah memilih 😀 Jangan baper.

Ketika kesepakatan tersebut berlaku baik, dan ternyata kemudian memburuk, tidak ada kata pantang mundur. Mengambil langkah mundur demi kebaikan pengasuhan wajib dilakukan. Jangan bilang “Gengsi, dooong.”

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, bisa kontak saya.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Puisi Untukmu Anakku

Kulwap Keluarga Sehati ke 126 kali ini menyajikan sebuah puisi pengingat diri sebagai seorang hamba Allah yang mendapatkan sebuah amanah berupa anak.

Berikut puisi dari narasumber kulwap, Anna Farida:

ANAKKU, INILAH SESALKU

Aku menyesal tak banyak memelukmu
Padahal pelukan menyembuhkanmu, pun menyembuhkanku

Aku menyesal melewatkan waktu tertawa bersamamu
Padahal kau tak akan selamanya di sisiku

Aku menyesal meninggikan suaraku padamu
Sedangkan tindakanku lebih kautiru daripada ucapanku

Aku menyesal menatapmu dengan tajam
Sedangkan senyum dari mataku penguat jiwamu

Aku menyesal lebih banyak melihat kebaikan anak lain
Pada saat yang sama, kuanggap biasa kebaikanmu

Aku menyesal lebih mudah memaafkan kesalahan anak lain
Pada saat yang sama, kuhukum berat kesalahanmu

Aku menyesal mendorong hingga memaksamu
Lebih demi membanggakan orang tuamu, bukan demi dirimu

Aku menyesal telah melontarkan celaan dan kalimat keras
Lebih karena aku tak mampu jadi teman bicaramu

Aku menyesal telah mendesakkan tuntutan ini itu
Dengan alasan menumbuhkan semangatmu

Aku menyesal tak banyak mendengarkan pendapatmu
Dengan alasan aku lebih berpengalaman darimu

Aku menyesal sibuk bersaing dengan orang tua lain
Bukan berjuang memenangkan cinta dan hatimu

Aku menyesal berkhayal tentang anak ideal yang kuinginkan
Bukan belajar menemani dan mengasihi anak yang kumiliki

Sungguh tak kan kutuliskan sesalku
Karena satu sesal mengungkit sesal yang lain

Anakku, maafkan aku
Berikan selalu padaku kesempatan memenangkan hatimu
Hingga akhir waktu

(Anna Farida, 2015)

Pernikahan Abadi

Jumat siang di awal bulan Juli 2018 kulwap Keluarga Sehati kembali menyajikan materi bergizi dengan narasumber yang berkualitas (Elia Daryati dan Anna Farida) setelah libur sejenak pasca libur lebaran 1439 H.

Pengen ikutan kelas Kulwap Keluarga Sehati? Kirimkan nomor whatsapp Anda ke admin 089650416212 (Suci Shofia).

Anna Farida:
Salam sehati, Bapak Ibu.

Semoga libur sebulan membuat kita fresh. Ini kulwap yang ke berapa? 124? Lupa. Kita akan bahas materi pernikahan.
Saya sedang menulis sebuah biografi tentang pasangan yang menjadi subjek bahasan gerontologi. Ilmu apa ini? Ehehe.

Proses penulisan ini membuat saya buka-buka website dan menemukan gambar-gambar yang membuat saya terpesona. Dua pasang tangan keriput bertangkup, atau saling bergandengan. Dua punggung melengkung berjalan bersisian, yang satu pegang tongkat satu lagi menggenggam tangan pasangannya.

Saya juga pernah mendadak mellow di sisi jalan saat melihat seorang kakek mengikatkan tali sepatu pasangannya—sudah tentu nenek-nenek. Sama sekali bukan adegan sinetron mana pun, karena mereka baru melangkah dari tukang surabi (serabi) yang berasap.

Saya jadi bertanya-tanya, apa rahasia mereka?
Karl Pillemer, seorang gerontologis,menuliskannya di beberapa situs. Saya akan rangkumkan untuk Anda.

