Featured

Bincang Panas Mertua Menantu

ilustrasi: alsofwa.com
ilustrasi: alsofwa.com

Alhamdulillah, sudah sampai kulwap ke empat di bulan September 2015. Semakin seru dan asyik pembahasan setiap minggunya dengan tema yang berbeda. Isu seputar pernikahan dan pengasuhan adalah lingkup diskusi di kulwap Keluarga Sehati.

Kulwap Keluarga Sehati kali ini bertema “Mertua Oh Mertua”. Selalu ramai kalau ngobrol soal hubungan mertua dan menantu.

Yuk, simak dengan hati adem dan pikiran terbuka, celotehan Mba Anna Farida dan Ibu Elia Daryati berikut ini:

(Ini yang ngomong Mba Anna Farida).

Salam Sehati,
Maaf, saya terlambat hadir karena seharian nyiapin kemping Ubit (anak ke-3). Rencananya tidak mau ikutan, eeeh ternyata pingin karena teman-temannya ngomporin. Akhirnya Ibu kena bagian cari kayu bakar, ini itu, daaan sebagainya. Curhat.com.
(Ini ceritanya kelas terlambat satu jam, lebih malah, hehehe … karena sibuk mempersiapkan camping buah hati).
Mari kita mulai.

Pertanyaan-1 

Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri dihadapan mertua. Saya suka kikuk dihadapan mertua jika ada ipar.
Ceritanya dulu saya pernah satu rumah sama ipar. Dia nggak banyak bicara sama saya. Tapi dia suka ngadu sama mertua akan kekurangan-kekurangan saya (namanya juga baru nikah, baru belajar). Bahkan saya pernah mendengar ipar-ipar menggosipkan saya dengan seru. (Saya memang lama di asrama jadi agak kikuk dengan urusan rumah tangga). Sepuluh tahun berlalu namun saya tidak bisa percaya diri lagi saat di tengah keluarga besar suami. Saya sedih sekali tiap mengingat masalah ini. Terima kasih.

Jawaban Bu Elia 
Relasi antara menantu, ipar, dan mertua memang selalu punya cerita. Dalam ikatan pernikahan, yang dinikahkan bukan sekadar  raga, namun sekaligus kebiasaan dan pribadi masing-masing. Setiap orang akan mengalami proses adaptasi untuk saling memahami. Siapa yang harus lebih dulu mendekat agar proses adaptasi lebih cepat?

Bisa pihak keluarga yang lebih besar untuk menyambut anggota keluarga barunya, atau bisa dari pihak yang anggota keluaraga baru yang mencoba menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga dari pasangannya.

Setiap orang ataupun setiap keluarga, memiliki daya adaptasi yang berbeda. Bisa cepat atau lambat tergantung kondisi masing-masing. Semakin tinggi tingkat kematangan pribadi dan semakin tinggi tingkat kematangan keluarga, akan semakin mempermudah iklim psikologis keluarga tercapai. Mengingat rasa toleransi dan kemampuan saling memaafkan untuk menghadapi keragaman sudah terbentuk .

Masuklah untuk bergabung dalam keluarga dalam ketulusan. Biasanya akan lebih memudahkan langkah adaptasi kita. Jika kita datang dengan hati, orang akan menghampiri kita dengan hati.

Itulah seni dalam meraih cinta dalam berkeluarga. Agar tidak ada dusta diantara kita. Kita tidak dapat mengontrol perasaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.
Waktu 10 tahun akan menjadi perjalanan indah untuk perubahan pada akhirnya. Selamat melewati masa indah dalam memasuki perjalanan pernikahan belasan tahun berikutnya, dengan episode yang lebih menyenangkan. Pasti Bisaaaa!!!

Jawaban Anna Farida 
Saya cek sambel krecek dari sisi gosip yang didengar dan bikin tidak pede–namanya juga gosip, jarang yang bisa dikonfirmasi langsung. Ini berlaku dalam semua hubungan, dengan ipar maupun bukan, keluarga atau orang lain.

Biasanya, upaya tabayyun malah merembet jadi rasa tidak enak yang lain jika ada pihak yang tidak suka dikonfrontasi.
Jadi, daripada repot menyangkal apa yang digosipkan itu, mengapa tidak berusaha membuktikan yang sebaliknya. Kan kita yang tahu sebenarnya diri kita itu seperti apa.

Pede aja lagi, selama kita baik, berniat baik, berbuat baik. Tidak bisa memuaskan semua pihak itu bukan dosa, kok. Justru kadang digosipkan ini itu bisa bikin kita jadi lebih baik–memang nyebelin, sih, tapi kata Bu Elia, kita tidak bisa mengontrol lidah orang. Jadi ya ambil baiknya saja.
Misalnya, saya digosipkan saya jarang mandi — percaya? — saya akan buktikan bahwa saya tampil selalu wangi.
Itu kalau saya memang rajin mandi. Tapi kalau saya jarang mandi karena sebab tertentu, saya akan buktikan bahwa saya punya banyak kelebihan lain, lho. Biar orang lain (termasuk diri saya sendiri) fokus pada apa yang saya miliki bukan menyesali apa yang tidak saya punyai 🙂

Pertanyaan-2 

Bagaimana sebaiknya saya bersikap di hadapan mertua? Baik itu mertua laki-laki atau perempuan yang ucapannya tidak bisa dipegang. Apakah saya harus menjaga jarak (males rasanya meladeni ucapan yang tidak jelas mana yang benar/salah), atau selalu tabayyun atas setiap ucapan mereka berdua, atau pasang muka semanis mungkin?

Jawaban Bu Elia 
Mertua, jika sudah diikat dalam pernikahan, posisinya adalah menjadi muhrim kita. Statusnya menjadi orang tua kita.
Baik buruk mereka telah merelakan putra/putri tercintanya untuk menjadi pasangan kita. Bentuk rasa syukur dan terima kasih yang bisa kita lakukan adalah membuat mereka bersyukur atas kehadiran kita sebagai menantunya.

Namun harus disadari tidak semua orang tua dan mertua bernilai “A”. Beberapa di antaranya memiliki pribadi yang sulit.
Apakah harus menjaga jarak?

Justru saatnya mendekat, semakin menjaga jarak akan semakin ” berjarak”. Sementara semakin kita mendekat jarak itu akan semakin merapat.
Persolan komunikasi ini dapat dianggap sebagai tantangan atau hambatan, tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Tanggung jawab kita adalah ikhtiar dalam membuat iklim yang enak dalam berkeluarga. Tidak ada yang pernah salah alamat, semua kebaikan akan kembali menjadi kebaikan, demikian juga dengan keburukan. Jadi sebetulnya berbuat baik tidak ada ruginya sama sekali, apalagi pada orang tua dan mertua sendiri.

Pasang muka semanis mungkin apakah perlu?
Yang paling harus adalah pasang muka sewajar mungkin, karena ketulusan tidak akan terpancar dari kepura-puraan.

Jawaban Anna Farida 
Mertua adalah orang tua pasangan kita. Relasi keluarga memang punya tombol ketegangan yang lebih mudah tersulut dibandingkan dengan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Penyebabnya adalah cinta, ehm.

Ketika melihat tetangga mengecewakan, kita bisa menghibur diri, “Ah tetangga, tidak apa-apa.”
Giliran keluarga (dalam hal ini mertua) mengecewakan, kita (kita melulu, aku aja, kalee) akan lebih mudah mengeluh, “Kok Ibu atau Bapak seperti itu, sih?”
Artinya, kita masih menyimpan harapan untuk sebuah relasi yang lebih baik.
Kalau kita melihat keluarga melakukan sesuatu yang menurut kita tidak layak dan kita baik-baik saja, berarti memang sudah mulai tipis rasa cinta di sana.

So, insya Allah masih ada harapan untuk hubungan yang lebih baik. Bisa coba salah satu trik dalam materi.
Jadi … optimis!

Pertanyaaan-3: 

Bapak Mertua saya bersikap dingin setiap saya berkunjung. Memang hubungan kami kurang direstui oleh beliau karena status pernikahan ibu saya yang tidak jelas (ada isu ibu saya perempuan simpanan). Sepertinya beliau khawatir dengan asal usul keluarga kami yang akan mengotori silsilah keluarga besar beliau. Saya pun bersikap tidak simpati terhadap keluarga besar beliau. Meski jarak rumah kami termasuk dekat ( 1 jam perjalanan), tapi saya selalu menolak untuk berkunjung dengan berbagai alasan. Kalaupun harus datang berkunjung, paling lama hanya 5-10 menit saja. Saya sadar, pasangan saya tentunya ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya. Saya terlalu egois ya, Bu. Mohon pencerahannya.

Jawaban Bu Elia 
Judulnya seni merubah persepsi.  Apakah informasi sehubungan dengan keluarga ibu adalah realita atau sekedar opini? Jika itu realita, adalah wajar jika keluarga pasangan kita bersikap seperti itu. Sesanggup apa kita bisa memaksa orang supaya tidak memiliki prasangka atas cerita masa lalu keluarga kita.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan ? Buktikan saja, apa yang mereka sangkakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Energi negatif dan positip tidak pernah seimbang, kecuali salah satu menguasainya. Buktikan saja, “berlian akan tetap menjadi berlian” sekalipun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh lumpur.

Sekali lagi jangan menjauhkan diri apalagi memangkas pasangan Anda untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Hal itu akan semakin menegaskan siapa kita dan memperkuat prasangka mereka terhadap kita. Selamat berdamai, semoga kebaikan akan selalu menghampiri.

Jawaban Anna Farida 
Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari siapa, tapi kita bisa memilih hidup sebagai siapa–wih bagus kalimatnya! Halah!
Kalau ada orang yang bersikap kurang baik karena saya lahir dari keluarga Jawa, Batak, Muslim, punya gigi besar …  ya terserah.
Saya tidak akan ikut bersikap sama dengan mengiyakan sikap itu, apalagi ketika yang melakukannya adalah mertua saya.
Saya tidak akan mengizinkan pandangan yang salah itu ikut mengatur hidup saya. Jadi, saya akan “balas dendam” dengan hidup yang lebih baik. Orang tidak punya pilihan lain kecuali mencintai saya, kangen sama saya, walaupun saya bergigi besar tadi.
Dengan cara ini, saya berharap mertua saya akan melihat bahwa biarpun tidak diperlakukan dengan baik, kok menantunya tetap lempeng saja berkunjung, keluarganya hidup baik-baik saja, anak dan cucunya bahagia.
Kecemasannya bahwa memiliki istri bergigi besar itu merusak silsilah keluarga akan berganti rupa. Semoga.

Pertanyaan-4: 
Mertua laki-laki termasuk orang yang rajin ibadah habluminallah. Saya menantu laki-laki yang kurang rajin beribadah habluminallah. Malas sekali rasanya mau ibadah (sholat). Beliau pun berpandangan negatif tentang saya (menganggap saya tidak bisa mengaji), padahal saya bisa. Juga ada kekhawatiran beliau tidak bisa membawa anaknya menuju jalan ke surga. Padahal saya selalu mengajak keluarga kecil saya untuk tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain, tidak belanja yang berlebihan. Bagaimana sikap yang harus saya ambil?

Ini tampaknya terlewat oleh Bu Elia, saya jawab, ya. Nanti Bu Elia akan susulkan jawabannya.

Jawaban Anna Farida 
Kebijakan keluarga untuk menjalankan ibadah memang bersifat pribadi. Kita bisa memilih cara yang berbeda untuk mendekatkan keluarga kepada Tuhan, dan itu seratus persen sah.
Namun demikian, ketika ada orang tua kita yang jadi khawatir tentang pilihan kita, ada baiknya dijembatani.
Prinsipnya adalah: pilihan kita bisa jadi salah bisa jadi benar, tapi bersikap baik kepada orang tua itu sudah pasti benar.
Saya ada pada posisi memilih membuat hati orang tua tenang. Tentu Bapak boleh berpandangan beda dengan saya.
Jadi, ketika berhadapan dengan orang tua, kadang kebenaran yang kita yakini bisa kita sisihkan (selama tidak melanggar keimanan dan kesehatan, lho!).
Mengalah saja, salat saja

Pertanyaan-5: 
Bagaimana ya kalau mertua tidak menerima kita sebagai menantu, dan membentengi diri dari kontaminasi kita.

Jawaban Bu Elia 

Relasi mertua dan menantu, secara umum selalu dipandang sebagai relasi yang berhadapan bukan berdampingan. Beberapa mengawali relasi dengan kacamata prasangka dan bukan melihatnya dari kacamata syukur.
Baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu.
Sesungguhnya masa dan rasa penolakan akan menipis bersama waktu, sejalan dengan mulai tumbuhnya pengertian pada diri mertua maupun menantu.

Jawaban Anna Farida 
Menerima dan tidak itu kan tidak hitam putih, bukan nol satu. Artinya, dia memiliki rentang, katakan saja 1-10.
Nah, kita ada di angka yang mana? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat angkanya naik? Karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, yang memimpin memang harus kita. Menantulah yang memulai, bukan demi mertua semata-mata, tapi demi diri kita sendiri. Berbuat baik itu kan tabungan buat kesehatan lahir dan batin kita.
Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa perbuatan baik itu tak lain akan kembali ke diri kita. Jadi kita tidak melulu kecewa ketika yang kita lakukan kok nggak ngefek ke orang lain. Kan memang tujuannya memang berbuat baik demi menyuburkan hati kita.

Pertanyaan-6: 
Mau nanya, bagimana cara menyikapi pola asuh yang berbeda dengan mertua? Kami selalu membiasakan anak-anak untuk mengaji dan murojaah selepas sholat maghrib. Namun ketika di rumah neneknya, kebiasaan itu susah diterapkan. Karena selepas maghrib, neneknya udah langsung riweuh (sibuk) mempersiapkan makan malam. Dan semua cucu harus makan saat itu juga.