+ Jaga komunikasi. Ini klise, tapi apa boleh buat. Komunikasi yang stabil adalah kunci hubungan jangka panjang. Komunikasi asertif sudah jadi mantra di ruang kulwap ini, jadi selalu berkomunikasi bukan berarti selalu bicara. Itu sih saya, don’t do it at home #tutupmuka.
Dalam buku Marriage with Heart, Bu Elia menasihatkan tentang visi dan misi pernikahan. Jika hal itu belum dilakukan atau terlihat kendur, coba bahas (ulang). Sebagian ahli menyebutnya dengan pernikahan berkesadaran. Kita memang mengondisikan secara sadar bahwa kita berada dalam hubungan, bukan menjalaninya apa adanya.
Bahas tentang anak-anak, bahas tentang keuanga, tentang keluarga, tentang teman-teman. Bahas gosip murahan sampai miliaran. Bahas dengan gaya dan cara masing-masing sesuai style, sesuai kondisi, sesuai takaran.

+ Tetap perhatikan pasangan walau sudah ada anak. Tak jarang urusan anak membuat kita (saya aja, kaleee) sangat sibuk. Pasangan tidak bisa protes karena yang dilakukan adalah demi anak. Energi dan waktu tersita demi anak, dan itu sungguh mulia. Meski begitu, alokasikan waktu spesial – 5 hingga 10 menit pun cukup – untuk menjaga kemesraan. Mah paki gaya apa dan kegiatan apa dipersilakan. Mau main catur berdua atau mau bersihkan kompor di kamar juga boleh.
Kapan? Cari waktu, cari tempat, masa saya juga yang harus kasih tahu 😀
Pada akhirnya, kemesraan antara suami istri akan memberikan dampak luar biasa baik bagi tumbuh kembang anak.

+ Prioritaskan keperluan pasangan
Makin tua (ini bukan saya) seharusnya kita makin paham keperluan pasangan. Tugas kita adalah mendahulukan keperluannya itu—bukan menempatkan diri pada posisi yang lebih rendah atau lebih tidak penting, tapi memuliakan dia akan berdampak timbal balik—ujung-ujungnya pamrih juga ahahaha.

+ Urus diri Anda. Sejak dini, mumpung masih muda seperti saya, perhatikan kesehatan, perhatikan makan—kurangi ngemil (ini khusus buat saya). Nanti, sepuluh atau dua puluh tahu lagi, kulit sedikit keriput bukan masalah, asal masih kuat jalan keliling kampung setelah beli surabi berdua #eaaa.

+ Lengkapi dengan doa. Apa pun itu, kuasa Yang Maharahim dan pemilik cinta adalah harapan terbaik kita. Doa demi doa yang terucap secara spesifik itu penting bukan hanya untuk afirmasi positif tapi juga membangun mental dan daya juang.
Ketika ada masalah, saat pasangan berulah, setelah berbagai upaya kebaikan ditempuh, kita punya Tuhan sebagai sandaran. Pada saat yang sama kita pun berdoa pasangan kita diberi kekuatan saat kita berulah 🙂

Itu saja, saya jadi pingin serabi.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Edit Pasangan?

Jumat, 27 April 2018

Kelas Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati kali ini membahas tentang mengotak-,atik pasangan.

Baik atau enggak, ya, meminta pasangan untuk berubah sesuai keinginan kita?

Kuy, simak materi dari Anna Farida, narasumber Kulwap Keluarga Sehati berikut ini:

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini kulwap ke-117, kita akan bahas materi “mengedit” pasangan.
Tema ini sudah lama singgah di kotak pesan saya dan selalu bikin nyengir. Mengedit? Naskah, kaleee.

Mengedit naskah itu kan memperbaiki konten, meluruskan kalimat yang keriting, sekaligus meluweskan kalimat yang kaku.

Apakah pasangan juga memiliki potensi diedit seperti itu? Eheheh

Saya pernah menulis bahwa pernikahan itu seperti sepasang sandal, kanan dan kiri, digunakan untuk melangkah bersama. Tentu tidak enak melangkah dengan sandal sisi kanan dua-duanya. Adakah toko yang jual sandal seperti itu? 😀

Dalam bahasa Jawa, memiliki pasangan itu seperti “tumbu etuk tutup” seperti bakul yang menemukan tutupnya. Tidak perlu dibahas mana yang bakul dan mana tutupnya—apalagi pakai bawa-bawa berat badan #eh

Artinya, kita siap menerima perbedaan karena memang ada dua manusia yang terlibat dengan urusan hari ke hari.

Ada yang pernah bertemu dengan seseorang lantas kita merasa “Saya tampaknya cocok sama dia. Aduh, saya merasa klik dengan dia. Ngobrol sekali langsung nyambung, seperti ada chemistry gitu.”
Ah, saya sih tidak percaya.

Anda mungkin merasa cocok dan terkagum-kagum kepada saya karena saya kan senang bikin pencitraan di media sosial. Coba Anda tinggal seminggu saja sama saya, bisa jadi Anda akan terkena migrain ringan hingga sedang ahahah.
Jadi, saya baru percaya yang disebut cocok itu ya setelah bersama bertahun-tahun dan saling menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan pasangan.
Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini, kita akan saling menularkan pengaruh. Yang berantakan bisa terpengaruh jadi rapi, dan yang rapi pun bisa tertular jadi messy.
Kata Bu Elia, pasangan itu saling menginspirasi, dalam hal ini saling mengedit.

Dalam editing, ada yang disebut dengan hard editing dan mild atau light editing.
Kita semua tahu bahwa pernikahan terjadi antara dua manusia yang berbeda.

Ketika kita sesekali mengalami kejadian yang disebut dengan konflik batin, berbda pendapat dengan diri sendiri, berbeda antara harapan dan kenyataan dengan diri sendiri, mengapa kita selalu ingin cocok dengan orang lain—pasangan kita itu kan tetap manusia lain.

Tidak cocok itu biasa, saling mencocokkan diri itu yang perlu perjuangan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika kita merasa bahwa pasangan benar-benar memerlukan editing?

Ini yang bisa kita tanyakan:
Lihat visi dan misi pernikahan. Jika masih terjaga, tenang dulu, jangan buru-buru membatin “kami sudah tidak ada kecocokan.” – ada yang hafal frasa ini?
Ingat, mungkin di antara kita dan pasangan memang ada ketidakcocokan, tapi kecocokan yang lain pun ada, dan ini yang perlu dibangun lagi dan lagi.

Lihat juga urgensinya.
Apakah editing perlu dilakukan sekarang atau nanti saja, ketika kita sudah sama-sama tenang? Apakah ada hal yang memang sebaiknya dibiarkan begitu saja apa adanya—just enjoy the difference, nikmati perbedaannya. Hasilnya, kita tetap jadi manusia mandiri, tetap punya eksistensi personal—ini akan kita bahas kapan-kapan 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Anak Dihantui Bayang-Bayang Sukses Saudara Kandung?

Anna Farida berkata di Kuliah Via WhatsApp Keluarga Sehati:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Mohon maaf terlambat post materi. Ini kulwap ke-115, kita akan membahas tentang menemani anak percaya diri di bawah kesuksesan orang tua atau saudara.

Ada yang pernah cerita begini:
Anak saya yang kedua, sembilan tahun, mendadak ingin les musik karena kakaknya menang lomba musik dan dielu-elukan keluarga besar saat Lebaran. Padaal, dia tidak mau ikut les sebelumnya. Lantas di sekolah, kakaknya diikutsertakan lomba komik dia juga ikut-ikutan mendadak suka bikin komik. Apa pun yang kakaknya lakukan dia ingin lakukan juga, padahal sebelumnya tidak.