Jawaban Bu Elia 
Pola asuh yang diterapkan orang tua, sebenarnya tidak akan gugur oleh hal-hal yang sifatnya temporer.
Seperti membangun kebiasaan mengaji.
Kecuali, jika kebiasaan berganti- ganti pola asuh itu sangat sering, baru akan ada efek.
Mungkin kita bisa bicarakan pada ibu mertua pelan-pelan tentang kebiasaan di rumah, tanpa harus memaksa mertua mengikuti kebiasaan kita. Cara yang baik, biasanya akan memberikan hasil yang baik.
Atau sesekali kita yang mengajakak dan mengundang mertua ke rumah dan melihat kebiasaan kita. Mungkin beberapa kali pada beberapa kesempatan. Tanpa harus bicara mereka akan mengerti, nilai keluarga seperti apa yg ada di rumah anaknya
Jadi bukan meminta utk berubah tapi menginspirasi untuk berubah.

Jawaban Anna Farida 
Bagi anak-anak saya, rumah nenek adalah dunia fantasi. Mereka akan bilang begini, “Ibu kan anak Nenek, jadi Ibu harus nurut sama Nenek.”
Saya dengan jelas bicara ke ibu saya bahwa kebijakan saya untuk cucu-cucu mereka adalah ini dan itu, dan mohon bantuan Ibu saya untuk menjaganya.
Mungkin kita akan buka sesi terpisah tentang komunikasi asertif, ya, Bu Elia.

Setelah saya sampaikan baik-baik kebijakan keluarga saya (yang tujuannya adalah demi kebaikan cucu-cucunya juga) ibu saya selalu bilang, “Yang ini Nenek yang atur, yang itu Ibu yang atur. Nenek nggak ikut-ikutan, aturan Ibu tetap berlaku” 😀

Pertanyaan-7 
Bagaimana kalau mertua suka membanding-bandingkan kita dengan menantu lainnya atau bahkan dengan ipar perempuan yang lain?

Jawaban Bu Elia 
Jika mertua membanding-bandingkan dengan ipar, sesungguhnya bukan menjadi masalah.
Jika kita memiliki kualitas diri yang baik,  maka kita akan memiliki kepercayaan diri sebagai pembanding yang baik.
Kalau ini berkaitan dengan kalah dan menang, jadikanlah diri kita menjadi orang yang pantas sebagai pemenangnya. Kemenangan yang hakiki selalu hadir dari pribadi yang baik.
Mertua atau siapapun akan terbeli hatinya pada siapa saja yang memiliki pribadi yang baik.

Jawaban Anna Farida 
Membandingkan itu natural. Ini prinsip yang saya pegang. Saya tidak keberatan dibandingkan dengan orang lain. Biasa aja, tuh.
Saya baru akan meraung jika orang lain maksain saya seperti dia, atau saya dipaksa untuk seperti orang lain.

Benar, kata Bu Elia.
Pede itu penting. Selesaikan hal yang wajib diselesaikan sebagai ibu, sebagai anak, sebagai menantu, sebagai istri. Selebihnya, mau dibandingkan dengan yang lain ya silakan. I’m good, saya baik-baik saja. Cuek, ya? Emang hihi.  Biar ada yang protes trus kita diskusi, deh.

Pertanyaan-8: 
Assalamualaikum … mau tanya,
1. Bila ada masalah dengan suami, apakah boleh kita curhat dengan mertua layaknya curhat pada orangtua kandung?

  1. Bagaimana jika ada perbedaan pola asuh dengan merrua?
    3. Bagaimana cara efektif mengingatkan suami agar tidak “merendahkan” org tua istri?
    Jazakumullah …Jawaban B Elia 
    1. Tentu saja boleh, namun semangatnya untuk mencari solusi bukan sekedar menceritakan kekurangan dan kejelekan suami.2. Anggap saja apa yang disampaikan sebagai masukan. Kebaikan pola asuh yang baik kita referensikan untuk dijalankan. Pola asuh yang tidak baik kita lihat sebagai pembelajaran untuk tidak diteruskan. Pandang saja masukkan mertua secara positif, dengan tanpa mengecilkan peran orang tua sendiri.3. Harus diingatkan siapa pun dia ketika sudah menjadi bagian dari keluarga harus saling menghormati. Hormat kepada mertua sama artinya dengan hormat kepada orangtua. Punya nilai pahala yang besar dan merupakan sikap mulia. Bukankah kita tidak pernah pesan dihadiahkan mertua atau orang tua. Semua semata-mata karena ketentuan Allah. Untuk itu tetap berbuat baiklah.Jawaban Anna Farida 
    1. Boleh banget. Curhat dengan mertua itu cara terbaik untuk menundukkan suami ahahaha. Justru suami akan lebih dekat dengan kita, keluarga besar dekat dengan kita. Salah satu faktor penunjang kuatnya rumah tangga adalah kedekatan kita dengan mertua. Jadi curhat itu perlu, asal jangan bikin ibu sendiri cemburu, huehehe …
    2. Pola asuh yang berbeda sudah kita bahas di nomor sebelumnya ( pertanyaan-6).
    3. Waaaa, selain jawaban Bu Elia yang mak jleb itu, saya mau menambahkan. Orang tua siapa pun tidak boleh direndahkan, apalagi orang tua pasangan. Kita boleh tidak sepakat boleh berseberangan pandangan, tapi tidak untuk merendahkan. Kan pada prinsipnya merendahkan manusia lain itu memang tidak boleh.
    Beda prinsip bisa dibahas, bisa berakhir dengan kesepakatan, bisa berakhir dengan saling menghormati, bisa juga memutuskan untuk tidak saling mengganggu. Tapi memuliakan orangtua sebagai orang tua itu tetap wajib adanya. Rada kuno? Biarin juga ahaha …

    Pertanyaan-9: 

    Gimana kalo mertua lebih suka dekat dengan kita dibanding menantu perempuan lainnya.. Bikin kita disirikkin gitu lah sama yang laen

    Jawaban B Elia 
    Jika mertua lebih dekat, tentunya suatu keberuntungan tersendiri. Namun sesuatu yang berlebihan selalu ada eksesnya.
    Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah, kita menjadikan kedekatan dengan mertua untuk dijadikan mediator mendekati ipar-ipar yang lain agar mereka memiliki kedekatan yang sama dengan mertua
    Bukan merapat kepada mertua dan berjarak dengan ipar. Kita bisa memiliki posisi di tengah sebagai mediator itu sendiri. Lambat laun kebersamaan dalam berkeluarga akan tercapai

    Jawaban Anna Farida 
    Bilang ke ipar yang lain, “Lakukan apa yang kulakukan, atuh, lah!”
    Ungkapan bahasa Arab bahwa ipar adalah maut itu memang benar, menurut saya. Maut artinya berbahaya jika berduaan dengan ipar (beda jenis kelamin), bahaya juga jika salah komunikasi dengan ipar–ini fakta horornya.
    Namun demikian, kita juga wajib mengerti bahwa kita itu masuk ke sebuah keluarga sebagai orang asing yang tiba-tiba hadir, lho.
    Ketika mertua jadi dekat seolah merebut perhatian orang yang sudah punya status quo, ya wajar kalau ada reaksi panas.
    So, atur-atur, stel kenceng, stel kendur. Atur iramanya, gunakan trik yang sama dalam mendekati mertua untuk mendekati ipar kita
    Pasti bisa. Mertua aja lengket apalagi ipar.

    Pertanyaan-10: 
    Bagaimana kalau mertua angkat ingkar janji mau kasih rumah dan sawahnya karena mertua angkat menikah lagi?

    Jawaban B Elia 
    Kalau mau mengacu pada ketentuan agama, mungkin sanksinya dosa karena ingkar janji.

    Janji merupakan ikatan manusia dengan Allah. Persoalannya apakah perjanjian itu tercatat secara hitam putih disertai materai dan saksi. Baru memiliki kekuatan hukum. Jika hanya pernyataan lisan, itu tidak mengikat hanya ingkar janji. Kita tidak bisa menuntutnya.

    Apa yang bisa lakukan adalah mengingatkan saja. Jika akhirnya memberi itu memang rezeki kita.
    Patokan nya itu tadi, jika ada bukti tertulis disertai saksi, baru memiliki kekuatan hukum dan dapat diperkarakan sesuai ketentuan nya.

    Jawaban Anna Farida 
    Siapa pun yang berjanji dan ingkar ya tidak asik, lah.
    Apalagi kan ini tidak ada bukti tertulis, dan manusia bisa berubah kapan saja. Jadi, setelah diingatkan dan tidak ngaruh, ada baiknya diabaikan. Fokus pada apa yang bisa kita raih, bukan memikirkan terus apa yang lepas dari tangan.
    Energi yang hadir akan jauuuuh lebih positif.
    (Ini nulisnya sambil mbatin: pasti ada yang komen, “Bu Anna sih nulisnya gampang, tapi aku nerimanya nyesek) 😀
    Serius, beneran.
    Manusia itu bukan tempat bergantung yang valid. Trust me!

    Pertanyaan-11:

    Ada teman yang mengibaratkan  perempuan yang paling bahagia di dunia adalah tidak mempunyai mertua. Saya menikah dengan anak bungsu 10 saudara. Kakak ipar kebanyakan laki-laki dan tidak ada yang dominan. Bagi saya pengalaman dan pertanyaan berharga sebagai informasi dan referensi, selebihnya saya mencari pola sendiri.

    Jawaban Anna Farida

    Biasanya menurut sinetron (halah tidak sahih banget rujukannya), yang bermasalah ipar dan menantu perempuan. Tontonan yang menurut saya menyesatkan karena memberikan label buruk pada hubungan ipar-menantu.

    Hubungan antar manusia (yang ada hubungan keluarga atau tidak) pada dasarnya sama, walau rentang keteegangan dan rasa sayangnya berbeda.

    Jadi, kalau hubungan kita dengan ipar atau mertua error, itu bukan sekedar karena mereka mertua atau ipar, melainkan karena karakternya memang kurang klop dengan apa yang kita harapkan.

    Lugasnya, mereka nyebelin atau baik, bukan karena mereka mertua atau ipar, tapi karena sebagai manusia mereka nyebelin atau baik, atau kita yang nyebelin.

    Dengan cara pandang ini, kita bisa melihat orang dengan lebih objektif, tidak berprasangka duluan bahwa ipar dan mertua itu rawan masalah.

    Ipar saya laki-laki semua. Eh, tapi istri ipar-ipar kan perempuan juga ya? Hehehe …

Pertanyaan-12

Seberapa besar prioritas kita pada keluarga inti sendiri dengan keluarga mertua? Saya dan suami bekerja keras membantu menafkahi mertua yang satu rumah dengan adik kandung, ipar, dan angkat, masing-masing sudah ada anak. otomatis mereka juga menjadi tanggungan kami. Tapi mereka bukannya menabung malah membeli barang yang mereka inginkan. ibu mertua mengamini saja.
Jawaban Bu Elia

Tanggung jawab keluarga terhadap keluarga inti itu tentunya utama. Namun memuliakan orang tua juga merupakan kewajiban yg harus dipenuhi oleh anak.
Adapun dalam pengaturannya, memakai skala prioritas. Kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder, dan tertier.
Salut saya dengan kelapangan hati keluarga Ibu dalam menanggung segi finansial mertua dan ipar. Tentunya memerlukan kelapangan finansial dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Akan tetapi, sesungguhnya tanggung jawab yang harus dipenuhi adalah kebutuhan primernya. Hal Ini tidak bisa ditawar karena menyangkut hajat hidup. Adapun pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tertier perlu didiskusikan .
Untuk kebutuhan yang ibu anggap kurang berkenan, sebetulnya bisa di sampaikan dengan cara yang bijak. Agar tidak salah dalam penerimaan, mengingat hal ini cukup sensitif.
Untuk itu atur dalam pemberian tunjangan sesuai kebutuhan, sambil ibu siapkan sebuah tabungan cadangan sebagai dana dan dikeluarkan jika ada yang urgen dan mendesak.
Manfaatnya, ibu bisa memberi pas sesuai kebutuhan, skaligus memiliki cadangan dana yang tidak dihambur-hamburkan.
Insya Allah, semua tunjangan yang ibu berikan kepada mertua dan ipar akan digantikan berlipat-lipat. Dengan catatan semoga keikhlasannya selalu terjaga. Aamiin.

Jawaban Anna Farida

Tentu setiap keluarga punya anggaran yang berbeda-beda. Ada yang masih berjuang dengan keperluan kelluarga initi, ada yang lebih leluasa sehingga bisa berbagi dengan anggota keluarga yang lain.

Dari pertanyaan di atas, tersirat bahwa keluarga inti masih belum tercukupi keperluannya (walaupun kata tercukupi ini sangat sangat relatif). Dengan ungkapan saya dan suami harus bekerja keras, sementara keluarga yang dibantu justru menggunakan bantuan itu untuk keperluan yang bukan primer, terlihat bahwa membantu keluarga seperti ini bukan prioritas.

Perjelas, bantuan apa yang diberikan dan untuk siapa. Sampaikan kepada mertua bahwa Ibu juga punya tanggungan lain, yaitu cucu-cucu beliau. Atau calon cucu jika belum ada. Jadi sampaikan komitmen bahwa Ibu hanya akan mengantar beras 2 karung per bulan, misalnya. Atau Ibu yang akan membayar tagihan listriknya.

Sesuaikan dengan kemampuan. Penuhi komitmen ini dengan setia, mintalah maaf karena belum bisa memenuhi keperluan yang lain. Salut, Bu. Bersedekah yang terbaik adalah kepada keluarga terdekat.

Pertanyaan-13
Assalamu’alaykum, Bapak mertua saya termasuk orang yang keinginannya terhadap materi (jumlahnya relatif tidak sedikit) harus selalu terpenuhi. Kapanpun diminta harus selalu siap sedia. Sekali saja permintaannya ditunda pasti esoknya akan cemberut berlama-lama, terlebih kepada saya karena menganggap saya yang menahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Padahal kadang saya tidak tahu menahu. Masalahnya apa yang beliau minta di luar kesanggupan kami. Suami termasuk orang yang susah berkata tidak,dan akan selalu berusaha mewujudkannya apapun dan berapapun itu. Salut untuk suami walaupun kadang saya merasa kasihan. Saya mengerti kalau mereka berhak untuk mendapatkan semua itu dari anak laki-lakinya dengan atau tanpa sepengetahuan saya. Terakhir saat berkunjung kemarin beliau merengek minta dibelikan sebuah mobil yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana menyikapi keadaan ini terutama mengkomunikasikannya kepada suami kalau perhatian itu tidak sebatas materi.Terimakasih.