Saya jadi sedih, jangan-jangan ini karena saya kurang kasih perhatian ke dia sehingga dia merasa kurang istimewa dibanding kakaknya. Dia suka main game, dan memang menurut saya itu kan bukan prestasi. Mana ada orang mengelu-elukan anak yang doyan main game—kecuali para gamer, tentu. Tapi saya juga tidak ingin dia ikut-ikutan kakaknya karena ingin dapat pujian padahal dia tidak suka kegiatannya. Bagaimana?

Pertanyaan saya (saya = Anna):
Mengapa anak pertama suka (dan dapat dukungan) musik dan menggambar, sedangkan anak kedua suka (dan dapat dukungan) main game?
OK abaikan dulu, isunya bukan itu.
Isunya adalah anak yang ikut-ikutan karena melihat orang lain sukses.

Apakah ini wajar?
Sangat wajar.
Pada tahap tertentu, kakak beradik adalah teman. Pada tahap yang lain, secara natural akan ada yang memimpin dan dipimpin. Tidak selalu yang lebih tua memimpin yang lebih muda–sebagaimana saya menjadikan anak ketiga saya sebagai panutan dalam hal tertentu.

Akan ada saat ketika anak melihat saudaranya sebagai panutan, dan tugas kita sebagai orang tua adalah menemani pemimpin dan yang mengikutinya.

Bagaimana caranya?

+ Berlaku objektif. Yang baik ya disebut baik, prestasi ya disebut prestasi dan diapresiasi. Anak yang suka main game dianggap bukan prestasi padahal dia yang selalu membereskan selimutnya sendiri. Mengapa membereskan selimutnya diabaikan? Secara objektif, ini prestasi. Coba gali kebaikannya, fokus pada itu dulu.

+ Beri peluang. Siapa tahu dia memang tertarik ke musik dan menggambar—kalaupun karena ikut-ikutan, so what? Kok kaya kita nggak pernah melakukan sesuatu karena ikut-ikutan saja, ah #tutupmuka
Biarkan dia ikut-ikutan, lihat perkembangannya, beri peluang padanya. No prejudice.

+ Passion? Bisa jadi passion adalah sesuatu yang memang jadi panggilan jiwa. Tapi, saya juga punya keyakinan bawah passion bisa hadir ketika kita menekuni sesuatu. Mungkin awalnya dia tidak suka musik dan hanya ingin ikut-ikutan. Ketika dia menekuninya, dia bisa jatuh cinta dan jadilah musik passion-nya.

+ Tar dia jadi follower, dong? To follow dan being followed itu alamiah. Kita mengikuti orang lain dalam satu hal dan diikuti orang lain lagi dalam hal lain itu wajar. Selama yang diikuti itu tidak melanggar kesehatan dan agama, biarkan dulu. Beri dia waktu.

+ Sampai kapan? Jika dia memang ikut-ikutan, dia akan berhenti segera. Sayang ongkos, dong, kalau dilesin lantas dia berhenti. Iya, memang sayang. Piye jal? Mau bagaimana lagi? 😀 Sesuaikan dengan anggaran dan kondisi keluarga, beri dia batasan—misalnya tiga bulan.

+ Sabar, lihat dulu, tahan komentar. Beri dia waktu untuk menimbang tanpa didesak, apalagi ketika dia masih dalam waktu percobaan yang tiga bulan itu, misalnya. Hindari pertanyaan “Gimana, ternyata kamu suka atau tidak?”
Dukung, ingatkan dan temani dia latihan, apresiasi gambarnya, ajak kakaknya untuk mendukungnya

+ Jika kakaknya jadi terintimidasi karena merasa ada saingan, kita bahas pada kulwap yang lain.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Beda Hobi dengan Pasangan?

Anna Farida berkata:

 

Salam sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap ke-116, kita akan membahas tentang “Hobiku berbeda dengannya”

Entah kapan, saya pernah menulis bahwa pasangan suami istri itu seperti sandal. Desainnya memang kiri dan kanan, dibuat berpasangan. Satu kiri satu kanan, satu rapi satu berantakan, satu terobsesi dengan diet dan sering gagal, satunya lagi memang doyan makan.

Hobi pun tidak selalu sama, dan ini mesti dikelola supaya tidak jadi perkara.