Jawaban Anna Farida

Konsepnya relatif sama dengan pertanyaan-12. Sebagaimana yang disampaikan Ibu Elia, buatlah skala prioritas bersama suami. Apa yang wajib didahulukan, mana anggaran yang tidak bisa diganggu gugat, mana yang bisa disisihkan untuk keperluan lain.

Sebaiknya, mertua memiliki pos anggaran tersendiri yang perlu didahulukan—jumlah dan bentuknya yang perlu dibahas. Memang tidak harus selalu berupa uang. Saya cenderung memilih anggaran yang jumlahnya bisa diperkirakan, karena itu di atas saya mencontohkan tagihan listrik—saat ini kan listrik jadi kebutuhan primer selain charger hape :p.

Nah, sampaikan kepada suami keperluan bulanan keluarga inti, berapa pemasukan yang diperoleh keluarga, dan berapa yang bisa dianggarkan untuk mertua.

Sekiranya cukup leluasa, alhamdulillah—sungguh tidak ada ruginya membuat senang orangtua, walau kadang menurut kita mengada-ada. Namun demikian, jika anggarannya tidak ada mau bilang apa?

Lihat kembali apakah itu kebutuhan primer, misalnya yang menyangkut kesehatan, atau kesenangan yang bisa ditangguhkan entah sampai kapan.

Prinsipnya, hubungan baik harus tetap dijaga. Saya angkat tangan tinggi-tinggi jika berurusan dengan orang tua dan mertua. Kadang kita benar, tapi kebenaran tidak harus selalu disampaikan secara telanjang tak perlu terang-terangan mengkritik mertua, tak perlu mengeluhkan sikap beliau dihadapan suami. Tanpa kita angkat bicara pun suami tahu, kan?

Daripada mengeluhkan sikap beliau, ajak suami mencari cara lain untuk menggantikan keinginan mertua memiliki ini itu dengan perhatian yang lebih—karena itulah yang kita miliki dan tak terbeli.

Pertanyaan-14

Bagaimana menyikapi ibu mertua yang perfeksionis.Padahal setiap menantu punya kekurangan. Bagi beliau kekurangan tersebut selalu dibicarakan seolah-olah kebaikan tertutup oleh segunung kekurangan.

Jawaban Anna Farida

Dalam beberapa jawaban terdahulu kita sudah membahas tentang berpikir terbuka. Pada dasarnya semua orang ingin kita jadi tetangga yang sempurna. Anak kita ingin jadi orangtua yang sempurna. Suami atau istri ingin kita menjadi pasangan sempurna.

Kadang menantu adalah orang lain yang mendadak masuk dalam lingkaran keluarga, alarm waspada tentu langsung menyala. Alarm itu lambat laun reda setelah menantu membuktikan bahwa yang dicemaskan ternyata baik-baik saja.Diomongin tapi cuek saja, tetap ramah, tetap berkhidmat pada mertua, tetap santun pada ipar. Tetap ribut cerah ceria dalam acara keluarga, tetap terlibat dengan baik-baik dan tidak ikut “gila” dalam kesempurnaan.

Mertua saya nun jauh di Papua. Paling lama beliau tinggal dua bulan di rumah saya. Banyak kebiasaan saya yang menurut beliau buruk (saya tidak perlu sebut, ya), dan saya berusaha mengubahnya. Awalnya karena pingin beliau tenang, lama-lama, eh saya pikir tidak ada salahnya dijadikan gaya hidup setelah beliau kembali ke Papua.

Penasaran?

Misalnya, enam tahun yang lalu beliau berkunjung dan bilang tidak suka melihat kebiasaan saya menggantung pakaian di balik pintu. Alasannya sederhana, “pamali” atau “tabu”, Bahasa Jawanya “ora ilok”. Saya turuti sambil bilang, “Okay, Ummi, siap!”

Setelah beliau pulang, kebiasaan saya menggantung baju di belakang pintu juga lenyap, entah mengapa.
Semoga setelah membaca rangkuman di atas, yang sudah memiliki hubungan baik dengan mertua, semakin lengket sama mertua masing-masing. Bagi yang masih panas dingin alias sumer-sumer (dari kata summer kali ya?), semoga segera membaik. Yang nggak pernah merasakan punya mertua, baik-baik sama orangtua ipar, teman, sahabat. Yang belum punya mertua semoga segera memiliki mertua. Biar tahu asyiknya punya mertua. Jiaahhh!!!

Lockdown dan Titik Kesetimbangan

Jumat, 3 April 2020

Kuliah via WhatsApp Keluarga Sehati yang sudah berusia 5 tahun ini membahas isu yang masih terkait dengan kondisi pandemi Covid-19.

Banyak keluarga bisa memilih diam di rumah lalu apa yang terjadi setelah memasuki minggu ke tiga?

Untuk yang suka dan memang waktunya lebih banyak di rumah, bisa jadi tidak terlalu besar pengaruhnya. Beda untuk yang terbiasa 9 to 5, atau keliling dunia bertemu banyak orang, atau memang pribadi yang dinamis.

Kuy, simak pemaparan dari narasumber tetap kami, Mbak Anna Farida.

Anna Farida berkata:

Salam sehati, Bapak Ibu. Ini Kulwap ke-206. Masih dalam suasana penuh doa agar pandemi berlalu segera, kita akan membahas tema “Titik Kesetimbangan”.

Biar gaya kita buka KBBI dulu.
timbang1 » ke.se.tim.bang.an
⇢ Tesaurus
n hal (keadaan, sifat) setimbang; keseimbangan
n ketenangan (pikiran, batin); kemantapan (keadaan): ia dapat memikirkan keadaan dirinya sendiri dan menetapkan ~ pendirian dan sikapnya kembali

Dua tiga minggu ke belakang, kita—sedikit banyak—mengalami guncangan. Dalam level yang berbeda-beda, tatanan keluarga mengalami perubahan.
Saya, misalnya.
Saya veteran pekerja rumah. Kantor utama saya adalah rumah, dan pada saat-saat tertentu saya benar-benar jadi penguasa rumah. Saat anak dan suami beraktivitas di luar, saya punya me time yang benar-benar me time.
Suami saya punya him time, anak-anak punya them time. Mereka bisa melepaskan diri sejenak dari cengkeraman saya.

Kemudian datang kebijakan bekerja dan sekolah di rumah. Kami jadi harus bersama-sama 24 jam.
Awalnya tentu menyenangkan. Saya belanja aneka bahan makanan, dan menyiapkan segala macam persiapan pembelajaran di rumah.
Saya yang biasa kerja di rumah tenang saja dan yakin tidak akan terpengaruh.
Toh ini yang saya lakukan sehari-hari.

Ternyata kejadiannya tidak semudah itu.
Seminggu dua minggu berjalan. Kami saling menyesuaikan diri dan saling menjaga suasana, dan itu ternyata menghabiskan energi—terutama energi saya sebagai manajer rumah. Bertepatan pada minggu itu, saya sedang menghadang beberapa pekerjaan. Yang SMP dan SMA mengeluh karena mendadak banyak tugas—ini perlu dimaklumi karena guru pun kaget dengan situasi ini dan cara darurat termudah adalah memberikan tugas. Yang mahasiswa mulai resah karena biasanya sebelum UTS dia belajar bareng sama teman-teman, dan belajar online bukan pilihan asyik

Kepada siapa semua keluhan itu dialamatkan?

Tentu kepada kita, orang tua mereka.
Nah … setelah dua tiga minggu, apakah kita masih punya energi?

Kemungkinannya ada dua.
Kemungkinan yang pertama adalah kita sudah sampai pada titik kesetimbangan.

Secara sederhana, ketika kondisi yang biasa kita miliki diguncang oleh sesuatu, misalnya hadirnya atau keluarnya anggota keluarga karena kematian atau sebab lain, anggota keluarga yang sakit, atau mendadak dirumahkan seperti saat ini, kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai cara. Ada yang mudah ada yang sulit, ada yang sambil tertawa ada yang harus menangis. Masing-masing keluarga memiliki kekhasan.

Nah, pada saat kita memutuskan baik secara sadar maupun tidak, disukai maupun tidak, menerima bahwa inilah kondisi yang harus dijalani, tampaknya kita sudah menemukan titik kesetimbangan baru.
Artinya, guncangan telah berlalu atau kita sisihkan demi mendapatkan ketenangan baru. Kita menjadikannya titik pijakan baru tanpa lagi menyalahkan kondisi yang ada.
We dance with the storm, lah, bahasa kerennya.

Kemungkinan kedua adalah kelelahan.
Setelah dua minggu penuh energi dan penuh semangat, misalnya, mungkin di antara kita mulai ada yang “nglokro” alias kehabisan energi.
Dalam berbagai kasus lain, guncangan mendatangkan dampak yang berbeda-beda, dan kita pada posisi tidak bisa segera menyesuaikan diri.
Akibatnya, energi yang harus keluar pun berlipat ganda.
Pertama kita harus bertahan. Kedua, kita melawan. Kita tidak terima kondisi ini dan menghabiskan banyak energi untuk mencari jalan keluar yang tak kunjung diperoleh.

Bagaimana mengenalinya?
Lihat diri kita. Lihat pasangan kita. Lihat anak-anak yang berada dalam pengasuhan kita.

Lihat apakah mereka masih berani mengeluh pada kita?

Apakah mereka masih berani mengomel dan berkata tidak suka?

Atau mereka terlihat menahan diri demi menjaga perasaan kita?

Atau mereka berusaha menjauh dari kita secara fisik? – Ini saya aman.

Soalnya rada susah dilakukan orang di rumah saya karena rumahnya kecil, haha. Kalau mau menjauh kudu naik ke jemuran.

Nah, mari amati.
Komplain, keluhan, rengekan, curhatan, pada masa gamang seperti ini adalah hal wajar. Apakah merek masih menyampaikannya pada kita?

Mari kita berdiskusi.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Diskusi Selective Mutism

Jumat, 19 Maret 2020

Minggu ini, di masa social and psychical distancing ada sharing dari teman penulis, Sitatur Rohmah. Beliau akan berbagi cerita tentang bukunya Selective Mutism.

Apa tuh? Baru denger. Langsung saja ya.

[3/19, 6:03 PM

Berikut info penulis buku Selective Mutism.

Nama lengkap : Anik Sitatur Rohmah
Nama pena : Sitatur Rohmah
Status ; IRT 4 anak ( 2 putra 2 putri)
Domisili : Solo

Akun sosmed :
Instagram : https://instagram.com/sitatur_rohmah
Facebook : https://facebook.com/sitatur
Twitter : https://twitter.com/sitatur
LingkedIn:
https://www.linkedin.com/in/sitatur-rohmah-804825196
Blog : https://www.sitaturrohmah.com
https://www.kompasiana.com/sitatur

Facts About Me :
* Mulai menulis sekitar Agustus 2018
* Ikut banyak training penulisan karena merasa terlambat masuk dan butuh berlari cepat mengejar ketinggalan. Mungkin udah sekitar 20 training, sebagian besar ikut di Joeragan Artikel.
* Awalnya nulis artikel ( media online, content writer dan media cetak)
Cohtoh naskah terbit :
https://m.solopos.com/news/read/20190629/525/1001423/sikap-logis-menghadapi-zonasi-sekolah

http://news.detik.com/read/2019/07/19/130138/4631071/103/kasus-kematian-anak-di-tangan-ibunya

Setelah itu berlanjut ke nulis buku, dan bablas jadi blogger.

* Antologi terbit baru 10 ( terbit di Joeragan Artikel, Pejuang Literasi, Najmubook, One Peace Media, Nurul Amanah Publishing)
* Antologi yang baru cari jodoh penerbit ( maunya mayor ☺☺☺) ada 5.
* Buku solo baru 1 ” 365 Hariku Bersama Ananda” terbit mayor di Metagraf ( Tiga Serangkai)
* Beberapa kali ikut lomba blog tapi belum pernah menang. Kalau challenge-challenge menulis sih (bukan giveway by tag) sering menang, hadiahnya dari buku, voucher training, jilbab, sampai DP Umrah 1 juta.
* pernah juara 1 lomba artikel tema ekonomi syariah, diselenggarakan Kopontren Daarut Tauhid Bandung.
http://www.kopontrendt.co.id/profil/?page=post&id=103

* Kegiatan saat ini serius nge-blog dan lanjutin naskah buku solo kedua semoga lolos penerbit mayor.

Anna Farida: Selamat datang, Sita.

Ini ruang berbagi kami, isinya ayah dan ibu pembelajar 🙂 Saya serahkan kelas ini padamu hingga 22.00 WIB.

Aturan main umum sudah disampaikan Mahmud Admin Suci Shofia, selebihnya use your imagination.

Anna Farida: Teman-teman ini Mbak Sita. Diskusi kita mulai 20.00 WIB 🙂

Sitatur Rahmah: Assalamualaikum ayah ibu pembelajar. Terima kasih ibu Anna Farida, yang sudah mengizinkan saya bergabung dengan ayah ibu pembelajar di sini.

Ayah ibu, salam kenal untuk semua. Saya Sita, tinggal di Solo, ibu 4 putra putri (2 cowok 2 cewek) yang sulung kelas 3 SMP dan bungsu kelas 3 SD.

Profesi utama saya ibu rumah tangga, kalau pas ada waktu saya menulis buku dan blog.

Baiklah, saya ingin berbagi cerita dan pengalaman saya tentang Selective Mutism. Saya juga baru dengar sekitar 1.5 tahun yang lalu.