Suami saya hobi bersepeda. Bagi saya, bersepeda itu buat gaya-gayaan saja. Biar dianggap punya pola hidup sehat, gitu, ahaha. Mimpi dia adalah membawa semua keluarganya bersepeda keliling kota. Baru dua anak berhasil dibawanya dan kapok karena salah satu nyaris tersambar angkot. Bandung kan terkenal dengan lalu lintasnya yang tak peduli jalur sepeda. Belum lagi janjiannya, kapan mereka punya waktu–karena bersepeda itu bisa seharian. Janjian dengan anak zaman sekarang lebih rumit daripada janjian dengan wali kota.

Sejak saat itu dia memutuskan untuk menjalani hobinya sendirian. Mana saya mau diajak bersepeda naik bukit dan menyusuri pematang sawah yang licin. Seram! Kali ini mending setrika, deh, sambil nonton.

 

Kawan saya lain lagi. Suaminya suka sekali burung sedangkan dia tidak suka. Demi memberikan kenyamanan bagi burung-burungnya saat malam, sang suami membuat kandang besar di dalam rumah yang luasnya tidak seberapa. Bahaya kalau di luar bisa sakit atau dicuri, katanya.

Semula dia tidak banyak bicara karena toh burung-burung itu mendatangkan penghasilan ketika anak-anaknya dijual—walau yang dipelihara tetap lebih banyak dengan alasan sayang. Jumlah yang dipelihara makin banyak, makin banyak.

Suatu hari sang istri merasa cukup. This is it.
“Aku keberatan tinggal di kandang burung,” begitu katanya usai sarapan.

Dia merasa dialah yang nebeng di rumah itu, dan burung-burung itu jadi penguasa. Ritme hidup mereka diatur oleh burung yang mereka pelihara—kapan harus makan, kapan harus pergi dan pulang—suami istri ini jarang pergi berdua karena salah satunya harus jaga rumah, atau lebih tepatnya jaga burung.

Saya tidak sempat kasih masukan apa-apa saat dia bercerita, karena kami hanya berjumpa sejenak di antara acara di sela kerumunan.

Setelah sekian lama, kawan saya itu memberi kabar. Semua burung mereka dijual, sebagian lagi masih dititipkan di pet shop, sebagian diberikan ke teman. Kawan saya itu lega setelah perang dingin dengan suaminya sekian lama.
“Rumah kami jadi rumah manusia lagi,” katanya.

“Sip, lah. Kabar suamimu bagaimana?”
“Itu yang mau kutanyakan. Dia sih sekarang punya hobi baru, dan tidak pernah lagi bicara soal burung.”
“Tapi … pasti ada tapinya, kan?”
“Iya. Sejak semua burung disingkirkan dari rumah, rasanya ada yang hilang dari sikapnya padaku. Aku tidak bisa memastikan apa, tapi kadang saat kami bicara, aku merasa ada ganjalan. Aku lega, tapi sekaligus menyesal. Jika dia agak ketus sedikiit saja, aku selalu menduga pasti karena burung-burung yang kuusir itu.”

Memiliki hobi yang berbeda dengan pasangan itu biasa. Kita tidak perlu memaksakan diri suka jika memang tidak suka. Selama tidak melanggar kesehatan dan agama, hobi apa pun boleh, bahkan dianjurkan—pilihan hobinya ditakar-takar saja sesuai anggaran dan kondisi, lah.

Punya hobi itu sehat, dan mendukung hobi pasangan itu menyehatkan pernikahan. Anda tidak suka makan jamur kuping sementara pasangan sangat doyan? Masak saja sesekali buatnya, lantas temani dia makan sambil mengunyah kuping yang lain ahaha.

Anda tidak suka nonton film horor?
Buatkan saja dia minum dan kudapan ketika sedang nonton. Lantas Anda ngapain? Main WA juga boleh 😀

Dibawa enteng saja, tapi jangan dientengin.

Bagi umumnya orang, hobi itu sangat berarti. Beri ruang padanya untuk mengembangkan hobinya, anggap saja itu jeda di antara kesibukan sebelumnya.

Saat Anda mulai keberatan, seperti kasus burung di atas, bahas dengan objektif.
Teman saya itu bisa dengan baik-baik bicara bahwa sebaiknya mereka menabung untuk membuat kandang burung di luar. Rumah tetap nyaman, burung pun riang.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Kenapa Dia Defensif?

Hai sahabat pembelajar, Kulwap Keluarga Sehati ke 110 kali ini membahas sistem pertahanan diri.

 

Langsung saja, ya.

Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu semua.
Mohon maaf, saya terlambat post materi. Kita mau bahas tema pasangan defensif pada kulwap ke-109 ini 😀 –> Mbak Anna suka lupa.

Sebenarnya defensif itu apa, sih?
Secara umum, defensif artinya sikap bertahan. Kita (saya aja, kaleee) melakukan kesalahan tapi tidak mau ngaku dan cari alasan ini itu. Saya telat post materi karena banyak kerjaan, anak saya harus diantar ke sana kemari, air PDAM tidak ngocor, saya mendadak harus belanja karena mau ada tamu.
Padahal, saya tinggal minta maaf. Saya tidak mampu mengatur waktu dengan baik, maafkan saya.
Tapi nanti kan saya kena tuding tidak tertib oleh Mahmud Admin.
Jadi, ketika dia mengingatkan saya untuk post materi, saya bilang dia tidak pengertian, tidak berempati, baperan, daaan sebagainya.
Padahal, saya yang jelas-jelas salah, tapi saya yang duluan marah.
Mungkin punya firasat yang tajam, saya tidak ditagihnya, ahaha.

Errr … ada tidak yang bergaya begitu di rumah?
Marah duluan padahal salah 😀

Kita sesekali defensif karena cemas jika tidak bela diri, nanti kita terlihat salah. Defensif adalah salah satu cara untuk jaim alias jaga image.
Bagi orang yang defensif, komentar miring sedikiiit saja dianggapnya sebagai kritik pedas yang akan menjatuhkan wibawanya.

Jadi, ketika pasangan terindikasi defensif, kita harus bagaimana?
+ Turunkan volume suara, turunkan bahu. Tarik napas, ingat keluarkan lagi 😀
+ Ajak dia bicara dengan suara yang perlahan. Dia sedang merasa tidak aman, merasa buruk atau merasa kekurangannya tersingkap.
+ Alihkan topik pembicaraan, atau cari cara untuk menyingkir sejenak. Pindah ke ruang sebelah saja, jangan ke mall.
+ Jika situasi memungkinkan, manfaatkan kontak fisik—ingat, jangan sentuh bola matanya, bahaya.

Tunggu, tunggu.
Empat hal di atas hanya bisa kita lakukan jika kita sendiri tidak ikut defensif, lho.
Nah, yang paling kenal pasangan kan kita.
Kita hafal benar hal apa yang biasa membuatnya defensif, misalnya ketika ditanya kenapa lupa bawain martabak.
So, cari cara, deh, ya.
Bagaimana caranya agar martabak dapat, dia nggak perlu defensif.
Pesan online?
Beli sendiri?
Bikin sendiri? – ini tidak akan saya lakukan 😀

Kadang kita mengharap banyak hal dari pasangan dan mengajukan tuntutan dengan berbagai cara: kadang caranya bagus kadang tidak.
Seharusnya dia berada pada posisi paling nyaman ketika bareng kita. Seharusnya dia tidak perlu malu mengakui kesalahannya pada kita.

Tunggu.
Jangan-jangan kita (saya saja, kalee) yang memberikan contoh bersikap jaim dan tidak ingin terlihat lemah atau tidak salih/ah di hadapan pasanangan 😀
Akhirnya, dia pun lambat laun mengadopsi sikap yang sama.
Bukankah kata Bu Elia, pasangan itu kan saling menginspirasi.