Anak saya ke dua saat itu mengikuti psikotes di SMP ( awal kelas 7. Saat ini dia kelas 8). Ini anak kedua kami, jenis kelamin laki-laki. Saya cerita kebiasaan dia bayi hingga balita ya, untuk memberi gambaran dan mencari tahu dari mana kira2 ia mengalami apa yang disebut selective mutism ini. Sewaktu bayi, dia lahir normal. Dibawah 1 tahun dia sering sakit batuk pilek, berat badan dia pun di bawah rata-rata berat badan normal anak seusia dia.

Karena sering sakit, kami membatasi bepergian supaya menghindari terpapar kuman.

Jadi kami jarang ke mall, atau ke tempat wisata. Paling-paling pergi ke rumah ibu saya yang masih satu kota.

Kebiasaan jarang pergi-pergi ini berlanjut karena adik-adik dia lahir dalam waktu yang cukup dekat. Makin repot kan, pergi2 bawa 4 anak kecil-kecil.

Barangkali dari kebiasaan yang kurang tepat inilah 3 dari 4 anak kami cenderung pemalu. Nah, untuk sementara ini sifat pemalu pada kebanyakan orang terkadang dianggap positif karena dikaitkan dengan adat kesopanan ala orang timur.

Anak kedua saya mulai tampak sedikit aneh ketika masuk sekolah ( PAUD). Dia lebih suka main sendiri dan jarang berinteraksi. Terkadang ngambek dan nggak mau sekolah (padahal anak yang lain sakit aja pengennya nggak bolos).

Guru2 bilang anak saya hanya pendiam tapi soal tugas dan pekerjaan sekolah nggak ada masalah.
Kami pikir nggak ada masalah, dong karena kalau di rumah dia bertingkah seperti kebanyakan anak seusianya. Usil, iseng, kreatif dll.

Rupanya diam ini masih berlanjut ketika dia masuk SD. Saat itu kami sudah mulai khawatir, harusnya kan nggak gitu. Karena di rumah ia baik-baik saja.

Kami minta assesment ke psikolog di sekolah. Kebetulan anak kami sekolah di SD Inklusi dimana Anak berkrbutuhan khusus berbaur dengan anak lain di kelas yang sama.

Dari hasil “pengamatan dan pemeriksaan” psikolog sekolah anak saya normal ga ada masalah. Tetapi saat itu kami minta ia diberi guru pendamping. Kami kan khawatir kalau ia tertinggal pelajaran atau mengalami gangguan pada proses belajar mengajar. Pendampingan ini (atas permintaan orang tua) berlangsung sampai kelas 6 SD.

Jadi guru pendamping ini terkadang menjadi seperti juru bicara jika anak saya memang tidak mau bicara/ menjawab pertanyaan guru atau setor hafalan. Beberapa tugas dikerjakan di rumah dan (khusus anak saya ) boleh direkam dan hasilnya dikirim ke guru pengampu ( terutama guru agama, untuk tugas praktik hafalan)

*jika ada pertanyaan silakan menyela ya.

Jadi sampai kelas 6 itu kami juga merasa kalau anak kami hanya sangat pemalu. Di rumah, dia bersikap wajar, bahkan cenderung cerewet, tukang komentar lah. Segala hal yang dia lihat di sekolah dia ceritakan semua di rumah.

Kalau saya tangkap sih, ia detil dalam mengamati sesuatu. Misal tentang temannya, ia cerita baju yang dipakai, peci atau sepatu, bahkan alat tulisnya. Atau kebiasaan anak tersebut di sekolah.

Jika ada kasus di sekolah ia juga cenderung seperti detektif. Ia mengaitkan peristiwa satu dengan lainnya untuk menarik kesimpulan menurut dia.

Hasil prestasi belajar biasa-biasa saja, karena beberapa mapel pernah ada yang kosong nilainya. Seperti Seni Budaya ( praktik menyanyi), dan mapel lain yang butuh berbicara.

Oh iya, ia melarikan diri dari hiruk pikuk kelas di perpustakaan. Tiap istirahat, menunggu waktu sholat, atau terkadang kalau dia tidak suka guru yang mengajar saat itu, dia kabur ke perpustakaan. Kata dia semua buku di perpus SD sudah dibacanya.

Pada saat menjelang UN saya tantang dia. Kata saya, ini kali terakhir dia bisa buktikan seperti apa dia sebenarnya. Saya bilang dia pintar tapi tidak mau nunjukin ke guru… dia setuju belajar giat untuk UN. Hasil UN bikin semua guru tercengang. Kalau biasanya dia rangking 60an dari 90 anak. Nilai UN berada di posisi 11.

Hasil ini ternyata mendongkrak percaya dirinya. Alhamdulillah
*bukankah di UN tidak ada ujian praktik? Hehe ini trik saya kala itu supaya dia bisa lebih pede.

Mulai masuk SMP dia sekolah di yayasan yang sama dengan SD nya. Tetapi sewaktu masuk dia di test kemandirian dan kemampuan akademik. Hasilnya dia tidak butuh pendampingan seperti ketika di SD.

Pada awal kelas 7 itu pula ada test psikologi yang dilakukan oleh universitas di Solo. Dari situ kami tahu, ada istilah Selective Mutism.

Langsung saya googling. Saya hanya mendapatkan sedikit referensi dari Indonesia. Beberapa terbitan majalah atau media online. Itupun kurang lengkap buat saya. Saya belum puas dengan hasilnya. Saya cari referensi dari luar. Ketemukan jawaban saya apa itu selective mutism.

Nah, selective mutism adalah kondisi dimana Anak totaly diam di tempat yang dia pilih. Bisa sekolah atau tempat lain. Sementara di rumah 100% normal. Bicara cerita dll.

https://instagram.com/selectivemfi?igshid=4l7h7k0qfgq4

Ini LSM yang banyak memberi gambaran tentang SM, mengapa terjadi, dan gara-gara sederhana menangani.

Normalnya SM hanya dialami anak usia pra sekolah hingga 8 tahun atau hingga akhir SD. Tetapi pada beberapa kasus masih dialami ketika anak SMP bahkan ketika sudah lulus kuliah. Yang saya baca sih orang Canada ( cewek, 36 tahun)yang sampai terganggu pekerjaan dan perjodohan.

Dari sini saya mulai mempelajari bagaimana menangani anak dengan SM dan bagaimana membantu dia sembuh.

Rupanya kepercayaan diri yang baik akan membantu ia berani bicara.

Niar: Butuh pengobatan atau hanya konseling, Mbak?

Sitatur Rahmah: Hanya konseling. Saya sebenarnya sempat konsultasi dengan psikiater juga. Kebetulan dia teman saya, tapi nggak lanjut ke pemeriksaan.

Konseling itupun oleh saya. Bukan anaknya, karena ketika dia tahu dia “dikonsultasikan” dia akan marah, makin mogok bicara.

Makanya saya juga diam2 tuh konsul ke psikolog. Tapi memang saya lebih banyak cari referensi dibandingkan konsultasi.

Niar: Oh jadi tips and trick dari psikolog ke ortu, nanti ortu yg terapkan ke anak, gitu mbak?

Sitatur Rahmah: Oh iya.. kan di SMP awal dia udah mulai mau bicara di kelas. Tapi ketika dia dibully dia mogok lagi. Betul. Ada saran2 bagaima menghadapi anak ini.

Ini terjadi kelas 7 pertengahan sampai kelas 8 pertengahan.
Alhamdulillah kondisi saat ini dia sudah bicara normal dengan teman2, mengapa dan bertanya pada guru, dll.

Tuti Herawati: Mbak @⁨Sitatur Rahmah⁩ , boleh tqnya ya.. 🙏🏻

1. Di sini disebut “membantu dia sembuh”. Apa ini berarti SM adalah satu penyakit?

2. Ketila si anak hanya berbicara di tempat yang dia pilih, itu *pilihan sadar* si anak atau bukan (ada sisi psikologis yang tanpa dia sadar, pilihan itu terjadi)?

Sitatur Rahmah:

1. Di sini disebut “membantu dia sembuh”. Apa ini berarti SM adalah satu penyakit?

Lebih tepatnya gangguan. Karena kalau ini disebut penyakit kan sifatnya tidak menetap. Malah ini dibawah kontrol dia kan? Kapan ia bicara kapan ia diam.

2. Ketika si anak hanya berbicara di tempat yang dia pilih, itu *pilihan sadar* si anak atau bukan (ada sisi psikologis yang tanpa dia sadar, pilihan itu terjadi)?

Sadar dan itu dia yang seleksi. Di tempat yang baru sama sekali dia malah lebih berani bicara. Misal bertanya arah ketika kami pergi, dia mau dan berani. Tapi tanya PR ke teman, dia nggak mau.

Oh iya, menurut psikiater SM bukan ABK. Karena gangguan ABK kan menetap. Sedangkan SM hanya pada situasi tertentu yang ia seleksi. Itulah kenapa istilahnya selective mutism. Mutisme yang terseleksi oleh yang bersangkutan.

Tuti Herawati: Membaca cerita Mbak @⁨Sitatur Rahmah⁩, saya jadi teringat Bungsuku yang waktu dia PG dan TK A, gurunya bilang dia pemalu. Saya merasa aneh dengan ucapan gurunya karena di rumah dia sangat _talkative_. Ini termasuk SM bukan, ya? 🤔

Alhamdulillah sih sekarang mah (kelas 3 SD) sangat lincah, segala ditanya dan dibahas. 😊

Sitatur Rahmah: Nah, supaya SM tidak dialami anak lain, saya menyusun buku tentang SM ini. Dimana prevalensi di seluruh dunia sekitar 4-7 %. Sedangkan di Indonesia angka ini belum diukur. Karena tidak banuak kasus yang dilaporkan.

Niar: Mbak, adakah parameter khusus dan spesifik yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan seorang anak SM?
Karena kalau orang kebanyakan mungkin akan menamakan anak seperti itu sebagai pemalu, atau cuek, atau senang menyendiri atau malas gaul atau pilih2 teman…

Sitatur Rahmah: Bisa jadi iya mbak. Tapi nggak masalah kan, karena dia sudah hilang ketika usia 8 tahun. Usia dimana pemahaman anak makin luas.

Tuti Herawati: SM tidak akan datang lagi ya, Mbak, kalau sudah teratasi di usia tertentu?

Sitatur Rahmah: Ada. Menurut psikiater yang saya wawancara untuk buku saya,
Batasan anak dikatakan atau masuk kategori SM adalah 1 bulan sejak dia masuk lingkungan baru. Misal sekolah baru, kelas 2 SD gitu. Jika setelah satu bulan dia masih diam dan membatasi berkomunikasi dengan orang lain, sudah bisa dikatakan mengalami SM.

Wiana Anarita: Atau jago kandang…😊

Sitatur Rahmah: Nah. Istilah kita kan ini ya. Tapi anaknya pasti protes kalau dibilang gini.

Niar: Nah iya.. Kadang ortu sendiri melabeli anaknya begini kan.

Sitatur Rahmah: Saya cerita salah satu peristiwa ya…
Pas saya jemput, saya tanya apa saja dia nggak jawab. Cuma kasih kode ajak cepat pulang. Jarak 500 meter dari sekolah, dia langsung nyerocos cerita macam-macam sampai di rumah.

Niar: Seolah-olah mencari tempat nyaman untuk berekspresi gitu, mbak?

Sitatur Rahmah: Nah, di buku saya ini…Saya mencoba merekonstruksi pola asuh anak. Termasuk jangan sembarangan melabeli anak dengan istilah negatif. Bukan akan membaik tapi makin terpuruk.

Wiana Anarita: Apakah SM = anak yang daya adaptasinya lama?
Anak ke-2 saya, di 3 bulan pertama kelas 7 disangka anak ABK (karena sering diam di kelas). Tapi bulan-bulan berikutnya mulai berubah…

Sitatur Rahmah: Iya. Di sekolah ia malu kalau ada yang ketawa. Padahal itu kan biasa banget. Anak SD lucu atau aneh dikit kan udah terbahak. Nah buat anak SM ini bikin drop mental.

Niar: Ooh.. Baik.. Sudah mulai paham dikit.

Sitatur Rahmah: Betul. Ia kaya meraba dulu dunia baru dia. Kalau dia merasa aman, dia masuk kalau tidak dia akan menyingkir dan diam di situ ( tidak mau bicara).

Postingan ini ada step membantu anak yang takut masuk ke lingkungan baru.

Sitatur Rahmah: Jadi bisa dengan mengajak satu kelompok kecil yang membantunya berani. Lewat kelompok kecil inilah dia akan ditemani menghadapi lingkungan lebih besar.

Niar: “Sembuh”nya ini gimana mbak, dan apakah tidak akan “kambuh” lagi?

Penyebabnya apakah dari pola asuh?

Sitatur Rahmah: Kata psikiater sebagian besar penyebab adalah pola asuh. Bisa orang tua, atau guru. Tapi lebih banyak oleh orang tua 😓
Untuk anak kami ini… kami nggak tahu perlindungan berlebih padanya kala itu membuatnya mundur jauh….Dan butuh waktu lebih banyak untuk maju dan sampai di tempat yang seharusnya.

Sembuh ini ketika dia menyadari ternyata berbicara di depan teman2 dan guru di sekolah itu nggak papa, baik2 saja.

Kambuh? Bisa juga.

Anak saya sempat bicara normal di awal kelas 7. Mogok hampir 1 tahun dan baru beberap bulan ini bicara normal lagi.

Niar: Berarti balik lagi ke pola asuh keluarga dan penguatan dari keluarga juga ya.

Sitatur Rahmah: Kalau ditanya kenapa mau bicara, ya ngga ada apa2.. nothing special 🙂.

Betul. Terutama kebiasaan ketika balita dan usia pra sekolah Qadarullah…Anak saya waktu PAUD dapat guru yang kurang support. Makin nggak pede. Ia justru dapat penguatan dari guru kelas sebelah 😁

Tuti Herawati: Sama tidak.dengan istilah _anak tipe observer_?