Eh, btw, suatu saat saya ditanya, “Mbak Anna, Anda itu orangnya defensif, nggak?”
Jika saya spontan jawab “tidak”, saat itu saya sedang defensif 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Buku bisa diperoleh melalui Penerbit Kaifa, atau Mbak Hesti.

Salam takzim
Anna Farida
It always seems impossible until it’s done
http://www.annafarida.com

Gimana, Sih, Prosedur Pengangkatan Anak?

10 November 2017

Jumat siang kali ini bertepatan dengan hari Pahlawan Kulwap Keluarga Sehati yang disponsori oleh Buku Parenting With Heart dan Buku Marriage With Heart membahas tema Pengangkatan Anak.

Kondisi anak yang diasuh atau diangkat di Indonesia masih jauh dari peraturan yang berlaku.

Mari kita cerna informasi berikut ini:

Selamat siang, Ibu dan Bapak semua,

Perkenalkan saya Suratman, seorang suami, dan ayah dari 3 jagoan. Selama ini bergiat di isu perlindungan anak.

Saya diminta oleh admin kulwap Keluarga Sehati, Suci Shofia untuk mengisi materi hari ini.

Mohon menyiapkan waktu sejenak untuk menyimak karena cukup panjang dan serius.

Saya memilih masih banyaknya praktek pengangkatan anak secara ilegal di Indonesia.

*Pengangkatan Anak Yang Legal di Indonesia*

Praktek pengangkatan anak secara tidak semestinya banyak terjadi di tengah masyarakat. Sering kita dengar bayi yang terlantar di rumah bersalin yang kemudian diasuh dan diakui sebagai anak sendiri oleh perawatnya atau warga sekitar yang mau mengasuhnya.

Terdapat juga kasus-kasus dimana ibu-ibu yang terlantar dan hamil, setelah melahirkan kemudian menitipkan anaknya di panti. Anak tersebut kemudian dibesarkan di panti dan diberikan oleh pihak panti ke keluarga lain karena ibunya yang tidak mengambil anak tersebut kembali.

Selanjutnya anak tersebut dibuatkan akte kelahiran oleh orang yang mengasuhnya dimana di dalam kutipan akte kelahirannya dinyatakan bahwa anak itu adalah anak dari orang tua yang mengasuh tersebut .

Keseluruhan proses tersebut terjadi tanpa melibatkan dinas sosial maupun aparat pemerintahan lainnya sebagaimana digariskan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal ini berpotensi memunculkan masalah di kemudian hari karena ketidakpastian status hukum, serta dapat memicu terjadinya beragam pelanggaran hak anak, mulai pemalsuan akte kelahiran hingga praktek jual beli anak dan bayi baik untuk tujuan eksploitasi maupun perdagangan organ serta menempatkan mereka berisiko terhadap segala bentuk kekerasan, penelantaran, dan eskploitasi.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui tentang pengangkatan anak beserta syarat dan tata cara yang telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku agar masyarakat tidak telibat dalam pelanggaran hukum serta lebih jauh lagi, juga sebagai bekal pengetahuan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam memantau indikasi terjadinya praktek pengangkatan anak yang ilegal.

*Apa itu Pengangkatan Anak?*

Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.

Beberapa rambu yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini antara lain:

– Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan terbaik anak dan sejalan dengan adat istiadat yang masih berlaku dan penetapan pengadilan;

– Tidak memutuskan hubungan darah;

– Agama calon anak angkat dan calon orang tua angkat harus sama;

– Pengangkatan anak antar negara sebagai pilihan terakhir;

– Serta orangtua angkat wajib memberitahukan anak angkatnya tentang identitas orangtua kandungnya.

Rambu-rambu ini dibuat untuk memberikan kepastian hukum baik bagi orang tua angkat maupun untuk anak angkatnya, memberikan perlindungan pada hak-hak anak, serta menghindari permasalahan di kemudian hari terkait keturunan, hak waris, status hukum, dan lain sebagainya.