Sitatur Rahmah: Observer ini basanya masih mau bicara. Hanya saja dalam bertindak dia akan hati-hati. Tapi kalau SM totally diam loh. Sering bikin pusing guru dan teman.

Kalau mau dia ngangguk kalau nggak ya sama sekali nggak respon. Ini yang jadi gara2 dia dibully… hiks…Saya masih sakit ingat ini. Ada temannya yang jengkel karena dia nggak mau bicara. Dipukuli pipinya sampai nangis kesakitan. Dia makin parah SM nya😭

Niar: Ooh jadi spesifik begini, bener2 diam tanpa respon ya?

Tuti Herawati: Oh. Benar-benar tidak mengeluarkan suara sama sekali? 😳

Sitatur Rahmah: Iya sama sekali nggak ada suara. Mute.

Tuti Herawati: Duh, 😔..

Sitatur Rahmah: Pada saat parah iya. Tanpa respon. Kalau dia merasa agak aman, dia tetap mengangguk, menggeleng kadang ikut tersenyum. Tapi nggak tertawa.

Niar: Mbak, dukungan dari pihak lain seperti sekolah, tetangga dan selain keluarga inti bagaimana?
Menyampaikannya seperti apa, karena mungkin orang masih belum banyak paham tentang SM dan bisa jadi dianggap ibunya (maaf) lebay aja sama kondisi anaknya.

Sitatur Rahmah: Saya langsung ke sekolah. Anak itu dipanggil dan disuruh minta maaf ke anak saya dan saya. Sekolah memberi toleransi dengan sedikit demi sedikit membantu dia mau bicara.

Saya beberapa kali menitip pesan pada gurunya. Lalu gurunya saya cek apakah anak saya menyampaikan pesan tersebut. Keluarga inti dan keluarga besar bersikap biasa seolah tidak ada gangguan apa2 tapi diam-diam sering menugaskan dia untuk ” belajar berani” menerima tamu, menyampaikan pesan, membeli sesuatu di warung dll.

Saya sampaikan saja dia agak pemalu. Itu saja. Kalau sekarang penugasan sudah lebih rumit. Harus banyak bertanya. Misalnya dia saya minta beli bahan seragam. Saya minta dia pastikan ukuran kain yang benar. Badge yang sesuai. Alhamdulillah kemarin berhasil. Padahal dia perlu bertanya lagi di mana ruang TU baru setelah pindah.

Anna Farida: Apakah ini OK? Maksudnya apakah lantas tidak jadi salah konsepnya? Kan SM tidak sama dengan agak pemalu?

Jika aku tetanggamu, aku akan teredukasi jika diberi info yang sebenarnya.

Atau, apakah Sita punya pertimbangan lain?

Sitatur Rahmah: Kalau sekadar tetangga saya sampaikan pemalu saja cikgu. Apalagi jika anaknya ada di situ. Jika ia bertanya lebih jauh memang saya jelaskan tapi tidak sepengetahuan anaknya. Karena SM kan memang pemalu yang berlebih. Kalau tahu dia diomongin bisa makin malu.

Alhamdulillah… Makin berkembang ke arah lebih baik. Kemarin saya minta beli telur. Uangnya 30 rb. Tanya dulu sekilo berapa. Sama harga kecap. Kalau 30rb cukup untuk 1 kecap kecil dan 1 kg telur beli keduanya kalau nggak cukup. Telurnya 1/2 kg aja, trus kecapnya yang sedikit lebih besar… eh berhasil! Dia pulang bawa 1 kg telur dan 1 kecap kecil. Masih ada kembalikan juga.

Anna Farida: I see.

Aku akan lebih hati-hati menyebut anakku “sesuatu” di depan orang lain. Siapa tahu dia sebenarnya tidak suka.

Anna Farida: Kadang saking emaknya ekspresif 😀🙈

Tuti Herawati Kulwap: Hal seperti ini pun jadi media pembelajaran ya, Mbak.
Keren .. 👍🏻

Sitatur Rahmah: Betul banget…. Saya bahkan minta izin dia juga waktu saya tulis tentang SM. Saya katakan “di luar sana mungkin ada orang tua yang tidak tahu bagaimana menangani anak yang mengalami, kalau kamu ikhlas mama tulis tentang yang kamu alami. Kalau kamu keberatan mama nggak akan tulis” dan dia membolehkan saya menulis. Untuk menjaga privasi saya sama sekali tidak menyebut nama atau jenis kelamin dia. di buku ini saya hanya sebut sebagai *Ananda*

Sitatur Rahmah: Betul. Banyak cerita yang dari akal-akalan saya saja supaya dia banyak berinteraksi.

Saya beberapa kali tik-tok an sama guru supaya ada dia interaksi. Sama kerabat ( Dari keluarga besar) supaya ia mengenal lebih banyak orang di luar keluarga inti.

Suci Shofia: Kalau di depan anak, kita bilang ke orang dia pemalu apakah statement ini juga termasuk labelling?

Sitatur Rahmah: Yah… mungkin kami terlambat bahkan sangat terlambat menyadari ada “sesuatu” pada anak kami. Tapi kami berusaha berlari mengejar ketinggalan, membantu dia bangkit sekuat yang ia bisa, semampu yang bisa kami bantu. Alhamdulillah… Allah Maha Baik… mengizinkan anak saya menjadi percaya diri lagi. ☺

Sitatur Rahmah: Kebetulan… orang timur ini kan mengategorikan label pemalu sebagai hal (cenderung) baik agak deket dengan istilah sopan gitu.
Saya jarang mengatakan pada orang lain ketika ada anaknya. Kalau pas ada saya bilang…kadang pemalu kadang juga nggak kok. Gitu.

Kholifah Haryani: Sepertinya anak pertama saya sempat mengalami yg begini ☺

Sitatur Rahmah: Jadi kan lebih sering pemalu itu nggak papa… malah mending dari pada tingkahnya malu-maluin😁

[3/20, 9:26 PM] Sitatur Rahmah: Dari banyak cerita di Indonesia banyak anak yang mengalami. Beberapa teman yang membaca buku saya juga mengatakan demikian. Tetapi tak disadari karena adat ketimuran yang memandang baik anak pemalu ini.

Sitatur Rahmah: Di seluruh dunia 4- 7 dari 1000 anak mengalami ini. Di Indonesia belum tercatat, tapi boleh jadi angkanya tidak jauh beda.

[3/20, 9:29 PM] Sitatur Rahmah: Saya mengatakan bahwa saya berusaha merekonstruksi pengasuhan anak sejak bayi supaya tidak mengalami SM. Supaya pemahaman yang keliru selama ini tidak menyebabkan anak mengalami SM. Karena jika tidak ditangani bisa berkembang menjadi phobia parah bahkan gangguan jiwa.

[3/20, 9:29 PM] Kholifah Haryani kulwap: Lebih banyak orang lain yg menganggap dia pemalu, sayanya yg bingung, mikir, apa iya? 😅

[3/20, 9:30 PM] Sitatur Rahmah: Caranya dengan menulis buku tentang SM. Sudah Terbit sejak Januari lalu oleh penerbit Metagraf, bisa diperoleh di gramedia atau toko buku lainnya. Buku ini bagus dibaca siapa saja yang dekat degan anak. Orang tua, guru, pengasuh atau calon orang tua supaya paham SM.

[3/20, 9:31 PM] Sitatur Rahmah: Karena kan di rumah biasa aja ya?

[3/20, 9:31 PM] Niar Kulwap: Terima kasih mbak sita.. Alhamdulillaah jadi bisa ada gambaran sekarang tentang SM ini
[3/20, 9:31 PM] Suci Shofia: Boleh beri contoh pengasuhan yang kurang tepat seperti apa, Mbak?

Ada anak teman sekarang SMP kelas XIII, dari mendapatkan komentar negatif ayahnya (ayahnya sendiri yang mengaku berucap negatif, persisnya saya lupa), sampai sekarang anak ini tidak ada suaranya. Mute. Hanya senyum, angguk, geleng. Kalau di rumah tidak ada orang lain, biasa saja bicara.

[3/20, 9:36 PM] Sitatur Rahmah: Contohnya … ketika kecil dapat komentar negatif. Kamu tu ya sukanya gitu… datang ke sekolah cuma nangis. Mama mu kan nggak dengar kamu nangis. Lha bunda yang repot.

Hehehe… ini anaknya yang cerita sama saya dibilang seperti ini.

Nah… kesalahan ucapan ini harus direkonstruksi dan diperbaiki

Nak, maaf ya kemarin bunda salah ucap. Harusnya bunda bilang…kamu nggak perlu nangis di sekolah, kamu sendiri yang ketinggalan keseruan dengan teman2..

Kalau kasus anak mbak suci, mintalah ayahnya minta maaf dan memperbaiki ucapan yang lalu supaya memori sakit dikatain negatif itu terhapus dengan ucapan yang baru…

Kak…maaf ya kemarin ayah salah ucap. Ayah udah salah sangka. Tenyata kakak tidak sejelek yang ayah katakan bahkan kakak lebih baik dari itu.
[3/20, 9:37 PM] Sitatur Rahmah: Semoga setelah rekonstruksi … keadaan membaik lagi. Apa yang luka di batinnya sudah sembuh dan baik kembali
[3/20, 9:38 PM] Suci Shofia: Jadi ada pernyataan diri kalau orang tua bersalah lalu mau mengakui ke anak, ya. Solusi ditemukan.

Oh ini kasus anaknya teman, Mbak.

Insya Allah nanti disampaikan😊
[3/20, 9:40 PM] Sitatur Rahmah: Monggo… Saya kemarin memang sulit dapat referensi. Alhamdulillah psikiater di rumah sakit di Jakarta yang pernah menangani kasus SM mau jadi narasumber saya. Jadi saya paparkan kasus yang saya alami, gambaran di luar negeri dan pendapat psikiater di Indonesia. Semoga cukup menjadi referensi
[3/20, 9:40 PM] Sitatur Rahmah: Betul. Kaya kita menghapus tulisan salah di buku. Dihapus lalu diganti tulisan lain yang betul
[3/21, 4:14 PM] Lella Kulwap: maaf bunda sya mau tanya..
anak sya kalau di rumah aktifnya ga ketulungan.. tp pas di daerah baru dia perlu adaptasi yg lumayan.. abis lebaran thn kemarin sya masukin dia di TPQ.. butuh wktu sekitar 1 bulan lebih dia baru mau akrab dengannya.. itu jg karna sya sering ajak dia main kerumah teman ngajinya.. begitu jg kalau teman suami bawa anaknya main kerumah.. dia ga lgsg mau akrab main.. butuh bbrpa kali ketemu baru dia mau ajak temannya itu main.. apakah itu termasuk SM??
[3/21, 4:22 PM] Sitatur Rahmah: Kalau setelah 1 bulan sudah bisa bergaul akrab dan nggak masalah berarti nggak SM ini bun. Cuma adaptasinga lama aja. Dari yang saya baca, kalau misal anak seperti ini coba didekatkan dengan salah satu anak yang dia udah nyaman. Beberapa hari sama dia terus. Lalu beberapa hari berikutnya bersama teman ini diajak gabung dengan kelompok yang lebih besar. Kalau sudah nyaman lagi, biasanya dia akan otomatis nyaman dengan semua teman.
[3/21, 4:22 PM] Sitatur Rahmah: Kira2 ukurannya waktunya 1 bulan deh. Lebih dari itu harus diwaspadai
[3/21, 4:26 PM] Lella Kulwap: alhamdulilah sya memang menerapkan spt itu bun.. berarti memang tipe anak yg butuh adaptasi lumayan ya bun..
[3/21, 4:26 PM] Lella Kulwap: makasih pencerahannya bun ☺️
[3/21, 4:36 PM] Sitatur Rahmah: Sepertinya demikian. Tipikal anak seperti ini boleh diperlakukan seperti anak dengan SM. Misalnya Hati-hati melabeli dia, banyak diajak diskusi supaya dia merasa penting, sesekali dipuji supaya dia tahu dia punya potensi. Kalau ada kekurangan, nggak perlu dibahas serius, mendingan cari cara supaya dia bisa memperbaiki kekurangan ini. Kira2 itu pengalaman saya 🙏
[3/21, 4:37 PM] Sitatur Rahmah: Saya sebenarnya masih belajar juga. Pengalaman dengan anak saya semoga bisa menjadi sekadar gambaran
[3/21, 8:12 PM] Sitatur Rahmah: Baik… saya juga mengucapkan banyak terima kasih untuk kesempatan berdiskusi dengan ayah ibu pembelajar di Keluarga Sehati ini
[3/21, 8:12 PM] Sitatur Rahmah: Mohon maaf sedikit terlambat menjawab
[3/21, 8:14 PM] Sitatur Rahmah: Saya undur diri, ya🙏

Mohon maaf atas semua kesalahan. Semoga group ini terus menjadi media belajar untuk selanjutnya muncullah nanti anak cucu hebat seperti pendahulunya. Aamiin

Kenangan Tentang Hujan

Jumat, 14 Februari 2020

Tak terasa sudah memasuki minggu ke 200 materi kelas kulwap Keluarga Sehati. Mohon maaf admin suka jarang posting materi di blog. Masih belajar mengatur waktu antara ngasuh anak, nge-blog, mengawal kelas parenting, belajar mindful, mengumpulkan ide tulisan, terutama belajar sabar. Indah bener proses menjadi sabar itu, teh. Eh curcol on de morning.

Yuk, ah. Kita nikmati materi yang beda minggu ke dua di bulan Februari ini.

Anna Farida berkata,

Salam sehati, Bapak Ibu.
Tak terasa, sudah 200 minggu kita belajar bersama.
Terima kasih sudah setia saling berbagi pengalaman dan kebaikan.
Untuk kulwap ke-200 ini, kita akan bermain-main sejenak. Melepaskan berbagai pikiran (sok) dewasa.
Saya mohon Bapak Ibu menjadi narasumber kali ini.