Pengaturan lebih lanjut tentang pengangkatan anak diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak dan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 110 tahun 2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak

Syarat Calon Anak Angkat dibagi dalam 3 (tiga) kategori:

1. Anak belum berusia 6 (enam) tahun merupakan prioritas utama, yaitu anak yang mengalami keterlantaran, baik anak yang berada dalam situasi mendesak maupun anak yang memerlukan perlindungan khusus;

2. Anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan belum berusia 12 (dua belas) tahun sepanjang ada alasan mendesak berdasarkan laporan sosial, yaitu anak terlantar yang berada dalam situasi darurat;

3. Anak berusia 12 (dua belas) tahun sampai dengan belum berusia 18 (delapan belas) tahun yaitu anak terlantar yang memerlukan perlindungan khusus.

Syarat Calon Orangtua Angkat (COTA):

– Sehat jasmani dan rohani

– Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun

– Beragama sama dengan agama calon anak angkat

– Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan

– Berstatus menikah paling singkat 5 tahun

– Tidak merupakan pasangan sejenis

– Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak

– Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial

– Memperoleh persetujuan anak dan ijin tertulis orang tua atau wali anak dan izin tertulis dari orang tua kandung atau wali anak;

– Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak;

– Adanya laporan sosial dari Pekerja Sosial Instansi Sosial Propinsi setempat;

– Memperoleh rekomendasi dari Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota;

– Memperoleh izin Kepala Instansi Sosial Propinsi.

*Tata Cara Pengangkatan Anak*

– COTA mengajukan permohonan izin pengasuhan anak kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi diatas kertas bermaterai cukup dengan melampirkan semua persyaratan administratif Calon Anak Angkat dan Calon Orangtua Angkat;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi/Kabupaten/Kota menugaskan Pekerja Sosial Propinsi/Kab/Kota untuk melakukan penilaian kelayakan Calon Orangtua Angkat;

– Permohonan pengangkatan anak diajukan kepada Kepala Instansi Sosial Propinsi melalui Instansi Sosial Kabupaten/Kota;
Kepala Instansi Sosial Kabupaten/Kota mengeluarkan rekomendasi untuk dapat diproses lebih lanjut ke propinsi;

– Kepala Instansi Sosial Propinsi mengeluarkan Surat Keputusan tentang Izin Pengangkatan Anak untuk dapat diproses lebih lanjut di pengadilan;

– Setelah terbitnya penetapan pengadilan dan selesainya proses pengangkatan anak, COTA melapor dan menyampaikan salinan tersebut ke Instansi Sosial dan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota;

– Instansi sosial mencatat dan mendokumentasikan serta melaporkan pengangkatan anak tersebut ke Kementerian Sosial RI.

– Pengajuan pengangkatan anak ke pengadilan dilakukan oleh COTA atau kuasanya dengan mendaftarkan permohonan pengangkatan anak ke pengadilan.

Bila praktek pengangkatan anak dilakukan secara tidak semestinya seperti gambaran diawal serta tidak mengikuti syarat dan tata cara pengangkatan anak diatas, maka hal itu adalah praktek pengangkatan anak ilegal dan merupakan tindak pidana yang dapat diancam dengan pidana penjara sebagaimana diatur dalam:

– UU Perlindungan Anak, Pasal 79, ancaman hukumannya berupa pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100 juta rupiah.

– KUHP Pasal 277 ayat (1) : Barang siapa dengan salah satu perbuatan sengaja menggelapkan asal-usul orang, diancam karena penggelapan asal-usul, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.”

 

– KUHP Pasal 278: “Barang siapa mengakui seorang anak sebagai anaknya menurut peraturan Kitab Undang- undang Hukum Perdata, padahal diketahuinya bahwa dia bukan ayah dari anak tersebut, diancam karena melakukan pengakuan anak palsu dengan pidana penjara paling lama tiga tahun.”

– Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO), Ketentuan pidananya terdapat pada banyak pasal, misalkan Pasal 2 – 6 dan beberapa pasal lainnya, termasuk pemberatan 1/3 masa hukuman jika korbannya anak-anak.

Mari berdiskusi 😃