Mari kita bernostalgia. Semoga semua memiliki pengalaman tentang hujan saat masih anak-anak. Pengalaman menyenangkan akan mengungkit rasa bahagia, pengalaman buruk akan membantu kita melepaskan beban dan memaafkan.
Mari kita bagikan, demi merayakan jiwa anak-anak yang sebenarnya tak pernah hilang dari dalam diri kita.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Marriage with Heart” dan “Parenting with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Anna Farida: Waktu itu umur saya delapan atau sembilan tahun.
Ibu saya tidak bersedia kompromi soal hujan. Mami, demikian saya memanggil beliau, melarang keras saya main hujan. Pokoknya tidak boleh.

Suatu siang, Mami pergi dan saya perkirakan bakal pulang lama.
Hujan turun sangat deras, terlalu menggoda untuk dilewatkan.

Saya berlari ke belakang rumah dan berhujan-hujan sepuasnya, sampai kedinginan.

Begitu nyaris menggigil, saya lari ke kamar mandi, dan bersih-bersih.
Saya keringkan rambut sebisanya, lalu segera naik ke kasur dan berselimut, seolah-olah tidur siang dengan tertib. Puas sekali bisa hujan-hujan lagi tanpa ketahuan.

Eh, baru beberapa detik saya bergelung di bawah selimut, sebuah sentakan ringan mengagetkan saya.
Mami menarik selimut saya, meraba kaki dan rambut basah saya.
Takut-takut saya duduk sambil melirik bantal yang basah bekas rambut.

—- sudah, itu saja — 😁

Niar: Wah, topik seru!
Saya juga mau berbagi ah, Cikgu..

Waktu kecil saya juga dilarang main hujan.
Karena saya ada alergi.
Tapi, namanya anak-anak menemukan banyak cara untuk main hujan.

Misalnya… Walaupun sudah merasa siang nanti bakal hujan, saya sengaja tidak bawa payung ke sekolah.
Supaya bisa hujan-hujanan saat pulang.

Dulu juga saya iri pada teman-teman.
Mama membelikan saya payung dan sepatu plastik khusus untuk dipakai di musim hujan.
Sementara teman-teman cuek saja nyeker saat hujan, basah-basahan, atau pakai payung darurat dari daun pisang.

Saya ingin juga merasakan berpayung daun pisang.

Jadi ingat lagu dangdut..
Memori daun pisang 🤣🤣🤣

Anna Farida: 😀 mikrofon mana mikrofooon, namanya anak-anak menemukan banyak cara untuk main hujan — ini yang memnuat saya suka anak-anak ahahaha

Niar: Pinjem tape tetangga..Masih ada yg pake tape recorder gak ya sekarang?

Anna Farida: Aku pakai radio transistor.

Dyah Arthiani: Di rumah uti dulu, ada ruang terkurung bangunan. Ruangan ini tanpa atap dan alasnya disemen halus.

Ruangan ini terasa luas untuk anak seumuran saya waktu itu. Lantainya memang dibuat agak miring ke arah belakang (kamar mandi). Ada pompa air yg cara memompanya dengan menaik turunkan tuas pakai tangan…

Ruangan yg menyenangkan sekali dikala hujan. Kami main hujan2an, perosotan, mompa air dengan cara unik.
Tuas dinaikkan dengan ringan ke atas, trus gandolan, memanfaatkan berat tubuh untuk menarik tuas ke bawah perlahan. Sementara yg lain grujugan di bawah air yg terpompa keluar.

Sudah 😁🙏🏻

Niar: Wikkk beneran..? Dulu saya punya radio kecil, muat masuk saku, dibawa saat berkemah. Buat hiburan daripada denger jangkrik 😅
Seru pasti ya mbak…

Dyah Arthiani: Banget… Dan uti yg nyuruh main hujan2an 😅

Niar: Enaknyaaa..
Temen saya disini juga begini.
Kalo hujan, mereka sekeluarga main hujan, mbak.
Sengaja keluar gitu. Boleh basah-basahan, boleh payungan sekedar jalan di tengah rinai hujan. Sekeluarga lo yaaa berempat 😊

Ati: Tidak dihukum di kamar mandi?

Dyah Arthiani: Hebat ya… Sekeluarga main hujan. 😍

Sayidah Rohmah: Saya ingat ibu mengijinkan hujan-hujanan di belakang rumah. Senang sekali. Jadi waktu anak minta main hujan saya ijinkan juga. Ternyata berakhir dia sakit sampai 2 minggu. 🙈🙈🙈🙈

Mungkin kebetulan saja waktu itu kondisi tubuhnya kurang bagus. Tapi sejak itu jadi belum berani nyoba lagi. 😄

Anna Farida: Sensasi mengayunkan tuas pompa air itu istimewa bangeeet
Lebih besar dari itu, sih 🤣
The Rain Family 😍
Cobain sekarang, Say 🙈

Enggak 🤣

Niar: Rain itu artis korea, Cikgu..

Hibat Ummu Alula: Saya selalu suka, waktu kecil kalo lagi hujan dan ga ada siapa siapa dirumah saya suka nyanyi teriak teriak ga jelas di jendela, ceritanya pengen nyanyi b. Inggris tapi ga bisa 😆😆

pas sekolah SD karena sekolah bocor jadi bangku di deket²in, nulis dempet²an hangaaat, Atau pulang sekolah agama karena senghaja ga bawa payung, hujanan berdiri di talang air byuurrr seruuu, kalo telat pupruk kepala pake air sumur biasanya besoknya demam 😬

Muzayyin Saifurrahman: Alhamdulillah, saat hujan adalah saat yang menyenangkan bagiku dan semua (sebagian besar) anak anak di kampung kami. Kami bebas berlarian hujan-hujanan keliling kampung, bermain lumpur, mandi dibawah talang air, bahkan ke sungai untuk berenang dengan batang pisang sebagai pelampung.

Sayidah Rohmah: Hehehe. Belum ketemu hujan yang derasnya pas, Cikgu. Tiba-tiba hujan angin terlalu deras, lalu berhenti gitu. Gak hujan deras yang stabil. *alesan 😁

Frida Kurniasih: Yang diingat, saya dulu suka hujan, meski tidak boleh main hujan2an, tapi saya suka duduk ditepi jendela sambil memandangi hujan dan pohon2 diluar,, entah kenapa suka sekali,,
kayaknya saya dari kecil udah melankolis romantis kali ya,, wkwkwkwk,,🙈

Hibat Ummu Alula: Xixixi, waktu hamil anak pertama saya ga bisa mandi di kamar mandi, langsg muntah, Alhamdulillah pas musim hujan, jadi we tiap hari hujanan.. anak²pun sekarang bebas hujanan asal kondisi lagi fit.

Dedeh Sri Ulfah: Alhamdulillah saya termasuk yang beruntung karena Ayah & Mamah tidak melarang kami main hujan-hujanan☺. Kadang kami (saya dan adik-adik) berenang di kolam yang ada ikan kecil-kecilnya. Main hujan sambil nangkap ikan.

Kadang kami kejar-kejaran hingga ke lusr halaman rumah.

Sering juga main perosotan di terlas rumah. Lutut merah-merah & lecet tak masalah, main air hujan terus & tertawa terus. 😍😍😍

Nuzul Quryati Hartawati: Dulu jaman kecil juga dilarang hujan-hujanan, jadinya kami main di sumur saja, sumur timba tapi ada pompa manualnya juga, lantai sumur yang persegi kami tutup lubang pembuangannya jadi air yang dipompa dari sumur menggenang dan kami pun mandi seolah-olah di kolam renang 😂. Bahagiaa ☺.

Hibat Ummu Alula: Kami pernah punya pompa ituu😍😍😍

Wiana Anarita: Saya dibesarkan oleh kakek-nenek dan hujan-hujanan adl salah satu larangannya… Tapi SMP, suka sengaja lupa bawa payung biarbisa pulang berhujan² dengan teman²…
Sekarang juga selalu menikmati hujan²an di atas motor…😁🙈

Suci Shofia: Ikut deg-degan baca cerita Mbak Anna😳
Wuih seru-seru semua cerita teman-teman😍

Muzayyin Saifurrahman: Dan sekarang anak-anak diijinkan ketika mau main hujan-hujanan.

Suci Shofia: Betul, asal kondisi badannya fit😊

Oya, kenangan main hujan di masa kecil memang menyenangkan. Saya sama kakak dan adik seluncuran di teras rumah yang dibasahin air hujan. Bapak sibuk mencuci pakaian pakai air hujan😁

Greysia Susilo Junus: Saya ingat waktu smp di suatu siang yg mendung, hari sabtu mungkin – karena kok ya ga ada di sekolahan….
Tetiba jalan depan rumah heboh, orang banyak berteriak. Tapi bukan takut, bukan marah. Lebih telatnya kaget dan seru.
Ada hujan es di tengah jakarta. Menurut berita belakangan… Sampe ke bogor hujan esnya.
Berupa es batu dengan ukuran paling besar sekuku ibu jari.
Berhasil melecetkan ratusan cat mobil mewah.
Aku mah keluar,menadahkan tangan, buru2 masuk rumah lagi karena ketimpuk es!!!

Rositta: Gak bikin es sirup bun #ehh 😅

Suci Shofia: Pengen deh ngalamin kayak gini. Seru kayaknya🙊

Hibat Ummu Alula Kulwap: Saya ngalamin 2tahun lalu, pas jam 4pm d bulan ramadhan.. reeaaakk ramee bgt pada teriak hujan es!!!

Anna Farida: 😀 Saudaranya Storm
Kosakata baru hari ini buat penghuni ruang kulwap: pupruk 😀

Bahagianya pernah mengalami hal itu. Saya pun pernah melakukannya dan jatuh sampai lutut luka.
Daaan tidak berani mengadu 😀

Waduh seperti adegan film sajaaaa. Huhuuuy 😀 Bayangkan jika hamilnya saat musim kemarau 😀 #tutuphidung

Alhamdulillah. Ortu Dedeh cool pisan. Salam baktos, ah, dari kami semua di sini 🙂
Kreativitas tingkat tinggiii. Agak brutal dan tetap keren ahahaha’

Saya bersepeda saat SMP, dan sering “LUPA” bawa jas hujan, tapi selalu ingat bawa tas kresek besar untuk wadah tas biar tidak basah 😀

Bapak tahu betul bahwa air hujan lebih suci dari air PDAM #eeeh

Hujan es yang kulihat cuma butir-butir halus, Greysia. Jadi masih bisa ditadahin pakai tangan dan langsung meleleh cepat.

Kalau sampai melecetkan mobil sih gede dan tajam ituuu.

Pas untuk berbuka 😀

Bunda Fiza: hujan selalu memberi kenangan terindah,

– Saat SD klo hujan turun sore hari bahagia bgt bisa main hujan2an, tapi… otomatis besoknya berangkat sekolah “nyekermen” krn jln jadi kayak adonan jenang, demi kebersihan & keawetan, sepatu dimasukkan kresek🙈

-Saat SMP kelas 3, plg les jam 4 hujan deras sdh tdk ada angkot, nekat jalan kaki tanpa payung & jas hujan (sekolah-rumah beda kecamatan), basah kuyup dong tentunya, eh… masuk gerbang kampung terang benderang, otomatis orang yg liat pada ngakak dong, berasa habis kecemplung got🙈

-Sampai punya anak 2 msh suka main hujan, kadang nemenin anak hujan2an, dan skrg pun msh suka tapi badan suka ngilu klo hbs hujan2, faktor U🤩

love rain💓

Anna Farida: Hidup nyekermen! 🙂

Alhamdulillah ada kenangan indah untuk mengobati gundah.

Bunda Fiza: iya bunda, alhamdulillah…😘

Menjadi kenangan terindah pernah menjadi geng NYEKERmen🤩🤗

Suci Shofia: Apa itu bahasa Indonesia-nya? Hehehe

Suci Shofia: Intinya demi maen hujan ya🙊

Yupsss😁

Suci Shofia: Sama euy, masih pengen ikutan anak-anak yang maen hujan sama bapaknya, tapi baru beberapa menit sudah menggigil. Jadi nonton aja deh😬

Tuti Herawati: Kebayang gimana wajah si perempuan sembilan tahun ini. 🤭

Seru banget pengalamannya. 😍

Hibat Ummu Alula: Apa yah 🤣🤣

Niar: Saya pernah mengalami juga, yang besar-besar.
Jadi kami lagi makan siang di sebuah warung lalu bunyi kap mobil para pengunjung begitu jelas terdengar kejatuhan es ini seperti bongkahan es cube dari kulkas itu gede2 dan tajam…

Dwi Astuti: Saya suka iri dengan teman-teman juga kakak-adik yg boleh main hujan sambil ojek payung.

Dulu saat saya SD bapak melarang saya main hujan. Karena saya sering sakit.

Tapi pernah pulang sekolah saat SMP pulang sekolah hujan-hujanan sampe nerabas banjir segala.

Suci Shofia: Puas banget pastinya😁

Nelis: Mau cerita juga,,,

Masa kecil saya ‘jarambah’ (apa coba artinya?), main prosotan lumpur biasa, mandi sambil ngambil ikan kecil d sungai tak pernah terlewat, apalagi ujan²an, selalu pokonya, 🥰

Pernah suatu ketika, ada masanya sy ingin baju kayak cinderella, yg menggelembung roknya, tanpa sengaja ketika kehujanan sepulang sekolah rok merahnya jd keras dan sedikit menggelembung, akhirnya keidean buat bikin rok cinderela, rok merah SD sy timpa pake kerudung tipis mamah yg panjang, sy lilitkan, bertumpuk², dan membentuk slayer rawis², sedikit siiih kyk rok cinderela 😅, tp waktu itu sy bahagiaaa banget, pernah pake rok model begitu, walopun klo sudah kering kembali ke semula hahah…😅

Niar: Imajinasi yg luar biasa ya mbak..

Nelis Kulwap: Imajinasi luar biasa yg kapepet hahah..😅

Dwi Astuti: Haha…pastinya.

Bunda Fiza: 🤝mb suci🤩,klo bapaknya anak2 malah anti hujan2an mb, jd skrg anak2 klo main hujan rame2 sama temennya

Suci Shofia: Hehehe, Pak Irul masa kecilnya anti hujan-hujanan ya?

Bunda Fiza Kulwap: iy mb, anti hujan n air laut juga alergi🙈

Suci Shofia: 😁 sayang sekali.

Bunda Fiza: hu um mb, sangat disayangkan🤩🙈

Anna Farida: Main hujan rupanya sudah jadi bagian kita sejak kecil. Terima kasih sudah berbagi kebahagiaan dan kenangan yang basah dan menyenangkaaaan ⛈⛈⛈⛈

Bunuh Diri Pada Remaja

Lama euy enggak posting di sini.

Berikut isi Kulwap Keluarga Sehati dengan narasumber Anna Farida:

Salam sehati, Bapak Ibu. Mohon maaf terlambat post materi. Ini kulwap ke 196. Hari ini kita membaca kabar tentang meninggalnya seorang siswi SMP yang diduga bunuh diri dengan cara melompat dari gedung sekolahnya.

Kita coba mundur sejenak seminggu sebelumnya, ketika kita bertemu dengan dia, misalnya di sebuah kantin depan sekolahnya.
Apakah kita tahu bahwa remaja yang terlihat tertawa-tawa bersama teman dan membahas boyband Korea, sebenarnya menyimpan luka di hatinya?

Kita yang punya anak remaja, atau punya ponakan remaja, atau mengajar anak-anak remaja, sebenarnya bagaimana mengajak mereka bicara dan meyakinkan mereka bahwa kita bisa diajak bicara ketika mereka perlu?

Banyak kasus yang menimpa remaja berakhir dengan kalimat, “Saya tidak menyangka. Kami kecolongan. Rasanya kami sudah dekat dengannya …”

Lazimnya, kita sebagai orang tua memiliki posisi yang superior dalam relasi kita dengan remaja. Saat mereka masih anak-anak, sikap superior kita membuat mereka nyaman dan aman. Lain halnya ketika mereka tumbuh meremaja, kadang superioritas yang sama bisa menjadi ancaman. Mereka cemas hak-hak mereka dicabut jika melanggar aturan, misalnya, jadi mending diam-diam saja.

Lantas bagaimana membangun (kembali) kepercayaan remaja kepada orang tua?
+ Miliki kegemaran yang sama. Saya dan anak-anak remaja saya sama-sama senang nonton film. Walau genre kami berbeda, saya sering minta rekomendasi dari mereka film apa yang sebaiknya saya tonton. Sepele, tapi somehow ini membuat kami dekat. Dengan bapaknya, anak kedua saya sama-sama suka bola. Walau tim kesayangan mereka berbeda bahkan bermusuhan, berita tentang sepakbola bisa membuat mereka dekat walau sejenak, lantas saling bully jagoan masing-masing.

+ Tahan diri untuk tidak selalu menang. Kita ini lebih dewasa dari mereka, lebih punya banyak pengalaman. Kita tahu benar bahwa dalam berbagai kasus, berdasarkan pengalaman, jika A dilakukan akibatnya adalah B. Tapi ketika berhadapan dengan remaja, tak perlu kita selalu bilang “Ibu sudah tahu nanti bakal begini. Ayah yakin yang bakal terjadi adalah ini.”
Ceritakan saja pengalaman kita, dan beri mereka peluang untuk mencerna dan memutuskan apakah mereka hendak melakukannya atau tidak. Tetap dampingi, tapi mereka yang tetap pegang kendali.

+ Jadi orang tua remaja yaang cerdas itu bukan selalu tahu jawaban atas pertanyaan dan kesalahan mereka. Kita perlu belajar lebih banyak menyimak, sekacau apa pun pendapat mereka, dengarkan dulu. Please, tahan komentar, dengarkan dulu. Sebentaaar saja.

+ Konfirmasi. Salah paham dengan pandangan atau tindakan remaja biasanya terjadi ketika orang tua tidak melakukan konfirmasi dan langsung jadi hakim (padahal tidak semua kuliah hukum #eh). Jangan gengsi untuk bertanya apa maksud mereka melakukan ini atau mengatakan itu. Jika memang kita tidak tahu, tanyakan. Jika kita memiliki kecemasan, sampaikan. Sama halnya ketika kita bangga pada mereka atas kebaikan sekecil apa pun, sampaikan juga.

+ Ajak mereka memikirkan masa depan. Ini rada berisiko jadi ajang ceramah panjang dan nasihat, tapi tetap kudu dilakukan. Untuk meminimalkan potensi wejangan tentang pentingnya memikirkan masa depan sejak sekarang, berikan saja pertanyaan singkat pada remaja seperti:
“Kira-kira tahun depan Kakak mau apa, ya?”
“Nanti mau kulliah jurusan apa?”
“Kalau punya duit 1 M, Adik mau beli apa?”

Tanyakan saja sambil lalu tanpa duduk jika perlu. Jadi biar posisinya tidak nyaman untuk ceramah tadi ahahaha

+ Bersenang-senanglah dengan mereka. Jangan serius mikir kapan mau mantu dulu. Sesekali ajak mereka nangkring di warteg atau sekadar nonton reality show bareng di TV atau YouTube—sekali duduk saja, tidak perlu sampai tujuh seri. Yang tampak dari luar adalah ortu dan remaja sama-sama buang waktu, tapi sejatinya mereka sedang menautkan hati—mudah banget, ya, menautkan hati sambil nonton. Tak perlu kulwap ahahaha. Just kidding.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

What? Anakku Pacaran?

Ngacung siapa yang panik mendengar anak mulai memiliki ketertarikan secara seksual ke lain jenis? Dia kan belum lurus pipisnya, masih dielapin ingusnya, kudu disuapin makannya.

Ketertarikan itu fitrah, lo. Apaan sih fitrah? Zakat? Fitrah itu paket lengkap yang diberikan Tuhan pada manusia.

Cusss, simak materi narasumber tetap Kulwap Keluarga Sehati, Anna Farida berikut ini:

Salam Sehati, Bapak Ibu. Ini Kulwap ke-186
Kita akan membahas tentang kecil-kecil kok pacaran.

Yang punya masa kecil sama seperti saya boleh mengaku atau diam-diam mengaku.
Saat TK atau SD, saya ingat betul main pengantin-pengantinan sama teman-teman. Didandani pakai dedaunan dan segala macam selendang. Lantas saya dipasangkan dengan teman yang lain. Kalau tidak ada lelaki—jarang anak lelaki mau main seperti ini—ya ada anak perempuan lain yang berperan jadi pengantin lelakinya.

Pada waktu SD, saya dan teman-teman sering ledek-ledekan sampai marah betulan. Konten ledekannya adalah jodoh-jodohan dengan teman sekelas atau lain kelas.

Dan ternyata permainan pengantin ini ada di berbagai belahan dunia. Artinya, hasrat berpasangan itu ada sejak kita masih anak-anak. Hanya eksplorasinya berbeda-beda.

Tidak pernah ibu saya risau soal permainan pengantin atau ledek-ledekan itu. Paling geleng-geleng dan berkomentar, “Cah cilik. Isih cilik”—anak kecil, masih kecil.

Sekarang …
Apakah rasa tenang itu masih ada?

Ketika anak-anak usia SD kita membahas pengantin atau pacaran, apakah suasananya sama dengan masa kita dulu?
Ini saya ngaku-ngaku bilang “kita” supaya tetap dianggap mahmud yang punya anak SD ahaha. Mohon direlakan.

Ada teman saya datang khusus untuk bercerita dengan anaknya.
Anak perempuannya di pesantren, setingkat SMP. Anaknya cantik, mungil.
Saat itu dia sedang ngambek, karena ada kakak kelasnya yang selalu mendekat dan teman-temannya meledek. Beberapa kakak kelas perempuan cemburu, dan jadi judes sama anak ini.

Ketika saya tanya siapa nama kakak kelasnya itu, dia tersipu-sipu sambil menggoyang-goyang tangan ibunya dengan manja.

Ehm, dia juga suka rupanya.

Tanya tanya, “Enak nggak ada yang seneng?”
“Nggak, lah. Jadi males keluar kelas. Males ketemu. Trus nanti aku dibilang kecentilan sama kakak kelas yang perempuan.”

Setelah beberapa menit berbincang sambil tertawa-tawa, dia berkesimpulan bahwa ditaksir orang saja sudah bikin tidak enak bergaul, apalagi pacaran. Mana nanti kalau ketahuan dapat surat peringatan 1, 2, dan 3 dari pesantren.
Dia maunya dekat dengan seseorang nanti saja kalau sudah gede.

Satu teman lagi lain lagi ceritanya.

Anaknya laki-laki dan memang sudah dekat dengan teman perempuannya—sama-sama anak SMP. Orang tua anak perempuan ini santai saja, sedangkan ortu anak laki-laki agak senewen.

Setiap ditegur, si pemuda abege itu menjawab ,”Aduh, Bunda. Aku kan enggak minta nikah bulan depan. Tenang saja, napa.”

Ke pemuda itu saya berkata, “Nikah sih belum pingin. Tapi bisa terjadi, lho.”
Mulailah saya ajak ngobrol dia sebagaimana yang selalu saya sampaikan ke tiga anak lelaki saya sejak mereka remaja.

“Memang, kamu tidak ada niat nikah. Tapi umurmu sudah bisa jadi ayah.”
“Ih, Tante. Apaan, sih.”
“Serius. Kamu sudah siap jadi ayah. Tante yakin kamu tahu bagaimana itu bisa terjadi.”
“Ih, kan aku bisa jaga diri, Tante. Masa sih sampai begituan.”
“Alhamdulillah kalau kamu bisa jaga diri. Kalau Tante sih memilih hati-hati. Siapa tahu terjadi, mending dihindari. Tante kan parnoan.”

Anak itu diam.
Ibunya diam, menatap cemas ke saya, ahaha. Kayanya nyesel membawa anaknya main ke saya.

Saya lanjutkan sekalian.
“Kepada anak-anak Tante sih Tante selalu berpesan agar tidak sok kepedean, tidak sok sholeh, sok yakin bakal bisa jaga diri urusan melanggar batas. Awalnya sih belajar bareng, ke mall bareng, nonton bareng, boncengan bareng, pakai grab bareng, trus …”

Ibunya makin menahan napas.

“Ih, Tante. Aku kan baru 15 tahun”
“Iya. Tapi secara fisik, kamu sudah bisa jadi ayah. Sekali terjadi tidak bisa di-undo, lho.”

Dia diam lagi.

“Kalau cuma chat pakai Line gimana? Gak usah ketemu. Gak pergi-pergi.”
“Sementara gitu saja dulu. Tapi kamu cobain deh. Setelah chat berminggu-minggu, trus sekali ketemu, jadi kangen banget, nggak?”
“Maksudnya Tante gimana?”

Maksudnya, materi kulwapnya sudah lebih dari 600 kata. Kelewatan ahahah
Mari bertukar cerita saja.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Diskusi Menjadi Kekasih Bagi Pasangan

[9/27, 12:43 PM]

Saifurrahman kulwap: Pacaran setelah nikah.
Lebih seru

[9/27, 12:56 PM] Wida Ragil: Iya…bikin senang pasangan tak harus mahal dan tak harus beli…nyucikan piring numpuk sudah bikin istri bahagiaaaa🥰🥰🥰😍😍😃

[9/27, 1:02 PM] Iqa Rifai Kulwap: hihi betul mba @⁨Wida Ragil⁩ apalagi kalo nyambi lipatkan baju ohh sungguh indah krn lipatan semakin beranak pinak 🤭🤭

[9/27, 1:09 PM] Muzayyin Saifurrahman kulwap: Apalagi tanakkan nasi, nyetrikain baju, mandiin anak, belanjain ke pasar.
Mantab dah

[9/27, 1:25 PM] Wida Ragil: Iyaaa…dibantu pekerjaan domestik udah bahagiaa bgtttt😍😍

[9/27, 1:45 PM] Hibat Ummu Alula Kulwap: 🤣🤣🤣🤣

[9/27, 1:58 PM] Kholifah Haryani kulwap: 🤭

[9/27, 1:59 PM] Suci Shofia: Pak @⁨Muzayyin Saifurrahman kulwap⁩ melakukan kerjasama seperti ini, ya? Mantap bener😉

[9/27, 1:59 PM] Suci Shofia: Berbahagialah istrinya

[9/27, 2:00 PM] Suci Shofia: Barusan masak bersama suami dan anak, bahagiaaa rasanya😍

Kekasih Bagi Pasangan

Salam Sehati, Bapak Ibu. Ini Kulwap ke-180, kita akan berbagi pengalaman tentang menjadi kekasih bagi pasangan.

Tar … tar … kita definisikan dulu kekasih itu yang seperti apa.

Definisi pertama, kekasih didefinisikan dengan pengertian pacar pada umumnya, yaitu orang yang memiliki perasaan romantis dan in the long or short run bakal menikah.

Definisi kedua, kekasih adalah orang yang dikasihi, disayangi.
Bukankah suami atau istri kita itu semestinya orang yang disayangi dan dikasihi? Termasuk dikasih(i) jatah belanja tentu 😀

Jadi mungkin yang dimaksud sang pengusul tema ini adalah memelihara suasana pernikahan agar seperti orang pacaran?

Entah lah saya ngarang saja, dan kita tidak sedang membahas pacaran itu halal atau haram, karena ini konteksnya dalam rumah tangga 😀

+ Jaim. Pacaran itu lembaga jaim. Dengan pacar biasanya kita jaim. Dilihatin yang baik saja, yang aib disebunyikan. Sehari dalam sebulan boleh, kok, jaim. Tidak perlu lama-lama, sehari juga cukup, karena pasti tidak akan kuat ahaha.
+ Double date dengan teman dan pasangannya. Pas sedang double date, biasanya (biasanya ini yaaa) kita cenderung lebih ingin memperhatikan pasangan. Ingat, jangan salah pilih pasangan yang dua-duanya doyan main hape.
+ Berkunjung ke mertua atau keluarga pasangan, atau ke pesta pernikahan. Ini juga membuka peluang untuk lebih saling menjaga dan lebih mesra. Asal jangan ada yang mulai membahas: Dulu waktu kita nikah kok enggak ada menu batagor crispy? Kamu malah pilih menu mi kocok yang nggak enak dan akhirnya banyak terbuang tuh.
Bubaaaar.
+ Flirting. Kapan terakhir kali Anda menggoda pasangan? Dari godaan yang paling santun sampai yang paling brutal ahaha
+ Hadiah. Saya pernah nonton komedi. Ceritanya suami ingin kasih hadiah istimewa buat istri. Karena duitnya mepet, dibelikanlah sang istri jam tangan merk abal-abal. Istrinya senang tapi kemudian diam-diam kecewa karena tahu arlojinya palsu. Beberapa bulan berikutnya komunikasi jadi menyebalkan, hingga suatu hari sang suami lewat toko obral dan menemukan jemuran gantung bekas display. Dia ingat jemuran di rumah sudah patah dan beli saja sambil lalu.
Begitu di rumah, istrinya menyambut jemuran itu dengan segala sukacita, lompat-lompat hingga bikin gempa lantai dua. Dia ucapkan terima kasih sambil menghamburkan kata sayang dan cinta.
Suaminya bengong, ingat arloji KW yang lumayan mahal dan teronggok di laci meja 😀
So, bikin senang pasangan tak harus mahal. Perhatikan dia perlu apa? Liburan ke Amerika? Haha.

Gara-gara liburan, saya jadi ingat pernah menuliskan tema ini, ah.
Ini sudah pernah dibahas tentu.
Tanggung, jadi di-post saja.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Jaga Hubungan Sehat dengan Pasangan

Jumat, 19 Juli 2019
Relasi suami istri tentu saja perlu dijaga kehangatan dan kemesraannya. Ada banyak cara yang bisa kita terapkan ilmunya. Cari saja di buku, artikel, browsing, tanya jawab ke yang sudah berpengalaman, dan masih banyak lagi sumber ilmu lainnya.

Anna Farida, narasumber tetap kami:

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Mohon maaf terlambat (lagi) post materi.

Mahmud Admin sedang mengawal pasien, mohon doa untuk putra sulungnya yang sakit DB.

Saya sendiri bagai gasing beberapa hari ini, antara jemuran dan tugas lapangan.

Jadi kita bahas yang enteng-enteng saja, ya.

Ini Kulwap ke-170, kita akan membahas bagaimana mempertahankan hubungan yang sehat dengan pasangan. Hal ini berlaku juga dengan keluarga pasangan, atau teman pasangan.

Secanggih apa pun kita, pasti pernah mengalami masa sulit dalam menjaga hubungan yang sehat dengan pasangan, teman, dan keluarga.

Dalam kondisi tertentu, kita tergoda atau tergelincir bersikap reaktif sehingga relasi kita jadi beraroma negatif.

Kita tahu bahwa komunikasi selalu menjadi kunci keberhasilan relasi, tapi kita juga tahu kadang entah bagaimana pengetahuan itu menguap sejenak atau beberapa jenak, lantas berjenak-jenak #halah.

Ketika hal itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan agar kesalahan yang sama tak terulang?

1. Perhatikan apa yang membuat pasangan kita bete. Jika kita paham bahwa hal itu akan membuatnya bete, ya tak perlu coba-coba. Lakukan hal lain saja yang lebih produktif. Someday mungkin dia berubah dan tidak bete lagi soal itu, baru deh coba-coba. Misalnya, pasangan tidak suka kita menyimpan gelas kotor di dekat dispenser air minum—ya hindari, lah. Tidak perlu dibahas mengapanya. Lakukan saja. Toh banyak hal lain yang membuatnya tidak bete ehehe.

2. Perhatikan reaksi kita sendiri. Jika kita sendiri merasa bete dengan sesuatu, ya hindari. Misalnya, saya pasti akan kesal jika suami saya mengomel soal gelas di dekat dispenser. Gitu saja kok ngomel.

Akan lebih sehat jika saya menghindari hal itu. Simpan saja gelas di tempat lain.
Kok saya yang mengalah, sih?

Eh, itu bukan sekadar mengalah.
I’m leading the way. I’m in control. Saya yang memimpin upaya menjaga relasi yang sehat ini. Jika suatu saat dia sendiri yang meletakkan gelas di dekat dispenser saya akan bilang, … ah, tidak perlu dibahas di sini ahaha

3. Tapi saya benar-benar tidak suka. Bagaimana, dong?
Jika gelas di dekat dispenser itu membuat kepala saya pening sebelah dan hidung mendadak mampet atau pandangan berkunang-kunang, inilah saatnya saya mencari cara bicara.

Bagi sebagian orang, ada hal yang memang tidak bisa diabaikan. Ada yang memiliki alergi bahkan trauma tertentu, sehingga hal yang tampak sepele bisa jadi sangat krusial. Saat inilah kita perlu bicara dengan pasangan, bahkan minta bantuan ahli.

4. Ini benar-benar untuk saya, baru untuk kami. Jadi menjaga hubungan yang sehat itu awalnya saya upayakan untuk diri saya, karena saya ingin bahadia, ingin punya banyak waktu produktif. Jadi, ketika saya terlihat mengalah, saya tidak sedang mengabaikan keberatan dan keinginan saya.

Pada saat itu saya memaknainya sebagai upaya agar saya tidak perlu berurusan dengan hal yang saya tahu bakal membuat saya kehilangan relasi yang sehat tadi.

Ya … sekali waktu lepas kendali dan ngomel beberapa menit sih wajar buat saya—mungkin tidak bagi Bapak Ibu ahaha. Saya kalau tidak ngomel sekali dalam sehari biasanya dikira sakit 😀

Mari berbagi pengalaman.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Sudah punya bukunya?

Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)

Diskusi Mendampingi Anak Sakit

[7/26, 11:59 AM]

A: Saya baru pnya anak satu, masih 2,5thn., dan suami pulang kerjanya seminggu sekali, klo anak sakit sudah pasti full emaknya yg repot., semoga selalu di beri kesehatan semuanya., terima kasih materinya mbak anna.., 🥰

T: Nah, ini sempat kejadian sama saya, ketika anak mulai sedikit sembuh malah ibunya yang menggigil dan kepala sangat berat, pusing dan sakit. Alhasil, malah jadi meringkuk. Yang kasian anak yang sehat (3th kurang) ga bisa main keluar kamar. Hihi protes.

Menemaninya main sebentar sambil akhirnya meringkuk lagi (baring sambil merem) di ruang lain. He…

Pekerjaan lain harus dilakukan, tapi ya ga maksimal, akhirnya ya masak dan cuci piring lebih diutamakan. 😅

Seiring keadaan diri membaik ealaaahh… pekerjaan jadi sangat menumpuk. Haha… terutama cucian baju. 😆

Dari sini sangat terasa, dan sebagai pengingat diri, “c’mon, Manda, kamu ga boleh sakit lagi.” Seorang ibu memang ga boleh sakit. 😅

He… malah curhat ini. 🙏🏽🙈 (gagal fokus)

Terima kasih Bu @⁨anna farida⁩ .❤💕

[7/26, 1:10 PM] anna farida: Para ibu perkasa, sehat-sehat, yaaaa

T: Terima kasih siraman kulwapnya.
Lagi-lagi, pas banget isinya dengan yang dialami/dirasakan.

Atau memang hal ini dialami semua ibu/bunda/mama/ummi/emak di seluruh jagat raya? 🤔
.
.
.
😁
Sy: Pengalaman pribadi, kalau 2 anak sakit semua ibunya sampai gak bisa ngerasain lapar dan haus. Anak2 baru sembuh ibunya yang k.o. heheh.

Ir: Jadi ingat….

Akhir bulan lalu ayah ngamar kena infeksi saluran kemih dan ginjalnya. Awal bulan anak ngamar juga jena typhus.

Badan udah ngerasa gak enak tp otak dipaksa bilang ‘sehat’. Alhamdulillah sehat…😄

Hu: Yang payah itu saat suami dn anak barengan sakit.. subhanallah rasanyaa

T: Betul Mbak, ini dia yang bisa kita lakukan dan badan langsung dikasih suntik sehat… oleh otak. 😃👍❤

dan memang seringkali ini yang dilakukan jika saat bersamaan badan mulai meriang. entah kenapa saya sudah lama tak merasa meriang, dan di kasus terakhir kemarin halah rasanya benar2 kelelahan. tapi melihat pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, akhirnya otak memerintahkan ke seluruh badan… “sehat…sehat.” dan akhirnya … sedikit2 pekerjaan yang menumpuk bisa selesai juga.

Ajaibnya ibu itu begitu ya. haha…

Salut buat seluruh ibu,❤💕❤

Ir: 😘

Mendampingi Anak Sakit

Jumat, 26 Juli 2019

Perubahan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau membawa banyak perubahan. Salah satunya daya tahan tubuh yang mudah melemah.

Materi kali ini tentang mendampingi ananda yang sedang sakit. Tentu saja banyak sekali pengalaman yang mengharu biru bagi parents yang pernah atau sedang menjalani proses tersebut. Tetap semangat, jaga kesehatan, asupan makanan, juga asupan jiwa supaya tetap fit menemani ananda menuju sehat. Doa tak lupa selalu dipanjatkan kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan.

Narasumber tetap kami, Anna Farida:
Salam sehati, Bapak Ibu. Ini kulwap ke-171. Mohon izin post materi lebih awal.
Saya otw ke Tangerang, menemani finalis FL2N, para penulis unyu dari seluruh Indonesia.

Mahmud Admin masih bertugas mengawal pasien kesayangan. Mohon doa senantiasa.
Karena itu, kita dedikasikan kulwap ini untuk memberikan support dan berbagi pengalaman saat Ayah atau Ibu mendampingi anak yang sakit.

Jelas, anak sakit itu bikin kita sedih.
Kita sakit saat merawat anak sakit itu menyedihkan.
Saya yakin semua pernah mengalami merawat anak atau anggota keluarga lain yang sakit. Pada saat itu kita cenderung mencurahkan semua perhatian pada pasien dan mengabaikan diri sendiri. Saat pasien beranjak sembuh, mulai deh terasa … sakit nelen, kepala nyut-nyutan … tapi semua masih juga diabaikan. Saking senengnya pasien kesayangan menuju sembuh.

Daaaan … begitu pasien benar-benar sembuh, baru terasa kepala berdentum dan pandangan berkunang-kunang. Saat rukuk dan sujud, mata seperti hendak terlempar keluar #itusaya.

Apakah lantas kita bisa santai berbaring?
Tentu tidak.
Ada pekerjaan lain menanti, di rumah, di kantor. Lebih-lebih bagi para ibu.
Sakit? Mana sempat!
Alhamdulillah. Saking sibuknya, sampai sakit pun tak sempat. Salam hormat dan salam sayang saya bagi para ibu.
Kali ini saya diskriminatif dengan sesadar-sadarnya pada kaum bapak yang minoritas di sini.
Ahaha, maaf.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar tetap sehat saat jadi perawat?

+ Tetap jaga makan dan istirahat. Paksain makan, pilih menu yang menggugah selera jika perlu—jangan seblak level-15 tapi, yaaa. Ini nasihat klasik, tapi menjaga makan itu penting banget karena sering diabaikan. Ketika pasien rewel kita sibuk, saat dia tidur kita malah main hape—bukannya segera makan atau ikut tidur. Tapi kan main hape itu hiburaaan.
Iya, boleh, nanti setelah makan. Jitak.

+ Tetap jaga kondisi mental. Cari hiburan yang sehat, misalnya baca buku atau … main hape #halah
Berkomunikasi dengan teman atau kerabat tentang kondisi anak itu terbukti membantu meringankan hati. Doa-doa dari berbagai arah pun akan mempercepat kesembuhan pasien, insya Allah.
Tapi … lakukan seperlunya, jangan jadi rumpi panjang lalu lupa istirahat tadi.

+ Libatkan pasangan atau keluarga lain. Jangan sok jadi superhero. Tugas Anda bukan hanya saat pasien sakit. Nanti setelah dia sembuh, tugas Anda akan tambah banyak. So, simpan tenaga. Minta tolong orang lain—keluarga atau teman—akan sangat membantu. Jadi ketika ada teman yang datang membantu, gunakan waktu untuk istirahat, bukan ikut ngerumpi.
Ini juga alasan saya untuk berusaha minta izin ketika hendak menjenguk pasien. Saya biasa tanya kepada yang jaga apakah bersedia dikunjungi. Kalaupun saya datang dan nggak bisa bantu jagain, saya akan persingkat kunjungan biar yang jaga tidak lelah menanggapi keceriwisan saya.

+ Konsumsi suplemen. Apa pun yang biasa dikonsumsi—vitamin, madu, jamu, sate padang, martabak, cincau #eh. Kondisi badan kita sedang perlu banyak asupan dan makan saja tidak cukup. Jika Anda sedang “berdinas” di rumah sakit, manfaatkan kesempatan untuk ikut memeriksakan diri dan memastikan kondisi kita prima. Jika tidak, dokter akan cepat memberikan nasihat dan obat hehe.

+ Syukuri. Walau tidak enak, walah sedih dan menyedihkan, sakit itu karunia. Saya tidak mau membahasnya secara terperinci, nanti kulwap berubah jadi kultum 😀

Semangat untuk Mahmud Admin kesayangan kita semua, jaga kesehatan lahir batin.

Mari berbagi cerita.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.
Sudah punya bukunya?
Sudah share ebook “Bincang Pengasuhan” dan “Bincang Pernikahan?
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pengasuhan.html?id=lQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y
https://books.google.co.id/books/about/Bincang_Pernikahan.html?id=jQBvDwAAQBAJ&redir_esc=y

Salam takzim,

Anna Farida
http://www.annafarida.com
Everything seems impossible until it’s done (Nelson Mandela)